
Tiga hari telah berlalu kembali.
Belakangan ini, Pendekar Tanpa Nama tidak banyak mengalami kejadian ataupun gangguan tertentu. Selama tiga hari ke belakang, hidup Cakra Buana terasa tenteram dan damai.
Setiap hari dia dapat melewati hari-harinya dengan santai. Setiap saat, dia selalu minum arak. Setiap saat, dia bisa menikmati pemandangan dan makan makanan enak.
Tujuan Pendekar Tanpa Nama sekarang adalah pergi ke markas Kay Pang Pek. Dia ingin menepati janjinya kepada Huang Pangcu terkait beberapa waktu lalu saat Cakra Buana berkata akan mengajak Huang Mei Lan untuk melakukan pengembaraan bersama.
Sudut pasar itu masih sama. Keadaan pasar yang selalu ramai juga masih sama persis seperti beberapa waktu lalu. Di pasar itu masih banyak pengemis yang selalu meminta-minta.
Saat mereka melihat kehadiran Cakra Buana, para pengemis itu langsung membungkuk memberikan hormat dengan sopan. Semua anggota Kay Pang Pek sesungguhnya sudah mengetahui bahwa pemuda itu merupakan tamu kehormatan Kay Pang Pek.
Karena itulah, mereka sangat menghormati Pendekar Tanpa Nama. Bahkan rasa hormatnya lebih dalam dari pada kepada seorang ketua cabang.
Cakra Buana berjalan ke arah markas cabang tersebut. Lima orang anggota Kay Pang Pek menyambut kedatangannya lalu mereka segera mengantar pemuda itu untuk masuk ke dalam.
"Selama bertemu kembali Tuan Cakra," kata seorang anggota Kay Pang Pek sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih, senang bisa berjumpa lagi denganmu," jawab Cakra Buana dengan senyuman pula.
Mereka segera masuk ke dalam. Setelah beberapa saat kemudian, Pendekar Tanpa Nama telah tiba di sebuah ruangan tempat biasa Huang Pangcu berdiam.
"Silahkan. Pangcu sudah menunggu di dalam," kata pengemis itu sambil membungkuk.
"Baik terimakasih,"
Baru saja Cakra Buana membuka pintu, dari dalam sudah terdengar suara lebih dulu.
"Selamat datang sahabat gila. Kupikir kau sudah melupakan janjimu,"
Suara itu serak parau. Meskipun begitu, suara tersebut terdengar sangat ramah, sangat hangat dan sangat akrab.
"Aku bukan kakek tua bau tanah sepertimu. Jadi jangan berpikir bahwa aku sudah melupakan janjiku," jawab Cakra Buana tertawa.
Dia langsung duduk di bangku yang sudah tersedia di sana. Tanpa banyak bicara, Cakra Buana segera menyambar guci arak yang sudah disuguhkan.
__ADS_1
Glekk!!!
Suara tegukan itu terdengar cukup keras. Hanya beberapa teguk, Cakra Buana sudah menghabiskan lebih dari setengah guci.
"Ternyata kau masih merupakan setan arak,"
"Aku memang setan arak. Arak ini arak harum, jika tidak segera dihabiskan, aku takut tidak kebagian," canda Cakra Buana tertawa.
Keduanya sudah duduk berhadapan. Baru saja bertemu, mereka langsung bercanda tawa gembira.
Saat kedua orang sahabat berjumpa, sudah pasti mereka akan melakukan hal seperti biasanya. Mereka akan bercanda lepas. Terkadang, bertemu dengan seorang sahabat bisa melupakan segala macam persoalan yang sedang dihadapi.
Sahabat … dia adalah satu-satunya orang lain yang benar-benar mengerti tentangmu. Dia juga merupakan orang yang selalu ada bagimu. Dalam keadaan suka maupun duka, sahabat pasti akan selalu menemani dirimu.
Sahabat sudah pasti merupakan saudara. Tapi saudara belum tentu merupakan sahabat.
"Aku kira kau sudah mampus," kata Huang Pangcu kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Kalau aku mampus, siapa yang akan menemani cucumu mengembara?"
