Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Guru dan Murid


__ADS_3

Namun walaupun permainan pedang Pendekar Tanpa Nama terus menggempur dirinya, tapi toh si pendekar pedang kembar tersebut masih dapat memgimbangi. Setidaknya untuk beberapa jurus ke depan, dia masih sanggup


Entah kalau semakin lama.


Karena walaupun bisa menangkis serangan baik sabetan ataupun tusukan, toh sihir yang dihasilkan otomatis dari jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang, tetap tidak mau hilang.


Telingan dan matanya masih merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Tetap terdengar ledakan guntur dan tetap terlihat kilatan petir menyambar.


"Mendorong Awan Mendung di Cakrawala …"


Pada akhirnya, si pendekar pedang kembar tersebut terpaksa harus mengeluarkan jurus pamungkas yang dia miliki saat ini.


Jurus Mendorong Awan Mendung di Cakrawala adalah jurus pedang yang mengandalkan kecepatan dan tusukan. Gerakannya seperti mendorong sesuatu ke depan dengan permainan mematikan.


Setiap tusukannya seakan terlihat ribuan banyaknya sehingga akan membuat lawan kewalahan.


Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang akibat jurus dahsyat ini. Semua yang pernah merasakan kehebatan jurus Mendorong Awan Mendung di Cakrawala, tidak ada yang selamat. Bahkan yang bertahan sampai lima belas jurus sekalipun, rasanya belum ada.


Tetapi sekarang ada. Lebih tepatnya baru ada.


Seorang pendekar yang masih terbilang muda. Berwajah tampan dengan tubuh kekar dan pakaian serba merah.


Pendekar muda itulah orang pertama yang berhasil bertahan sampai lima belas jurus lebih dari jurus Mendorong Awan Mendung di Cakrawala.


Tentu saja orang yang dimaksud adalah Cakra Buana atau Pendekar Tanpa Nama.


Si pendekar pedang kembar merasa sangat terkejut bahwa ternyata lawannya mampu bertahan sampai lima belas jurus. Bahkan saat lebih dari lima belas jurus, belum terlihat tanda-tanda lawan kewalahan.


Justru sebaliknya, dia terlihat sangat menikmati permainan ini. Seakan jurusnya tidak berarti sama sekali baginya.


Padahal ribuan tusukan sudah dilancarkan. Sabetan pedang yang tidak terhitung banyaknya sudah dia berikan.


Tapi tetap, pendekar muda itu tidak terlihat kewalahan.


Justru sebaliknya, di tengah gempuran tusukan maut dan sabetan mematikan, Pendekar Tanpa Nama dengan jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang miliknya, malah menggempur membalas serangan semakin ganas dan brutal.


Tubuh Pendekar Tanpa Nama terbalut oleh satu hawa sakti yang mengandung hawa kental pembunuhan. Pedangnya berkilat secepat terjangan petir. Bahkan gerak serangannya jauh lebih cepat daripada lawan.

__ADS_1


Sehingga sepuluh jurus kemudian, satu sabetan telak menghantam pangkal lengan lawan.


"Ahh …" terdengar suara jeritan tertahan dari mulut lawan Pendekar Tanpa Nama.


Darah menyembur. Secepat mungkin dia menghentikan keluarnya darah dengan menotok di beberapa titik. Sayangnya walaupun darah tidak lagi keluar, tapi rasa perih justru semakin menjadi.


Pertarungan antar pendekar pedang tersebut dilanjutkan lagi. Namun kali ini berbeda, tidak seperti sebelumnya.


Si pendekar pedang kembar itu gerakannya menjadi jauh menurun setelah terkena sabetan Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama. Alasannya seperti yang disebutkan sebelumnya, rasa perih semakin menjadi.


Dia berhasil menghentikan keluarnya darah. Tapi dia tidak berhasil menghilangkan rasa sakit yang dideritanya.


Pendekar Tanpa Nama melompat sambil memainkan pedang pusaka. Kilatan sinar merah memanjang membelah udara. Desiran angin tajam membawa suara bergemuruh terdengar.


Dia bergerak.


Satu sabetan sekaligus satu tusukan dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat sekali.


Hasilnya, si pendekar pedang kembar tak mampu lagi untuk menghindari serangan. Lebih tepatnya, dia tidak dapat menghindari kematian.


Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama, sangat telak bersarang di tenggorokannya.


Begitu dicabut, si pendekar pedang kembar langsung ambruk ke tanah dan tidak bangun lagi untuk selamanya.


Mati.


Tidak jauh dari sisi pertarungan Pendekar Tanpa Nama, ada juga pertarungan antara Tuan Santeno si Tangan Tanpa Belas Kasihan melawan seorang pendekar yang sama sepertinya, ahli dalam jurus-jurus tangan kosong.


Keduanya merupakan tokoh kelas atas. Tentu saja jurus yang keluar juga tidak main-main lagi.


Pertarungan mereka sudah berjalan selama dua puluh enam jurus. Sekarang si Tangan Tanpa Belas Kasihan sedang menggempur lawan dengan jurus pamungkas yang sudah dia miliki.


Di mana jurus tersebut telah membawa namanya menjadi berkibar dalam dunia persilatan.


Jurus Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung.


Kedua tangannya mengandung kekuatan maha dahsyat. Terlihat saat ini, di tengah pertarungan, maha guru itu sedang menggempur lawannya dengan buas.

__ADS_1


Seperti seekor singa yang sedang marah besar karena daerahnya direbut.


Kedua tangan itu terus menerus melancarkan serangkaian pukulan beruntun ke arah titik berbahaya di tubuh lawan. Tangan kanannya di ayunkan mengarah ke pelipis. Tangan kirinya memukul dari bawah ke atas mengincar dagu.


Dua pukulan dalam sasaran berbeda dilakukan secara serentak. Dengan kecepatan dan kelincahan yang sudah dia miliki, rasanya tidak mungkin lawan dapat menghindar.


Sayangnya untuk kali ini, dia telah salah perhitungan. Belum tiba pukulannya, lawan telah mundur satu langkah lalu mencondongkan tubuhnya ke belakang. Berbarengan dengan itu, secara tiba-tiba kaki kanannya menendang ke arah wajah.


Untungnya si Tangan Tanpa Belas Kasihan tidak kehilangan konsentrasi. Di saat genting seperti itu, dia melompat lalu berjungkir balik di udara.


Setelah itu, kakinya menjejak udara hampa lalu meluncur deras mengirimkan lagi pukulan berantai.


Datangnya pukulan itu seperti hujan yang turun ke bumi. Terlihat sangat banyak dan sukar untuk dihindari.


Lima jurus kemudian, kedua tangan tersebut berhasil memukul tepat di bagian dada kanan dan kiri. Al hasil lawannya terpental.


Bahkan hingga lima tombak jauhnya dan menabrak tiang bangunan tua.


Tiang tersebut langsung hancur. Sedangkan pendekar tangan kosong itu tewas dalam kondisi mengenaskan.


Dada kanan dan kirinya sedikit melesak masuk ke dalam. Mungkin di akibatkan karena kuatnya pukulan si Tangan Tanpa Belas Kasihan.


Bibirnya muntah darah. Jelas, selain terdapat luka diluar, dia juga mengalami luka dalam yang terbilang parah.


Pertarungan yang tersisa di Hutan Larangan tinggal beberapa arena saja. Itupun kebanyakan anggota.


Sedangkan pertarungan para tokoh hampir selesai semuanya. Hanya tinggal satu pertarungan berbarengan yang masih tersisa.


Bersamaan dengan beberapa pertarungan dahsyat tadi, di bagian utara di halaman luas, ada dua tokoh pendekar yang sedang bertarung sengit. Semua jurus yang mereka keluarkan nampak sama.


Bahkan gerakan menghindar dan kuda-kudanya juga hampir sama. Yang membedakan hanyalah diri dari dua tokoh tersebut.


Yang satu masih muda, cantik jelita dan menawan. Sedangkan yang satu lagi terbilang tua, namun wajahnya belum terlihat banyak keriput. Sehingga masih tampak bekas kecantikan di masa mudanya.


Dialah Nyai Tangan Racun Hati Suci dan Dewi Anggrek Biru.


Dua orang guru dan murid yang berselisih. Dua orang yang tadinya memiliki hubungan seperti halnya seorang ibu dan anak.

__ADS_1


Namun sekarang, mereka justru tampak seperti dua orang musuh bebuyutan yang sudah mempunyai dendam kesumat sejak lama.


__ADS_2