Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pelabuhan Lemah Jawi


__ADS_3

Cakra Buana menemani sang kekasih sekitar tiga hari. Selama tiga hari itu, keduanya selalu melewati hari-hari bersama. Apapaun dilakukan bersama.


Sekarang telah tiba saatnya untuk berpisah. Hari masih pagi, udara cerah dan mentari bersinar terang menerangi bumi. Suara burung terdengar indah salih sahut.


Orang-orang di daerah sekitar telah melakukan aktivitas mereka. Yang bertani mulai pergi ke sawah ladang. Yang berdagang mulai membuka lapak dagangan mereka.


"Sinta, aku pergi dulu untuk sementara waktu. Aku berjanji akan menjemputmu apapun yang terjadi," kata Cakra Buana bersungguh-sungguh.


Dia sudah berjanji. Janji yang tidak akan dia ingkari. Walaupun nyawanya melayang, dia akan tetap menjemput kekasihnya dengan rasa cinta yang terus bergelora.


Walai langit runtuh dan bumi hancur lebur, dia akan tetap menjemput wanita pujaan hatinya.


Hanya cukup Ling Zhi saja yang berpisah belum saatnya. Untuk Sinta, sama sekali dia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.


"Baik Kakang, jaga dirimu baik-baik di sana. Kau harus ingat bahwa di sini, aku selalu menunggu kedatanganmu," ujarnya sambil menahan tangis.


"Kau tenang saja, sampai kapanpun, aku akan tetap seperti ini kepadamu. Tidak akan ada yang dapat mengubahku, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita kecuali kematian,"


"Baik Kakang, aku percaya kepadamu. Akan aku ingat selalu semua ucapanmu,"


"Baiklah. Hari mulai siang, aku pamit pergi dulu," ujarnya sambil mencium kening sang kekasih.


Cakra Buana pergi tanpa menoleh lagi. Dia tidak ingin menambah kesedihan dalam hatinya. Pemuda itu menguatkan tekad demi satu tujuan.


Sedangkan Bidadari Tak Bersayap langsung masuk kembali ke dalam goa. Sama seperti kekasihnya, dia tidak menengok lagi ke belakang karena takut.


Takut bahwa dia akan mengejarnya jika melihat kepergian sang kekasih pujaan.


Air matanya mulai membasahi pipi. Tapi dia buru-buru mengusutnya. Dia harus tegar. Apapun yang terjadi.

__ADS_1


Terkadang sebuah perpisahan adalah awal dari perjumpaan yang tidak akan pernah berpisah kembali untuk selamanya.


Cakra Buana menempuh perjalanan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah dia kuasai secara sempurna. Dia akan berangkat menuju ke Kotaraja Tanah Jawa.


Alasan tidak ingin memilih Kotaraja Tanah Pasundan adalah karena dia tidak ingin kembali ke "rumahnya" untuk sementara waktu ini. Karena kalau dia memilih Kotaraja Tanah Pasundan, sudah pasti akan ada saja orang yang mengenali dirinya meskipun kini penampilannya sudah jauh berbeda.


Seminggu kemudian, dia telah tiba di Kotaraja Tanah Jawa. Dengan bekal yang ada, tidak sulit baginya untuk mencari penginapan yang terbilang mewah.


Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya dia menemukan orang yang bisa mengajarkan bahasa orang-orang Tionghoa kepadanya. Orang yang mengajarinya sudah terbilang tua.


Usianya sudah sekitar tujuh puluh tahun. Menurut pengakuannya, orang tersebut merupakan keturunan asli Tionghoa. Kedua orang tuanya merupakan pedagang lintas negara sehingga pada akhirnya memutuskan untuk menatap di Tanah Jawa ini.


Cakra Buana berguru kepadanya selama kurang lebih tiga bulan. Setalah bahasa Tionghoa berhasil dia kuasai, tanpa berlama-lama lagi Cakra Buana segera melanjutkan perjalanannya yang tertunda.


Tempat tujuannya saat ini adalah Pelabuhan Lemah Jawi. Pelabuhan ini sudah terkenal sejak zaman Kerajaan-kerajaan sebelumnya. Waktu yang dibutuhkan untuk tiba di sana sekitar dua minggu perjalanan.


Cakra memilih untuk pergi ke sana memakai kuda. Dirinya butuh waktu untuk beristirahat total.


