
"Rampes, terimakasih Kakek Sakti …" jawab Prabu Katapangan Kresna sambil mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti bersama dua orang gadis jelita di sisinya masih berdiri. Selama sang Raja tidak memerintahkan untuk duduk, maka mereka tidak akan duduk.
Ini adalah tatakrama sopan santun. Apalagi dalam sebuah Kerajaan, biasanya, dalam lingkungan Istana hal-hal seperti ini merupakan sesuatu yang wajib. Dunia Kerajaan berbeda dengan duni para pendekar.
Kalau di dunia pendekar bebas dan tidak mengenal aturan, sebaliknya, dunia Kerajaan justru sangat ketat dan benar-benar mengedepankan adat kesopanan.
"Siapa dua gadis itu, Kek?" tanya Prabu sambil melirik kepada Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap.
"Mereka adalah murid-murid sahabat hamba Gusti Prabu, yang satu bernama Dewi Bercadar Merah, dan satu lagi Dewi Bercadar Biru …" jawabnya penuh hormat.
Perlu diketahui, pada saat itu Sian-li Bwee Hua mengenakan pakaian ringkas warna merah pekat. Wajahnya ditutup oleh kain cadar sehingga yang terlihat hanyalah sepasang matanya yang jeli saja.
Sedangkan Bidadari Tak Bersayap memakai pakaian ringkas berwarna biru muda. Penampilan keduanya hampir sama, kecuali di punggung Bidadari Tak Bersayap tersoren sebatang pedang yang dibungkus oleh kain biru pula. Masing-masing pakaian mereka cukup ketat sehingga memperlihatkan lekukan bentuk tubuh yang indah sempurna.
Walaupun wajah mereka tertutup oleh cadar, tapi setiap orang yang ada di ruangan itu sudah mengetahui kalau dibalik kain cadar tersebut, pastinya menyimpan seraut wajah cantik jelita yang sulit untuk dibayangkan.
"Siapakah nama sahabatmu itu, Kek?" tanya Prabu lebih lanjut.
"Nyai Gandasari, Pendekar Selendang Bayangan dari ujung Timur Tanah Pasundan,"
Prabu Katapangan Kresna nampak mengerutkan kening, begitu juga dengan orang-orang yang ada di ruangan tersebut.
Mereka adalah tokoh dunia persilatan, namanya menjulang tinggi, setiap pendekar pasti banyak yang mengenalnya. Setiap tokoh kelas atas pasti mereka kenal juga. Namun orang-orang itu merasa heran karena tidak pernah mengenal nama dan julukan yang disebutkan oleh Kakek Sakti Barusan.
__ADS_1
"Nyai Gandasari? Siapa dia? Kenapa aku baru mendengar namanya?"
"Prabu dan semua saudara yang ada di sini pasti tidak akan mengenalnya, sebab Pendekar Selendang Bayangan jarang terjun ke lapangan. Sekalipun terjun, biasanya dia tidak mau memperkenalkan dirinya sendiri. Lagi pula sepuluh tahun ini beliau sudah memundurkan diri dari dunia persilatan," jelas Nenek Sakti ikut bicara pula.
Masalah berbohong, Nenek Sakti memang jagonya. Dia ahli siasat, kalau sedang darurat menghadapi bahaya, maka dia akam mengggunakan akalnya yang terakhir ini.
Cara dia berbohong patut diacungi jempol. Sebab siapapun tidak akan ada yang tahu kalau dia sedang bicara ngawur. Alasannya karena ekspresi wajah dan gerak tubuhnya masih sangat wajar. Tidak terlihat tanda-tanda kalau dia sedang melakukan dusta.
Keahilan semacam ini meskipun terdengar sederhana, namun sebetulnya memerlukan latihan khusus yang tidak sebentar. Oleh sebab itulah tidak setiap orang bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Nenek Sakti barusan.
"Oh, ternyata begitu. Pantas, pantas saja," gumam Prabu Katapangan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti hanya tersenyum lembut saling pandang sesaat. Ternyata rencana mereka hampir berhasil. Tinggal sedikit lagi, setengah langkah lagi, maka rencananya bakal berjalan dengan mulus.
"Lantas kenapa Kakek dan Nenek membawa murid Pendekar Selendang Merah kemari?"
