
Huang Yang Qing sanga terkejut mendengar pengakuan orang itu. Ucapannya barusan seperti sebuah sambaran kilat yang tepat menyambar kepalanya.
Ekspresi wajahnya menggambarkan berbagai macam rasa. Entah itu rasa senang, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Di antara kedua bola matanya, ada dua titik air mata yang sudah mengembang.
Untungnya tidak ada yang bisa melihat kejadian ini.
"Apa hubunganmu dengan …"
"Nanti Tuan akan tahu dengan sendirinya. Sekarang belum waktunya, kalau ada kesempatan, kita bisa bicara sambil menikmati seguci arak," jawab Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya sambil tersenyum.
"Baik, aku tunggu," jawab Huang Yang Qing penuh semangat
Untuk diketahui, ilmu mengirimkan suara lewat pikiran ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Mereka adalah orang-orang yang sudah mempunyai tenaga dalam sempurna.
Kalau si Buta Yang Tahu Segalanya bisa melakukan hal tersebut, itu artinya tenaga dalam dia sudah benar-benar sempurna.
Siapa yang akan percaya bahwa orang buta memiliki tenaga dalam sempurna? Siapapun pasti tidak akan percaya.
Tapi mereka harus percaya. Sebab semua buktinya sudah ada. Selain itu, sentilan tadi saja sudah dapat membuktikan bahwa sebenarnya orang buta itu mempunyai ilmu yang sudah sangat tinggi.
Semuanya menyadari hal itu. Mau tidak mau mereka harus mengakui. Pendekar Tanpa Nama sampai dibuat terbengong dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Orang yang selama ini selalu senyum, orang yang selama ini dianggap biasa saja oleh kebanyakan orang, tanpa diduga malam ini dia bisa membuat sesuatu yang sangat menggemparkan.
Melihat saudaranya tewas, tiga pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam tentunya merasa sangat marah sekali. Amarah mereka sudah memuncak. Tidak bisa dibayangkan lagi bagaimana marahnya.
"Bangsat. Malam ini kalau kau tidak mampus, biar aku yang tewas. Kita buktikan siapa yang pantas untuk terus hidup," bentak Pang Zi Ji. Pemimpin termuda di antara yang lainnya.
"Baik, aku terima tantanganmu. Masalah sudah sejauh ini, tidak mungkin aku hanya berdiam diri lagi. Biar sekalian aku tamatkan riwayat kalian," jawab Li Guan.
Dia masih tersenyum. Namun senyuman yang sekarang jauh berbeda daripada sebelumnya. Senyuman yang dia perlihatkan barusan, adalah senyuman misterius.
"Aku akui ilmu saudara memang sangat tinggi. Aku sendiri merasa sangsi, tetapi karena saudara sudah membunuh saudaraku, terpaksa aku juga harus mengadu jiwa dengan saudara," kata Oh Kay Tin.
Suaranya terdengar lebih mendingan daripada Pang Zi Ji. Sebagai pemimpin utama yang disejajarkan dengan tokoh kelas atas dunia persilatan, sudah barang tentu kalau dirinya lebih bisa menahan amarah. Meskipun memang rasa bencinya tidak bisa dilukiskan lagi.
__ADS_1
"Baik. Dengan senang hati aku akan melayani saudara. Rasanya aku akan senang jika bisa mati di ujung pedangmu itu," jawab Li Guan kembali melemparkan senyuman hangat.
"Aku pun begitu," tukas Oh Kay Tin.
"Lihat serangan …" teriak Kang Pou kalap yang berada di sisi Oh Kay Tin.
Tombaknya langsung menusuk hebat. Tusukan yang sangat cepat dan mematikan. Satu kali bergerak, lima tusukan yang mengarah ke titik inti sudah dia lancarkan.
Disusul kemudian oleh Pang Zi Ji, golok yang besar itu disabetkan membawa kekuatan sebesar gunung. Dua serangan berbahaya kembali terbentang di hadapan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Jurus tombak itu adalah jurus pamungkas yang bernama Tombak Menusuk Awan Kelabu. Sedangkan jurus golok itu bernama Golok Melintang Setan Berputar.
