
Malam telah tiba. Rembulan menggantung di langit. Di lihat dari kolam, pantulan rembulan sangat indah. Seperti indahnya senyuman seorang kekasih pujaan hati.
Seperti wajah Mei Lan saat ini. Hatinya sedang merasa bahagia. Sehingga walaupun sekarang sedang berada di kamar sendirian, bibirnya tiada henti terus tersenyum.
Bahkan beberapa kali dia memegangi keningnya sendiri seperti yang dilakukan oleh Cakra Buana kepadanya. Keduanya sempat menghabiskan waktu bersama di taman bunga tadi.
Walaupun tidak lama, tapi baginya sudah jauh lebih cukup. Meskipun kadang akur kadang tidak, tapi baginya hal itu sudah romantis.
Belum pernah Mei Lan merasa sebahagia ini sebelumnya. Apakah itu artinya dia telah jatuh cinta?
Entahlah. Dia sendiri tidak mau mengakuinya. Meskipun mungkin hatinya berkata iya, tapi bibirnya terasa sulit untuk mengatakannya.
Dia seorang gadis tulen. Belum pernah dekat dengan laki-laki lain kecuali kakak dan kakeknya sendiri. Apalagi sampai duduk bersama seperti tadi.
Bibirnya hanya berani berkata bahwa Cakra Buana adalah pemuda yang gagah, tampan, mempesona, dan tentunya pandai memperlakukan wanita seperti seharusnya.
Di ruangan khusus tadi, Huang Pangcu, Li Guan, Cakra Buana dan Liu Bing sedang duduk bersama.
Jika tiga sahabat duduk bersama, maka tentunya arak akan selalu tersedia. Dan daging juga pasti ada.
Seperti biasanya, Liu Bing hanya ingin makan dan makan lagi. Setelah mengetahui bahwa porsi makan gadis cantik dan periang itu sangat besar, maka tanpa sungkan lagi Huang Pangcu menyediakan berbagai macam makanan pilihan dan tentunya sangat enak.
Liu Bing sangat senang sekali. Terbukti sekarang, sejak dari tadi, dia terus makan tanpa henti. Dia juga tidak bicara kecuali hanya sepatah dua patah kata saja.
Kalau sedang makan seperti sekarang, apalagi makannya enak, maka Liu Bing tak ubahnya seperti seorang anak kecil yang sedang tenggelam bersama mainan kesukaannya.
Apapun yang terjadi, dia tetap tidak akan peduli. Orang tuanya memanggil, dia tidak akan menyahut. Bahkan walaupun rumahnya kebakaran, mungkin juga tidak akan tahu.
Seperti itu juga gambaran Liu Bing. Dia sama sekali tidak peduli atas apa yang terjadi di sekitarnya. Beberapa kali Cakra Buana memanggil, dia tidak menyahut. Sehingga karena saking kesalnya, Huang Pangcu bahkan sampai menjewer telinganya.
Saat ini ketiga sahabat tersebut sedang menunggu kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan menunggu kedatangan Nenek Tua Bungkuk?
Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, bahwa Huang Pangcu mempunyai cada tersendiri untuk memanggil sebagian tokoh yang memang tidak jelas rimbanya di mana.
Sudah sepeminum teh mereka menunggu. Tapi sayangnya yang ditunggu belum juga muncul.
"Kau yakin nenek tua itu akan muncul?" tanya Cakra Buana kepada Li Guan.
"Sangat yakin. Kalau Huang Pangcu sudah bertindak, memangnya di dunia ini, apa yang tidak bisa dia lakukan?" jawabnya penuh rasa percaya.
Huang Pangcu sendiri hanya tertawa. Dia tidak mengambil hati perkataan Cakra Buana.
Seorang sahabat, jika sudah saking mengetahui watak masing-masing, maka mereka akan mengerti sendiri. Walaupun kau mencaci makinya, walaupun kau menghajarnya, selama memang tujuannya hanya bercanda, maka sahabat itu tentu tidak akan merasa sakit hati.
__ADS_1
Demi sahabat, kenapa tidak? Asalkan jangan menyinggung perasaan pribadi, rasanya masih bisa dibilang wajar.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan, berapa banyak sahabat seperti itu di zaman sekarang?
