
"Kapan kita akan bergerak?" tanya Tiang Bengcu kepada tiga orang yang ada di sana.
"Kau adalah Bengcu, jadi yang harus bertanya seperti itu adalah kami. Kami hanya mengikuti semua perintah seorang Bengcu," jawab Huang Pangcu dengan cepat.
Tiang Bengcu tersenyum. Dia merasa senang karena bisa kenal dengan orang seperti Huang Pangcu. Meskipun dirinya terkenal sebagai datuk dunia persilatan, tapi kakek tua itu selalu merendah dan tidak pernah merasa tinggi.
"Bagaimana dengan saudara Li Guan?" tanya kembali Tiang Bengcu sambil melirik kepada Si Buta Yang Tahu Segalanya.
Pemuda itu tersenyum. Senyuman hangat yang dapat mencarikan hati seseorang.
"Aku bukan siapa-siapa, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena itulah, semuanya tergantung kepada Bengcu," jawab Li Guan dengan tenang.
"Aku juga terserah Bengcu," jawab Cakra Buana dengan cepat.
"Maaf, aku tidak bermaksud bertanya kepadamu," ucap Tiang Bengcu sambil bercanda.
Si Buta Yang Tahu Segalanya dan Kakek Tongkat Hijau tertawa terbahak-bahak. Bahkan Tiang Bengcu juga tertawa. Mereka bertiga seolah merasa sangat bahagia kalau sudah mengerjai Cakra Buana.
"Bagus, bagus, sekarang kau malah mengikuti dua keparat ini. Kalau bukan Bengcu, mungkin sudah aku lemparkan kau ke atap bangunan," kata Cakra Buana dengan gemas.
Tiang Bengcu tidak marah. Dia justru malah tertawa. Setelah mencari-cari selama ini, akhirnya dia menemukan orang yang tepat. Dia menemukan sahabat baru.
Sahabat yang sudah diimpikan sejak lama. Sahabat yang bisa diajak bercanda.
Selama ini, Tiang Bengcu memang mempunyai sahabat. Bahkan banyak. Tetapi dari mereka, tidak ada yang benar-benar cocok dengannya. Sahabatnya itu tidak berani bercanda berlebihan karena status dirinya sebagai seorang Bengcu.
Semuanya merasa canggung. Mereka seakan terikat oleh suatu tali yang sulit dilepaskan.
Berbeda dengan Cakra Buana dan dua sahabatnya. Meskipun status mereka berbeda-beda, tapi ketiganya telah dapat bercanda sesuka hati. Tidak ada tali, tidak ada apapun. Ketiganya bebas melakukan apa saja kepada sahabatnya masing-masing.
"Hahaha, sebelum kau melemparkan aku ke atap bangunan, aku akan lebih dulu menendangmu ke atas dahan pohon,"
"Terserah!!!" jawab Cakra Buana berteriak.
Tiang Bengcu tertawa sangat riang. Dia benar-benar gembira. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Sabarlah, mungkin memang sudah takdirmu teraniaya," kata Huang Pangcu sambil mengelus-elus pundak Cakra Buana.
"Masa bodoh," jawabnya ketus.
Keempatnya kembali minum arak. Sekarang Tiang Bengcu sudah menjadi bagian dari tiga sahabat itu.
__ADS_1
"Kalian mau menerimaku sebagai sahabat?" tanyanya untuk memastikan.
"Kenapa harus bicara dulu? Bukankah kita sudah bersahabat sejak dulu?" tanya Huang Pangcu.
"Aku tidak sudi jadi sahabatmu," timpal Cakra Buana.
"Kebetulan, aku juga tidak berkata kepadamu. Aku hanya berkata kepada mereka berdua," ucapnya sambil menunjuk Li Guan dan Huang Pangcu.
Ruangan tersebut menjadi ramai. Ramai oleh orang-orang yang tertawa tanpa henti. Di luar, dua penjaga pintu yang tadi sempat menghalangi Cakra Buana merasa sedikit heran.
Tidak biasanya mereka mendengar suara tawa Tiang Bengcu yang begitu membahana. Tapi dalam hatinya masing-masing, meraka amat bersyukur. Karena biasanya Tiang Bengcu selalu diam, jarang sekali tertawa.
"Nanti aku akan mengirimkan orang-orang untuk menyelidiki dunia persilatan. Kalian tenang saja, cukup perhatikan segala yang ada di sekitar, sisanya serahkan kepadaku," ucap Tiang Bengcu mulai serius kembali.
Huang Pangcu dan dua sahabatnya mengangguk. Mereka cukup mengerti rencana apa yang akan dilakukan oleh Bengcu dunia persilatan itu.