Sekarang suasana masih pagi hari. Tetapi keadaan di pelabuhan sudah sangat ramai sekali. Orang-orang berbondong-bondong untuk menaiki kapal sesuai tujuannya.


Kapal yang akan berangkat ke Tiongkok dijadwalkan malam hari baru tiba di sana.


Pendekar Tanpa Nama menyukai suasana keramaian di pelabuhan. Setiap hari dia menghabiskan waktu di sana sambil meniup seruling bambu. Walaupun belum mahir, namun setidaknya dia sudah paham sedikit karena kemarin belajar juga saat dia berguru bahasa Tionghoa.


Dia melangkahkan kakinya ke sebuah kedai makan yang teradapat di sana. Kedai itu menjadi kedai favorit bagi setiap orang. Pasalnya selain karena makanan enak, di sana juga di jual arak yang lezat.


Pendekar Tanpa Nama duduk di bangku paling pojok. Dia memesan menu sarapan dan seguci arak.


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan tiba. Pemuda berpakaian merah segera menyantapnya dengan lahap.

__ADS_1


Namun di saat sedang nikmatnya menyantap makanan, dia mendengar ada suara desingan tajam. Walaupun agak jauh, tetapi dia dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


Seperti suara besi kecil dilemparkan dengan kecepatan tinggi.


Dia memperhatikan keadaan di sekitar. Tak lama, terdengar jerit kesakitan dalam jarak cukup jauh. Pendekar Tanpa Nama tahu bahwa di sana telah terjadi pembunuhan. Entah siapa dan karena apa, dia tidak tahu. Pun dia tidak ingin mencari tahu. Selama tidak tahu masalahnya, untuk apa ikut campur?


Tetapi mendadak semua orang yang ada di dalam kedai merasa sangat terkejut. Semerbak bau busuk segera menusuk hidung setiap pengunjung.


Terlihat bangkai hewan yang entah apa namanya karena bentuknya saja sudah tidak jelas. Baunya sangat busuk. Bangkai itu dilemparkan oleh seseorang sehingga jatuh di tengah-tengah kedai makan.


Semua pengunjung merasakan mual. Serentak mereka lari ke luar sambil muntah-muntah. Tidak berselang lama dari bangkai busuk tadi, tiga buah kepala manusia tiba-tiba sudah berada di meja makan. Entah kapan dan bagaimana caranya orang itu bisa melakukan hal tersebut.


Orang-orang yang tahan akan bau busuk dibuat terkejut kembali. Walaupun dua kejadian menjijikan tadi terjadi secara tiba-tiba dan cukup menyeramkan, tetapi nyatanya masih ada beberapa orang yang diam di tempatnya.


Termasuk Pendekar Tanpa Nama sendiri. Dia telah menutup indera penciuman sehingga wajahnya masih tampak biasa saja.


Di saat seperti itu, dua orang berpenampilan seperti pendekar memasuki kedai dengan penuh kesombongan. Matanya menyapu seisi ruangan. Di pinggang satu orang terselip sebatang golok yang sangat tajam. Di punggung orang satunya lagi, terdapat satu pedang kecil berwarna hijau tua.


Keduanya merupakan pria. Sudah tua pula. Setidaknya umur mereka telah mencapai sekitar tujuh puluhan tahun. Yang satu gemuk seperti bola, yang satunya lagi kurus seperti bambu.


"Semua yang ada di sini, keluar sekarang juga!!" bentaknya kepada orang-orang yang ada di dalam kedai.


Suaranya menggelegar seperti guntur di siang hari. Serempak beberapa orang keluar setelah tahu siapa yang datang itu.


Ternyata kedua orang tua yang sombong tersebut sudah mempunyai nama di sana. Sehingga para pengunjung langsung lari terbirit-birit setelah mengetahui kedatangan mereka.


"Siapa kau seenaknya saja mengusir kami?" bentak salah seorang pengunjung yang diduga merupakan pendekar juga.


"Rupanya kau cari mampus," kata si kurus kering.

__ADS_1


Selesai berkata, dia kemudian bergerak dengan sangat cepat. Mendadak satu kepala menggelinding. Orang yang bicara tadi dibuat buntung kepalanya.


Selama kejadian berlangsung, Pendekar Tanpa Nama tampak tidak takut sama sekali. Bahkan dia terlihat tidak memperhatikannya.


__ADS_2