
Semua orang terheran-heran melihat Nenek Tua Bungkuk yang tiba-tiba saja memeluk erat Liu Bing. Bahkan gadis itu sendiri tampak sangat terkejut sehingga wajahnya tidak menggambarkan ekspresi apa-apa.
"Maaf Nyonya, kenapa kau memelukku begini erat?" tanya Liu Bing kebingungan.
Nenek Tua Bungkuk melepaskan pelukannya. Ternyata dia menangis. Terlihat jelas bahwa kedua pipinya basah oleh air mata.
"Ka-kau, kau adalah anakku. Sudah bertahun-tahun aku mencarimu. Tak disangka justru sekarang telah bertemu," ucap Nenek Tua Bungkuk lalu memeluknya kembali.
Tiga sahabatnya semakin kebingungan. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Cakra, kau merencanakan sesuatu?" tanya Huang Pangcu.
"Tidak sama sekali. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa-apa," jawabnya sambil mengangkat pundak.
Nenek Tua Bungkuk masih memeluk dan menangis. Huang Pangcu hanya bisa menghela nafas.
"Kau yakin dia anakmu?" tanyanya.
"Sangat yakin,"
"Kau bisa memberikan sebuah bukti?"
"Sangat bisa,"
Nenek Tua Bungkuk kemudian melepaskan pelukan Liu Bing. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Kau pasti punya potongan liontin ini kan?" tanya Nenek Tua Bungkuk kepada Liu Bing.
Dia memperlihatkan sebuah kalung liontin yang berbentuk Yin. Potongannya berarti Yang.
Liu Bing sendiri sangat terkejut. Dia melepaskan kalung liontin yang selalu menempel di lehernya.
Begitu di cocokan, ternyata benar-benar liontin itu adalah pasangannya.
"Sekarang kau tahu kan siapa aku sebenarnya? Kau masih ingat bahwa dulu ayahmu telah memberikan ini sebagai tanda?" tanyanya kepada Liu Bing.
Liu Bing tidak mampu menjawab. Dadanya terasa sesak. Dia langsung menangis sejadi-jadinya. Keduanya kembali berpelukan erat.
"Ibu …" tangisnya.
"Anakku …"
__ADS_1
Kedua orang itu terus berpelukan melepaskan rasa rindu yang telah dipendam selama ini. Semua rasa sedih, rasa kangen, rasa bahagia, bercampur menjadi satu sehingga mengeluarkan air mata yang sulit untuk dikatakan.
Huang Pangcu, Cakra Buana dan Li Guan hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Mereka tidak mau mengganggu dua orang itu. Karena ketiga orang tersebut sadar dan tahu bagaimana perasaannya.
Terkadang di dunia ini banyak sekali hal-hal tidak disengaja yang justru malah membuahkan hasil diluar dugaan semua orang.
Seperti saat ini misalnya.
Tanpa sengaja Cakra Buana bertemu dengan Liu Bing lalu berniat mencarikannya guru sehingga mengundang Nenek Tua Bungkuk. Siapa sangka? Ternyata keduanya malah merupakan ibu dan anak yang selama ini telah terpisahkan.
Setelah hampir sepeminum teh menangis bersama, akhirnya tangis mereka mulai mereda. Nenek Tua Bungkuk langsung menyuruh Liu Bing untuk duduk.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi di antara kalian?" tanya Huang Pangcu.
Nenek Tua Bungkuk kemudian menceritakan kisah awalnya hingga sampai di mana malapetaka menimpa keluarganya. Bahkan dia juga menceritakan bagaimana kematian suaminya, bagaimana dirinya diperlakukan oleh sekelompok orang.
"Saat itu keadaanku sedang kritis sekali. Dulu, aku masih belum mengerti tentang ilmu silat sehingga aku tidak bisa melawan sedikitpun. Untunglah pada saat yang genting seperti itu, seorang nenek tua datang menolongku dan menghajar mereka. Dia juga ingin menolong suamiku, sayangnya dia sudah menghembuskan nafas terakhir. Setelah itu, aku berguru kepadanya hingga beberapa tahun."
