
Ling Ling atau yang sekarang memakai julukan Dewi Bercadar Merah sudah berhasil keluar dari Istana Kerajaan. Dia baru tahu kalau pada malam hari ternyata penjagaannya lebih ketat lagi. Bahkan gadis itupun beberapa kali hampir ketahuan para prajurit Istana.
Untung dirinya mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi sehingga dia berhasil meloloskan diri dan tidak tertangkap.
Sekarang Ling Ling sedang berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dia masih berada di Kotaraja dan ingin mencari di mana keberadaan kekasihnya, Cakra Buana.
Tapi sebelum itu, Dewi Bercadar Merah berniat mencari penginapan terlebih dahulu. Kalau harus membawa Ratu Ayu mencari Cakra Buana, rasanya hal itu cukup merepotkan.
Di depan sana ada penginapan mewah yang masih buka. Di kota ramai seperti Kotaraja ini, memang tidaklah sulit mencari penginapan yang buka selama siang dan malam.
"Aku pesan satu buah kamar mewah. Tolong sewa juga beberapa orang untuk menjaga ibuku yang sedang sakit ini," katanya begitu dirinya tiba di hadapan pelayan penginapan.
"Baik Nyai, mari ikut saya ke kamar," jawab pelayan tersebut.
Dewi Bercadar Merah mengangguk. Dia langsung masuk ke dalam dan menguntit di belakang pelayan tersebut.
Ratu Ayu sudah dibaringkan di tempat tidur. Di depan pintu kamar juga sudah ada empat orang penjaga bertubuh kekar. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang menjamin keamanan di penginapan tersebut.
"Tolong jaga Ibuku. Kalau sampai terjadi apa-apa, nyawa kalian yang menjadi jaminannya," ucap Dewi Bercadar Merah kepada empat orang tersebut.
"Kami mengerti Nyai," jawab salah seorang di antara mereka.
###
Dewi Bercadar Merah sedang berjalan di tengah keramaian. Dia sudah bertanya kepada warga sekitar di mana letak kedai arak terbesar di Kotaraja. Dan sekarang gadis itu sedang menuju ke kedai yang dimaksud.
Kedai itu memang lain daripada yang lain. Ukurannya cukup besar. Lampion berwana kuning kemerahan ditempatkan di segala sudut. Dua orang gadis muda menjadi penerima tamu di pintu masuk.
"Silahkan masuk Nona," kata salah seorang gadis itu.
"Terimakasih,"
Ling Ling kemudian masuk. Yang punya kedai arak ini merupakan orang asli Tionggoan. Dia sengaja berdagang di Tanah Pasundan. Bahkan seluruh pekerjaanya juga sama, mereka berasal dari daratan Tiongkok.
Di kedai ini tentunya menyediakan arak yang berkualitas tinggi dan arak keras. Sedangkan Cakra Buana paling menyukai arak keras dan harum. Oleh sebab itulah Sian-li Bwee Hua menuju kemari.
Dan ternyata tebakannya memang tidak salah. Baru saja dia masuk ke dalam kedai, dilihatnya Pendekar Tanpa Nama sedang duduk seorang diri. Di hadapannya ada dua guci arak keras, yang satu masih tersegel. Di sisi guci arak ada pula satu porsi daging segar.
__ADS_1
"Hebat sekali kau sehingga bisa tahu di mana aku berada," kata Pendekar Tanpa Nama tanpa menoleh ke belakang.
Ling Ling tidak merasa heran. Dia tahu kalau kekasihnya dapat melakukan apa yang oleh orang lain tidak bisa dilakukan. Buktinya saja pemuda itu bisa mengenali kalau dia yang datang, padahal pada saat itu jaraknya masih terhalang beberpa buah meja.
"Seorang setan arak tentunya tidak bakal pergi ke pasar untuk membeli sayur," jawabnya sambil tertawa genit.
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu gadis cantik itu sudah berada tepat di kursi samping Pendekar Tanpa Nama. Dia langsung mencomot daging segar itu lalu merebut arak yang ada di tangan kekasihnya. Kemudian dia langsung meminumnya hingga habis.
Pendekar Tanpa Nama tidak berkomentar apa-apa. Pemuda itu hanya tersenyum kecut menyaksikan tingkah kekasihnya ini.
