
Fajar telah tiba. Semburat jingga memenuhi langit memancar ke mayapada. Kehidupan telah berhenti kembali. Malam pergi. Siang akan tiba. Bulan menghilang. Matahari akan datang.
Apakah kehidupan juga seperti itu?
Banyak yang mati meninggalkan dunia. Tak sedikit yang lahir ke alam dunia. Banyak yang datang, banyak pula yang pergi.
Burung-burung menyambut pagi ini dengan riang. Suaranya memecahkan kesunyian di padang rumput Gunung Hua Sun. Hawa yang dingin menusuk tulang, sekarang telah digantikan pula dengan hawa hangat yang perlahan menyengat tubuh.
Sekarang semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi pertarungan hebat. Ya, tidak ada. Setidaknya untuk saat ini. Entah kalau nanti.
Tujuh orang mayat manusia masih bergelimpangan di tanah. Belum lagi belasan atau bahkan mungkin puluhan mayat lainnya. Darah mereka sudah mengering. Tubuhnya juga sudah kaku. Darah menyatu dengan rumput. Tubuh manusia menyatu dengan tanah.
Pemandangan seperti ini, tentunya bukan suatu pemandangan yang baik. Siapapun tidak ingin melihat puluhan mayat yang tewas mengenaskan. Sayangnya, sekalipun mereka tidak ingin, orang-orang itu tetap harus melihatnya.
Sekarang keadaan di sana masih tetap hening. Selain suara decitan burung tadi, rasanya tidak ada suara lainnya lagi. Kecuali hanya helaan nafas belasan manusia.
Para tokoh pilih tanding belum ada yang bergerak. Sepasang mata orang-orang itu sedang menatap tajam ke arah Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding.
Terlebih lagi Sian-li Bwee Hua. Gadis cantik itu sangat benci, sangat dendam, bahkan dia sangat menginginkan kematian datuk rimba hijau tersebut.
Sekarang semua orang sudah tahu bahwa di antara mereka, ternyata ada satu orang pengkhianat. Bukan mengkhianati perguruan. Pengkhianatan ini lebih besar dari pengkhianatan lainnya.
Dia sudah mengkhianati tanah airnya. Khususnya dunia persilatan Tionggoan. Karena secara tidak langsung dia telah bersekongkol dengan musuh besarnya yang baru saja berhasil dimunashkan, yaitu Organisasi Naga Terbang.
"Sekarang semua kelakuan busukmu sudah diketahui," kata Sian-li Bwee Hua memecahkan kesunyian di padang rumput Gunung Hua Sun.
"Ya, aku tahu," jawab Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding.
__ADS_1
"Kau tidak bisa lari ke mana-mana lagi. Seluruh orang-orang dunia persilatan sudah mengetahui topeng busukmu. Mereka memang berasal dari berbagai macam golongan. Tapi di antara mereka, tidak ada yang berani melakukan seperti apa yang kau lakukan. Mereka lebih memilih untuk mati dari pada harus berkhianat kepada tanah airnya sendiri," kata Sian-li Bwee Hua dengan suara dalam.
Datuk dari Utara itu tidak mampu berkata lagi. Sejatinya dia bingung harus menjawab apa. Karena apa yang dikatakan oleh Ling Ling sangat sesuai dengan kenyataan.
Betul bahwa orang-orang yang hadir berasal dari berbagai macam golongan. Ada golongan hitam, putih, dan golongan merdeka. Tapi di antara mereka, rasanya memang tidak ada yang melakukan pengkhianatan besar seperti dirinya.
Rasanya, apa yang dia lakukan tidak pantas mendapatkan maaf dari siapapun. Jalan satu-satunya untuk menebus kesalahan itu adalah dengan kematian.
Tapi apakah benar dia ssnggup untuk mati hanya demi mendapatkan ungkapan maaf dari semua orang?
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Sian-li Bwee Hua setelah terdiam beberapa saat sambil terus memandangi wajah orang tua itu.
"Aku tidak tahu," jawab datuk Utara itu.
"Hemm, aku ingin menantangmu melangsungkan duel hidup dan mati," tegas wanita itu.
