Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Interogasi Yang 'Kejam'


__ADS_3

Dua belas orang yang tadi sebagai penjaga, kini merasa ketakutan setengah mati. Lutut mereka sudah lemas, sekarang lebih lemas lagi. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Keringat sebesar kacang kedelai perlahan jatuh dari kening.


Mereka menyaksikan semua pertarungan tadi. Dan sekarang mereka paham, bahwa pemuda itu benar-benar lain daripada yang lain.


Untuk lari tidak bisa, melihat juga tak sanggup. Pada akhirnya dua belasan penjaga hanya bisa memejamkan matanya.


Malam semakin dingin. Rembulan tertutup awan, bintang lenyap dari pandangan.


Angin berhembus pelan meniup tubuh. Bau amis menyebar luas.


Si pelayan yang tadi memberikan arak kepadanya masih berlutut dengan penuh perasaan takut. Baginya pemuda itu bukan manusia. Dia sekarang mirip seperti Malaikat Pencabut Nyawa.


Setiap saat, setiap detik, nyawanya bisa dicabut dalam waktu sekejap mata.


"Siapa namamu?" tanya Cakra Buana degan dingin kepada pelayan tersebut.


"A-aku, Eng Kau," jawabnya, wajahnya sudah pucat pasi.


Apalagi punggungnya mengalami robekan cukup dalam. Jelas, dia kehilangan banyak darah. Untungnya Cakra Buana menotok jalan darahnya sehingga darah tersebut tidak keluar lagi.


"Eng Kau, hemm, kau sudah menikah?"


"Be-belum,"


Cakra Buana mengangguk-angguk, entah apa hubungannya dia menanyakan hal seperti itu.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya lebih dingin.


Pelayan tersebut tidak mau menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Pertanda bahwa dia tidak mau menjawab pertanyaan tersebut.


"Apakah benar kau orang-orang Tujuh Perampok Berhati Kejam?"


"Be-betul,"


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Cakra Buana mengulangi lagi pertanyaan yang sebelumnya.


Di tanya seperti itu lagi, kembali si gadis tidak mau menjawab pertanyaannya. Dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.


"Apakah aku harus menguliti tubuhmu dulu supaya kau mau bicara? Atau memotong satu lenganmu, kemudian kakimu, lalu aku potong kedua-duanya. Atau juga apakah aku harus mencongkel matamu dan menebas telingamu supaya kau bisa memberitahukan siapa yang menyuruhmu?"


Cakra Buana sengaja berkata demikian. Tapi tentu saja hal itu tidak akan dia lakukan. Bagaimanapun juga, dia masih mempunyai perasaan. Masih mempunyai perikemanusiaan. Mana berani dia melakukannya?

__ADS_1


Dia sendiri hanya membayangkan, itupun sudah mendatangkan kengerian tersendiri. Tak bisa dibayangkan lagi kalau dia benar-benar melakukannya.


Sebaliknya, pelayan tersebut mulai benar-benar merasa ketakutan. Keringat dingin mengucur semakin deras membasahi tubuhnya. Wajahnya yang tadi sudah pucat, kini bertambah pucat lagi.


Padahal dia seorang wanita, wanita yang cukup cantik. Sayangnya, melakukannya tidak secantik rupanya. Cakra Buana sangat menyayangkan hal tersebut.


"Masih tidak mau menjawab juga?"


"Sringg …"


Pedang Naga dan Harimau kembali dicabut. Sinar keperakan memancar di bawah gelapnya malam.


Melihat pedang itu kembali, nyali si pelayan bertambah semakin ciut lagi. Seumur hidupnya, baru pertama kali ini dia merasa sangat takut di bawah ancaman musuh.


"Aku, aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak tahu namanya dan tidak ingin tahu namanya. Yang jelas aku di ajak oleh sembilan sahabatku. Aku tidak tahu apa-apa tentang siapa dalangnya. Aku tidak tahu, sungguh. Ampunilah aku Tuan, ampuni aku. Yang jelas, dia adalah seorang wanita yang can …"


"Slebb …"


Pelayan wanita tersebut tersentak sangat kaget sambil menyemburkan darah kental yang masih segar. "Tik …"


Dia meneruskan kata-kata terkahirnya dengan suara yang amat lemah sekali, sebab setelah itu nyawanya telah melayang.


