Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sosok Asli si Gadis Sumber Informasi


__ADS_3

Semua tokoh yang hadir menggelengkan kepalanya. Terutama sekali empat datuk dunia persilatan yang hadir di sana. Mereka pun terkejut juga. Keempat tokoh kosen itu tidak mengira kalau pemuda bergelar Pendekar Tanpa Nama benar-benar hebat.


Berita yang tersiar di dunia persilatan ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Sebagai orang yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk ilmu silat, tentunya orang-orang tersebut sangat kagum dengan apa yang baru saja ditunjukkan oleh pemuda itu barusan.


Meskipun para datuk itu tidak sanggup melihat semua gerakan Pendekar Tanpa Nama dengan jelas, namun sedikit banyaknya mereka sudah tahu kalau jurus yang dikeluarkan olehnya merupakan jurus kelas atas. Jurus yang selama ini belum pernah mereka saksikan.


"Sungguh jurus yang sangat hebat," puji si Pedang Angin Puyuh. Sepasang matanya tetap mengawasi punggung Pendekar Tanpa Nama.


"Benar, memang dia merupakan pemuda yang luar biasa. Aku sungguh tidak menyangka sebelumnya," timpal si Kakek Bintang.


Kakek Bintang adalah orang tua yang mempunyai sifat berbeda daripada tiga datuk lainnya. Dia mempunyai karakteristik yang bisa dibilang unik.


Kakek tua itu kadang suka bertindak seenak hatinya. Ada saat dirinya berubah kejam seperti iblis. Tapi di sisi lain, ada pula saatnya dia baik mirip seperti malaikat.


"Aku sendiri tidak yakin bisa menahan jurusnya itu," sambung si Kerdil Dewa Kipas sambil memainkan kipasnya.


Empat orang datuk dunia persilatan itu saling memberikan komentarnya masing-masing. Setiap tokoh tua tersebut merasa kagum kepada Pendekar Tanpa Nama.


Bukan hanya mereka saja, malah semua tokoh yang hadir juga sama. Tetapi mereka tidak berani membuka mulutnya.


Sementara itu, pihak Selir Anjani dibuat ketakutan. Wanita itu sendiri merasa kalau dirinya sudah terjebak dalam sebuah rencana yang mustahil bisa dihancurkan. Dia yakin tidak bisa lepas dari jeratan tak terlihat ini.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya seorang pengawal pribadi Prabu Katapangan Kresna.


"Sudah tentu kita hanya bisa melawan sekuat mungkin," jawab Selir Anjani ketus.


Saat ini posisinya bagaikan telur di ujung tanduk. Kapanpun, nyawanya bisa saja melayang tanpa sepengetahuannya.


"Hemm, kenapa kalian semua hanya diam saja? Ratu Ayu sudah bertindak kurang ajar, begitu juga dengan pemuda ini. Apakah kalian tidak ingin melindungiku? Benarkah kalian rela kalau Istana Kerajaan ini dikuasai oleh manusia iblis seperti mereka?" teriak Prabu Katapangan sambil memandang semua prajurit Kerajaan yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


Suasana masih saja hening. Tiada seorangpun yang membuka mulut. Sepuluh pasukan elit Kerajaan yang masih hidup masih diam di tempatnya. Begitu juga dengan semua prajurit Kerajaan lainnya.


Seolah ucapan lantang Prabu Katapangan barusan merupakan angin lalu bagi orang-orang itu. Mereka seperti tidak mendengar.


Memang tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar?


Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Tapi keadaan di halaman Kerajaan tidak dingin. Semakin lama, justru semakin panas dan mencekam.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Nama kembali melancarkan serangan secara tiba-tiba. Pemuda itu meluncur ke arah Dua Pendekar Bertopeng yang saat ini sedang berada di posisi tidak siap.


Dalam situasi seperti sekarang ini, peraturan yang biasa digunakan dalam sebuah pertarungan biasanya sudah tidak lagi berlaku. Siap atau tidak siap, harus selalu siap. Kalau ada kesempatan untuk membunuh, kenapa hal itu tidak segera digunakan?


Dua Pendekar Bertopeng terperanjat. Untuk menghindar, keduanya jelas sudah tidak sempat lagi. Sebab bertepatan pada saat menyadari ada ancaman dari lawannya, posisi senjata lawan sudah setengah sikut darinya.


