Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Ratu Ayu Sembuh


__ADS_3

Wushh!!!


Tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama melesat dengan cepat. Pemuda itu bergerak ke arah sebelah barat. Bukan untuk mencari keberadaan pemilik jarum bambu kuning, bukan pula mencari musuh-musuhnya.


Cakra Buana pergi ke sana memang sengaja untuk menemui Dewi Bercadar Merah dan Ratu Ayu.


Benarkah kedua wanita yang sama-sama cantik itu ada di sana?


###


Ruangan itu sudah lapuk. Kayu-kayu di ruangan tersebut sudah dimakan rayap. Sarang laba-laba juga sudah tumbuh di sana sini sehingga memenuhi sebagian ruangan. Tempat pemujaan sangat kotor, malah bagian bawahnya yang juga terbuat dari kayu sudah hampir bobrok.


Ruangan ini bukan lain adalah tempat ibadah di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai. Pada zaman ini, agama hindu dan budha menjadi agama yang paling banyak pemeluknya di Tanah Pasundan.


Memang ada juga beberapa agama atau kepercayaan masyarakat lainnya, namun tetap, hindu dan budha menjadi yang terdepan.


Tapi sekalipun benar demikian, kehidupan di masyarakat dipenuhi oleh kedamaian. Mereka hidup berdampingan dan bersatu di balik sebuah perbedaan.


Di ruangan pemujaan yang jelek itu ada Dewi Bercadar Merah. Gadis cantik tersebut sedang duduk bersimpuh persis di samping Ratu Ayu yang masih saja berbaring.


Ternyata dia dibawa oleh Pendekar Tanpa Nama ke tempat ini pada saat tadi sebelum dirinya bertarung melawan Nenek Tanpa Hati. Jarak kuil tua ini ke penginapan tadi memang tidak terlalu jauh, oleh sebab itulah Cakra Buana bisa membawanya hanya dengan waktu sekejap mata.


Buktinya sekarang pun demikian, baru saja beberapa helaan nafas, pemuda tampan itu telah tiba di sana.


Meskipun keadaannya sangat tidak mendukung, tapi hal ini jauh lebih baik daripada tidak ada tempat sama sekali untuk beristirahat. Alasan Pendekar Tanpa Nama memindahkan Ratu Ayu kemari adalah karena dirinya merasa kalau penginapan tadi sudah berubah menjadi sarang kawanan serigala kelaparan.


"Bagaimana keadaan Ratu Ayu sekarang?" tanya pemuda itu sambil melangkah masuk ke dalam.


"Keadaannya mulai membaik. Mungkin dalam waktu dua atau tiga hari ke depan, beliau akan sembuh seperti sedia kala," jawab Ling Ling sambil membalikkan badannya.


"Syukurlah kalau begitu,"


"Ternyata kau dapat melakukan semuanya dengan baik. Aku sungguh tidak menyangka kalau rencana pengobatan ini akan benar-benar membuahkan hasil," ujar Ling Ling sambil tertawa getir.

__ADS_1


Gadis itu memang tidak pernah menduga sebelumnya. Dia tidak mengira kalau tenaga dalam Cakra Buana benar-benar tidak terukur lagi. Pada awalnya Ling Ling tidak percaya seratus persen terhadap khasiat Ginseng Seribu Tahun yang katanya bisa memberikan tenaga dalam hingga mencapai titik puncak bagi orang yang mengkonsumsinya.


Tapi sekarang setelah dirinya menyaksikan semua kejadian ini, Sian-li Bwee Hua baru benar-benar percaya.


Kalau bukti sudah di depan mata, bagaimana mungkin dirinya tidak percaya?


Pendekar Tanpa Nama sudah menyalurkan tenaga dalamnya kepada Ratu Ayu semenjak tiga hari belakangan, bahkan dia melakukannya tanpa berhenti barang sedetikpun.


Tapi begitu di hari terakhir, berbarengan pula dengan berbagai macam bahaya yang mengancam, pemuda itu justru masih sanggup bertarung hebat dengan seorang tokoh dunia persilatan yang maha lihai. Bahkan dia dapat melangsungkan pertarungan itu dengan baik.


Semuanya berjalan dengan sempurna. Sedikitpun tiada tanda-tanda kalau dirinya merasa lelah. Kecuali keringat wajar yang membasahi seluruh tubuh dan kelopak mata tanda orang mengantuk, rasanya tiada tanda apapun lagi sebagai akibat dari pengobatan itu.


