Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Merasa Kehilangan


__ADS_3

Kapal besar itu sudah melaju. Sekarang jaraknya sudah lumayan jauh. Gema suara Pendekar Tanpa Nama mulai lenyap terbawa angin laut yang dingin.


Pelabuhan juga mulai sepi. Tiada lagi penumpang yang ingin naik kapal. Kecuali mereka yang baru saja turun dari kapal. Orang-orang itu mulai mencari kesibukannya masing-masing. Ada yang langsung mencari makan, mencari penginapan, bahkan ada pula yang langsung mencari hiburan.


Sepertinya mereka merasa lelah, lapar, juga merasa kantuk. Orang-orang yang membuka usaha di sekitar pelabuhan seketika ramai oleh pengunjung. Hal seperti ini selalu dinantikan oleh para pengusaha, sebab di saat-saat seperti sekarang, mereka bakal mendapat keuntungan yang besar.


Orang-orang dunia persilatan masih ada di sana. Tapi satu persatu dari mereka mulai ada yang meninggalkan pelabuhan. Yang masih menetap hanyalah beberapa orang saja, mereka adalah sahabat dekat Pendekar Tanpa Nama


"Hahh …" Huang Pangcu menghela nafas dalam-dalam. Wajahnya tampak kelam, muka yang sudah tua itu mendadak terlihat lebih tua beberapa tahun.


Apakah dia merasa kehilangan?


"Sekarang tidak ada lagi bocah yang dapat bercengkrama dengan siapa saja. Dia sudah pergi jauh. Aii, sayang, sayang sekali," katanya setelah menghela nafas.


Huang Pangcu ternyata sangat menyayangkan atas pulangnya Cakra Buana ke kampung halamannya. Bagi orang tua itu, Pendekar Tanpa Nama adalah seorang pemuda yang langka. Dia menaruh kesan lain kepadanya.


Baginya, Cakra Buana itu adalah pemuda yang dapat menyatu dengan segala macam suasana. Dia cepat kenal, cepat akrab. Meskipun baru bertemu satu kali, setiap orang yang pernah berjumpa pasti tidak akan melupakan dirinya.


"Benar, sekarang kita tidak akan pernah melihat lagi wajah pemuda keparat itu," sambung Tian Hoa dengan wajah sedikit murung.


Meskipun Tian Hoa sempat bentrok beberapa kali dalam pertarungan hidup dan mati melawan Cakra Buana, walaupun dia termasuk salah satu musuh bebuyutannya, namun siapa sangka, pada saat pemuda tersebut kembali ke kampung halaman, ternyata orang itupun sampai-sampai merasakan juga kehilangan.


"Satu sahabat terbaik dalam hidupku sudah pergi jauh, apakah yang lainnya bakal ada yang pergi jauh juga. Aii, aku harap tidak. Karena sejatinya aku tidak bisa menjalani hidup tanpa seorang sahabat," keluh si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Tidak akan ada lagi yang pergi jauh. Kau tenang saja, meskipun Cakra Buana sudah tiada di sini, tapi namanya selalu tersimpan di hati. Selamanya, dia merupakan sahabat yang tidak akan pernah terganti," timpal Cio Hong.


Langit tiba-tiba mendung. Langit yang sebelumnya cerah, sekarang mulai meneteskan air ke bumi. Hujan turun dengan deras. Tapi para sahabat Pendekar Tanpa Nama masih saja berdiri di sana.

__ADS_1


Kapal yang ditumpangi oleh Cakra Buana semakin menjauh dan jauh lagi. Kapal yang besar, perlahan mulai mengecil. Semakin kecil hingga akhirnya tampak hanya sebesar semut.


Namun mereka belum juga pergi. Padahal hujan sudah semakin deras.


Apakah orang-orang itu tidak akan berlalu sebelum kapal yang ditumpangi sahabatnya menghilang?


Ternyata benar, selama kapal masih terlihat, mereka pun masih di sana. Tetapi saat kapal sudah lenyap ditelan luasnya samudera biru, mereka akhirnya mulai melangkahkan kaki untuk pergi. Selangkah demi selangkah para tokoh pilih tanding tersebut segera beranjak.


Sepertinya kalau kapal itu tidak menghilang, mungkin mereka masih tetap akan berdiri di sana. Apapun yang terjadi, orang-orang itu bakal diam di tempatnya.