Tiga bilah pisau terbang telah menancap tepat di punggungnya hingga hanya tersisa gagang pisau. Pisaunya tidak terlalu besar, bahkan pisau kecil. Namun memiliki ukuran cukup panjang. Masalah tajamnya, jangan ditanyakan lagi.


Saat dia memandang, terlihat ada dua kelebatan bayangan. Yang satu berwarna biru muda, satu lagi warna hijau tua. Kecepatan mereka dalam bergerak sangat cepat sekali. Mirip seperti setan di tengah malam.


Tapi pemuda itu tidak mengejarnya. Dia hanya mencabut tiga pisau terbang tersebut lalu menyimpannya.


Cakra Buana lalu berpaling ke hadapan dua belas orang yang kini masih saja merasa ketakutan.


"Apakah kalian ingin hidup lebih lama?"


"Tentu Tuan, tentu, sebab anak istri kami sudah menunggu di rumah," kata salah seorang mewakili rekan-rekannya.


"Kalai begitu, bereskan mayat-mayat ini. Berhentilah bekerja sebagai bajingan,"


"Ta-tapi Tuan, kami tidak punya modal untuk membuka usaha,"


"Dua ratus keping emas cukup?"


Mata setiap orang bersinar terang. Seolah mereka yang sudah terperosok ke dalam jurang tanpa dasar, tiba-tiba ada seutas tali yang menariknya ke atas.

__ADS_1


Tentu saja dua ratus keping cukup. Bahkan sangat cukup. Mereka bisa menggunakan kepingan itu untuk usaha yang cukup besar dan membangun rumah.


"Lebih dari cukup Tuan,"


"Kalai begitu, ambillah," kata Cakra Buana sambil melemparkan satu kantong kecil keping emas lalu menyuruh mereka untuk menghitung. Satu orang dua ratus keping emas.


Sisanya mereka segera kembalikan kepada Cakra Buana.


"Gunakan uang itu untuk membuka usaha, membahagiakan anak istri kalian. Sekali kalian bohong, aku dapat mengetahuinya," katanya dengan dingin.


Serentak orang-orang tersebut mengangguk penuh terimakasih.


"Semoga Thian (langit) melindungi Tuan Muda, semoga panjang umur," ucap mereka serentak sambil bersujud tiga kali.


Sayangnya orang yang dimaksud sudah lenyap dari pandangan.


"Sekarang, ayo kita jalankan tugas untuk menguburkan mayat-mayat ini. Bagaimanapun juga, kita jangan sampai mengecewakan tuan penolong kita," kata seorang di antara mereka.


Semua orang mengangguk setuju. Mereka kemudian mengumpulkan tenaga untuk mulai menguburkan mayat-mayat itu.


###


Cakra Buana berjalan sendiri. Di tengah malam seperti ini, dia berharap ada warung arak buka. Atau paling tidak, setidaknya ada orang yang bisa menemani dirinya.


Sepanjang perjalanan, dia memikirkan serentetan peristiwa yang baru saja terjadi menimpa dirinya. Siapa sepuluh orang tadi? Apakah benar mereka dari Tujuh Perampok Berhati Kejam dan Kay Pang Hek?


Dan lagi, siapa pula yang dimaksud gadis cantik tadi? Apakah si 'dia'? Atau bukan?


Cakra Buana tidak habis pikir. Kenapa orang-orang selalu mencari masalah dengannya? Padahal jelas dia sendiri tidak mencari masalah.


Apakah karena pusaka yang ada pada dirinya? Ataukau karena dia orang asing?


Cakra Buana tidak tahu. Dia juga tidak menemukan jawaban yang tepat.


Tetapi dia sedikit percaya kalau orang-orang tersebut memang berasal dari dua kelompok yang pernah ada masalah dengannya.


Tapi bisa juga memang orang lain. Bukankah Huang Pangcu pernah bicara bahwa tokoh-tokoh sungai telaga mulai mengincar nyawanya? Terlebih lagi pusaka yang ada padanya.


"Ah, semakin dipikir semakin pusing. Belum lagi pisau tadi, siapa yang melemparnya? Bagaimanapun juga, aku harus memecahkan misteri yang serba ganjil ini," gumamnya sendirian.


Tentu saja dia harus membereskan semuanya. Sebagai seorang pendekar, dia tidak mau meninggalkan nama buruk walaupun di negeri orang.

__ADS_1


Di mana pun dia berada, dia harus mempunyai nama baik.


"Orang-orang dunia persilatan memang aneh-aneh," sebuah suara memecah keheningan.


__ADS_2