Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Puncak Kekuatan Selir Anjani


__ADS_3

Tekanan dari sebuah kekuatan kegelapan sudah menggulung seluruh arena pertempuran. Di dalam sinar kuning keemasan itu, keempat datuk dunia persilatan sedang berusaha sekuat tenaga.


Pasalnya serangan pamungkas mereka ternyata bisa dihalau dengan begitu mudahnya oleh Selir Anjani. Dengan entengnya wanita berhati kejam itu menangkis setiap serangan yang diberikan oleh empat datuk.


Sementara itu di sisi lain, Prabu Katapangan Kresna dan Ratu Ayu sudah berada dalam posisi siap kembali. Mereka telah siap turun tangan lagi ke arena. Kali ini kedua orang tokoh tanpa tanding itu langsung melancarkan serangan yang sama seperti sebelumnya.


Jurus yang sama. Namun dengan kadar kekuatan berbeda.


Blarr!!! Blarr!!!


Ledakan keras mulai terdengar. Sepertinya empat datuk dunia persilatan sedang berada dalam posisi yang tidak memungkinkan. Saat ini mereka sedang bertahan sekuat tenaganya.


Menyadari akan hal tersebut, Prabu Katapangan dan Ratu Ayu segera melompat lalu menerjang masuk ke dalam gulungan sinar kuning keemasan itu.


Mereka membentak nyaring. Masing-masing senjata pusakanya sudah melayang ke depan memberikan serangan ganas dan membawa maut.


Posisi empat datuk itu tertolong. Mereka tidak jadi mati mengenaskan karena pertolongan dari Sang Raja dan Sang Ratu.


Pertempuran yang sekarang terjadi ini merupakan pertempuran paling dahsyat. Seumur hidupnya, masing-masing dari orang yang terlibat belum pernah mengalami pertempuran sehebat dan sedahsyat seperti saat ini.


Begitu juga dengan Prabu Katapangan dan Ratu Ayu. Meskipun keduanya sudah pernah melewati perang besar yang melibatkan seluruh anggota Kerajaan, tapi seingatnya, mereka belum pernah mengalami pertarungan seperti sekarang.


Di sisi lain, Pendekar Tanpa Nama masih belum bergerak. Dia tidak turun lagi ke arena. Atau lebih tepatnya belum turun.


Secara tiba-tiba, Cakra Buana langsung duduk bersila. Pedang Naga dan Harimau ditancapkan di depannya. Sepasang matanya dipejamkan. Kedua lengannya seperti seseorang yang sedang menyembah.


Semua orang dibuat bingung. Mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh pemuda itu. Jangankan orang lain, malah dua kekasihnya saja merasakan hal yang sama.


Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama? Apakah dia sudah menyerah? Ataukah Cakra Buana telah mengaku kalah?


Ah, tidak. Tidak mungkin.


Dalam kamus hidup Cakra Buana, tidak ada yang namanya kata menyerah ataupun kata mengaku kalah. Dua ungkapan itu sangat pantang diucapkan olehnya. Bagi Pendekar Tanpa Nama, lebih baik mampus daripada harus mengucapkan dua ungkapan tersebut.


Jadi kalau begitu, apa yang sedang dia lakukan?


Tiada seorangpun yang tahu.

__ADS_1


Melihat jalannya pertempuran yang semakin menegangkan, Dua Dewi, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Jalak Putih dan Gagak Bodas serta Pendekar Belati Kembar, memutuskan untuk turun tangan bersama.


Mereka mempunyai sifat welas asih. Orang-orang itu adalah tokoh yang termasuk ke dalam golongan putih. Sebagai orang seperti itu, bagaimana mungkin mereka akan diam saja saat melihat Raja dan Ratu bersama empat datuk terdesak?


Namun sebelum mereka mengambil langkah lebih jauh, mendadak telinganya mendengar ada seseorang yang bicara.


"Diam di tempat kalian masing-masing. Lebih baik lindungi setiap prajurit. Jangan biarkan konsentrasi mengganggu pikiran kalian. Fokus saja kepada perintahku. Masalah lainnya, serahkan kepadaku,"


Suara itu seperti datang dari tempat jauh. Namun sekaligus juga ibarat datang dari tempat yang amat dekat.


Suara siapa itu? Apakah suara orang yang berasal dari alam lain?


Ternyata bukan. Setelah mengingat-ingat suaranya, orang-orang tersebut langsung ingat. Ternyata suara barusan bukan lain adalah suara Pendekar Tanpa Nama.


