
Setelah berhenti beberapa saat lamanya, akhirnya pertarungan pun segera dilanjutkan kembali. Tiga orang itu melesat lagi dengan jurus dan gaya serangan yang baru.
Pendekar Tanpa Nama sudah siap. Kapanpun dia pasti siap. Menghadapi ancaman apapun, dia selalu siap.
Wushh!!!
Tiga bayangan orang menerjang dari depan. Tusukan datang dengan cepat. Bacokan tajam tiba dengan dahsyat. Sabetan datang dengan kekuatan hebat.
Semuanya merupakan serangan dahsyat. Semuanya membawa ancaman maut.
Pendekar Tanpa Nama menatap tajam ke arah tiga lawannya. Begitu semua serangan tiba di hadapannya, dia bergerak.
Cahaya merah memancarkan hawa kematian pekat. Ujung Pedang Naga dan Harimau bercahaya merah membara.
Wushh!!! Trangg!!! Srett!!!
Tiga kali cahaya itu tampak. Tiga tubuh manusia telah ambruk ke tanah. Mereka langsung tewas seketika. Kematiannya sangat cepat dan amat mendadak. Jangankan orang lain, bahkan mereka sendiri tidak pernah menyangka bahwa hari ini adalah hari terakhirnya untuk melihat dunia.
Pendekar Tanpa Nama telah mengeluarkan jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Jurus itu dikeluarkan dengan pengerahan delapan bagian tenaga dalam.
Sudah tentu serangannya sangat cepat dan dahsyat. Serangan itu pun sangat mematikan.
Ujung pedang pusaka itu masih meneteskan darah segar ke atas tanah. Batang pedang memancarkan aura pembunuhan yang sangat kental.
Semua kejadian itu terjadi dalam waktu singkat. Berbeda dengan menulis kejadiannya yang membutuhkan waktu cukup lama.
Huang Mei Lan semakin terbengong. Sekarang gadis itu tahu betul sampai di mana kemampuan Pendekar Tanpa Nama. Meskipun pengalamannya di dunia persilatan masih sangat dangkal, namun sebagai cucu dari seorang datuk rimba hijau, sudah tentu dirinya mengetahui kedahsyatan sebuah jurus.
Dan jurus yang diperlihatkan oleh Pendekar Tanpa Nama barusan, adalah jurus yang sangat-sangat dahsyat serta mengerikan. Jangankan hanya tiga tokoh, andai kata dia masuk dalam jajarannya sekalipun, belum tentu dia sanggup mengimbanginya.
Pendekar Tanpa Nama berjalan perlahan ke arah Mei Lan. Pedang Naga dan Harimau telah kembali ke sarungnya. Pedang itu juga telah dibungkus lagi oleh kain sutera putih.
"Kau tidak papa?" tanya Mei Lan mendahului Cakra Buana.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, kau sendiri?"
"Akupun sama," jawab Mei Lan lemah lembut. Dia menundukkan kepalanya karena merasa gugup.
"Kita pergi sekarang juga. Di sini sudah tidak aman lagi," ajak Pendekar Tanpa Nama.
"pergi? Bagaimana dengan nyawa orang-orang itu?" tanya Mei Lan sambil memandangi ke seluruh mayat tersebut.
"Biarkan saja. Mereka sudah sepantasnya mendapatkan balasan atas apa yang sudah dilakukan,"
"Apakah kau sekejam itu? Apakah kau tega melihat mayat-mayat itu menjadi makanan anjing atau burung pemakan bangkai?"
Mei Lan tidak terima dengan keputusan Cakra Buana yang mengajaknya pergi begitu saja. Bagaimanapun juga, walaupun mereka orang jahat, tapi mereka tetaplah manusia. Sebagai manusia, sudah tentu mereka pun harus mendapatkan kematian yang layak.
"Kau harus ingat bahwa dirimu adalah orang-orang dunia persilatan. Dalam dunia rimba hijau, meskipun kau tidak kejam, kau harus berusaha untuk kejam. Kalaupun kau tidak tega, kau harus tetap berusaha untuk tega. Hal itu sudah menjadi hal yang lumrah," ujar Pendekar Tanpa Nama berusaha menjelaskan sedikit demi sedikit tentang dunia persilatan kepada gadis itu.