"Aku akan turut serta mengirimkan anggota Kay Pang Pek untuk mencari informasi,"
"Aku akan pergi sendiri untuk menyelidiki hal yang lainnya," sambung Si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Aku akan tetap pada tujuanku. Aku akan membalas dendam kematian guruku, kemudian menjemput Huang Mei Lan, lalu melakukan perjalanan ke tempat berkumpulnya para tokoh nanti," tukas Cakra Buana.
"Kau akan turut serta dalam perebutan benda pusaka itu?" tanya Tiang Bengcu.
"Benar. Aku membutuhkan salah satu dari pusaka itu,"
"Bagaimana jika pusaka itu tidak ada?"
"Ada, pusaka yang akan menjadi perebutan memang ada. Hanya saja, semuanya sudah sesuai rencana mereka. Jadi singkatnya jika kau ingin mendapatkan salah satu dari dua pusaka itu, kau harus siap atas segalanya," kata Li Guan ikut angkat bicara.
Tiang Bengcu mengerutkan keningnya. Dia menjadi penasaran sendiri. Bukankah semua itu rencana Organisasi Naga Terbang? Tapi kenapa mereka benar-benar menyiapkan dua pusaka tersebut? Padahal siapapun tahu, yang namanya benda pusaka, sangat erat kaitannya dengan orang-orang dunia persilatan. Semua orang sungai telaga menginginkan benda pusaka.
"Apakah mereka benar-benar menyiapkan dua benda pusaka itu?" tanyanya kepada Si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Sebenarnya pusaka itu bukan milik siapa-siapa. Hanya saja, kebetulan pihak mereka yang memang menemukan tempatnya lebih dulu,"
"Kenapa mereka merencanakan untuk memberikan pusaka tersebut?"
"Orang sesakti mereka, apakah masih membutuhkan pusaka lainnya?"
"Sesakti itukah anggota Organisasi Naga Terbang?"
__ADS_1
"Benar. Karena itulah mereka tidak membutukan dua pusaka itu. Lagi pula, mereka harus rela berkorban demi melancarkan rencananya. Bukankah semua perjuangan butuh pengorbanan?"
Tiang Bengcu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sekarang dia paham kenapa Organisasi Naga Terbang rela memberikan dua benda pusaka yang dimaksud.
"Pusaka apa yang kau butuhkan?" tanya Tiang Bengcu kepada Cakra Buana.
"Ginseng seribu tahun,"
"Kau rela menempuh maut demi mendapatkannya?"
"Sangat rela. Bahaya apapun, demi mendapatkan ginseng seribu tahun, aku rela menempuhnya," tegas Pendekar Tanpa Nama.
Tiga sahabatnya langsung membungkam mulut. Mereka tidak lagi berkata apa-apa. Tidak ada juga yang bertanya kenapa Cakra Buana menginginkan ginseng seribu tahun itu.
Meskipun terhadap seorang sahabat, tapi ada sesuatu yang tetap tidak bisa kau tanyakan dengan detail. Termasuk masalah pribadi dan tujuan sendiri.
Jika sahabatmu tidak bercerita sendiri, maka lebih baik kau jangan menanyakannya.
"Baiklah, semoga berhasil. Kami di belakangmu tidak akan diam saja," kata Tiang Bengcu lebih lanjut lagi.
"Terimakasih,"
Tak terasa hari mulai malam. Suasana di gedung Bulim Bengcu mulai sepi. Sebagian penjaga sudah berganti. Sekarang yang menjaga gedung itu adalah para penjaga baru.
Rembulan menggantung di langit dengan indah. Sinarnya menyorot ke bumi dengan terang. Bintang bertaburan, angin musim semi berhembus lirih memberikan ketenangan.
Empat tokoh yang masih ada di ruangan terdiam bersama pikirannya masing-masing. Pada saat seperti itu, Cakra Buana mendengarkan sesuatu di kejauhan sana.
Yang dapat mendengar sesuatu itu hanya dirinya. Tiga sahabatnya tidak ada yang dapat mendengar.
"Aku harus pergi sekarang,"
"Kau akan pergi ke mana?" tanya Huang Pangcu.
"Ke mana saja kakiku membawanya. Yang jelas, aku harus pergi. Ada sesuatu yang haris aku kerjakan sekarang,"
"Baiklah. Jangan lupa untuk menjemput cucuku,"
"Baik, kau jangan khawatir,"
Cakra Buana bangkit berdiri. Seperti biasa, dia menyambar guci arak yang ada di atas meja. Setelah itu, dia langsung pergi. Tapi bukan lewat pintu, Cakra Buana pergi lewat jendela ruangan yang kebetulan masih terbuka lebar.
__ADS_1