Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Jalan Darah


__ADS_3

"Ternyata kau memang sangat keras kepala," kata Jim Si sambil mendengus.


"Kalau aku tidak merasa, kenapa tidak?"


"Tinggal kau mengatakan iya, apa susahnya?" teriak Lam Qiu sambil menggebrak meja.


Arak yang ada di cawan segera memercik ke segala sisi. Suasana yang sudah tegang, kini mulai bertambah tegang lagi setelah dia menggebrak meja.


"Sekarang aku tanya kepada kalian, kalau ada seseorang yang bicara bahwa kalian mencuri, tapi kalian tidak merasa melakukannya, apakah akan mengatakan iya?" tanya Li Guan dengan tenang.


Setiap kata per-kata dia ucapkan dengan perlahan dan penuh penekanan. Sehingga semua orang bisa mendengarnya.


"Tentu saja tidak,"


"Tidak sudi pastinya,"


"Tidak,"


Jawaban mereka serempak. Walaupun jawabannya sedikit berbeda, tetapi maknanya jelas sama.


"Nah, kalian sendiri berkata tidak. Apalagi sahabatku ini? Aku kira seorang ketua dan pemimpin perkumpulan itu pintar. Ternyata lebih bodoh daripada orang bodoh," tukas Li Guan santai.


Perkataannya masih seperti sebelumnya. Pengucapannya juga masih sama.


Pada dasarnya dia memang kalem. Tapi kalau sudah bicara, jangan harap kau bisa menang darinya.


"Apa kau bilang? Seorang yang buta berani berkata demikian kepada kami? Hemm, sepertinya kau ingin kami mencongkel bola matamu. Memangnya apa yang bisa dilakukan orang buta sepertimu sehingga berani kurang ajar?" bentak Lam Qiu marah.


Dia mulai terpancing emosinya. Apalagi baginya, perkataan barusan sangat menusuk telinga.


Li Guan hanya tersenyum mendengar cacian orang-orang tersebut. Dia sudah terbiasa dengan perkataan hinaan seperti yang barusan dilontarkan. Jangankan seperti itu, bahkan yang lebih dari itu saja, dia sudah sering menerimanya.


Dan responsnya tetap sama. Dia hanya tersenyum lembut penuh kehangatan.


Tetapi, lain Li Guan, lain lagi Cakra Buana. Kalau Li Guan hanya tersenyum, maka Cakra Buana sebaliknya.


Dia marah. Benar-benar sangat marah.


"Prakk …"


"Brakk …"


Bangku yang dia duduki hancur. Meja yang dia gebrak seketika terbelah menjadi dua bagian. Wajahnya merah membara. Tatapan matanya berkilat setajam ujung mata pedang.

__ADS_1


"Kalian boleh menghinaku sepuas hati, dan aku akan diam. Tetapi saat kalian menghina sahabatku, aku tidak akan diam," kata pemuda itu penuh amarah. Suaranya bergetar dan mendatangkan rasa takut.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut serentak langsung berdiri dan melakukan persiapan. Mereka juga menatap tajam ke arah Cakra Buana.


"Bagus. Itu artinya kau sudah menantang kami, ingin aku lihat sampai di mana kemampuan Pendekar Tanpa Nama yang terhormat," ejek si ketua cabang Kay Pang Hek.


"Apakah itu artinya kau telah mengakui perbuatanmu?" Lam Qiu berkata sambil tersenyum sinis. Nada suaranya dingin san mengandung ejekan dalam.


Amarah Cakra Buana semakin berkobar. Bagaikan api yang disiram minyak tanah.


"Sekalipun aku tidak mengakui, tetapi karena kalian telah menghina sahabatku, maka aku akan mengatakan ya,"


"Bagus. Kau memang bernyali. Demi sahabat yang bodoh kau rela mengambil resiko," ejek Jim Si.


"Diam!! Jika kata-kata sudah tidak bisa didengar, maka jalur darah pilihannya," tukas Cakra Buana tajam.


"Hahaha, kau memang patut diacungi jempol. Berani kurang ajar di sarang harimau,"


"Sekalipun di sarang naga, aku berani. Demi sahabat, apapun akan aku lakukan,"


Suaranya berubah seperti iblis yang sedang mengamuk. Matanya semakin tajam. Aura pembunuh langsung merembes keluar dari tubuhnya.


"Tenang Cakra, aku tidak masalah,"


"Wushh …"


Selesai dia berkata demikian kepada Li Guan, mendadak sebatang golok meluncur deras ke arahnya dari luar.