Huang Pangcu memandangi kedua pemuda itu secara bergantian. Kalau tidak ada Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya, maka Cakra Buana akan semakin terlihat sangat dewasa. Tapi jika ada pemuda itu, justru Cakra Buana malah seperti anak kecil.
Selalu saja ada hal-hal konyol yang tidak sengaja dia lakukan.
"Lama-lama aku mati berdiri jika harus terus menunggu kedatangannya," gerutu Cakra Buana mulai kesal.
"Sejak kapan kau jadi tidak sabaran?" tanya Huang Pangcu.
"Sejak menunggu kedatangan seseorang yang tidak jelas apakah akan datang atau tidak," jawabnya agak kesal.
Huang Pangcu hanya tertawa terbahak-bahak. Dia meneguk arak lalu memakan daging sebagai pelengkap.
"Dia sudah datang," ucap Li Guan secara tiba-tiba.
"Siapa yang datang?" tanya Cakra Buana spontan.
"Ternyata selain tidak sabaran, kau juga sudah mulai pikun," jawab Huang Pangcu seenaknya.
Belum sempat Cakra Buana membalas ejekan tersebut, mendadak segulung angin menerpa ruangan tersebut. Tidak lama kemudian, di hadapan mereka telah berdiri seorang nenek yang bungkuk dan selalu membawa tongkat dan dipegang dengan tangan kirinya.
Tepat, memang dialah yang datang barusan.
"Mohon maaf karena telah membuat kalian menunggu," ucapnya sengan suara yang serak-serak basah.
"Tidak masalah. Walaupun kau datang dua hari lagi, kami pasti akan tetap menunggu," tukas Li Guan.
"Kalian mungkin sabar menunggu. Tapi entah tetangga sebelah," jawabnya tertawa sambil melirik ke arah Cakra Buana.
Cakra Buana hanya mendengus dingin. Dia tidak menjawab sama sekali. Tapi justru tiga orang lainnya malah tertawa puas.
Jika seorang sahabat yang saling mengerti berkumpul, terkadang tanpa sadar kita akan berubah seperti anak kecil. Kadang berubah konyol hanya demi menyenangkan mereka.
"Duduklah," kata Huang Pangcu kepada Nenenk Tua Bungkuk.
"Terimakasih,"
Nenek Tua Bungkuk langsung duduk. Tanpa basa-basi dia mengambil guci arak lalu meminumnya.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Nenek Tua Bungkuk kepada Cakra Buana.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,"
"Apa itu?"
"Aku ingin kau menerima temanku sebagai murid. Dia seorang gadis yang patut dikasihani. Aku harap kau mau menerimanya,"
"Aku tidak pernah menerima murid,"
"Kau yakin tidak akan membantuku?"
"Emm, apa yang nanti akan aku dapatkan?"
"Kau akan mendapat seorang murid yang dikemudian hari bakal menjunjung tinggi namamu,"
"Kau yakin?"
"Sangat yakin,"
"Kenapa bisa begitu yakin?"
"Karena aku bisa mengetahui seperti apakah temanku ini,"
Nenek Tua Bungkuk termenung sebentar. Dia tidak langsung menjawab perkataan Cakra Buana. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya dia berkata, "Orangnya ada di sini?"
"Tentu,"
"Bawa dia kemari. Aku ingin melihatnya," ucap Nenek Tua Bungkuk.
Cakra Buana langsung bangun dari duduknya lalu kemudian membawa Liu Bing yang beberapa saat lalu di pindahkan ke ruang makan.
"Ikut aku,"
Liu Bing hanya diam saja tanpa membantah.
"Ini orangnya," kata Cakra Buana menghadapkan Liu Bing kepada Nenek Tua Bungkuk.
Kebetulan saat itu Nenek Tua Bungkuk sedang meneguk cawan arak. Jadi dia tidak langsung menengoknya.
Tetapi setelah dia menengok ke arah Liu Bing, seluruh tubuhnya langsung bergetar hebat. Tangannya juga bergetar. Tanpa terasa, cawa arak yang dia pegang jatuh.
Untung bahwa Li Guan langsung bergerak sehingga cawanya tidak pecah dan araknya tidak tumpah. Benar-benar diluar dugaan bahwa dia bisa bergerak secepat itu.
"Ka-kau …" kata Nenek Tua Bungkuk tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi.
__ADS_1
Dia langsung bangkit lalu kemudian memeluk Liu Bing dengan erat.