Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Diam Atau Mati


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Pendekar Tanpa Nama, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap telah tiba di bawah kaki gunung. Begitu sampai di sana, ketiga pendekar muda tersebut dikejutkan oleh suatu kejadian yang lebih mengerikan lagi.


Dua kuda jempolan yang berkeringat merah telah mampus. Kedua kuda itu tewas mengenaskan. Tubuhnya terpotong menjadi tiga bagian.


Darah dari dua kuda tersebut mulai kering. Tapi bau amisnya masih tercium dengan sangat jelas.


Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap merasa mual. Perutnya seperti dipelintir dengan kencang. Hingga akhirnya semua isi perut keluar.


Dua gadis maha cantik itu muntah-muntah karena tidak tahan dan tidak tega melihat kematian kuda mereka yang begitu memprihatinkan.


Setangguh dan sesakti apapun, mereka toh tetap merupakan wanita. Pada umumnya, wanita memang lebih lemah dari pria.


Jangankan Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap, bahkan Pendekar Tanpa Nama sendiri merasakan hal yang sama pula. Untungnya dia pria. Dan seorang pria, biasanya bisa lebih kuat menahan sesuatu dari pada seorang wanita.


Pemuda itu menggertak gigi. Kedua lengannya dikepalkan sangat kencang. Dia tidak terima. Bagaimanapun juga, Cakra Buana harus menemukan siapa pelakunya.


Kedua kuda itu tidak salah. Mereka tidak mengetahui apa-apa. Tapi kenapa malah menjadi korban? Seganas dan sekejam itukah seorang manusia?


"Keparat jahanam. Siapapun pelakunya, aku tidak akan mengampuni nyawamu. Kau harus mampus untuk menggantikan nyawa kedua ekor kudaku ini," katanya bengis.


Wajahnya merah padam. Bukan merah karena malu. Tapi merah karena dia tidak sanggup menahan amarah yang membeludak dalam dirinya. Seperti sebuah air bah yang datang dengan tiba-tiba dan tidak mengenal ampun. Atau seperti juga lahar di sebuah gunung berapi yang sangat panas.


Setelah beberapa saat kemudian, dua orang kekasihnya mulai mendingan. Gadis-gadis itu perlahan menguatkan diri agar tidak muntah lagi.


"Firasat Rai ternyata tidak salah," gumam Bidadari Tak Bersayap sambil melirik kepada Sian-li Bwee Hua.


"Logikanya begini, kalau yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita saja bisa menjadi korban, apalagi kalau ada yang sangkut pautnya dengan kita? Kedua kuda ini kuda kita, jelas, mereka pasti akan menindaknya pula," ujar Sian-li Bwee Hua.


Bidadari Tak Bersayap hanya diam saja. Bahkan kedua orang lainnya juga turut diam. Mereka benar-benar dibuat marah.


Tapi harus marah kepada siapa? Sekarang di hutan itu tidak ada siapa-siapa. Kecuali mereka bertiga, rasanya tiada siapapun lagi.


Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba berjalan ke depan. Dia kembali mencari sebuah petunjuk dari semua kejadian ini. Setelah beberapa kali berkeliling di tempat kejadian, ternyata benar, pemuda itu menemukan sebuah petunjuk kembali.

__ADS_1


Di atas kulit menjangan, ada sebuah tulisan berwarna merah. Kulit menjangan itu tergeletak begitu saja tepat di tengah-tengah bangkai kuda.


Warna merah tersebut bukan berasal dari tinta. Melainkan darah. Darah kuda yang telah dibunuh oleh seorang jago pedang lihat tersebut.


Pendekar Tanpa Nama segera membaca tulisan tersebut.


"Diam atau mati …"


Tiga kata. Ya, tulisan yang ada di atas kulit menjangan tersebut hanya tiga patah kata saja. Tapi meskipun tulisannya sangat pendek, efeknya justru sanggup menggetarkan gunung yang kokoh.


Amarah ketiga orang itu seketika bergelora layaknya samudera. Mereka menggertak gigi. Seumur hidup, ketiganya belum pernah merasa semarah dan segemas saat ini.


