
"Kalau aku sudah membongkar rahasiamu, atau kalau rahasiamu sudah terbongkar, kenapa kau tidak segera memperlihatkan dirinya yang sesungguhnya?" tanya Cakra Buana.
Suaranya dalam. Sorot matanya pun tajam. Tapi bukan tajam karena amarah. Sorot mata itu tajam karena mengandung harapan.
"Ba-baiklah,"
Sin Jin alias Ling Ling segera membuka kedok penyamarannya. Dia membuka pakaian lalu mencopot topeng wajah yang selama ini menempel dengan dirinya.
Cakra Buana tidak terkejut. Tapi dia tertegun. Tertegun karena melihat bahwa wajah Ling Ling bertambah cantik. Wajah itu memang masih sama. Namun kecantikannya berbeda.
Sorot mata Ling Ling terlihat antara bahagia dan takut. Mungkin dia bahagia karena bisa bersama dengan Cakra Buana hingga sekarang. Tapi diapun takut, takut karena pemuda itu akan marah dan benci kepadanya.
Terlepas apapun itu, gadis tersebut sudah tidak peduli. Semarah apapun Cakra Buana, dia tetap akan diam. Sebenci apapun dia, Ling Ling tetap akan diam juga.
Karena sebenarnya dia melakukan semua ini hanya untuknya. Demi Cakra Buana sang Pendekar Tanpa Nama.
"Nah, begini kan lebih cantik," kata pemuda itu sambil tersenyum.
Ling Ling mulai gugup. Tapi dia sedang berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri.
"Ka-kau tidak marah kepadaku?"
"Tidak,"
"Tidak benci kepadaku?"
"Tidak sama sekali. Memangnya kenapa aku harus marah dan benci kepadamu?"
"Karena, karena … aku sudah membohongi dirimu," katanya sambil menundukkan kepala.
"Siapa bilang kau sudah membohongiku? Tidak sama sekali. Kau hanya malu untuk menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya," ujar Cakra Buana sambil mencubit hidung gadis Tiongkok itu.
Merah padam wajah gadis itu. Dia benar-benar malu. Tapi juga sangat bahagia. Bahagia karena prasangka hatinya tidak terbukti sama sekali.
Cakra Buana tidak marah. Tidak benci. Malah dia tampak bahagia.
Kalau kau di posisi Ling Ling saat ini, bukankah kau pun akan merasakan hal yang sama?
"Kenapa kau tidak marah ataupun benci kepadaku?" tanya gadis itu lebih lanjut.
"Aku marah karena apa? Aku benci juga karena apa? Selamanya, aku bukanlah orang yang suka mengumbar amarah dengan mudah,"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena amarah juga berharga. Ada saat yang tepat untuk benar-benar mengeluarkannya jika kau ingin amarah itu bermanfaat," jawab Cakra Buana dengan serius.
Ling Ling tertegun. Meskipun dia merupakan gadis yang sudah matang oleh ilmu dan pengalaman, tapi jika di hadapan Cakra Buana, sejatinya dia bukanlah apa-apa.
Pemuda itu amat misterius. Di balik sifatnya yang kalem dan kadang terlihat bodoh, namun jika sudah serius, dia adalah pemuda yang sangat dewasa. Pemuda yang kenyang akan pengalaman pahit manisnya kehidupan.
"Apakah nafsu amarah bermanfaat?"
"Tentu saja, di dunia ini, tidak ada yang tidak bermanfaat. Apapun itu, pasti mempunyai manfaat. Kita bicara bahwa sesuatu tidak bermanfaat, itu karena kita tidak tahu. Coba kalau tahu, pasti tidak akan bicara seperti itu,"
"Lantas apa manfaatnya?"
"Banyak. Kembali kepada pribadinya sendiri. Nafsu itu ibarat pedang. Jika kau sudah bisa memegangnya, maka pedang itu akan memberikan manfaat kepadamu. Tapi kalau kau tidak bisa memegangnya, jangankan ke orang lain, kepada diri sendiri pun akan mendatangkan kerugian,"
Ling Ling berusaha menyelami makna di balik kata-kata tersebut. Dia mengucapkannya berulang kali di dalam hati. Setelah beberapa saat kemudian, dia menjadi menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Cakra Buana memang benar.
