Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Berkumpulnya Para Tokoh


__ADS_3

Perkataannya penuh ketenangan dan rasa percaya diri. Setiap kata-perkata diucapkan dengan perlahan dan penuh penekanan. Sehingga mau tidak mau Cakra Buana harus memuji bahwa sahabatnya ini, memang mempunyai ketenangan yang tidak bisa digoyahkan.


Sepertinya walaupun kematian menghampiri dirinya, si Buta Yang Tahu Segalanya ini akan tetap tenang.


Mungkin di dunia ini, tidak adalah sesuatu yang membuatnya khawatir.


Selain itu, Pendekar Tanpa Nama juga memuji 'kebutaannya'. Walaupun benar dia 'cacat', tapi toh Li Guan bisa mengetahui semuanya. Apa yang ada di sana, dia tahu persis.


"Kau benar. Baik, aku yakin seyakin-yakinnya, kita pasti bisa keluar dari sini. Kau tenang saja, aku akan memberikan pertunjukan yang menarik untukmu," ujar Pendekar Tanpa Nama sambil melemparkan senyum kepada sahabatnya tersebut.


"Aku yakin kau tidak pernah mengecewakan orang-orang yang sudah percaya kepadamu," puni Li Guan tak henti-hentinya tersenyum.


Semua orang sudah mengambil posisinya masing-masing. Para anggota mengurung dua sahabat itu. Semua jalan dijaga ketat. Tembok pembatas pun dijaga secara ketat.


Tempat itu sekarang sudah menjadi lautan manusia. Pertumpahan darah yang hebat sepertinya tidak akan bisa terhindar lagi. Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama tidak mampu berkata apa-apa lagi.


Dia hanya bisa tersenyum. Lebih tepatnya memaksakan untuk tersenyum.


Siapapun orangnya, jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini, sudah pasti dia akan merasa cemas. Khawatir, takut, segala hal mungkin akan segera terbayang. Yang bisa tenang menghadapi keadaan seperti ini sungguh sangat-sangat langka.


Seorang Dewa pun mungkin belum tentu bisa. Tapi Li Guan masih bisa berlaku tenang. Terbukti bahwa dia bukan manusia sembarangan.


Seseorang yang mempunyai keyakinan dalam suatu masalah, biasanya orang itu tidak aka merasa takut ataupun khawatir. Lalu, apakah Li Guan juga punya keyakinan? Kalau iya, keyakinan apa itu?


Entah, Cakra Buana tidak mampu menjawabnya. Yang jelas, dia sangat yakin kepada sahabatnya yang satu ini.


"Sepertinya di sini akan terjadi keramaian," kata Cakra Buana sambil tersenyum memandangi para tokoh yang berada di jajaran paling depan.


"Tepat, bahkan lebih ramai daripada perayaan-perayaan lainnya. Aku jamin semua orang akan suka," jawab Oh Kay Tin. Pemimpin pertama dari Tujuh Perampok Berhati Kejam.


Suaranya menggelegar seperti raungan iblis. Matanya menatap sangat tajam. Lebih tajam daripada mata pisau sekalipun. Jelas, orang tau itu sedang merasakan gemuruh yang bertambah hebat dalam dadanya.


Apalagi ketika melihat dua saudaranya tewas.


Cakra Buana sendiri mengerti maksud sebenarnya perkataan itu. Tapi dia hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang mengandung rasa percaya diri.

__ADS_1


"Pasti akan sangat ramai. Apalagi Tiga Tosu Sesat yang terhormat ada di sini. Belum lagi ada Tuan Tian Hoa yang merupakan tokoh tertinggi dalam dunia persilatan," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.


Si Tosu Sesat tertawa juga. Mereka masih ingat kepada Cakra Buana, tentu saja. Apalagi dia hampir membunuh seorang rekannya.


"Hehehe, cukup lama kita tidak berjumpa lagi, baik-baikkah kau selama ini?" tanya si Tosu Angin Badai sambil tersenyum.


"Ya, lumayan lama juga. Aku baik-baik saja, semoga kalian juga sama," jawab Cakra Buana.


Keadaan di sana semakin ramai. Malam semakin larut. Rembulan sudah tertutup oleh gumpalan awan hitam.


"Aku kira kau sudah mati," kata si Iblis Tua Langit Bumi, Tian Hoa.


Jujur saja, dia sendiri sangat terkejut. Tak disangka bahwa bocah itu masih hidup sampai sekarang. Bahkan yang lebih anehnya lagi, dia terlihat sama sekali tidak mengalami luka dalam.


