Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sentilan Dewa Tanpa Tanding


__ADS_3

Semua orang yang menyaksikan pertarungan tersebut dibuat tercengang. Mata mereke melotot tidak percaya.


Siapapun masih sangsi akan kejadian barusan. Bahkan Huang Yang Qing juga merasakan hal sama. Kakek tua itu merasa sangat tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi.


Apalagi Cakra Buana, pemuda itu hanya bisa melihat tanpa mampu berkedip.


Kejadian seperti ini sungguh diluar dugaan setiap orang yang ada di sana.


Pertarungan berhenti sejenak karena mereka juga terkejut. Sama seperti yang lainnya.


Si Buta Yang Tahu Segalanya turut diam. Tapi senyuman tidak pernah menghilang dari bibirnya.


Semua orang bertanya-tanya dalam benaknya masing-masing. Sekarang mereka menjadi ragu. Apakah benar orang itu buta? Atau hanya pura-pura buta? Terlepas apapun itu, siapapun pasti tidak akan dapat melihat jika kedua matanya ditutup.


Yang Seng sebagai korban masih terpaku. Hawa murni segera dia salurkan ke seluruh tubuh untuk mengurangi rasa sakit dan melindungi daya tahan tubuhnya.


"Apakah pertarungan ini masih akan dilanjut?" tanya si Buta Yang Tahu Segalanya sambil tetap tersenyum.


Semua orang seperti baru tersadar dari mimpi. Terlebih lagi kelima lawannya.


"Sombong betul kau. Lihat serangan …"


Merasa malu, Yang Seng kini sudah menerjang lagi. Kali ini dia lebih berlaku hati-hati setelah mendapatkan kejadian memalukan itu.


Kedua tangannya melancarkan serangan jarak jauh. Empat gulung angin dahsyat menerjang. Sebelum angin itu mencapai sasaran, tubuhnya juga sudah melesat memberikan serangan jarak dekat.


Tidak berapa lama setelah itu, pemimpin cabang Kay Pang Hek juga melakukan hal yang sama.


Dia menyerang ganas dengan tongkat bambu yang selalu digenggam di tangannya. Tongkat itu di kibaskan dari kanan ke kiri. Kadang sebaliknya.


Dua serangan ganas sudah dikeluarkan dari dua sisi dan dua orang berbeda. Semuanya serangan berbahaya.


Tapi si Buta Yang Tahu Segalanya masih terlihat santai. Dia hanya berkelit lalu melompat untuk menghindari serangan Yang Seng. Setelah itu, dia kembali menghindar semua serangan yang dilancarkan oleh si ketua cabang Kay Pang Hek.


Harus diakui bahwa serangan mereka belum dua adalah serangan yang sangat berbahaya. Sekali saja salah langkah, maka akibatnya kematian.


Namun anehnya, bagi si Buta Yang Tahu Segalanya, justru dua serangan tersebut seperti tidak mengandung apa-apa. Baginya mungkin hanyalah serangan anak kecil saja. Karena dengan begitu mudahnya dia bisa lepas dari jeratan musuh.

__ADS_1


Entah bagaimana caranya dia melakukan semua itu. Yang bisa melihat dengan pasti hanyalah tokoh-tokoh kelas atas saja. Selain mereka, jangan harap ada yang bisa melihat gerakannya dengan gamblang.


Si ketua cabang Kay Pang Hek dan Yang Seng saat ini sedang menggempur dalam serangan jarak dekat. Pukulan dan sabetan tongkat berkilat membawa deru angin tajam.


Plakk!!! Plak!!!


Dua kali benturan terjadi. Akibatnya kembali membuat terkejut siapapun.


Tongkat bambu si ketua cabang Kay Pang Hek berhasil dijepit oleh dua jari si Buta Yang Tahu Segalanya. Pukulan yang dilancarkan oleh Yang Seng berhasil ditahan hanya dengan satu jari telunjuk.


Werr!!!


Keduanya merasa ada sambaran angin hebat menerpa ke arahnya secara tiba-tiba. Akibatnya mereka berdua kembali terpental sampai bergulingan di tanah.


Belum sempat si Buta Yang Tahu Segalanya mengambil posisi sempurna, tiga serangan lainnya telah datang dengan dikomandoi oleh Oh Kay Tin. Tiga pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam sudah mulai turun tangan.