Dan karena yang bicara adalah pemuda itu, maka semua orang memutuskan untuk membatalkan niatnya. Mereka segera melaksanakan perintah Cakra Buana.


Di arena pertarungan, berbagai macam jurus dahsyat yang jarang terlihat di dunia persilatan, sekarang justru selalu terlihat setiap saat.


Beberapa macam sinar yang menyilaukan mata menyelimuti langit dan bumi. Benturan antar senjata pusaka tidak bisa dihindarkan. Percikan bunga api membumbung tinggi ke tengah udara lalu lenyap terbawa angin yang tajam.


Wushh!!! Wutt!!!


"Haaa …"


Suara nyaring terdengar sangat lantang sekali. Suara itu menggetarkan alam mayapada. Pemilik suara bukan lain adalah Selir Anjani yang sekarang menjadi musuh utama para tokoh Tanah Pasundan.


Gelegar!!! Duarr!!!


Langit mendadak menghitam. Ledakan guntur menggelegar seakan membelah langit.


Apa yang terjadi? Apakah para Dewa di alam nirwana sedang mengamuk?


Tiada yang tahu terkait apa yang sedang terjadi saat ini. Hanya saja, sesaat kemudian semua orang langsung tahu.


Ternyata Selir Anjani mengeluarkan kekuatannya hingga ke titik tertinggi. Begitu juga dengan Pusaka Tri Tunggal Maha Dewa dan Kujang Dewa Batara.


Wushh!!! Wushh!!!

__ADS_1


Enam bayangan manusia melayang ke belakang dalam kecepatan tinggi.


Prabu Katapangan Kresna dan yang lainnya.


Ya, benar. Memang mereka. Ternyata orang-orang itu kalah adu tenaga. Tapi bukan tenaga mereka sendiri. Melainkan tenaga yang keluar dari dua pusaka maha dahsyat itu. Pamornya terpancar hingga ke puncaknya.


Brukk!!! Brukk!!!


Suara berat terdengar bergantian. Enam orang tokoh tanpa tanding itu mengalami luka yang cukup berat. Untuk melanjutkan pertempuran, rasanya sudah mustahil lagi.


Kalau hal itu tetap dipaksakan, maka nyawa mereka yang menjadi gantinya. Bukan hal mustahil kalau mereka akan langsung mampus ketika memaksakan diri untuk tetap meneruskan pertempuran.


Selir Anjani tertawa menyeramkan. Pada saat ini sepasang kakinya tidak menapak ke bumi. Kedua kaki itu melayang. Melayang di tengah udara dengan jarak dua jengkal dari atas tanah.


"Hahaha … sekarang mampuslah kalian," katanya dengan lantang.


Begitu selesai ucapannya, dua senjata pusaka maha dahsyat itu langsung digerakkan.


Namun tepat sebelum keduanya bergerak, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan oleh semua orang tiba-tiba terjadi.


Grrr!!! Roarr!!!


Dua raungan harimau menggema ke seluruh penjuru. Langit dan bumi bergetar. Tiada yang tahu apa yang sedang berlangsung saat ini. Sebab pandangan mata mereka tertutup oleh debu yang teramat tebal.


Blarr!!! Blarr!!!


Dua ledakan keras kembali menggelegar. Jeritan kaget dan menahan rasa sakit terdengar jelas oleh semua orang.


Entah apa sebabnya, tapi sekarang setiap tokoh yang hadir melihat bahwa tubuh Selir Anjani terdorong mundur ke belakang hingga lima tombak jauhnya. Wajah wanita berhati kejam itu terlihat pucat. Wajahnya juga merasa ngeri bercampur kaget.


Dalam pada itu, setiap yang hadir juga kembali merasakan sesuatu yang aneh. Ada sebuah kekuatan dahsyat yang menyelimuti halaman luas itu. Mereka tidak sanggup untuk bergerak leluasa. Jangankan begitu, malah untuk bernafas pun rasanya sangat sulit sekali.


Begitu debu yang mengepul itu sudah mulai sirna, pemandangan baru segera terlihat. Antara percaya dan tidak percaya. Antara sebuah mimpi atau nyata.


Pendekar Tanpa Nama sudah berdiri di depan sana. Jubah merahnya lepas. Dia malah tidak mengenakan baju. Yang tersisa hanya celananya yang sebatas lutut itu.


Di sisinya ada buah makhluk. Atau lebih tepatnya seekor binatang.

__ADS_1


Harimau …


Darimana harimau itu muncul? Sejak kapan harimau itu datang?


__ADS_2