
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan nyaring mulai terdengar memekakkan telinga. Dua tokoh tersebut terlibat dalam satu pertarungan yang sengit.
Kalau dua tokoh kelas puncak sedang bertarung, maka mereka tidak perlu membutuhkan waktu yang lama. Sejatinya hanya satu atau dua jurus saja sudah cukup, asalkan memang mereka mengeluarkan kemampuan hingga ke titik tertinggi.
Sayang sekali pada kesempatan ini hal tersebut tidak berlaku bagi siapapun. Alasannya karena pertarungan ini bukan medan pembunuhan.
Wushh!!! Wuttt!!!
Tongkat kemala hijau itu melancarkan hantaman ke arah batok kepala. Gerakannya sangat tangkas. Pada saat itu si Naga Terbang Kedua berada di posisi dekat, dia menarik kakinya ke belakang lalu mengegoskan kepalanya ke samping kanan.
Dalam kesempatan yang sangat tipis itu, pemimpin kedua dari Organisasi Naga Terbang tersebut segera melancarkan satu serangan tak terduga.
Satu tusukan melesat secepat angin berhembus di musim semi. Arah serangannya ulu hati.
Meskipun serangan ini sangat berbahaya, namun sebenarnya dia sendiri tidak memliki keyakinan bahwa serangannya bakal berhasil.
Plakk!!!
Dugaannya tidak salah.
Tepat pada saat satu pisau belatinya hampir mengenai sasaran, saat itu pula tangan kiri Huang Pangcu segera memapak tusukan tersebut.
Hantaman telapak tangan kirinya sangat keras, hampir saja pisau milik anggota Organisasi Naga Terbang itu jatuh ke tanah. Untungnya dia mempunyai genggaman tangan yang lebih erat dari gigit seekor buaya sehingga pisaunya masih dapat dipertahankan.
Karena serangan mautnya gagal, Naga Terbang Kedua kemudian segera menyurut mundur ke belakang. Bukan untuk menghela nafas, melainkan untuk mengeluarkan jurus yang jauh lebih hebat lagi.
Kepakan Sayap Naga Mengelilingi Alam Semesta!!!
Salah satu jurus pisau andalannya telah dilancarkan. Dua bilah pisau yang sangat tajam itu tampak lebih bercahaya dan lebih tajam lagi.
Wutt!!!
Tubuhnya melesat menerjang Huang Pangcu. Serangan berupa sabetan langsung dilayangkan tanpa berhenti.
Pertarungan keduanya telah memasuki jurus ketiga puluh tujuh. Itu artinya, sebentar lagi mereka akan mencapai batas pertarungan.
64 Empat Totokan Tongkat Kemala Hijau!!!
Ketua dari Kay Pang Pek itu tidak mau kalah. Dia pun turut mengeluarkan salah satu jurusnya yang jarang dia keluarkan. Tongkat hijau kemala itu baginya sudah menjadi tangan ketiga.
__ADS_1
Di tangan Huang Pangcu, tongkat mestika tersebut dapat menjadi apa saja yang dia inginkan. Kalau dia ingin lemas, maka tongkat itu bakal lemas. Kalau ingin keras, maka secara tiba-tiba tongkat tersebut bakal keras kembali.
Sekarang tongkat sedang digerakkan untuk melancarkan enam puluh totokan maut. Setiap totokan mengandung tenaga dalam tinggi. Enam puluh empat totokan bakal mengarah ke enam puluh empat jalan darah di tubuh manusia.
Bayangan hijau dan hitam legam berkelebat. Keduanya terkurung menjadi satu hingga beberapa jurus ke depan.
Wutt!!!
"Aku kalah …" teriak Huang Pangcu dengan suaranya yang sangat lantang.
Semua orang tercengang, para tokoh kelas atas yang menjadi penonton, para sahabatnya, Mong Tian Bao selaku wasit, bahkan Tian Hoa juga mengalami hal yang sama. Pokoknya, hampir semua orang terkejut setengah mati.
Padahal siapapun tahu bahwa tinggal selangkah lagi Huang Pangcu bisa memenangkan pertarungan tersebut.
Tapi kenapa dia malah mengaku kalah? Apakah dia sudah gila? Ataukah ada alasan lainnya?
Tiada yang tahu alasan pastinya kecuali dia sendiri Pendekar Tanpa Nama, Tiang Bengcu dan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Si Naga Terbang Kedua memandang kakek tua itu dengan tatapan tidak percaya. Tapi bagaimanapun juga dia merasa girang karena bisa membuat pihak lawan kalah.