Huang Pangcu tertawa lantang. "Kau selalu saja bisa menjawab. Aku berkata seperti itu karena sudah mendengar sepak terjang yang kau lakukan belakangan ini,"
"Tentu saja. Karena itulah aku menyangka bahwa kau sudah mampus, mengingat sekarang orang-orang golongan sesat telah bersatu dan mengincar dirimu di mana pun kau berada,"
"Aku sudah tahu. Tapi kau juga harus ingat, tidak setiap orang bisa membunuhku. Aku tidak akan bisa mampus semudah yang mereka kira,"
Huang Pangcu mengangguk setuju. Dia sendiri tahu betul sampai dimana dan bagaimana kemampuan pendekar muda itu. Jangankan orang lain, setelah melihat dan mendengar sepak terjangnya selama ini, dia sendiri menjadi kurang yakin bisa membunuh Pendekar Tanpa Nama dengan mudah.
"Kau benar. Kemampuanmu semakin hari semakin meningkat. Dalam beberapa waktu ke depan, aku yakin kau akan menjadi lebih terkenal,"
"Tapi aku tidak ingin terkenal,"
"Dasar bodoh. Mau tidak mau, kau pasti akan terkenal. Apalagi setiap apa yang kau lakukan selalu menggemparkan jagat dunia persilatan," kata Huang Pangcu.
Huang Pangcu berkata apa adanya. Setiap sepak terjang Pendekar Tanpa Nama selalu menimbulkan buah bibir. Jika selalu seperti itu, bagaimana mungkin dirinya tkdak akan semakin terkenal?
__ADS_1
"Terserah. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," jawab Cakra Buana seenaknya.
Dia kembali menyambar guci arak lalu meminumnya. Huang Pangcu tidak bicara lebih jauh lagi. Kalau Cakra Buana sudah bicara malas-malasan, maka orang tua itu mau tidak lagi meneruskannya.
"Mei Lan …" teriak Huang Pangcu secara tiba-tiba.
Sekali berteriak, suaranya terdengar menggelegar. Seisi ruangan terasa bergetar dibuatnya.
Keduanya menunggu, beberapa saat kemudian, satu sosok keluar dari sebuah ruangan lainnya.
Bau harum segera menyeruak ke seisi ruangan. Bau harum itu sangat khas. Juga sangat menusuk hidung. Seisi ruangan langsung sesak oleh bau harum tersebut. Baunya tidak terlalu menyengat, namun bau itu dapat membangkitkan gairah dalam diri.
Jika dibandingkan, bau harum bunga mekar mungkin kalah dengan bau harum tersebut.
Seorang gadis cantik dengan pakaian sederhana berwarna hijau muda telah berdiri di tengah ruangan. Rambutnya sebagian dibiarkan tergerai dan sebagian lagi diikat oleh kain sutera.
Wajahnya sangat anggun. Wajah itu seperti wajah Dewi khayangan. Sepasang bola matanya hitam legam. Alisnya lentik seperti golok.
Kecantikannya sulit dicari tandingan. Jika sepuluh wanita cantik dibandingkan dengan dirinya, mungkin kecantikan sepuluh gadis itu masih belum setara dengannya.
Gadis yang berdiri dengan anggun itu bukan lain adalah Huang Mei Lan, cucu dari Huang Pangcu. Dia kemudian berjalan pelan. Langkahnya sangat gemulai, bumi mendadak seperti bergetar. Waktu seolah berhenti.
Baik Huang Pangcu maupun Pendekar Tanpa Nama, keduanya sama-sama terkesima dengan kecantikan yang kini terpampang di depannya itu.
Mei Lan kemudian duduk di pinggir Huang Pangcu. Saat dia duduk pun, gerakannya sangat gemulai. Sangat indah dan sangat nikmat untuk dipandang.
"Kau bertambah cantik saja cucuku," puji Huang Pangcu kepada cucu kesayangannya tersebut.
"Yaya (kakek) selalu memujiku berlebihan. Aku kan jadi malu," jawab Mei Lan sambil tersenyum ditahan.
"Aku tidak memuji, aku berkata yang sejujurnya," jawab kakek tua itu.
Cakra Buana sendiri tidak bicara. Dia masih tetap memandangi wajah cantik itu. Setiap apa yang dilakukan oleh Mei Lan tidak luput dari perhatiannya.
"Sekarang ilmu yang Yaya berikan sudah kau kuasai dengan sempurna. Sudah saatnya untuk kau mencari pengalaman di luar sana,"
__ADS_1
"Aku hanya berusaha mengikuti apa yang Yaya inginkan,"
"Bagus, itu baru cucuku. Kau harus nurut kepada Yaya-mu ini, sebab hanya aku saja yang dapat memahami dirimu seutuhnya," ucap Huang Pangcu penuh kasih sayang.