
Mataharinya sudah tepat berada di atas kepala. Siang ini amat terik sekali. Pancaran matahari terasa membakar kulit. Sekarang masuk musim kemarau, oleh sebab itulah matahari terasa lebih panas daripada biasanya.
Angin menghilang entah ke mana. Langit yang biasanya dipenuhi oleh awan pun, sekarang tampak lenggang.
Namum terlepas seperti apapun panasnya, toh manusia tetap harus mau bekerja dan berusaha. Bagi sebagian orang, kemarau adalah musim yang menyebalkan karena panasnya. Tapi bagi sebagian orang lagi, kemarau justru musim yang dinanti-nantikan.
Begitu pula dengan musim hujan. Meskipun bagi kebanyakan orang musim ini sangat menjengkelkan, namun bagi mereka, musik ini justru musim yang sangat ditunggu-tunggu.
Di kedai arak yang biasanya tampak ramai itu, sekarang hanya ada lima orang pengunjung saja. Entah ke mana perginya pelanggan mereka, padahal biasanya saat siang begini selalu banyak tamu.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah duduk di sebuah meja. Mereka berhadapan dengan satu pria tua yang umurnya hampir sebaya dengan Kakek Sakti sendiri.
Wajahnya ramah. Sekulum senyuman juga selalu dia lemparkan walau kepada siapapun.
Wajahnya begitu jenaka. Senyumannya, meskipun dia sudah tua, namun rasanya masih sanggup untuk menyejukan jiwa lawan bicaranya.
Sosok itu memakai pakaian serba hitam. Pakainnya ringkas. Rambutnya yang sudah memutih dia gelung sedikit ke atas menjadikannya seperti orang alim.
Siapa lagi kalau bukan si Kakek Penyaru?
Ya, memang dialah sosok yang dimaksud. Itulah wajah aslinya. Wajah yang sudah tua, tapi keriput belum banyak muncul pada rona mukanya itu. Walaupun usianya sudah lanjut, namun kegagahan di waktu mudanya masih bisa terlihat dengan jelas.
Mereka bertiga sedang minum arak. Dua guci arak sudah habis, sepertinya ketiga orag tua itu ingin menambah kembali. Walaupun sudah lanjut usia, tapi takaran minumnya ternyata masih banyak.
Pada zaman ini, arak sudah bisa didapatkan dengan mudah. Semua arak itu didatangkan dari Tionggoan langsung lewat jalur perdagangan laut. Bukan cuma arak, bahkan beberapa barang lainnya yang berasal dari sana juga sudah cukup menyebar luas di Nusantara. Seperti halnya kembang api dan sebagainya.
Kenyataan ini menjadikan keadaan di Nusantara, Khususnya Pulau Jawa menjadi lebih maju dari yang lainnya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kakek Penyaru memulai pembicaraan serius.
"Aku ingin meminta bantuanmu," jawab Kakek Sakti.
"Bantuan apa?"
"Aku ingin kau ikut ke dalam Istana Kerajaan,"
"Untuk apa aku ke sana? Bukankah kau juga tahu kalau aku sangat benci dengan orang-orang Istana yang penuh adat istiadat itu?"
Kakek Penyaru adalah salah satu orang yang paling tidak suka dengan segala macam adat istiadat. Menurutnya, mengedepankan adat istiadat hanya menambah kesulitan saja. Dia lebih suka bebas tanpa adanya aturan-aturan segala macam.
Oleh sebab itulah hingga usianya lanjut seperti sekarang, belum pernah sekalipun dia menginjakkan kaki di Istana Kerajaan. Padahal sudah beberapa kali dia diundang untuk ke sana.
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu. Tapi yang sekarang ini, kita bukan untuk bertemu dengan Prabu. Kita mempunyai urusan lain yang jauh lebih penting,"
"Urusan apa?"
"Aku ingin kau merias kami menjadi seseorang,"
"Menjadi siapa?"
"Menjadi Ratu Ayu dan Dewi Bercadar Merah,"
Kakek Penyaru mengerutkan keningnya. Dia tahu siapa Ratu Ayu, tapi kakek tua itu tidak tahu siapa Dewi Bercadar Merah. Bahkan mendengar namanya pun baru sekarang.
"Siapa itu Dewi Bercadar Merah?"