"Guruku merawat dan mendidikku dengan penuh kasih sayang. Semuanya dia jamin. Aku hanya disuruh agar berlatih dengan tekun dan sungguh-sungguh. Setelah aku berhasil menguasai seluruh ilmu yang beliau berikan, aku disuruh untuk turun gunung guna membalas dendam dan mencari anakku yang hilang. Aku tahu dia masih hidup, sayangnya setelah mencari ke segala tempat, aku tidak dapat menemukannya."
"Tapi siapa sangka, malam ini, secara tidak disengaja, justru aku malah bertemu dengannya," kata Nenek Tua Bungkuk menceritakan kisah singkatnya.
Tiga pria yang ada di sana hanya bisa menghela nafas. Mereka sendiri dapat mengerti bagaimana perasaan nenek tua itu.
"Tentu saja aku akan membawanya bersamaku. Aku akan mendidiknya sehingga kelak akan menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh,"
"Kau mau ikut bersama ibu kan nak?" tanyanya sambil mengusap air kata Liu Bing.
"Tentu saja ibu. Aku sudah lelah hidup seperti ini. Sekarang setelah ada ibu, aku hanya berharap bahwa hidupku akan lebih baik lagi,"
"Kau tenang saja nak. Ibu akan menyayangimu seperti dulu. Kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah berubah," katanya sambil menahan air mata.
Kasih sayang ibu memang tiada duanya. Semakin lama, bukan semakin pudar, justru malah semakin menebal.
Agaknya pepatah yang mengatakan bahwa di dunia ini tiada yang sebanding dengan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya memang benar.
Seorang ibu bisa mengurus empat anaknya sekaligus. Tapi apakah empat orang anak mampu mengurus seorang ibunya? Mampu menyayangi seperti dia menyayangimu?
"Baiklah kalau begitu. Baik-baik jaga anakmu,"
"Terimakasih. Pangcu, Li, Cakra, sekarang kami pamit dulu," ucap Nenek Tua Bungkuk lalu berdiri sambil mengajak Liu Bing untuk pergi.
__ADS_1
Gadis itu memandangi Cakra Buana untuk sesaat. Pemuda yang dipandangnya melemparkan senyuman yang tidak mungkin bisa dilupakan.
"Pergilah. Jaga dirimu baik-baik," kata Cakra Buana lembut sambil mengusap-usap kepalanya.
"Emm, kau juga harus menjaga dirimu. Kelak jika aku sudah menjadi pendekar, aku akan mencarimu," ucapnya bersemangat.
"Aku tunggu,"
Dua wanita itu segera pergi dari sana.
Malam terang bulan. Rembulan bersinar terang. Bintang gemerlapan. Dunia seperti terlihat lebih indah dari pada biasanya. Alam seakan merasa bahagia karena menyaksikan seorang ibu dan anak yang terpisah kini telah bertemu serta bersatu kembali.
Di ruangan itu hanya ada tiga orang. Mereka belum ada yang bersuara. Sepertinya orang-orang tersebut sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Apakah kau sudah mengantarkan kitab itu?" tanya Li Guan secara tiba-tiba.
"Belum," kata Cakra Buana menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Kau jangan pura-pura bodoh. Kau kira aku akan diam saja saat melihat kejahatan terjadi di depan mataku? Aku bukan orang seperti itu,"
"Tapi kau kan bisa tidak mencari masalah,"
"Mencari masalah atau tidak, hasilnya sama saja. Masalah akan tetap datang kepadaku," jawab Cakra Buana sambil tersenyum getir.
"Selama manusia hidup, masalah pasti akan selalu menghampirinya," ujar Huang Pangcu.
Kedua pemuda itu hanya mengangguk perlahan. Mereka setuju atas ucapan Huang Pangcu, karena keduanya juga sangat menyadari kebenaran akan hal tersebut.
"Kau akan pergi malam ini juga?" tanya Li Guan kepada Cakra Buana.
"Benar. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasku agar bisa mengembara tanpa beban. Kau akan ikut denganku?"
"Tidak. Tapi nanti aku akan menemuimu lagi,"
"Ke maka kau akan pergi?"
"Ke mana saja. Selama aku bisa mendapatkan informasi penting, maka ke situ juga aku akan menuju,"
Huang Pangcu yang dari tadi hanya terdiam, mendadak dia angkat suara.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pergi ke gedung Bengcu (pemimpin dunia persilatan)?" tanyanya.
"Baik. Semingguan lagi kita akan bertemu di sana," jawab Li Guan seketika.