
Cakra Buana langsung termenung. Apa yang dikatakan oleh Walangga dan Jenggala barusan ternyata mampu membuat dirinya terkejut.
Sekarang sedikit banyaknya diapun mengerti dudu perkaranya. Intinya, si Maling Tua Seribu Wajah adalah seorang tokoh tua yang kesaktiannya tidak bisa dibayangkan.
Kalau tidak sakti, memangnya bagaimana dia bisa mencuri Pedang Haus Darah milik Pendekar Pedang Kesetanan yang terdapat di Perguruan Tunggal Sadewo?
Bahkan sebelumnya dapat dipastikan bahwa siapapun tidak akan ada yang sanggup mencabutnya. Kecuali hanya mereka seorang yang mempunyai kesaktian sangat tinggi.
Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Sekarang benaknya kembali dipenuhi oleh segudang pertanyaan.
Kenapa seorang tokoh sakti sepertinya memilih untuk menjadi seorang maling? Di balik perbuatan pasti alasan, lantas, apa alasan si Maling Tua Seribu Wajah melakukan hal seperti itu?
Cakra Buana berpendapat dalam hatinya bahwa masalah yang baru saja dia dengar ini tidak sesederhana dugaan sebelumnya. Di balik ini, pasti ada hal lain yang lebih hebat dari perkiraannya.
"Apakah dia sudah lama muncul ke dunia persilatan?" tanya Cakra Buana lebih lanjut.
"Paling baru empat bulan terakhir ini saja. Namun yang pasti, apa yang dia lakukan selalu membuat gempar dunia persilatan,"
"Belakangan ini, di mana dia sering membuat kekacauan?"
"Di Tanah Pasundan,"
"Hemm, apa saja yang dia curi?"
"Yang jelas dia selalu mencuri benda-benda pusaka. Jarang mencuri harta kekayaan orang lain," kata Walangga.
"Sepertinya kejadian ini tidak semudah yang dibayangkan,"
"Memang tidak. Pasti ada sesuatu diluar dugaan kita," timpal Janggala.
"Sekarang, apakah semua tokoh persilatan aliran putih dan lurus sudah berusaha untuk menangkapnya?"
"Sudah. Sayangnya mereka yang berniat menangkap orang tua itu selalu tewas terbunuh sebelum menemukan dirinya," jawab Walangga.
"Kalau begitu, kenapa kalian tidak tewas?"
"Karena Sang Hyang Widhi masih mempercayai kami untuk hidup lebih lama lagi. Selain itu, untung kau muncul sehingga menghentikan pertarungan tadi. Kalau tidak, sekarang mungkin kami berdua sudah mampus di tangannya,"
Cakra Buana berpikir sebentar. Kalau orang tua itu benar sakti, kenapa dia lari?
__ADS_1
"Tapi, kenapa tadi orang tua itu malah melarikan diri?
"Karena orang itu tidak ingin terbongkar rahasianya. Selain itu dia pun pastinya merasakan bahwa kau bukanlah pemuda sembarangan," jawab Walangga.
Seorang tokoh kelas atas, apalagi tokoh pilih tanding, pastinya mereka mampu melihat kemampuan seseorang hanya dengan melihatnya saja. Setiap orang yang telah mencapai tahap ini, pasti mampu melakukannya.
"Aii, benar-benar rumit," keluh Cakra Buana.
Pemuda itu dibuat pusing. Ternyata secara tidak langsung dunia persilatan Tanah Pasundan juga sedang kacau.
Apakah kekacauan seperti ini juga terjadi di Kotaraja?
Suasana di dalam kedai itu semakin sepi. Satu persatu para pengunjung mulai pergi. Malam semakin larut. Udara bertambah dingin lagi.
Meja makan Cakra Buana dan dua orang teman barunya juga diliputi oleh kesunyian. Mereka bertiga sedang asyik dengan santapan di hadapannya. Di samping itu, mereka pun sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Apakah jika si Maling Tua Seribu Wajah menyamar, hasilnya akan benar-benar serupa?" tanya Cakra Buana kembali memastikan.
Bagaimanapun juga dia belum bisa percaya seratus persen. Walaupun benar keahlian semacam ini memang ada, tapi kalau belum melihat secara langsung, bagaimana bisa langsung percaya sepenuhnya?