Semuanya jurus kelas atas dan jarang digunakan jika keadaannya tidak terdesak. Pang Zi Ji dan Kang Pou dengan gencar melancarkan serangan mereka.
Tombaknya terus menusuk. Serangan dalam jurus ini mengandung banyak perubahan. Begitu juga dengan jurus golok Pang Zi Ji.
Golok tersebut berputar menari-nari. Memberikan hawa pembunuhan pekat dan ancaman yang tiada hentinya. Berbarengan dengan dua jurus maut itu, Oh Kay Tin tidak mau kalah.
Dia mengerang lalu melompat sambil melancarkan serangan berbahaya dengan pedang di tangannya.
Jurus pedang yang sangat ganas dan sangat cepat. Selain itu, ada hawa panas pada setiap gerakan pedangnya.
Kalau lawannya orang biasa, jangan berharap bisa bertahan hingga sepuluh jurus. Apalagi jika ditambah dengan dua jurus dahsyat lainnya.
Namun Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya tidak gentar sedikitpun. Justru senyumannya semakin berkembang.
"Jurus yang bagus," serunya sambil menghindari tiga serangan yang datang silih berganti.
Dia melompat mundur satu langkah menghindari tusukan tombak. Kemudian berkelit ke samping kanan menghindari sabetan pedang. Di saat serangan ketiga datang, kedua tangannya bergerak secepat kilat.
Trangg!!!
Golok milik Pang Zi Ji disentil kembali hingga patah. Tangan kanannya segera mengirimkan serangan tapak yang tepat mengenai dadanya.
Pang Zi Ji terlempar hingga dua puluh langkah. Hampir mengenai orang-orang yang menonton. Dia tewas. Bajunya gosong, berikut juga dengan dadanya.
__ADS_1
Darah kental kehitaman keluar dari setiap lubang di seluruh tubuh. Kematiannya sungguh mengerikan.
Kang Pou menyerang dengan tombaknya kembali. Namun Li Guan bergerak lebih cepat lagi. Serangan memakai telapak tangan kembali mendarat di tubuh lawan.
Ulu hati menjadi sasaran. Kang Pou terlempar dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Lawan yang tersisa hanya tinggal Oh Kay Tin.
Melihat dua saudaranya kembali meregang nyawa, dia semakin kalap. Pedang itu melintang memberikan sabetan dan tusukan dalam waktu singkat.
Hawa panas terus menyebar sehingga batang pedang terlihat berubah warna menjadi merah membara. Kedua kakinya sesekali melancarkan tendangan hebat yang tanpa diduga sebelumnya.
Wushh!!!
Mendadak debu mengepul tinggi. Si Buta Yang Tahu Segalanya menyerang dengan ganas di balik kepulan debu tersebut.
Hanya dalam beberapa saat saja, suara seseorang terdengar sangat memilukan. Oh Kay Tin terlempar ke atas lalu begitu turun, pedangnya menancap tepat di jantungnya.
Entah apa yang sudah terjadi. Seluruh tubuhnya menghitam seperti tidak kuat menahan sebuah kekuatan hebat.
Namun di sisi lain, mata Huang Yang Qing kembali memperlihatkan perasaan senang dan terkejut.
"Pusaran Debu Dewa Naga Langit …" seruna dalam hati.
Dia semakin yakin bahwa si Buta Yang Tahu Segalanya ini ada sangkut paut dengan sahabatnya. Hanya saja yang menjadi pertanyaan hingga sekarang, siapa dia sebenarnya?
Kenapa pula seluruh ilmu dan gerakannya begitu sama dengan gerakan sahabatnya di masa lalu ketika puncak kejayaannya?
Entahlah. Sampai sekarang dia belum bisa memberikan jawabannya sendiri.
Oh Kay Tin sudah ambruk. Tetapi mendadak dia bangun lalu berjalan dengan lemah ke arah Li Guan.
"Te-terimakasih Tuan pendekar," katanya lirih sambil menepuk pundak pemuda buta tersebut.
Begitu ucapannya selesai, tubuh Oh Kay Tin ambruk kembali. Kali ini dia ambruk dan tidak akan pernah bangun lagi untuk selamanya.
__ADS_1