Bocah itu masih berdiri tegak. Tanpa mengalami luka, tanpa cacat, tanpa apapun. Semuanya masih sempurna. Masih sama seperti sebelumnya.


Bagaiamana dia bisa bertahan? Apakah dia Dewa?


Tidak, tidak mungkin. Mustahil bocah itu bisa bertahan hidup jika tidak ada sesuatu yang terjadi kepadanya. Apakah ada orang yang menolongnya?


Siapa yang menolongnya? Mustahil.


Berulang kali dia memikirkan kejadian tersebut, mengingat kembali semua yang dia lakukan bersamanya sebelum memukul bocah itu. Tapi tidak ada yang aneh. Saat itu, tidak ada orang lain juga yang melihatnya.


Dia sangat yakin dengan ketajaman telinganya.


"Aku memang sudah mati," jawab Cakra Buana tersenyum ramah.


"Lalu, bagaimana kau bisa ada di sini jika memang sudah mati?"


"Emm, aku telah hidup kembali. Yah, dulu aku mati di tanganmu. Tapi kemudian hidup lagi. Jadi, aku bangkit dari kematian," jawab pemuda itu sekenanya.


"Benar, hanya itu jawaban yang masuk akal. Kau telah bangkit dari kematian,"


"Begitulah,"

__ADS_1


Suasana hening kembali. Tidak ada lagi yang berbicara. Tapi belum ada juga yang memulai pertempuran ini.


Setiap orang sedang menunggu komando, jika menghadapi seorang pendekar ternama, semuanya memang perlu di perhitungkan. Bahkan hingga ke hal-hal terkecil sekalipun, wajib diperhitungkan.


Baru saja Oh Kay Tian mengeluarkan perintah untuk memulainya, mendadak ada sebuah suara yang menggema terbawa angin malam.


"Tahan!!"


Suara tersebut sangat berpengaruh. Orang-orang yang sudah bergerak, mendadak langsung berhenti di tempatnya. Seolah kaki mereka telah diikat dengan sebuah rantai tak kasat mata. Sehingga semua orang-orang itu tidak sanggup lagi melakukan apa-apa.


Tidak berapa lama, terdengar suara langkah banyak orang. Di susul kemudian lima orang tokoh tua melompat lewat dinding pembatas.


Huang Yang Qing si Kakek Tua Tongkat Hijau.


Semua orang menahan nafas saat melihat kakek itu ternyata datang. Di samping kanan kirinya ada juga empat tokoh lain.


"Aku rasa kau sudah mengenal Huang Pangcu bukan? Nah, yang itu namanya si Pedang Berkarat, itu si Kakek Janggut Kambing, itu Telapak Tangan Hantu, dan yang itu si Nenek Tua Bungkuk. Mereka berempat juga merupakan jago kelas satu, semuanya tokoh dunia persilatan. Dan mereka merupakan teman dari Huang Pangcu. Walaupun si Pedang Berkarat dan Telapak Tangan Hantu masih berusia empat puluh tahunan, tetapi dia sudah lama berteman dengan Huang Pangcu," kata si Buta Yang Tahu Segalanya menerangkan siapa saja yang datang dengan kakek tua itu.


"Akhirnya datang juga sebuah harapan," gumam Cakra Buana sambil tersenyum.


Huang Pangcu berjalan melewati puluhan orang. Semuanya terdiam seperti patung. Kakek tua tersebut ternyata benar-benar sangat berwibawa. Terlihat sekarang ini, tidak ada satu orang pun yang membuka mulutnya.


"Tidak perlu khawatir seperti itu bocah," katanya saat tiba di hadapan Cakra Buana.


"Haishh, hampir saja aku nekad," kata pemuda itu sambil tersenyum getir.


Dia lalu berkumpul bersama rekan-rekannya.


"Jadi ini kutu busuk yang kau maksudkan?" tanya si Kakek Janggut Kambing kepada Huang Pangcu sambil tersenyum.


Sepertinya kakek tua yang satu ini sangat doyan bercanda. Dan memang begitu kenyataannya. Dia sangat suka bercanda dengan siapapun.


"Benar. Dialah orang yang aku maksud,"


"Heii keparat. Berani sekali kalian meninggalkan aku,"

__ADS_1


Seseorang tiba-tiba melompat dari tembok pembatas lalu menginjak kepala setiap anggota musuh.


"Orang Tua Menyebalkan," ucap Huang Pangcu bersama yang lainnya.


__ADS_2