Bukankah semua kejadian yang baru saja lewat itu seperti mimpi?


Tapi itu bukan mimpi. Kejadian tersebut sangat-sangat nyata. Ling Ling pun menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.


"Tanpa Ginseng Seribu Tahun, tidak mungkin aku bisa melakukan semua hal ini," kata Cakra Buana sambil menghela nafas dalam-dalam.


"Setuju, khasiat dari pusaka itu benar-benar luar biasa. Aku sendiri tidak pernah menduganya,"


"Kalau kau saja tidak menduganya, apalagi aku?"


"Jadi selama belakangan ini, kau pun tidak tahu sampai di mana batas tenaga dalam milikmu?"


"Bahkan sampai sekarang pun aku masih belum tahu. Sebab sekalipun sudah menyalurkan tenaga dalam selama tiga hari tiga malam tanpa berhenti, kemudian bertarung dengan tokoh hebat, aku tetap tidak merasa kalau tenaga dalamku sudah terkuras,"


"Hemm, mungkin Ginseng Seribu Tahun mempunyai salah satu manfaat semisal mengisi tenaga dalam dengan otomatis," kata Ling Ling mengira-ngira.


"Bisa jadi. Ah, sudahlah. Untuk apa kita membahas hal-hal misterius itu? Yang jelas untuk saat ini kita harus fokus kepada kesembuhan Ratu Ayu," ucap Pendekar Tanpa Nama kembali ke pokok pembicaraan.


"Kau benar. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Untuk saat ini kau istirahat saja. Serahkan urusan Ratu Ayu kepadaku," ujar Cakra Buana.

__ADS_1


Ling Ling mengangguk tanpa membantah sedikitpun. Tak dapat ditampik lagi kalau dirinya sangat lelah dan membutuhkan waktu untuk istirahat.


Setelah bertarung sengit beberapa kali dan melawan beberapa orang musuh tangguh, rasanya semua tulang di tubuh Ling Ling seperti remuk. Dia sangat butuh istirahat.


Oleh sebab itulah, baru saja beberapa saat kemudian, Dewi Bercadar Merah sudah tertidur dengan pulas.


Pendekar Tanpa Nama menghela nafas sambil tersenyum manis kepadanya. Entah kenapa, hatinya selalu diliputi perasaan nyaman kalau melihat kekasihnya terlelap dengan tenang.


###


Hari sudah berganti. Kabut gelap yang semalam menyelimuti alam semesta telah lenyap dan digantikan dengan kabut terang. Kehidupan yang sunyi sepi itu telah ramai kembali.


Pendekar Tanpa Nama baru saja pulang dari kedai makan. Di tangan kanannya ada sebotol arak. Sudah hampir empat hari ini dirinya tidak minum arak. Dan selama tidak minum, tenggorokannya terasa kering. Kering seperti sebuah selokan yang sudah lama tidak dialiri oleh air.


Sekarang Dewi Bercadar Merah sedang menyuapi Ratu Ayu. Ternyata wanita agung itu bisa sembuh lebih cepat dari dugaan sebelumnya.


Ratu Ayu sudah membuka mata, malah tadi sempat bicara bersama mereka. Hanya saja Cakra Buana menyuruhnya untuk jangan dulu banyak bicara. Hal ini ditujukan agar proses penyembuhan itu lebih cepat lagi.


Setelah selesai menyuapi, Ling Ling langsung pergi ke belakang ke tempat Cakra Buana diam dan minum arak.


"Sudah?" tanyanya begitu Ling Ling duduk di dekatnya.


"Sudah,"


"Baguslah. Aku tidak menyangka kalau beliau bakal sembuh secepat ini,"


"Akupun demikian," jawab Ling Ling.


Keduanya diam untuk sesaat. Suasana hening menyelimuti tempat tersebut.


"Ngomong-ngomong apa yang sekarang akan kita lakukan?" tanya Dewi Bercadar Merah.


"Apalagi? Tentu saja kita harus pergi kembali ke Istana Kerajaan," jawab Cakra Buana lalu menenggak kembali guci anaknya.

__ADS_1


"Hal itu akupun sudah tahu. Maksudku apa yang akan kita lakukan setelah itu?" tanyanya sambil menahan rasa gemas.


"Kalau kau saja sudah tahu, kenapa mesti masih bertanya lagi?" tanya balik pemuda itu sambil melirik nakal kepadanya.


__ADS_2