Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kuil Lam Si


__ADS_3

Cakra Buana sudah mencari-cari Ou Lin ke beberapa tempat. Bahkan hingga mencarinya keluar kota. Tetapi sayangnya dia tidak menemukan Ou Lin.


Orang itu hilang tanpa jejak. Sampai malam dia mencari, tetapi hasilnya tetap nihil. Karena tidak punya bekal untuk menginap, pada akhirnya dia mencari kuil yang ada di sekitar kota tersebut.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Cakra Buana menemukan juga satu kuil. Di depannya ada tulisan "Kuil Lam Si". Tulisan itu dibuat dari tinta emas di tulis di atas papan kayu hitam.


Cakra Buana segera mendekat ke sana.


"Permisi, apakah ada orang?" tanyanya sambil menengok ke kanan-kiri. Beberapa kali dia mengulangi pertanyaannya, tetapi hasilnya masih sama. Tidak ada jawaban sama sekali.


Padahal kuil tersebut cukup luas dan megah. Bangunannya masih terlihat sangat kokoh. Halaman kuil juga sangat bersih, jelas kuil ini kuil terawat.


'Mungkin kuil ini sudah tidak terpakai. Hemm, lebih baik aku langsung masuk saja ke dalam. Toh aku cuma numpang tidur, bukan untuk berniat jahat," gumamnya sendiri kaku memberanikan diri untuk masuk ke dalam.


Dia kemudian masuk ke dalam kuil. Kuil itu ternyata benar-benar luas sekali. Setelah masuk ke dalam, Cakra Buana baru tahu bahwa ternyata di belakang kuil ada halaman yang sangat luas sekali.


Dan dia tidak tahu bahwa seluruh biksu sedang berada di sana untuk berlatih silat.


Karena niatnya hanya untuk numpang tidur, maka pemuda itu memilih untuk tidak menjelajahi kuil. Cakra Buana langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di depan kuil.


Hanya dalam sekejap mata saja, dia sudah tertidur lelap. Bahkan sedikit mendengkur pula. Buntalan pakaian yang juga berisi kitab, dia jadikan bantal kepala untuk menjaga kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Di saat sedang nyenyak tidur, dia seperti bermimpi di kerubungi oleh mahluk yang kepalanya gundul. Jumlahnya cukup banyak, mereka memandangi dirinya seperti memandangi setan.


Mendadak telinganya mendengar ada orang berbicara.


Begitu Cakra Buana membuka matanya, dia langsung terkejut.


"Tuyul …" jeritnya dalam rasa kaget itu.


Di lihatnya dia sudah di kelilingi oleh sosok gundul yang jumlahnya banyak. Persis seperti yang terlihat dalam mimpinya.

__ADS_1


Cakra Buana mengucek-ngucek matanya beberapa kali untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan. Beberapa kali di kucek, ternyata sosok itu tidak bilang. Berarti ini asli.


Sebelum dia bicara, seseorang lebih dahulu bicara kepadanya.


"Maaf, apa yang saudara lakukan di sini?" tanya seorang tua kepada Cakra Buana. Siaramya sedikit serak namun penuh welas asih.


"Tuan siapa? Tuan manusia kan?" tanyanya kepada orang yang berbicara itu.


"Aku adalah Kepala Kuil Lam Si. Orang-orang biasa memanggilku Biksu Fu Tang," katanya tersenyum sambil memperkenalkan nama.


"Aishh, maaf biksu, maaf. Sungguh aku tidak sopan sekali, maafkan aku," ucap Cakra Buana terus-menerus meminta maaf.


Dia baru sadar bahwa sekarang dirinya ada di Tiongkok, ada di negeri orang. Bagaimana mungkin di sini ada tuyul?


"Amitabha. Budha maha pengasih. Saudara tidak perlu meminta maaf seperti itu, mari kita masuk ke dalam untuk bicara sebentar," kata Biksu Fu Tang lalu sambil membantu Cakra Buana berdiri.


Para biksu lain segera membubarkan diri dan menjalankan aktivitasnya kembali. Sedangkan Cakra Buana di bawa oleh Biksu Fu Tang ke ruang penerima tamu.


"Nama saya Cakra Buana,"


"Saudara bukan asli orang sini?"


"Bukan biksu. Aku asli dari Tanah Pasundan, datang kemari sedang berniat untuk berkunjung ke salah seorang teman,"


"Amithaba. Ternyata orang Pasundan. Di sana juga banyak biksu-biksu. Kota mana yang ingin dituju? Barangkali kami bisa membantu," kata biksu tua itu.