Menghadapi kekasih seperti Ling Ling harus banyak bersabar. Menghadapi wanita lain pun harus seperti itu. Sabar, dan ikuti apa maunya.
"Ada urusan apa kau mencariku?" tanyanya begitu Ling Ling sudah tenang.
"Ada urusan penting,"
"Urusan penting apa?"
"Pokoknya penting sekali. Kau harus ikut aku sekarang juga," jawab Ling Ling.
"Ke mana?"
"Sekarang juga?" tanya Cakra Buana dengan memasang wajah konyol.
"Besok lusa. Tentu saja sekarang!!!" teriak gadis cantik itu sambil menahan perasaan gemas.
"Aii, baiklah, baik. Mari kita pergi sekarang," keluh Cakra Buana.
Di hadapan kekasihnya, pemuda itu bakal berubah menjadi seperti seekor harimau yang tidak mempunyai taring.
Apakah selamanya kekasih pria takut kepada kekasih wanita?
Satu guci arak yang masih tersegel dia ambil. Kemudian pemuda itu langsung membayar biaya minumnya. Setelah itu, kedua orang tersebut lantas pergi keluar.
###
Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua sudah tiba di kamar penginapan yang di dalamnya ada Ratu Ayu. Cakra Buana amat terkejut begitu mengetahui yang terbaring itu adalah bibinya sendiri.
__ADS_1
Seumur hidupnya dia tidak pernah bermimpi kalau bibinya yang cantik jelita dan dikenal sangat ramah ini bisa sampai terbaring lemah seperti sekarang.
Namun betapapun kagetnya, Pendekar Tanpa Nama tetap berusaha dengan tenang. Sebab dia tahu kalau pada saat ini dirinya sedang menutupi siapa Cakra Buana sebenarnya. Terlebih lagi kepada dua orang kekasihnya.
"Apakah kau mengenal siapa wanita yang terbaring tak berdaya itu?" tanya Ling Ling langsung memasang wajah serius.
"Tentu saja aku tahu. Dia bukan lain adalah Ratu Ayu Kencana Nirmala Putri," jawabnya kalem.
"Ya, benar. Memang beliau. Apakah kau pernah menyangka sebelumnya kalau seorang Ratu sepertinya bakal seperti ini?"
"Tidak pernah. Bahkan mimpi pun tidak,"
"Dia telah mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang telah ditaburi oleh racun ganas dan langka. Selain itu, dirinya juga telah dikerjai oleh seseorang yang berilmu sangat tinggi sehingga seluruh jalan darah dan tenaga dalamnya dilumpuhkan. Alasan itulah yang membuatnya menjadi seperti ini," jelas Sian-li Bwee Hua.
Diam-diam Cakra Buana mengutuk keras seseorang yang sudah membuat bibinya seperti sekarang ini. Pemuda itu bersumpah bahwa dia bakal menemukan siapakah pelakunya.
"Biadab sekali orang itu,"
"Malah sangat biadab. Orang itu iblis, bukan manusia,"
"Benar, hanya iblis saja yang tega melakukan perbuatan keji ini,"
"Aku kesini ingin meminta pertolonganmu," kata Ling Ling mulai mengutarakan maksudnya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Apakah kau bersedia menyalurkan tenaga dalam kepada Ratu Ayu selama tiga hari tiga malam tanpa berhenti sedetik pun?"
"Aku siap …" jawab Pendekar Tanpa Nama dengan cepat.
Tentu saja siap. Jangankan tiga hari tiga malam, bahkan kalau tujuh hari tujuh malam sekalipun dia sangat siap. Demi bibinya yang selama ini telah dianggap ibu kandungnya sendiri, bagaimana mungkin Cakra Buana menolak untuk melakukan sesuatu semua kesembuhannya?
Kalau kau berada di posisi Pendekar Tanpa Nama, bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama?
"Syukurlah. Aku memang sudah menduga kalau kau mau melakukannya,"
"Kapan waktu yang tepat untuk memulai proses penyembuhan itu?"
__ADS_1
"Nanti tengah malam. Kau menyembuhkan Ratu Ayu, aku akan menjaga barangkali ada orang yang mengganggu," jawab Ling Ling.