Terpaksa keduanya menjatuhkan diri ke tanah lalu bergulingan beberapa kali.


Tetapi apakah benar Dua Pendekar Bertopeng bisa lari dari cengkraman Cakra Buana?


Jika seseorang tidak mungkin bisa melepaskan diri dari cengkraman seekor harimau, maka itu artinya, dua orang pendekar misterius itu pastinya juga tidak bisa lepas dari cengkraman tangan Pendekar Tanpa Nama.


Harimau adalah Cakra Buana. Begitu juga sebaliknya.


Pedang pusaka yang berada dalam genggamannya digetarkan. Selapis sinar merah langsung menggulung tubuh ketiga orang tersebut. Ribuan titik pedang tercipta. Bulu kuduk orang-orang yang bisa menyaksikannya dengan jelas langsung berdiri.


Mereka tahu kalau serangan itu adalah serangan maut. Mustahil Dua Pendekar Bertopeng bisa menyelamatkan diri.


Crashh!!! Trangg!!!

__ADS_1


Seorang dari keduanya telah mampus. Darah segar meleleh dari tenggorokannya. Orang itu tewas karena lehernya hampir putus dibabat oleh Pedang Naga dan Harimau.


Seorang lagi berhasil melakukan gerakan tak terduga pada saat pedang lawan tiba. Seharusnya dia sendiri ikut tewas. Untungnya hal itu tidak kejadian. Akan tetapi meskipun lehernya tidak berhasil digorok, namun topengnya berhasil dibelah.


Begitu topeng terbelah, segera muncul raut wajah seorang wanita yang sangat cantik jelita. Matanya, wajahnya, hidung dan mulutnya, semuanya masih sama seperti beberapa waktu yang lalu.


Pendekar Tanpa Nama mendadak menghentikan gerakannya. Dia sungguh kaget. Sebab Cakra Buana tahu siapakah wanita pemilik topeng itu.


Ternyata dia bukan lain adalah si Gadis Sumber Informasi yang beberapa saat lalu ditemui olehnya.


Benar, wanita itu memang dirinya.


Cakra Buana mulai bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa gadis itu bisa berada si sini? Malah kenapa pula dia merupakan anggota dari Dua Pendekar Bertopeng? Siapa si Gadis Informasi sebenarnya?


Pendekar Tanpa Nama berdiri mematung. Sampai sekian lama dirinya tidak bicara apapun. Hanya sepasang matanya saja yang memandang penuh selidik.


"Kau … kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Cakra Buana setelah terdiam cukup lama.


"Aku memang salah satu dari Dua Pendekar Bertopeng. Jadi bukankah sudah sewajarnya kalau aku berada di sini?"


Seseorang yang termasuk dalam sebuah kelompok, bukankah suatu kewajaran kalau orang itu berada di kelompok yang dimaksud?


Pendekar Tanpa Nama tidak berbicara lagi. Justru sebaliknya, dia kembali terlihat mematung. Bedanya, kali ini pemuda itu sedang memikirkan kejadian beberapa waktu lalu terkait si Gadis Sumber Informasi.


"Sekarang aku mengerti," ucap Cakra Buana sambil tersenyum bangga.


"Apa yang kau mengerti?"


"Kau berpura-pura menjadi Gadis Sumber Informasi, tujuannya adalah untuk memancingku, bukan? Selain itu, kau juga sengaja memberitahukan informasi kebenaran hanya untuk menjebloskan aku ke dalam rencana busuk kalian,"

__ADS_1


"Terkait segala macam yang berkaitan dengan si Gadis Sumber Informasi, semuanya hanya kabar bohong belaka. Termasuk dalam persoalan aku bersama pemuda bernama Jaya Taruma. Bukankah tujuanmu yang sebenarnya hanya ingin kami bertarung serius sehingga satu di antara kami mampus?"


"Hemm, malah seingatku bukan itu saja," ucap Pendekar Tanpa Nama sambil mengambil nafas dalam-dalam. Setelah itu, kemudian dia segera melanjutkan, "Ah, iya. Kejadian hilangnya gubuk sederhana itu, bukankah bagian dari rencanamu juga? Kau sengaja membuatku kebingungan, malah niatnya ingin menakuti-nakuti, alasannya tentu karena ingin mencoba membuyarkan konsentrasiku, bukankah semua yang aku ucapkan benar?"


__ADS_2