Pedang, golok dan tombak sudah berkilat menusuk orang buta tersebut. Angin yang dihasilkan dari setiap kibasan tiga senjata itu mengibarkan rambut dan pakaiannya.


Gerakan mereka lebih cepat. Lebih ganas. Dan tentunya lebih menakutkan. Terlebih lagi Oh Kay Tin.


Suara mendengung terdengar setiap pedang tersebut bergerak. Tombak menusuk dari samping kanan mengincar seluruh bagian di sana. Golok menyabet dari arah kiri tanpa kenal ampun.


Golok itu berukuran cukup besar. Mata goloknya juga sangat tajam. Jangankan tubuh manusia, pohon besar pun bisa ditebas roboh hanya dalam sekali tebasan.


Apalagi tubuh manusia?


Namun sepertinya lawan yang mereka hadapi saat ini bukanlah sembarangan. Orang buta ini bukan orang buta biasa.


Tangannya selalu bergerak menahan serangan dari tiga senjata. Golok selalu disentil pelan sehingga berbalik. Begitu juga dengan tombak yang tajam itu. Hanya pedang Oh Kay Tin saja yang membuatnya cukup kerepotan sehingga beberapa kali dia harus berjumpalitan karena merasa terdesak.


Tetapi bukan berarti dia akan kalah. Justru si Buta Yang Tahu Segalanya memang sengaja ingin mengetahui sampai di mana kehebatan lawan. Selama pertarungan yang sudah berlangsung puluhan jurus ini, dia hanya terus menghindar atau bertahan saja.


Bukan karena tidak sanggup untuk menyerang balik. Dia justru sangat sanggup. Hanya saja Li Guan ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa orang buta pun bisa melakukan sesuatu seperti orang normal.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Dentingan nyaring terdengar tiga kali. Tiga batang senjata dipukul mundur oleh sentilan tangannya yang mengandung tenaga dalam besar.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Yang Seng berteriak sangat kesal lalu menerjang disusul oleh si ketua cabang Kay Pang Hek.


"Mampus kau orang buta …" teriak Yang Seng sambil melancarkan pukulan beruntun yang dahsyat.


Hawa panas menyebar luas. Pukulannya sangat cepat dan sepertinya mengandung racun.


Si Buta Yang Tahu Segalanya hanya berkelit ke samping kiri. Setelah itu, dia melancarkan sentilan yang tepat mengarah leher Yang Seng. Di susul kemudian dia menyentil jantung ketua cabang Kay Pang Hek.


Dua gerakan tersebut dilakukan dengan sangat-sangat cepat sekali. Sehingga lebih mirip seperti sambaran kilat di tengah malam.


Keduanya terlempar jauh. Mereka bergulingan lalu tidak bergerak lagi.


Keduanya tewas tanpa mengeluarkan suara keluhan sedikitpun.


Hanya saja dari wajah mereka jelas menggambarkan rasa tidak percaya. Matanya melotot. Ekspresi wajahnya bercampur antara marah atau terkejut.


Dada si ketua cabang Kay Pang Hek jebol. Darah keluar dari setiap lubang di tubuhnya.


Sedangkan leher Yang Seng patah. Wajahnya pucat pasi karena tidak kuasa menahan rasa sakit. Namun selain itu, sepertinya dia juga mengalami luka dalam yang sangat parah.


Lagi-lagi kejadian ini membuat orang terkejut bukan kepalang.


Bagaimana tidak? Hanya dengan sentilan saja, dia sudah mampu membunuh dua orang pemimpin yang kemampuannya jelas sudah tinggi.


Sekuat itukah sentilannya? Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika dia memukul keras. Memakai sentilan saja sudah mampu menjebol dada orang. Apalagi jika memukul?


"Jurus apa yang kau gunakan? Sepertinya aku baru melihat jurus yang demikian anehnya," kata Huang Yang Qing lewat ilmu pengirim suara melalui pikiran, sehingga tidak ada yang bisa mendengarnya.


"Sentilan Dewa Tanpa Tanding," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya dengan pengerahan ilmu yang sama.


###


Btw mohon maaf ya tadi salah up wkwk. Maklum lah, buat dua novel berjalan bersama memang sedikit repot hihi


Sudah dihapus juga, cuma mungkin belum diperbarui sama sistem. Maaf ya …


Jangan lupa kopinya kakang dan nyai☕

__ADS_1


__ADS_2