Nafas kedua orang itu tersengal-sengal. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya.
"Kau mengaku kalah? Benarkah?" tanya si Naga Terbang Kedua memastikan.
"Hahaha, bagus, bagus. Itu tandanya kau masih sayang kepada tubuh tuamu. Terimakasih karena kau sudah menemaniku bermain," ucap si Naga Terbang Kedua dengan rasa bangga.
Huang Pangcu tidak menanggapi perkataan orang berpakaian serba hitam itu. Ketua Kay Pang Pek tersebut hanya tersenyum lalu secara perlahan berjalan ke arah para sahabatnya.
Para sahabatnya masih termenung. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa kedua kata itu akan keluar dari mulut seorang datuk rimba hijau.
Mereka ingin bertanya langsung, sayangnya Tiang Bengcu malah bicara lebih dulu.
"Kerja yang bagus," katanya sambil menyambut kedatangan Huang Pangcu.
"Bengcu terlalu memuji," jawabnya kemudian tertawa.
Pertempuran di arena pertarungan terus berlanjut. Semakin lama semakin menegangkan.
Tampak di sana ada Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding sedang melawan Naga Terbang Ketiga.
Sepak terjang kedua orang itu amat ganas. Persis seperti pertarungan antara seekor naga dan seekor harimau dalam dongeng orang tua dulu.
__ADS_1
Si Naga Terbang Ketiga adalah ahli tangan kosong. Kebetulan si Harimau Sakti Tiada Tanding pun sama. Hal ini menjadikan pertarungan mereka berjalan lebih seru dan menegangkan.
Pertarungan keduanya berbeda dengan pertarungan lainnya.
Sepak di Naga Terbang Ketiga sangat berbahaya. Seolah dia mempunyai dendam tersendiri kepada pemilik Perkampungan Raja Harimau tersebut.
Datuk sesat dari Utara itu sendiri merasa kaget. Tapi karena dia sudah terburu oleh nafsu, maka kakek tua itupun tidak mau kalah.
Jurus demi jurus dia layangkan dengan segenap kemampuan. Cakaran dan tendangan melayang ke arah si Naga Terbang Ketiga tanpa berhenti.
Wushh!!! Plakk!!! Plakk!!!
Keduanya berbenturan pukulan di tengah udara. Begitu kakinya mendarat ke tanah, mereka kembali melanjutkan serangan lainnya lagi.
Si Naga Terbang Ketiga bertarung penuh ketenangan dan tanpa mengeluarkan suara. Berbeda dengan Poh Kuan yang sebaliknya. Sepanjang jalannya pertarungan, kakek tua itu terus mengeluarkan bentakan nyaring yang membuat gendang telinga bergetar hebat.
Wushh!!!
Si Naga Terbang Ketiga menyerang dengan cepat. Kedua jari tangannya membentuk tiga cakaran, siapapun tahu bahwa jari tangan itu lebih keras dari baja dan lebih berbahaya dari sebilah pedang mestika.
Cakar Naga Hitam Menembus Awan!!!
Salah satu jurus pamungkas miliknya dikeluarkan dengan segenap kemampuan. Hal tersebut menjadikan serangannya berlipat ganda.
Si Harimau Sakti Tiada Tanding langsung berada di posisi terdesak hebat.
Jangankan dirinya sendiri, bahkan semua orang yang melihat kejadian ini pun seakan tidak percaya terkait pemandangan yang mereka saksikan saat ini.
"Haaa …" suara lengkingan tinggi menggema di tengah udara.
Sembilan cakaran yang sangat berbahaya itu telah berhasil merobek tubuh Poh Kuan Tao dengan telak. Darah langsung mengalir dari sekujur tubuh orang tua itu.
Wajahnya seketika pucat pasi seperti mayat. Keringat dingin telah mengucur deras. Dia terlihat ketakutan.
Sebenarnya siapa Naga Terbang Ketiga itu? Kenapa dia berlaku demikian?
"Berhenti!!!" suara Ming Tian Bao terdengar lantang pula.
Belum selesai suaranya, kakek tua itu sudah berada di tengah-tengah kedua tokoh tersebut.
"Kenapa kau menyerang berlebihan?" tanyanya sambil menatap tajam ke arah si Naga Terbang Ketiga.
__ADS_1
"Karena dia adalah musuhku. Kalau kau hendak dibunuh, benarkah kau tidak ingin membalasnya?" jawabnya. Suaranya terdengar serak parau. Entah itu suara pria ataukah suara wanita.
"Baiklah. Kau menang," jawab Ming Tian Bao singkat.