Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sepasang Kekasih yang Bahagia


__ADS_3

Wutt!!!


Pendekar Tanpa Nama melayang mundur ke belakang lalu segera menyingkir. Desingan angin tajam itu lewat setengah meter di depan wajahnya.


Blarr!!!


Dua batang pohon berukuran cukup besar telah hancur berkeping-keping karena terkena hantaman angin tadi.


Getarannya sangat keras sampai-sampai tanah di sekitar pun ikut bergetar.


Berbarengan dengan semua kejadian itu, di lihatnya satu sosok bayangan manusia melayang dari dalam goa. Bayangan itu berwarna merah muda. Bau bunga mawar tercium dengan jelas pada saat bayangan manusia tersebut tiba di luar goa.


Tanpa berkata apa-apa lagi, bayangan merah muda itu langsung menerjang Cakra Buana dengan serangannya yang berbahaya.


Selendang dengan warna sama menerjang ke depan berniat untuk membelit. Disusul kemudian dengan sebatang pedang bersarung biru muda yang mengancam tenggorokan Pendekar Tanpa Nama.


Dua serangan dilayangkan dengan berbarengan dan kecepatan tinggi. Kalau saja orang lain yang menjadi sasarannya, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu bertahan lagi.


Tapi Cakra Buana bukan orang lain. Dia Pendekar Tanpa Nama. Seorang pendekar muda yang kemampuannya sudah mencapai puncak.


Trapp!!! Trapp!!!


Pedang dan selendang sudah tertahan oleh kedua tangannya. Dapat dipastikan bahwa dua senjata tidak tidak mampu lepas lagi dari cengkramannya.


Siapa sangka, pada saat demikian, mendadak kaki kanan lawan yang diperkirakan seorang gadis itu menendang ke arah perut Pendekar Tanpa Nama.


Karena tidak mau terkena serangan lawan, maka secara terpaksa Cakra Buana melompat mundur ke belakang dan melepaskan pedang serta selendang tersebut.


"Manusia dari mana yang berani mengganggumu kediamanaku?" gadis itu bicara dengam dalam.


Tatapan matanya sangat tajam seolah mampu menusuk apapun yang ada di hadapannya.


Pendekar Tanpa Nama berdiri dengam termangu. Gadis di hadapannya saat ini benar-benar cantik. Bahkan kecantikannya hampir setara dengan Ling Ling. Wajah gadis itu telah berubah hebat.


Tapi walaupun wajahnya berubah, suaranya sama sekali tidak berubah. Suara itu masih sama seperti dulu. Masih merdu. Masih nyaring. Cakra Buana sangat ingat dan sangat tahu siapa pemilik suara tersebut.


Siapa lagi kalau bukan Sinta Putri Wulansari si Bidadari Tak Bersayap?

__ADS_1


Benar. Memang gadis yang ada di hadapannya saat ini tak lain dan tak bukan adalah Bidadari Tak Bersayap.


Wanita yang selama ini dia rindukan. Wanita yang selalu muncul dalam lamunannya. Wanita yang selalu terbayang dan selalu datang dalam mimpi sunyinya.


"Ap-apakah kau Bidadari Tak Bersayap?" tanya Cakra Buana dengan bibir sedikit bergetar.


Tak bisa ditampik, dia pun merasa gugup setelah sekian lamanya tidak berjumpa.


"Kalau benar kenapa, kalau bukan kenapa? Kau laki-laki, mau apa kemari? Hemm, dasar bajingan. Rasakan ini …"


Bidadai Tak Bersayap menyerang kembali sambil membentak nyaring. Pedang Cantik Dari Khayangan miliknya tergetar lalu segera melancarkan dua belas tusukan hanya dalam waktu yang sangat singkat.


Bersamaan dengan itu, selendang miliknya juga turut ambil bagian. Selendang itu mengeras lalu begitu mencapai jarak di mana lawannya berdiri langsung berubah lemas dan dengan segera melilitnya dari atas hingga bawah.


Bagian tubuh Cakra Buana yang tidak terlilit hanyalah lehernya ke atas saja. Dan pada saat itu pun, ujung pedang milik Bidadari Tak Bersayap sudah berada tepat di depan tenggorokannya.


"Cepat katakan siapa dirimu dan apa tujuanmu?" tanyanya dengan bengis.


Nyata, dia tidak suka akan kehadiran orang lain di goa tempat tinggalnya selama ini.