Apakah ini yang disebut sahabat sejati? Mereka baru pergi kalau sahabatnya sudah benar-benar pergi, betulkah demikian? Kalau iya, masih adakah tipe sahabat seperti mereka di dunia saat ini?


Pelabuhan mulai sepi. Hujan pun mulai reda. Sekarang langit yang kelam telah kembali terang seperti sedia kala. Matahari perlahan muncul menghiasi bumi.


Dia seperti menyapa kembali dengan tersenyum.


"Kelak jika ada waktu, kau kembalilah kemari. Di sini, aku selalu merindukanmu sahabatku," gumam si Buta Yang Tahu Segalanya.


Sekali lagi, dia menengok ke belakang. Setelah itu, pemuda serba putih tersebut memantapkan langkahnya lalu memandang ke depan.


###


Cakra Buana sedang duduk di ujung kapal paling depan. Sepasang matanya menatap ke kejauhan sana. Meskipun mulutnya tidak bicara, namun matanya yang berkata.


Pikirannya tidak karuan. Begitu juga dengan hatinya.


Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apakah dia sedang bersedih karena suatu persoalan?

__ADS_1


Cakra Buana merasa berat. Dia sangat berat untuk berpisah dengan semua sahabatnya yang ada di Tionggoan. Tapi apa daya? Bagaimanapun juga, dia harus kembali ke tanah kelahirannya di Pasundan.


Tugasnya di sini sudah selesai sepenuhnya. Tapi belum tentu di sana pun sama.


Siapa tahu justru tugasnya di sana malah lebih berat lagi? Nasib dan takdir manusia di masa depan, memangnya siapa yang dapat mengetahui?


Meskipun benar dia merasa sedih, tapi diapun merasa gembira juga. Sebab Cakra Buana akan segera bertemu dengan sahabat lama, dengan keluarga. Terutama lagi, dia akan segera berjumpa dengan Sinta Putri Wulansari si Bidadari Tak Bersayap.


Sang gadis pujaan. Gadis yang selama ini selalu muncul dalam setiap lamunannya. Gadis yang selama ini selalu dia rindukan dan kenangkan.


Apa kabar dia? Apakah dirinya masih sama dengan dulu? Masih mencinta Cakra Buana?


"Hahh … akhirnya aku kembali ke tempat kelahiranku," gumamnya seorang diri.


Senja sudah hampir menghilang. Matahari semakin turun ke bawah seperti akan tenggelam di tengah-tengah samudera. Burung camar terbang dengan indah, burung walet terbang tinggi dan lincah.


Cakra Buana teringat akan sesuatu. Dia segera merogoh saku bajunya lalu mengambil sepucuk surat.


Surat dari sahabat sejatinya, si Buta Yang Tahu Segalanya.


Perlahan namun pasti, pemuda itu mulai membuka surat tersebut. Dia tidak tahu isinya. Namun Cakra Buana yakin, sahabatnya tidak akan membuat dia kecewa.


"Sahabatku Cakra Buana, meskipun waktunya sudah terlambat, tapi aku tetap harus menyampaikan kebenaran ini," bunyi awal surat tersebut. Cakra Buana membacanya dengan ekspresi serius.


"Sebelumnya aku ucapkan banyak terimakasih kepadamu karena kau telah sudi menjalankan tugas terkahir dari Pendekar Tanpa Nama. Aku sungguh memuji dan mengaggumi dirimu. Kau benar-benar seorang murid berbakti, aku salut. Perlu kau ketahui, bahwa aku sebenarnya adalah keturunan Pendekar Tanpa Nama generasi ketiga. Dia adalah leluhurku. Bahkan jurus yang aku gunakan selama ini, hampir semuanya merupakan warisan dari beliau,"


"Perduli apakah kau percaya atau tidak, namun yang jelas, begitulah kenyataannya. Kau masih ingat saat kita pertama bertemu dan memutuskan untuk menjadi seorang sahabat? Ketahuilah, aku begitu karena tugasku adalah menjagamu. Apapun yang terjadi, kau harus berada dalam pengawasanku. Karena itu adalah pesan terakhir dari Pendekar Tanpa Nama. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih,"

__ADS_1


"Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya. Sahabat dalam setiap kondisi dan cuaca … hahaha,"


__ADS_2