Di tanya demikian, Cakra Buana kebingungan. Kota mana yang dia tuju? Sedangkan dia sendiri tidak tahu nama-nama kota di sini. Namun karena melihat biksu ini baik, maka dia pun malah bertanya lagi.


"Apalah biksu tahu di mana letak Perguruan Rajawali Sakti? Menurut temanku, dia tinggal di daerah dekat situ,"


"Aiaaa, jauh sekali tujuanmu anak muda. Perguruan Rajawali Sakti bertempat di Kota Lam Kiong. Jarak dari sini ke sana membutuhkan waktu sekitar sebulan perjalanan,"

__ADS_1


Cakra Buana menggerutu dalam hatinya. Ternyata dia telah menaiki kapal yang salah. Harusnya jangan menaiki kapal kemarin supaya tidak terlalu jauh jaraknya ke Perguruan Rajawali Sakti itu.


"Ah, ternyata sangat jauh sekali. Tak apalah, hitung-hitung sambil berpetualang," jawabnya tersenyum seolah sengaja. Padahal aslinya dia sangat kesal.


"Tinggalah barang beberapa hari di sini,"


"Terimakasih biksu. Tetapi aku punya urusan lain lagi. Kemarin aku sempat kecopetan. Padahal sudah sangat hati-hati, namun copet di sini lebih lihai daripada copet di Tanah Pasundan," kata Cakra Buana sambil tertawa.


Biksu Fu Tang hanya tersenyum saja. Sebagai seorang biksu, dia jarang tertawa. Kecuali hanya tersenyum lembut dan penuh welas asih.


"Manusia memang seperti itu. Kau jangan melihat manusia hanya dari luarnya saja. Orang-orang zaman sekarang sangat pintar menipu. Orang yang menurut kita baik, bisa buruk. Dan orang yang menurut kita buruk, bisa juga sebenarnya baik,"


Cakra Buana hanya mengangguk. Dia tidak menjawab sama sekali.


"Bagaimana ciri-ciri orang yang telah mencopetmu?"


Cakra Buana kemudian menceritakan bagaimana ciri-ciri Ou Lin. Bahkan dia sampai menyebutkan pula siapa namanya.


Saat dia bercerita, terlihat wajah Biksu Fu Tang berubah hebat. Dia beberapa kali mengerutkan keningnya.


"Apakah yang saudara sebutkan itu benar adanya?"


"Benar biksu. Memang begitu kenyataannya, mana mungkin aku mengada-ada, kan aku belum tahu apa-apa di sini. Memangnya kenapa?" tanya Cakra Buana merasa penasaran saat melihat perubahan wajah biksu tersebut.


"Hemm, untung nyawamu selamat anak muda. Ou Lin adalah salah satu tokoh aliran sesat yang namanya sangat ditakuti di sini. Dia memiliki jaringan luas, di mana-mana ada anggotanya. Dia mendirikan sebuah kelompok yang dinamai Tujuh Perampok Berhati Kejam. Semua yang tergabung di dalamnya merupakan kepala setiap perampok yang tersebar di beberapa daerah sekitar. Menurut cerita, Ou Lin berada dalam urutan ketiga sebagai orang terkuat dalam kelompok itu. Dia juga mempunyai anak buah yang lumayan banyak," kata Biksu Fu Tang menceritakan siapa Ou Lin sebenarnya.


Cakra Buana tersentak kaget. Pantas saja waktu dia masuk ke sana, orang-orang tidak ada yang berani memandangnya. Bahkan dia baru ingat bahwa saat itu suasnaa langsung hening ketika melihat siapa yang datang.


"Pantas saja dia bisa mengambil uangku. Padahal aku sudah sangat berhati-hati sekali. Biksu, apakah kau tahu di mana aku bisa menemukan orang itu?"


"Biasanya Ou Lin beroperasi di pasar. Dua kilometer dari sini ada pasar besar. Saudara Cakra boleh mencoba untuk pergi ke sana. Tetapi aku minta supaya kau berhati-hati, karena orang itu sangat kejam dan mempunyai ilmu yang tinggi sekali,"

__ADS_1


"Terimakasih atas nasihat biksu. Aku pasti akan mengingatnya selalu," ucap pemuda itu penuh terimakasih.


__ADS_2