Huang Mei Lan terdiam. Gadis yang merupakan cucu Huang Pangcu itu berusaha merenungkan kata-kata Pendekar Tanpa Nama.
"Ada istilah lebih baik dibunuh dari pada dibunuh. Lebih baik ditikam dari pada ditikam. Dalam dunia persilatan, hal itu sudah menjadi rahasia umun. Akupun seperti itu, hanya saja, saat aku membunuh seseorang, berarti orang itu memang pantas untuk mati," ujar Pendekar Tanpa Nama setelah beberapa saat terdiam lalu kemudian melanjutkan bicaranya.
"Berarti, kau tidak sembarangan dalam membunuh seseorang?" tanyanya mulai tertarik dengan ucapan Cakra Buana.
"Tentu saja tidak. Selama aku mengembara, mungkin aku belum pernah salah dalam hal membunuh orang,"
"Apakah aku juga harus seperti itu?"
"Sangat harus. Karena hal itu merupakan prinsip semua orang-orang dunia persilatan. Siapa yang kuat, dia yang akan bertahan hidup. Siapa yang lemah, dia yang akan mati," terang Pendekar Tanpa Nama.
Sekarang sedikit banyaknya Huang Mei Lan telah mengerti atas apa yang dimaksudkan oleh Cakra Buana. Gadis itu adalah gadis yang cerdas, sehingga dia tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami setiap kata yang di ucapkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
"Sekarang aku mengerti maksudmu," kata Mei Lan sambil menghela nafas.
"Bagus kalau begitu. Sekarang mari kita pergi," ajak Cakra Buana.
__ADS_1
Mei Lan mengangguk. Sesaat kemudian, dua bayangan segera melesat dari tempat itu.
###
Sekarang yang ada di sana hanyalah enam sosok manusia tanpa nyawa. Semuanya terkapar di tanah dengan darah yang menggenangi tubuhnya masing-masing.
Di tempat lain, Cakra Buana dan Mei Lan telah berada di sebuah tempat yang cukup jauh dari arena pertarungan tadi. Saat ini keduanya sedang duduk di bawah pohon bunga bwee.
Mei Lan tampak kehausan sekali. Untungnya tempat yang mereka duduki itu berdekatan dengan sungai berair jernih. Tanpa perlu diperintah, Pendekar Tanpa Nama telah mengerti apa yang harus dia lakukan.
Pemuda Tanah Pasundan itu segera mengambil air ke bawah sungai. Dia menaruh air tersebut di guci bekas arak yang sebelumnya dibawa.
"Ini, minumlah," kata Cakra Buana sambil memberikan air tersebut kepada Mei Lan.
Gadis itu menengok ke arahnya sambil tersenyum hangat. "Terimakasih," Mei Lan segera meminum air tersebut secara perlahan.
Cakra Buana memandanginya dengan seksama. Saat bibirnya menyentuh guci bekas arak, Cakra Buana merasakan hal lain dalam hatinya. Pemuda itu sangat terpesona melihat bibir lembut nan mungil itu.
Belum lagi pemiliknya yang memiliki wajah cantik jelita.
Huang Mei Lan yang menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan, dia langsung berhenti minum air. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanyanya tersipu malu. Sepasang pipinya memerah seperti tomat.
"Kau sangat cantik," kata Pendekar Tanpa Nama. Secara tidak sadar mulutnya mendadak mengeluarkan sebuah pujian.
Meskipun pujian itu sangat singkat, namun di telinga Mei Lan, pujian itu justru sangat hangat. Pujian tersebut seperti mengandung satu kekuatan yang mampu membuat dirinya merasa terbuai.
Hatinya bergetar. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Sebagai gadis yang terkenal akan kecantikannya, dia sudah biasa menerima pujian dari seorang pria. Namun entah kenapa, pujian yang dilemparkan oleh Pendekar Tanpa Nama barusan terasa berbeda dari pujian pria lainnya.
Seumur hidup, dirinya baru merasakan perasaan seperti itu.
Apakah itu artinya dia telah jatuh cinta kepada Cakra Buana? Apakah benar hatinya telah jatuh terbuai dalam pujian itu?
Suasana hening sekejap. Dua pasang mata itu saling bertemu. Mereka saling tatap untuk beberapa saat.
__ADS_1