Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Restoran Mewah


__ADS_3

Di permukaan air tampak cahaya senja menyinari pula. Air itu mengeluarkan warna indah seperti sebuah pelangi. Beberapa ekor ikan muncul ke permukaan.


Hawa sejuk. Semilir angin sepoi-sepoi berhembus mengibarkan pakaian tiga orang pendekar muda itu. Suasana di hutan mulai ramai oleh suara-suara binatang liar.


Mereka masih berdiri sambil memandangi keadaan di sekitarnya. Seolah-olah ketiga orang tersebut merasa amat bahagia karena dapat menyaksikan pemandangan alam yang demikian indahnya.


"Benar-benar indah …" gumam Sian-li Bwee Hua.


"Tidak kalah indahnya dengan Gunung Hua Sun bukan?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil melirik ke arahnya.


"Benar …"


Bidadari Tak Bersayap amat tertarik dengan obrolan ringan keduanya. Dia seorang wanita, dan wanita, biasanya suka akan tempat-tempat yang indah semacam ini.


"Rai, apakah di Tionggoan sana juga indah seperti ini?" tanyanya antusias.


"Sangat indah, mungkin di beberapa tempat lain malah ada yang lebih indah dan lebih nyaman dari pada ini," katanya sambil tersenyum.


Sinta semakin tertarik. Dia melamun sambil membayangkan ucapan Ling Ling.


"Aii, sepertinya benar-benar indah. Aku jadi ingin ke sana …" katanya berharap.


"Suatu saat nanti kita akan pergi ke sana …" jawabnya cepat.


Pendekar Tanpa Nama hanya diam mendengarkan. Kalau ada dua orang wanita, apalagi keduanya mempunyai tipe suka bicara, maka di mana pun dan kapan pun pasti bakal selalu bicara. Mulutnya tentu tidak betah kalau hanya diam saja.


"Sudah bicaranya?" tanyanya tersenyum.


"Su-sudah …" jawab mereka berbarengan sambil sedikit gugup.


"Baguslah, kalau begitu mari kita segera pergi,"


"Tapi aku lapar Kakang," kata Sinta sambil memegangi perutnya.


"Aii, baiklah. Tunggu sebentar …"


Wushh!!!

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama berkelebat cepat ke tengah sungai. Beberapa saat kemudian, dia telah kembali lagi ke posisinya semula.


Di kedua tangannya sekarang sudah ada tiga ekor ikan berukuran cukup besar.


Dalam hatinya, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap memuji kecepatan gerakan kekasihnya tersebut.


"Ilmu meringankan tubuh yang sempurna …" gumam Sinta dengan kagum.


Sekarang bara api sudah dibuat. Tiga ekor ikan itu hampir matang. Setelah matang, mereka segera memakannya dengan lahap. Meskipun ikan bakar itu tidak memakai bumbu, tapi rasanya tetap enak.


Sesuatu yang tumbuh dan ada di alam dengan sendirinya memang jauh lebih enak serta nikmat dari pada sesuatu yang tersentuh oleh tangan-tangan manusia.


Ikan bakar sudah habis. Sekarang perut mereka pun sudah kenyang.


Ketiganya beranjak berdiri dari duduknya. Tanpa banyak berkata, mereka lantas pergi dari sana dengan cepat.


Wushh!!!


"Cakra, apakah letak Perguruan Tunggal Sadewo itu jauh?" tanya Sian-li Bwee Hua.


Ling Ling mengangguk. Dia tidak bicara lagi. Ketiganya kembali mempercepat ilmu meringankan tubuhnya agar bisa lebih cepat tiba di tempat tujuan.


Tepat pada malam hari, mereka benar-benar tiba di sebuah kota. Kota yang megah. Kehidupan di kota ini jauh lebih rawkai dari kota-kota sebelumnya yant pernah ditemui.


Tentu saja, sebah ini adalah Kotaraja. Kotaraja Tanah Jawa.


Para warga berlalu-lalang ke sana kemari mencari kebutuhan mereka. Para pedagang berjejer di samping kanan dan kiri jalan. Lentera terang menyala menjadikan suasana lebih meriah lagi.


Sekarang Pendekar Tanpa Nama, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap sudah berada di sebuah restoran ternama dan terbilang mewah.