"Izinkan hamba untuk menjelaskannya Prabu," sambung Nenek Sakti dengan cepat.
"Silahkan, Nek …"
"Dulu, antara kami dan Pendekar Selendang Bayangan mempunyai janji pribadi. Dia ingin kalau dirinya sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, kedua murid wanitanya ini dibawa oleh kami ke dalam Istana Kerjaan. Alasannya bukan lain adalah karena dia ingin memperlihatkan baktinya kepada pemerintah. Nyai Gandasari adalah seorang wanita yang sangat peduli terhadap negerinya sendiri, dia sebenarnya ingin menjadi orang-orang Kerajaan, sayangnya dirinya tidak bisa. Padahal itu merupakan mimpi terbesarnya,"
"Oleh sebab itulah dia memohon kepada kami agar membawa dua muridnya ini untuk menjadi orang-orang Kerajaan. Terserah jadi apa, asalkan termasuk dalam jajaran pemerintahan, maka Pendekar Selendang Bayangan sangat berterimakasih. Seumur hidupnya dia tidak akan melupakan kebaikan ini. Karena alasan tersebut, kami atas nama Sepasang Kakek dan Nenek Sakti memohon pula kepada Gusti Prabu agar meluluskan permintaan terakhir sahabat kami ini. Bagaimanapun juga kami merasa sangat berhutang budi kepadanya. Entah sudah beberapa kali dia menyelematkan jiwa kami pada saat muda dulu ketika menjalankan tugas dari Raja sebelumnya," jelas Nenek Sakti panjang lebar.
Semua penjelasan barusan dikatakan dengab sungguh-sungguh. Caranya membawakan cerita, ekspresi wajahnya, bahkan nadanya, semuanya mengundang simpati semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah terbukti kesetiaannya kepada Kerajaan. Apalagi keduanya sudah mengabdi semenjak Prabu Bambang Sukma Saekti masih menduduki posisi Raja pada jaman dahulu.
Setiap orang-orang Kerajaan tahu akan hal ini. Hanya saja, kadang-kadang mereka berdua bercerita lain kepada orang luar. Tujuannya agar latar belakang mereka tetap misterius sehingga tidak diketahui oleh musuh.
Selain itu juga, setiap apa yang dilakukan oleh dua orang tua itu pasti mempunyai alasan kuat tersendiri. Selamanya, dia tidak pernah membuat orang lain kecewa. Oleh sebab itulah semua orang-orang yang ada di lingkungan Istana Kerajaan menaruh hormat mendalam kepadanya.
Mereka segan sekaligus kagum terhadap sepak terbang Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
Prabu Katapangan Kresna tampak sedang berpikir beberapa saat. Tidak bisa ditampik kalau diapun merasa tertarik dengan penjelasan yang disampaikan oleh Nenek Sakti barusan.
"Kalau boleh tahu, apa yang bisa mereka perbuat?" tanyanya setelah berpikir.
"Apapun bisa mereka lakukan. Asalkan sejalan dengan kegagahan, maka Dewi Bercadar Merah dan Dewi Bercadar Biru pasti dapat melakukannya, bukankah begitu?" tanya Nenek Sakti sambil melirik kepada Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap.
"Nenek terlalu memuji. Kami hanya bisa berusaha semaksimal mungkin saja," jawab Ling Ling atau yang sekarang memakai julukan Dewi Bercadar Merah itu.
Prabu Katapangan manggut-manggut, dia cukup puas mendengar jawaban ini. Namun bagaimanapun juga, selamanya Kerajaan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.
Apalagi kalau orang itu ingin menjadi bagian darinya. Pastinya harus melakukan beberapa uji coba terlebih dahulu.
"Untuk membuktikan apakah ucapanmu benar atau tidak, bagaimana kalau kita langsung membuktikannya saja?"
"Kalau itu yang Gusti Prabu inginkan, kami tidak bisa menolak," jawab Ling Ling dengan suaranya yang halus dan lembut.
"Bagus, kalau begitu mari kita pergi ke ruang belakang,"
__ADS_1
Prabu Katapangan Kresna bangkit dari kursi singgasananya yang megah itu. Raja Tanah Pasundan itu kemudian berjalan menuju tempat yang dimaksud.