Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Seruling dan Syair Kerinduan


__ADS_3

Cakra Buana dan Mei Lan saling pandang kembali. Mata mereka bertemu, ada pancaran mata lain dari keduanya. Terasa lembut, hangat dan menenangkan.


"Kakek!!!" kata gadis cantik itu geram. Dia langsung menarik jenggot Huang Yang Qing.


Tentu saja kakek tua itu merasa rikuh. Namun dia tetap tidak berhenti tertawa.


"Aduh, aduh, iya, maaf, maaf. Aii galak sekali cucuku ini," katanya sambil mengelus jenggot yang terasa sangat sakit.


"Duduklah," perintahnya.


Mei Lan langsung mengambil tempat duduk di sisi kakeknya. Dia sama sekali tidak berani memperlihatkan wajahnya. Wajah cantik itu selalu tertunduk tersipu malu. Jantungnya berdetak keras tidak karuan.


Apalagi saat mata pemuda tersebut menatap lembut kepadanya.


Cakra Buana juga tahu, walaupun gadis itu tertunduk, sebenarnya diam-diam dia masih melirik ke arahnya.


"Nah, sekarang kau percaya bahwa Mei Lan tidak diculik?"


"Pe-percaya," jawabnya sedikit gugup.


Dalam hati, Cakra Buana mungkin berkata, daripada diculik orang, lebih baik aku sendiri yang menculiknya.


"Aku sarankan lebih baik kau berhati-hati nak. Sekarang kau sendiri sudah tahu bahwa dirimu menjadi incaran. Saranku, cepat antarkan saja kitab itu ke Perguruan Rajawali Sakti. Dengan begitu, setidaknya kau terlepas dari beban berat," kata Huang Yang Qing memberikan nasihat.


"Aku juga berpikiran seperti itu Pangcu. Lebih cepat lebih baik, tapi apakah Pangcu sudah tahu siapa yang menyebarkan berita bohong ini?" tanya Cakra Buana penasaran.


"Aku belum tahu. Tapi anggotaku sedang mencari informasi lebih terkait hal ini. Semoga saja bisa mendapatkan titik terang,"


"Semoga begitu. Pangcu, apakah aku boleh bertanya?"


"Apa yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja," jawab kakek tua itu.


"Sebenarnya pusaka apa yang akan perebutkan nantinya saat pertemuan besar?"


"Aii, kau belum tahu? Pusaka itu berupa satu kitab sakti dan dua buah ginseng seribu tahun,"


Cakra Buana terkejut mendengarnya. Berarti apa yang dibicarakan oleh ayahnya kemarin tidak salah. Kalau begini caranya, bagaimanapun juga dia harus ikut memperebutkan ginseng tersebut.


"Apakah aku boleh jika ingin memiliki salah satu di antara pusaka itu?"


"Tentu saja boleh. Siapapun boleh ikut, tapi, pusaka apa yang kau inginkan?"


"Aku hanya memerlukan ginseng seribu tahun itu Pangcu,"


Huang Yang Qing mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


"Semoga kau mendapatkannya. Sekarang pusaka tersebut berada di sebuah tempat. Tempat itu dijaga ketat, nanti pada saatnya akan dibuka. Saat itu sudah pasti seluruh jago dunia persilatan akan hadir di sana. Kau harus berhati-hati,"


"Pesan Pangcu akan aku ingat selalu," jawab Cakra Buana.


"Bagus. Kita akan bertemu di sana nanti. Jangan lupa, aku akan menunggu kedatanganmu bersama cucuku ini," katanya sambil melirik Huang Mei Lan.


"Kalau Adik Lan berkenan, setelah mengantarkan kitab ini, aku pasti akan kemari lagi,"

__ADS_1


"Seorang pria sejati tidak akan mengkhianati janji," kata kakek itu sambil tersenyum.


"Itu sudah pasti," jawab Cakra Buana.


Keduanya minum arak bersama-sama.


Diam-diam Huang Mei Lan merasakan betapa senang hatinya itu. Dia sedang berbunga-bunga sekarang.


Menurut perhitungannya, saat Cakra Buana kembali untuk menyusul dirinya, dia merasa sudah sempurna mempelajari seluruh ilmu yang diwariskan oleh kakeknya tersebut.


Mereka berbicara menceritakan hal-hal yang menggembirakan. Keadaan di ruangan tersebut sekita menjadi lebih akrab.


Tanpa terasa, setiap kali Mei Lan tertawa, Cakra Buana akan memandanginya.


Pemuda itu merasakan jika tertawa, gadis itu beberapa kali lebih cantik lagi.