Orang itu ternyata berani memberikan peringatan sekaligus ancaman. Dia tentunya berharap kalau tiga pendekar muda itu tidak ikut campur dalam masalah di dunia persilatan Pasundan sekarang ini.


Tapi apakah benar mereka akan diam saja? Benarkah Pendekar Tanpa Nama, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap, bakal berpangku tangan melihat keangkaramurkaan yang sedang terjadi saat ini?


Tidak. Jawabannya tentu tidak. Jangankan ancaman berupa tulisan di atas kulit menjangan, bahkan kalau sebatang pedang menempel di leher mereka sekalipun, ketiganya tetap akan menjawab tidak.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Bidadari Tak Bersayap sambil memandang dua orang di sisinya.


Sifat "jahat"nya timbul saat itu juga. Seumur hidupnya, Sian-li Bwee Hua selalu memberikan ancaman untuk orang lain. Satu kali pun dia belum pernah diancam. Sekarang pada saat berada di posisi itu, bagaimana mungkin dia akan terima begitu saja?


"Setuju … akhirnya aku keluar dari sarang … hihihi," teriak Bidadari Tak Bersayap lalu tertawa sangat gembira.


"Baiklah. Kalau begitu kita akan segera memulai petualangan ini," ucap Pendekar Tanpa Nama dengan raut muka serius.


"Baik, baik sekali. Lihat saja nanti …" desis Sian-li Bwee Hua.


Bidadari Tak Bersayap tidak menanggapinya. Tapi Pendekar Tanpa Nama justru merasa bergidik. Dia tahu, kekasihnya yang satu ini bisa lebih kejam dari apa yang selama ini dibayangkan olehnya.


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Tiga bayangan manusia melesat kembali. Kecepatan mereka saat ini jauh lebih cepat dari sebelumnya. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu. Meskipun saat ini tengah malam, tapi ketiganya yakin bakal menemukan "sesuatu" di perjalanan nanti.

__ADS_1


Ternyata firasat ketiganya kembali terbukti. Belum jauh mereka melesat pergi, ada sesuatu di depan sana yang menghentikan langkah kakinya.


Lima orang berpakaian serba hitam sekaligus bercadar hitam telah berdiri mematung di tengah jalan. Kelima orang itu mempunyai postur lebih tinggi dari manusia pada umumnya. Tingginya kurang lebih mungkin hampir dua meter.


Perawakannya kekar. Cambang dan kumis mereka lebat. Tatapan matanya kereng. Juga tajam. Setajam mata serigala yang kelaparan.


Di pinggang masing-masing orang itu terdapat sebatang golok. Golok bersarung hitam, persis seperti pakaian mereka.


"Siapa Kisanak?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil menatap tajam kepada mereka.


"Siapapun kami tidaklah penting," jawab salah seorang di antara mereka. Suaranya sangar. Bahkan terkesan menyeramkan.


"Apa maumu Kisanak? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, jadi aku mohon sudilah memberi jalan," pinta Pendekar Tanpa Nama masih berusaha untuk berlaku sabar.


"Hahaha …, siapapun tidak ada yang boleh lewat," tegas orang bercadar hitam itu.


"Banyak bicara. Kalau begitu kalian ingin mampus …"


Wushh!!!


Selesai bicara demikian, Sian-li Bwee Hua langsung melesat menyambar lima orang tersebut. Lima batang jarum hitam dia lemparkan berbarengan pada saat tubuhnya meluncur deras.


Wutt!!!


Orang yang sejak tadi bicara mengibaskan tangannya untuk menangkis serangan Sian-li Bwee Hua.


Tiga jarum tersebut berhasil di belokkan, jarum-jarum itu meluncur ke sebatang pohon di belakang sana.


Seketika pohon itu langsung layu. Daun-daunnya menguning lalu jatuh berguguran. Jelas, jarum itu hitam itu adalah jarum beracun.


Sedangkan dua batang jarum sisanya dengan telak mengenai sasaran. Tenggorokan dua orang di antara mereka tertusuk oleh senjata rahasia milik Sian-li Bwee Hua.


Sesaat kemudian, dua orang korban itu segera ambruk ke tanah. Mereka langsung mati saat itu juga.

__ADS_1


###


Selamat Idul Adha bagi yang menjalankannya ya …


__ADS_2