"Dia adalah murid dari sahabat kami," sahut Nenek Sakti dengan cepat.
"Tapi aku baru mendengar kalau di Istana ada nama itu,"
"Dia memang belum lama menjadi orang Istana. Bagaimana, apakah kau mau?"
Kakek Penyaru berpikir sebentar. Dia tidak bisa langsung memutuskan sebuah persoalan.
"Tidak salah lagi,"
"Baik. Aku akan ikut kalian, demi Ratu Ayu, aku rela menginjak Istana Kerajaan,"
Beberapa waktu belakangan ini, nama Ratu Ayu memang sedang naik daun. Pasalnya karena dia sudah melakukan berbagai macam kegiatan dan sebagainya yang menguntungkan rakyat banyak.
Terlebih lagi, dia menjadi lebih disukai semua rakyatnya setelah mereka mengetahui kalau Prabu Katapangan sedikit berubah semenjak dirinya menambah selir baru itu.
"Bagus sekali," seru Kakek Sakti dengan tertawa.
"Kalau begitu aku harus bersiap-siap dulu,"
"Baik. Kami akan menunggumu di sini,"
Kakek Penyaru mengangguk. Kemudian dirinya segera pergi dari kedai arak itu.
###
Malam telah tiba. Tiga orang tua sudah bersiap untuk melakukan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!
Tiga bayangan manusia melesat di tengah kegelapan malam. Gerakan mereka cepat dan ringan seperti daun kering yang terhembus angin. Hanya sesaat saja sudah tidak terlihat oleh mata.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti serta Kakek Penyaru masuk ke dalam Istana Kerajaan lewat bagian utama. Ketiganya sengaja tidak perlu berpura-pura menjadi penyusup. Karena sekarang Kakek Penyaru telah berubah menjadi salah satu sosok orang-orang Kerajaan.
Tiada seorang pun prajurit Kerajaan yang merasa heran. Sebab mereka sudah tahu siapa saja ketiga orang di hadapannya ini.
Begitu berhasil melewati semua 'rintangan', tiga orang tua itu langsung menuju ke kamar Ratu Ayu. Di sana ternyata Dua Dewi sudah menunggu.
"Bagaimana, apakah kalian berhasil membawa Kakek Penyaru?" tanya Dewi Bercadar Biru sambil bangkit dari tempat duduknya begitu melihat kedatangan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
"Sudah tentu berhasil," jawab Nenek Sakti sambil tertawa kecil.
"Mana orangnya?"
"Seharusnya Nyimas sudah tahu kalau orang yang bersama Sepasang Kakek dan Nenek Sakti inilah si Kakek Penyaru itu," kata Dewi Bercadar Merah ikut bicara.
Dewi Bercadar Biru kemudian memandang ke arah orang yang datang bersama Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Dia baru ingat akan sesuatu. Orang yang dibutuhkan adalah Kakek Penyaru, jadi bukan tidak mungkin kalau dia menyaru juga begitu masuk ke dalam Istana Kerajaan.
Bukankah logikanya seperti itu?
"Aih, benar juga. Aku baru ingat," jawab Sinta sambil tersenyum malu.
"Salam kenal Tuan, aku Dewi Bercadar Merah, dan ini adalah Dewi Bercadar Biru …" kata Ling Ling memperkenalkan dirinya.
Kakek Penyaru mengangguk sambil tersenyum. "Senang bertemu dengan Nyai," katanya menjura.
"Bagaimana kalau kita langsung mulai saja? Aku rasa Tuan sudah tahu semuanya dari Sepasang Kakek dan Nenek Sakti," kata Ling Ling.
"Baiklah, Akan akan segera memulainya,"
Kakel Penyaru segera bergerak. Keahliannya dalam menata rias seseorang benar-benar tiada duanya. Sekarang dia sedang merias Kakek Sakti terlebih dahulu.
Baginya, merias wajah seseorang seperti sekarang ini hanya membutuhkan waktu sebentar saja. Tidak perlu terlalu lama, sebab dia mempunyai cara yang lain daripada orang lain.
Tapi terlepas bagaimana caranya itu, hingga sekarang tiada seorangpun yang tahu. Karena hal itu menjadi cerita tersendiri baginya.
###
Ini jatah semalam ya … mhehe
__ADS_1