Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Si Pedang Maut dan si Ruyung Emas


__ADS_3

Sepasang bola mata dua orang itu seperti hendak keluar. Suara gigi gemerutuk terdengar dengan jelas. Wajah mereka kelam, sekelam malam ini.


Semua tokoh kelas atas dunia persilatan yang hadir mengambil ancang-ancang. Mereka ingin bergerak, tetapi Tiang Bengcu memberikan isyarat kepada orang-orang itu agar tetap berdiam di tempatnya.


"Hahaha …" secara tiba-tiba si Pedang Kelam tertawa sangat lantang.


Suaranya terdengar menyeramkan. Lebih menyeramkan dari suara tawa hantu yang gentayangan. Dadanya naik turun, pada saat tertawa seperti itu, wajah yang ditengadahkan ke atas tersebut tampak semakin kejam dan bengis.


Gelombang suara yang dihasilkan olehnya memberikan satu getaran kepada setiap tubuh yang ada di padang rumput tersebut.


"Hebat, hebat. Ternyata kau benar-benar hebat anak muda. Sepertinya, di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang dapat mengelabui pandangan si Buta Yang Tahu Segalanya. Matamu buta, tapi sebenarnya tidak. Sedangkan mereka yang tidak buta, padahal sebenarnya buta," ucap si Pedang Kelam setelah puas tertawa lantang.


Semua orang melotot kepadanya. Mereka paham maksud dari ucapan orang tua itu. Oleh sebab tersebut, para tokoh yang ada merasa semakin geram kepadanya.


"Katakan siapa kalian sebenarnya?" tanya Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.


Si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar saling pandang sekejap. Setelah itu keduanya segera mengangguk perlahan.


Mereka berdua segera menarik wajahnya sendiri. Satu buah topeng kulit tercabut keluar dari wajah kedua orang tersebut. Sekarang siapapun dapat melihatnya bahwa wajah mereka penuh dengan luka codetan.


Seluruh muka yang sudah tua itu tampak lebih menyeramkan dari sebelumnya. Wajah yang penuh luka codetan di segala sudut. Sepasang mata yang hitam tapi memancarkan sinar tajam.


Di kegelapan malam seperti saat ini, keduanya tiada berbeda seperti sepasang iblis.


"Aku si Pedang Maut. Sedangkan ini sahabatku, si Ruyung Emas. Kami biasa disebut sebagai Dua Setan Dari Selatan," jawab si Pedang Kelam yang ternyata mempunyai julukan asli Pedang Maut.


Semua tokoh yang hadir mengerutkan keningnya masing-masing. Meskipun mereka tokoh kelas atas, tapi orang-orang tersebut merasa sangat asing dengan dua julukan tersebut. Di antara mereka, tiada yang tahu siapa keduanya kecuali para datuk dunia persilatan, Tiang Bengcu, dan si Buta Yang Tahu Segalanya.


Bagi mereka yang pernah mendengar kedua julukan tersebut, pasti bakal merasa sangat terperanjat kaget. Nama Dua Setan Dari Selatan sudah tidak asing lagi. Di daerahnya sana, kedua orang itu sangat terkenal.


Bahkan mereka dikenal sebagai dua manusia yang sangat kejam. Kesadisannya diceritakan sulit mencari tandingan. Selain dari pada itu, Dua Setan Dari Selatan juga dikabarkan doyan memakan manusia.

__ADS_1


Setiap korbannya pasti bakal tewas secara tragis. Mereka bakal dimakan bagian organ dalamnya, selain itu, si korban juga bakal diminum darahnya.


Hal tersebut sudah tidak asing bagi mereka berdua. Sebab kedua hal di atas sudah menjadi kebisaan bahkan menjadi suatu hal yang wajib pada saat membunuh manusia.


Bahkan pada saat tertentu, mereka tidak segan pula untuk memotong-motong tubuh korbannya.


Mengingat kebiasaan yang menjijikan tersebut, tanpa sadar empat datuk merasa mual. Perutnya seperti ingin mengeluarkan sesuatu, tapi mulutnya masih berusaha untuk menahan.


Empat tokoh yang paling disegani dalam dunia persilatan itu sudah tidak sabar lagi. Mereka segera melompat ke depan secara bersamaan lalu mendarat tepat di hadapan si Buta Yang Tahu Segalanya.