Di samping itu, Sian-li Bwee Hua sama sekali tidak ikut campur. Bukan karena dia takut ataupun sebagainya, hanya saja gadis itu merasa adanya persoalan lain di balik kejadian yang sedang berlangsung saat ini.


"Tujuanku kemari memang mencari dirimu," jawab Cakra Buana dengan tenang.


Dia tidak terlibat takut ataupun gentar sedikitpun. Bahkan seulas senyuman manis dia lemparkan kepada Bidadari Tak Bersayap.


Gadis di hadapannya mengerutkan kening. Dia pun seperti kenal dengan suara orang ini, tapi sedetik kemudian dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dia ingat betul, kalau memang pemuda di hadapannya saat ini adalah orang yang sedang dia tunggu, rasanya tidak mungkin. Sebab Bidadari Tak Bersayap masih ingat betul bagaimana wajahnya.


"Katakan siapa kau sebenarnya?"


Suaranya semakin bengis. Tatapan matanya juga semakin tajam.


Tanpa terasa Cakra Buana sendiri memuji dalam hatinya. Baru ditinggal beberapa waktu, ternyata Bidadari Tak Bersayap sudah banyak berubah. Berubah total. Terutama sekali dari segi ilmunya.


Walaupun hanya sekilas pandang, Cakra Buana sangat yakin bahwa gadis pujaan hatinya itu sudah berhasil menyempurnakan ilmu warisan dari gurunya sehingga jelas terasa kemampuannya sudah mencapai puncak.

__ADS_1


"Apakah kau benar-benar tidak kenal siapa aku lagi?" tanya Cakra Buana dengan kening berkerut.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sinta lebih tegas lagi.


"Aii, ternyata kau benar-benar telah melupakan aku. Padahal belum dua tahun aku meninggalkanmu,"


Hati Bidadari Tak Bersayap tergetar. Tubuhnya juga bergetar. Kedua lututnya terasa lemas. Berdiri pun harus mengerahkan tenaga cukup banyak.


Ingatannya segera menerawang jauh. Dia mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu tapi selalu terkenang dalam benaknya.


Semilir angin malam berhembus kembali. Pakaian tiga orang yang ada di kadang rumput Gunung Tilu Dewa berkibar karenanya. Rembulan sudah menggantung di angkasa. Ribuan bintang yang gemerlapan sudah menampakkan dirinya.


"Ka-kau, Kakang Cakra Buana?" tanyanya dengan bibir tergetar.


Selendang yang mengikat tubuh Cakra Buana perlahan mulai ditarik kembali. Ujung pedang yang mengancam tenggorokannya juga sudah diturunkan.


"Benar. Ini aku, Cakra Buana," jawabnya sepatah demi sepatah kata.


Bagaikan petir menyambar tubuhnya. Seluruh tubuh Bidadari Tak Bersayap bergetar lebih keras lagi. Bagaimanapun juga, dia merasa kejadian ini seperti sebuah mimpi.


Mimpi yang selalu dia nantikan. Mimpi yang selama ini dia harapkan agar segera terwujud.


Benarkah ini hanya mimpi? Ataukah sebuah kenyataan?


"Ka-kakang, benarkah ini dirimu?" tanyanya sekali lagi sambil menegaskan.


Cakra Buana mengangguk sambil melemparkan senyum. Senyuman manis dan hangat yang selama ini selalu terbayang dalam kesunyian Bidadari Tak Bersayap.


Trangg!!!


Pedang jatuh ke bawah menimpa bebatuan. Selendang terkulai lemah. Seperti juga tubuhnya. Gadis itu lantas berlari mendekati Cakra Buana. Tanpa berkata apapun lagi, dia memeluk pemuda itu dengan kencang. Sangat erat.


Cakra Buana membalas pelukannya dengan hangat pula.


Keduanya lantas berpelukan dengan mesra. Romantis sekali.


Sepasang kekasih yang sudah saling mencinta, kekasih yang lama tidak berjumpa, sekarang telah berjumpa lagi secara tiba-tiba, bagaimana mungkin mereka tidak bahagia?

__ADS_1


Bidadari Tak Bersayap menangis. Menangis haru karena merasa sangat bahagia.


Sementara itu di lain sisi, Sian-li Bwee Hua menghela nafas. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apakah harus merasa bahagia juga? Ataukah harus menangis? Terus diam di situ, atau pergi tanpa pamit?


__ADS_2