Orang-orang yang ada di sekelilingnya terkejut dengan perkataan Ling Ling.
Kalau sekarang dia sudah menantang kembali si Harimau Sakti Tiada Tanding, itu artinya Dewi Bunga Bwee terlalu memaksakan diri. Sedangkan untuk memaksakan diri sendiri, merupakan perbuatan yang paling dihindari oleh orang-orang persilatan.
Apalagi, mereka juga tahu bahwa kakek tua itu bukanlah lawan yang mudah untuk dihadapi. Kesempurnaan tenaga dalam serta ketinggian ilmunya sudah tidak bisa diukur dengan kata-kata. Terlebih lagi, menurut kabar, Poh Kuan Tao sendiri merupakan datuk yang menempati urutan pertama.
Dari hal di atas saja sudah bisa digambarkan betapa lihainya kakek tua itu.
Sebelum menjawab, Poh Kuan Tao malah tertawa lantang. Saking lantangnya sampai-sampai seluruh tubuh yang sedikit kurus itu ikut terguncang.
Para tokoh kelas atas merasa tergetar pada saat mendengar suara tawa itu. Pasalnya mereka juga tahu dan mengerti bahwa di balik suaranya, ada satu gelombang suara yang mengandung tenaga dalam tinggi.
__ADS_1
Entah apa tujuan dia melakukan hal itu. Apakah untuk pamer kekuatan? Atau untuk menguji setangguh apa calon musuhnya?
"Hahaha … baik, baik. Kalau memang kau ingin berduel denganku, silahkan, dengan senang hati aku akan meladenimu,"
Para tokoh pilih tanding semakin terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa kakek tua itu bakal menerima tantangan Ling Ling. Pasalnya keadaan gadis itu sekarang sudah teramat kelelahan. Tadi saat dia berkata demikian sesungguhnya karena terburu oleh hawa nafsu belaka.
"Tua bangka busuk, tak kusangka kau berani bertindak begitu pengecut," kata Huang Pangcu memakinya.
Pemimpin Kay Pang Pek itu paling benci melihat orang yang seperti Poh Puan Tao. Kalau saja boleh, andia saja diizinkan, maka dia sendiri yang bakal mewakili Ling Ling untuk melawannya.
Sayang, hal itu tidak akan mungkin terlaksana. Sebab di antara mereka berdua, sesungguhnya ada sebuah dendam yang teramat dalam. Mungkin lebih dalam dari apapun di dunia ini.
"Ternyata kau lebih pengecut dari si Pedang Maut dan si Ruyung Emas," kata Tian Hoa tidak mau ketinggalan.
Poh Kuan Tao yang menempati urutan pertama dari empat datuk itu tidak menghiraukan ejekan dua orang datuk lainnya.
Pada dasarnya dia adalah orang yang teguh kepada pendiriannya. Kalau dirinya bilang A, maka siapapun tidak akan ada yang sanggup mengubahnya jadi B.
Yang lebih utama lagi, pemilik Perkampungan Raja Harimau itu mempunyai muka tebal. Dia tidak tahu malu. Sekalipun bagi orang lain sangat memalukan, tapi kalau menurutnya tidak, maka dia tetap akan menganggap tidak. Dalam hal apapun. Tidak terkecuali seperti sekarang ini.
"Persetan kalian akan bicara apa, toh dia sendiri yang menantangku untuk berduel sampai ada yang mampus di antara kami," tegasnya kepada dua orang datuk itu.
Tepat setelah selesai berkata demikian, dia langsung melompat ke tengah arena.
Poh Kuan Tao juga sadar bahwa dirinya tidak mungkin lagi bisa selamat dari sini. Bagaimanapun dia ingin membebaskan diri, dia tetap tidak akan bebas dari kepungan para tokoh pendekar dari Tionggoan.
Oleh sebab itulah dirinya menerima tantangan Ling Ling. Setidaknya, dia bisa membunuh gadis itu kalau memang dirinya sanggup.
__ADS_1
Karena bagi datuk pengecut itu, nyawa Ling Ling jauh lebih berharga dari nyawa lima orang tokoh pendekar.
Entah apa sebenarnya yang sudah terjadi di antara mereka berdua.