Para datuk sudah siap melancarkan serangan. Mereka sudah tidak sabar ingin membunuh dua iblis yang ada di hadapannya saat ini.


Kalau para datuk sudah geram, maka Dua Setan Dari Selatan justru sebaliknya, mereka masih tetap berdiri dengan tenang. Bahkan keduanya masih tersenyum dengan santainya.


"Harap Tuan sekalian bisa menahan diri. Masalah ini, biarlah kita memberi muka kepada Tuan Li. Untuk saat ini, kita lihat saja dulu," kata Tiang Bengcu dengan suaranya yang lemah lembut.


Wibawa sebagai pemimpin rimba hijau terasa dengan jelas. Siapapun dapat merasakan hal tersebut.


Tanpa tersadar empat datuk dunia persilatan itu langsung melangkah satu langkah ke belakang. Sikap mereka berubah lebih tenang. Meskipun memang wajahnya masih tampak sangat marah.


Saat ini waktu terasa berjalan sangat lambat. Rembulan muncul kembali setelah beberapa waktu tadi tertutup oleh awan kelabu. Suara lolongan serigala di kedalaman hutan terdengar saling sahut.


"Tak disangka, Dua Setan Dari Selatan yang terkenal tidak mau tunduk kepada siapapun, ternyata sekarang telah menjadi kaki tangan dari sekelompok manusia laknat. Sungguh perbuatan yang paling pengecut," ejek si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Apapun yang kami lakukan bukan hakmu,"


"Memang benar,"


"Sekarang apa maumu?" tanya si Ruyung Emas kepada si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Aku ingin mendapatkan informasi lebih mendalam tentang Organisasi Naga Terbang,"

__ADS_1


"Jangan bermimpi. Kami lebih baik mati dari pada harus memberikan informasi kepadamu," tegas si Pedang Maut.


"Bagus. Kalau begitu mampuslah sekarang juga,"


"Kami akan mampus. Tapi kau juga harus ikut mampus," bentak si Ruyung Emas.


Pada saat ucapannya baru selesai, dia langsung melompat menerjang ke depan sambil memainkan ruyung pusaka miliknya.


Berbarengan dengan itu, si Pedang Maut juga tidak mau kalah. Orang tua yang wajahnya dipenuhi dengan luka codetan itu pun melakukan hal yang sama.


Tubuhnya meluncur deras ke depan. Pedang hitam yang sangat tajam itu ditusukkan dengan segenap kemampuan.


Ruyung pusaka berputar cepat mengeluarkan suara dengungan dan mengeluarkan sinar keemasan. Pedang hitam legam menusuk secepat angin.


Dua serangan itu adalah serangan dahsyat yang tiada taranya. Si Pedang Maut dan si Ruyung Emas menekankan seluruh tenaganya kepada serangan tersebut.


Dua serangan dahsyat telah tiba di depan mata si Buta Yang Tahu Segalanya.


Ruyung mestika mengincar batok kepalanya. Sedangkan pedang mengincar jantungnya.


Wutt!!! Wushh!!!


Crapp!!! Clangg!!!


Dua pusaka tingkat tinggi itu berhenti bergerak. Ruyung mestika itu terjepit di antara jari telunjuk dan jari manis si Buta Yang Tahu Segalanya. Hal yang sama juga dialami oleh si Pedang Maut. Pedang pusaka miliknya terjepit, bahkan sekarang pusaka itu telah patah menjadi dua bagian.


Bukk!!! Bukk!!!


Dua hantaman keras yang sangat dahsyat dilancarkan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya. Hantaman telapak tangan itu mengarah ke dada dua lawannya.


Seketika itu juga si Pedang Maut dan si Ruyung Emas terlempar hingga sepuluh tombak jauhnya. Tubuh Dua Setan Dari Selatan bergulingan di tanah hingga beberapa puluh kali. Kedua tubuh itu baru berhenti setelah tenaga dari serangan si Buta Yang Tahu Segalanya habis.

__ADS_1


Darah segar mengucur deras dari mulut mereka masing-masing. Keduanya tampak kelojotan beberapa kali sebelum akhirnya berhenti bergerak untuk selamanya.


Dua Setan Dari Selatan telah mampus. Mereka tewas mengenaskan.


__ADS_2