"Kau benar. Sekarang aku baru mengerti," katanya dengan tatapan penuh rasa kagum.
Cakra Buana tidak menanggapi. Dia hanya tersenyum lalu kembali duduk di atas jendela sambil menenggak guci araknya.
"Apakah kau akan menetap di Tanah Pasundan?"
Ling Ling hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
"Kau akan menetap sendirian?"
Cakra Buana tidak marah. Dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Sebetulnya kau menyamar karena ide siapa?"
"Ide sahabatmu,"
"Si Buta Yang Tahu Segalanya?"
"Emm, benar," Ling Ling mengiyakan.
"Hahaha, dia benar-benar bodoh. Mungkin dia pikir aku tidak akan tahu bahwa Sin Jin adalah dirimu,"
"Memangnya kau sudah tahu?"
"Sejak awal aku sudah tahu," jawab Cakra Buana dengan santai.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
__ADS_1
"Pada saat aku mau pergi, kau tidak ada di antara semua sahabatku yang mengantar. Lalu setelah berada di kapal, ada seseorang yang tiba-tiba muncul sangat mirip denganmu. Aku memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki, Sin Jin benar-benar mirip dengan Ling Ling. Di dunia ini, mungkin banyak orang yang mirip, tapi jika sangat-sangat mirip, rasanya tidak mungkin," Cakra Buana menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya.
"Selain itu, akupun pernah mencium bau tubuhmu. Bau tubuhmu itu bukam bau tubuh pria, tapi bau tubuh seorang wanita. Suaramu juga terdengar seperti seorang pria,"
Ling Ling termenung dibuatnya. Untuk sesaat dia tidak tahu harus bicara apalagi. Karena ternyata usahanya gagal total. Padahal gadis itu sudah sangat yakin kalau penyamarannya saat ini benar-benar akan berhasil. Tidak akan gagal walaupun hanya sedikit.
Sayangnya semua itu hanya menurut dia sendiri. Sebab pada kenyataannya, target malah sudah mengetahui sejak awal.
"Aii, ternyata semua usahaku sia-sia," kata Ling Ling sambil mengeluh perlahan.
"Kau salah lagi. Kalau saja orang lain, tidak mungkin dia akan mengetahui bahwa kau sebenarnya seorang wanita,"
Memang benar, selama Ling Ling menyamar, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa dia seorang wanita. Bahkan setiap pria yang dia temui tidak memandangnya dengan nakal. Mereka memandang kagum karena ada pria setampan Sin Jin.
"Tapi buktinya kau toh tetap mengetahui,"
"Karena meskipun aku tidak tahu, aku tetap bakal tahu,"
"Bagaimana caranya?"
"Sudah aku bilang waktu itu, aku bisa mengetahui dirimu atau bukan hanya lewat perasaanku saja,"
Ya, Ling Ling masih ingat saat itu. Di mana Cakra Buana pernah berkata bahwa dia dapat mengenali dirinya hanya lewat perasaan saja.
Setajam itukah perasaan manusia? Apakah apa kata perasaan kita tidak pernah salah?
"Kau benar. Aku telah melakukan satu hal yang sangat penting," ujar Ling Ling.
Cakra Buana hanya tersenyum. Dia memandangi gadis itu lekat-lekat. Tatapan mata mereka bertemu sehingga menggetarkan perasaan keduanya.
"Aku mencintaimu …" kata Cakra Buana dengan lirih.
"A-aku, juga sama," jawab Ling Ling dengan lirih.
"Emm, kalau aku ternyata sudah mempunyai wanita di sini, bagaimana?"
Ling Ling tidak terkejut. Juga tidak terlihat dengan marah.
"Selama kau bisa berbuat adil, kenapa tidak?"
"Kau benar-benar tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah? Selama hidup, aku bukanlah orang yang mudah marah," jawabnya seperti perkataan Cakra Buana sebelumnya.
__ADS_1
Bagi seseorang, jika dia sudah benar-benar mencintai pasangannya sendiri, maka apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya, selama masih bisa bersama, maka orang itu pasti tidak akan merasa keberatan.
Cinta, seperti itukah kekuatan cinta?