"Sangat serupa. Aku serius. Jangankan orang lain, bahkan orang yang biasa menyamar seperti dia pun tidak bisa membedakannya. Dalam hal penyamaran, orang tersebut memang patut diacungi jempol. Dia sangat ahli,"
"Ada …" jawab Walangga dan Janggala secara bersamaan.
"Apa?" tanya Cakra Buana antusias.
"Jari kaki sebelah kanannya …"
Walangga tidak mampu menyelesaikan bicaranya. Begitu juga dengan Janggala. Sebab tepat pada saat itu, tiba-tiba tubuh dua orang tersebut langsung ambruk ke meja.
Kulit tubuhnya seketika berubah kehijauan. Hijau membesi.
Pendekar Tanpa Nama lebih dibuat terkejut lagi. Dia langsung memeriksa kedua temannya tersebut.
Naas, Walangga dan Janggala telah tewas. Mereka tewas mengenaskan.
Pemuda itu kembali memeriksa urat nadi. Jalan darah dan titik-titik penting di tubuh manusia.
"Mereka benar-benar tewas," gumamnya seorang diri.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama segera memandang ke sekeliling. Tapi tidak ada siapapun. Suasana kedai sudah sangat sepi. Bahkan tanpa terasa, yang masih ada di sana tinggal dirinya dan si pemilik kedai. Semua pengunjung ternyata sudah pulang.
Setelah di lihat lebih mendalam, ternyata Walangga dan Janggala tewas akibat racun ganas yang disebabkan oleh dua batang senjata rahasia.
Tapi bukan jarum seperti yang biasa dia temui di Tanah Tionggoan. Kali ini, dia menemukan dua paku emas yang sangat runcing. Mirip seperti bentuk pusaka paku bumi. Paku tersebut memiliki panjang sekitar satu jari telunjuk. Bentuknya sangat kecil. Paling hanya sebesar lidi saja.
"Hemm, aku baru menemukan senjata rahasia seperti ini," desisnya.
Karena tidak mau diketahui oleh orang lain, secepat mungkin Cakra Buana membayar biaya makan mereka. Setelah itu, dirinya langsung pergi dari sana sambil membopong dua orang temannya.
Pemuda itu kembali ke tengah hutan sebelumnya. Dia bertujuan untuk menguburkan mayat Walangga dan Janggala dengan layak. Bagaimanapun juga, mereka teman barunya. Pula, keduanya sudah memberikan informasi penting baginya.
Setelah selesai menguburkan jasad keduanya, pemuda itu langsung berniat untuk kembali.
Dia tidak ingin mengejar ataupun mencari pelakunya sekarang, terlebih lagi, Cakra Buana tidak mau terburu-buru.
Yang penting baginya saat ini adalah bahwa dia sudah mendapatkan sebuah petunjuk untuk modal membongkar masalah di balik semua kejadian ini.
Wutt!!! Wutt!!!
Baru saja beberapa langkah kaki, tiba-tiba ada desiran angin tajam yang cepat sekaligus membawa hawa panas menerjang ke arah Cakra Buana.
Suara angin itu berasal dari delepan penjuru mata angin. Pendekar Tanpa Nama adalah tokoh tanpa tanding, menghadapi serangan gelap semacam ini, dirinya tidak merasa takut sama sekali.
Hanya saja dia merasa kaget karena tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Pendekar Tanpa Nama merentangkan kedua tangannya. Desiran angin tajam yang ternyata berupa delapan buah pisau itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Sekali menghentakkan kedua tangan, semua senjata tersebut telah mental kembali ke tempat asalnya.
"Ahh …" jeritan kesakitan seketika terdengar.
Wushh!!!
Cakra Buana melesat ke arah asal suara itu. Pemuda tersebut menyaksikan ada seorang pria berpakaian dan bercadar hitam telah rebah di tanah. Dadanya tertusuk oleh pisau miliknya sendiri yang telah dipentalkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
Sebenarnya Cakra Buana ingin menanyakan informasi terkait siapa yang menyuruhnya, naas, orang itu telah keburu tewas karena pisau tersebut menusuk cukup dalam.
"Hahh …" Cakra Buana hanya menghela nafas. Dia tidak berkata apapun lagi.
Hatinya amat menyesalkan. Kenapa masalah selalu saja menimpa dirinya? Baru saja kembali ke Tanah Pasundan, bahkan belum ada satu hari, tapi masalah sudah menghampirinya lagi.
__ADS_1
Apakah kehidupan pendekar seperti ini? Selalu dan akan selalu dirundung oleh berbagai macam persoalan yang amat rumit?