"Clapp …"


"Trangg …"


Golok yang melesat cepat berhasil dia jepit di antara kedua jari tangannya. Hanya sedikit di gerakan, golok tersebut langsung patah menjadi dua bagian.


"Apakah kalian tidak bisa mendidik bawahan sehingga mereka berani menyerang dari belakang? Hemm, aku kira pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam seorang yang ditakuti, tak tahunya malah seperti ini. Bahkan anggotanya sendiri berani berbuat hal memalukan di depannya," ucap Cakra Buana sengaja membuat lawannya naik pitam.


Merah padam wajah Lam Qiu dan Jim Si. Bagaimanapun juga, ucapan Cakra Buana adalah benar. Kalau di belakangnya, mungkin anggota itu bisa menyerang secara licik dari belakang. Tapi saat di depannya, tentu beda lagi. Jelas, hal tersebut menurunkan martabatnya sendiri.


"Yang barusan melempar golok, masuk kau!!!" bentak Lam Qiu.


Suaranya menggelegar. Seperti geledek yang menyambar di malam hari.


Seorang anggota masuk penuh rasa takut. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu berbuat hal memalukan?"


"Apakah aku mengajarkan hal itu?"


Si anggota tersebut masih terdiam. Kepalanya menunduk serendah mungkin.


"Kau tahu apa hukumannya jika melanggar peraturan?" tanyanya bengis.


"Ma-mati,"


"Bagus. Tapi untuk sekarang, kau aku bebaskan. Kembali ke posisi semula. Kalau tidak ada perintah, jangan mengambil muka,"


"Ba-baik ketua. Terimakasih," kata anggota tersebut lalu bersujud tiga kali.


Cakra Buana hanya tersenyum. Tentu dia memahami maksud Lam Qiu. Dibunuh tidak dibunuh, toh anggota itu pasti mati juga. Karena dia tahu, pertarungan sudah tidak bisa dihindarkan lagi.


"Tak kusangka ternyata kau masih mempunyai rasa kasihan," ejek Cakra Buana.


"Diam kau setan. Suasana sudah setegang ini, masalah semakin melebar. Jalan darah tidak bisa dihindari lagi," kata Lam Qiu penuh emosi.


"Bagus, aku memang menunggu hal seperti ini. Sudah tanggung masalah di antara kita melebar, sekalian aku akan menuntaskan persoalan ini hingga ke akarnya,"


Mereka segera melompat keluar. Cakra Buana dan Li Guan menjebol jendela markas cabang Kay Pang Hek. Disusul lagi oleh tuah rumah.


Kini mereka telah berada di tengah-tengah halaman yang cukup luas. Seluruh anggota Kay Pang Hek dan Tujuh Perampok Berhati Kejam sudah mengurung dua orang pemuda tersebut.


Angin malam berhembus lirih menerpa tubuh. Harum bunga dan bau masakan di setiap sudut pasar tercium menggugah selera.


"Kau yakin akan menyelesaikan masalah ini lewat jalur darah?" tanya Lam Qiu sekali lagi.


"Sangat yakin. Walaupun aku berada di kandang harimau, aku tetap tidak akan merasa takut. Terlebih lagi karena kalin telah menghina sahabatku," kata Cakra Buana bengis.


"Baik, kalau begitu biar aku kuburkan kalian bersama,"


Selesai berkata demikian, sepuluh anggota pilihan Tujuh Perampok Berhati Kejam langsung menerjang ke arah Cakra Buana. Li Guan menyingkir dari arena.


Sepuluh batang golok berkilat di bawah kegelapan. Desingan angin tajam menyambar Pendekar Tanpa Nama.


Gerakan pertama dari serangan golok ini cukup tangkas. Sepuluh anggota pilihan ini bukan sembarang pilihan. Mereka adalah para anggota yang menguasai Barisan Golok Perenggut Nyawa.


Sebuah barisan golok yang rapat dan sulit ditembus. Pendekar kelas satu saja harus membutuhkan perjuangan agar bisa menembusnya. Tapi apakah hal tersebut sudah cukup untuk membunuh Pendekar Tanpa Nama?


Sepuluh desingan tajam golok tersebut berhasil dihindari oleh Cakra Buana dengan mudah. Dia hanya perlu mundur dan memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tanpa terlihat susah seidkitpun.

__ADS_1


Sesekali terdengar bunyi denting senjata beradu. Tapi bukan beradu dengan senjata lainnya, melainkan beradu dengan sentilan tangan Pendekar Tanpa Nama.


__ADS_2