Saat menjelang malam, Cakra Buana meminta izin untuk berpamitan. Dia akan melanjutkan perjalanannya secara perlahan. Selain itu juga, dia akan mencari penginapan untuk tidurnya.


Walaupun kakek tua itu menawarinya untuk menginap di sana, namun Cakra Buana tetap menolak. Bagaimanapun juga dia masih merasa malu. Apalagi jika mengingat kebaikan kakek tua itu.


"Baiklah kalau kau ingin tetap pergi. Jangan lupa jika tugasmu selesai, jemput cucuku," ujarnya mengingatkan kembali seolah dia takut anak muda itu melupakan janjinya.


"Pasti Pangcu. Apapun yang terjadi, aku akan kembali memenuhi janji,"


Jika pemuda itu sudah bertekad, maka apapun tidak akan bisa menggoyahkan tekadnya. Sekalipun bumi hancur, dia aka tetap mendatangi Mei Lan.


Walaupun nyawanya melayang, dengan sukmanya, dia akan tetap mendatanginya.


Jika seorang pria sejati sudah berjanji, pantang baginya untuk menarik kembali janji tersebut.


Malam terang bulan. Musim semi telah tiba. Harum semerbak dari bunga-bunga mekar menusuk hidungnya. Dia amat menyukai keadaan seperti ini.


Pemuda itu berjalan dengan santai. Seolah dia tidak memikirkan apapun. Seolah dia tidak mempunyai masalah sama sekali.


Yang terpenting baginya, dia harus menikmati suasana ini.


Di depan ada penginapan, Cakra Buana segera memesan kamar. Setelah mendapatkan kamar, dia langsung menuju ke sana.


Kamarnya berada di atas.


Cakra Buana sudah duduk di jendela sambil memandangi indahnya rembulan yang bersanding dengan bintang.


Tanpa terasa dia mengambil seruling bambu lalu mulai memainkan nada-nada kerinduan.


Jelas, dari sini saja dia sangat merindukan kekasihnya yang berada jauh di sana.


Kekasihku


Walaupun berpisah, tapi hati kita tetap bersatu


Siang malam kupanjatkan doa untukmu


Apakau kau juga begitu?

__ADS_1


Aku disini dengan sejuta kerinduan


Setiap saat terbayang wajahmu


Setiap saat terbayang senyummu


Apakah kau juga sama denganku?


Sekarang jarak membentang


Tapi cintaku tetap dirimu


Aku rindu belaianmu


Aku rindu suaramu


Tunggu aku pulang


Bersabarlah wahai Dewiku


Aku akan kembali


Kepadamu …


Tanpa terasa dia bersyair sambil sesekali memainkan serulingnya. Suaranya mengalun hingga jauh ke sana. Seketika suasana di daerah sekitar mendadak sendu.


Setiap orang yang mendengar syair dan suara seruling yang dibarengi dengan tenaga dalam itu, pasti mereka akan merasakan hal yang sama.


Semua orang bertanya-tanya siapakah yang meniup seruling dan bersyair begitu indah?


Sayangnya tidak seorangpun tahu.


Rembulan semakin meninggi. Angin berhembus pelan. Bunga bermekaran.


Cakra Buana sudah berhenti memainkan seruling. Sekarang dia sedang memandangi ke kejauhan sana.


Mendadak satu bayangan berkelebat di antara atap-atap bangunan. Jumlahnya tiga orang. Sepertinya mereka sedang saling mengejar.


Sebagai jiwa muda, perasaannya tentu langsung dihantui oleh rasa penasaran.


Pendekar Tanpa Nama menutup rapat jendela lalu pergi ke sana.


Sayangnya beberapa saat dia mengejar, bayangan tersebut tidak diketahui lagi jejaknya. Dia langsung kembali ke kemarnya.


Saat tiba, seorang mengetuk pintu.


Cakra Buana melihat seorang pelayan sedang berdiri di pintunya. Dia membawa satu guci arak lengkap dengan beberapa potong daging dan cawannya.


"Dari siapa ini?" tanyanya kepada si pelayan.


"Dari pihak penginapan Tuan. Di sini setiap tamu memang selalu mendapatkan satu guci arak. Satu guci ini gratis, namun jika nambah lagi, harus bayar," katanya sambil tersenyum ramah.


"Baiklah. Terimakasih, nanti jika kurang aku panggil lagi dirimu,"

__ADS_1


Cakra Buana menutup pintu setelah menerima guci arak tersebut.


Sedangkan si pelayan, sebelum pergi, dia tampak tersenyum misterius.


__ADS_2