Hampir seluruh kursi yang tersedia telah diduduki oleh para pengunjung. Restoran itu sangat ramai. Sampai-sampai ada sebagian orang yang rela antri demi bisa makan di sana.


Para pengunjung yang datang kemari dari segala macam kalangan. Tak terkecuali dari kalangan dunia persilatan. Dan mereka yang datang, pastinya bukan pendekar kelas teri. Kalau bukan seorang yang kaya raya, berarti orang itu merupakan tokoh kelas atas.


Menu makanan sudah dipesan. Sekarang ketiganya sedang menunggu pesanan datang. Sambil menunggu, mereka minum arak sekedar untuk menghangatkan badan.


Dari pintu sana, tiba-tiba ada tiga orang pria yang memandang ke sekeliling ruangan restoran. Wajah mereka seram. Yang satu sudah tua, mungkin sekitar enam puluh dua tahunan, sedangkan dua lainnya masih tampak muda. Kira-kira umur mereka sekitar empat atau lima puluh tahun.

__ADS_1


Tiga orang tersebut melangkah masuk ke dalam. Langkahnya lebar. Caranya berjalan sangat angkuh, seolah lantai restoran dibuat bergetar karena kesombongan dan keangkuhan mereka.


Seorang yang muda memakai baju cokelat tanpa lengan berjalan mendekati kasir. Entah apa yang dia bicarakan, tapi detik berikutnya tampak si kasir seperti ketakutan.


Dia langsung memberikan sekantung uang kepada pemuda tersebut. Dengan langkah lebar pemuda itu kembali kepada dua orang rekannya.


Pemuda itu memberikan sekantung uang tadi ke pria paling tua. Kemudian si orang tua tampak bicara kepada keduanya, selanjutnya, dua orang itu segera berkeliling ke setiap pengunjung restoran.


Setiap pengunjung yang didatangi olehnya tampak ketakutan. Para pengunjung itu kemudian memberikan kepingan perak, bahkan ada juga yang memberikan kepingan emas kepadanya.


Hampir semua meja sudah didatangi, tidak ada yang tidak memberikan jatah. Bahkan pengunjung yang berasal dari kalangan pendekar pun turut memberikan jatah kepadanya.


Sejauh ini, Pendekar Tanpa Nama tidak memberikan komentar apapun. Dia hanya melihat sambil tetap diam tanpa bicara.


Meskipun dia sendiri belum tahu siapa tiga orang itu, tapi Pendekar Tanpa Nama yakin bahwa mereka mempunyai latar belakang yang tidak biasa. Kalau tidak begitu, rasanya tidak mungkin jika semua orang di dalam restoran merasa takut kepadanya.


Dua orang pemuda tersebut sekarang sedang berjalan ke meja Pendekar Tanpa Nama. Begitu tiba di hadapannya, mereka langsung bilang tanpa tedeng aling-aling.


"Berikan setengah harta yang kau bawa," ucapnya dengan nada angkuh.


"Siapa kau?" tanya Sian-li Bwee Hua menjawab dengan cepat.


Gadis itupun sudah memperhatikan orang-orang itu sejak tadi. Dia sendiri sangat tidak suka melihat apa yang mereka lakukan, sekarang giliran dirinya yang diminta jatah, tentunya saja Sian-li Bwee Hua tidak terima.


"Orang suruhan Tuan Gandrung Kalapati," kata pemuda berpakaian hitam dengan ikat pinggang kain merah darah. Rambut pemuda itu panjang dibiarkan terurai. Wajahnya cukup tampan, tapi sayangnya wajah itupun menggambarkan kekejaman.


"Kami tidak kenal siapa Tuan Gandrung Kalapati. Lebih baik kalian pergi dari sini sekarang juga," jawabnya.


"Kalian tidak mengenal Tuan kami?"


"Tidak …" kata Sian-li Bwee Hua sambil menatap tajam.


"Hemm, hanya manusia mampus yang tidak kenal nama Tuan kami,"


"Kalau kami bilang tidak kenal, maka kami memang tidak kenal. Apakah telinga kalian tuli?" tanya Bidadari Tak Bersayap sambil menggebrak meja.


Pada saat bicara, dia pun menunjuk wajah pemuda itu. Sinta sangat gemas. Ingin rasanya dia menampar mulut orang itu.

__ADS_1


__ADS_2