
Keempat orang itu sudah kembali duduk bersama di balairung. Walaupun hati mereka masih pilu karena kematian Raja Tombak Emas dari Utara, tapi toh mereka sudah merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Duel maut yang baru saja dilangsungkan oleh Pendekar Tanpa Nama adalah keinginan dua belah pihak. Seperti diceritakan sebelumnya bahwa Raja Tombak Emas dan Pendekar Pedang Kesetanan sudah berjanji bahwa kelak akan melangsungkan sebuah duel maut untuk mengetahui siapa yang lebih kuat di antara keduanya.
Dua orang itu adalah teman sejati. Sekaligus rival sampai mati.
Dalam dunia pendekar, duel antara saudara seperguruan atau bahkan sahabat sudah jamak terjadi. Tujuan mereka hanya satu, mengetahui siapa yang lebih hebat di antara yang bersangkutan. Biasanya, yang melaksanakan duel seperti ini adalah mereka para tokoh yang telah mencapai tingkatan pilih atau bahkan tanpa tanding.
Alasan para tokoh itu salah satunya adalah karena sudah terlalu bosan dengan kehampaan. Malang melintang tiada lawan. Mencari musuh tapi tidak ada yang setimpal.
Mempunyai kekuatan tinggi, sakti mandraguna, tapi tidak ada lawan, bukankah itu artinya sia-sia?
Ibarat kata kau punya harta banyak. Tapi apa yang diinginkan sudah ada lebih dulu, bukankah itu sama saja? Bukankah semuanya hampa, sia-sia semata?
Kalau memang iya, maka begitu pula kehidupan para pendekar. Bedanya, kau hidup untuk mencari harta kekayaan. Sedangkan mereka hidup untuk ilmu silat, seluruh hidupnya dipersembahkan untuk melatih ilmu hingga ke titik tertinggi. Tujuan utama lainnya tentu mencari kepuasan tersendiri.
Hal-hal seperti ini biasanya hanya para pendekar saja yang mengerti.
Raja Tombak Emas dan Pendekar Pedang Kesetanan adalah sahabat. Mereka tumbuh bersama. Kadang berlatih bersama. Mengembara bersama hingga menjadi salah satu tokoh besar.
Hingga pada akhirnya, Sang Hyang Widhi memutuskan perantaranya lewat Pendekar Tanpa Nama untuk membuat mereka mati bersama pula.
Kini kedua tokoh besar itu sudah bahagia di alam sana. Di sana, mungkin mereka sedang bercerita gembira.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apakah akan segera kembali ke Tanah Pasundan?" tanya Tuan Santeno kepada Pendekar Tanpa Nama sambil mengisi cangkir yang masih kosong itu.
__ADS_1
"Mungkin iya. Tugasku masih banyak, salah satunya adalah mencari dalang di balik semua kejadian ini. Aku juga ingin mencari tahu keberadaan Sri Ningsih, selain itu, akupun ingin mencari Empat Dewa Sesat sekaligus dengan Penguasa Kegelapan. Bagaimanapun juga, aku harus bisa merebut tiga pusaka dunia persilatan Tanah Pasundan," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan mantap.
Tuan Santeno manggut-manggut, dia paham akan hal ini. Sebab sedikit banyaknya dia sendiri sudah mengerti di balik kejadian beberapa tahun lalu di Tanah Pasundan.
"Langkah yang akan kau ambil memang tepat. Sebab itu semua sudah menjadi tanggungjawabmu. Kau harus kuat menghadapi segalanya, percayalah, kelak kau akan mempunyai pengalaman berarti dalam hidupmu. Semakin banyak kejadian yang kau lalui, semakin banyak pula ilmu kehidupan yang bakal kau dapatkan,"
Pendekar Tanpa Nama hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia paham akan makna di balik ini semua. Dalam hidup, kalau seseorang sudah mengalami dan melewati berbagai macam cobaan serta kejadian, niscaya, dia akan terlihat berbeda dari orang pada umumnya.
Ujaran kuno mengatakan, makin banyak pengalaman, makin banyak ilmu. Tergantung kitanya saja apakah mau menggali ilmu tersebut, atau tidak.
Sepertinya ujar-ujaran itu masih berlaku hingga sekarang dan nanti.
"Paman, apakah para pendekar Tanah Jawa sudah menjelajahi seluruh penjuru negeri dalam pencarian Sri Ningsih dan Maling Sakti Seribu Wajah?" tanya Pendekar Tanpa Nama lebih lanjut.
"Sudah. Bahkan hal itu telah dilakukan beberapa kali pula. Sayangnya hasil dari semua usaha itu masih nihil," jawab Tuan Santeno sambil tersenyum kecut.
"Lantas kenapa kalian tidak mencari ke Tanah Pasundan?"
"Tidak bisa sembarangan, kita beda negeri. Oleh sebab itulah dari dua belah pihak tidak boleh melakukan sesuatu seenaknya, dalam hal apapun. Kecuali memang sudah ada suatu persetujuan,"
Peraturan seperti ini sudah berlaku sejak zaman dahulu kala. Walaupun mereka hidup di satu pulau yang sama, tapi berdiam di negeri yang berbeda. Setiap negeri punya peraturan tersendiri.
Orang-orang pendekar Tanah Pasundan tidak boleh terlalu mencampuri urusan dunia persilatan Tanah Jawa. Begitu juga sebaliknya.
Kecuali memang kalau ada suatu perjanjian atau sejenisnya di antara kedua pihak bersangkutan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Jika benar di seluruh Tanah Jawa tidak ada informasi pasti terkait dua orang itu, biarlah aku juga akan menjelajahi Tanah Pasundan untuk mencarinya. Pasundan adalah negeriku, setiap orang yang berani membuat onar di sana akan berhadapan denganku," kata Pendekar Tanpa Nama dengan suara lantang.
Tanpa disadari pada saat dia berucap demikian, nada bicaranya terdengar tegas dan berwibawa. Sosok pemimpin besar bisa dirasakan oleh Tuan Santeno.
Sebenarnya orang tua itu sendiri sudah mengetahui latar belakang Cakra Buana dengan detail. Tapi karena dirinya tahu bahwa pemuda itu sedang berada dalam penyamaran, maka dia tidak mau membongkar masalah ini sebelumnya waktunya tiba.
"Anak baik. Paman percaya akan semua ucapanamu. Kelak, Tanah Pasundan pasti akan merasa sangat bangga karena memiliki sosok pendekar muda seperti dirimu ini. Jika sudah tiba waktunya nanti, Paman harap kau tidak pernah melupakan orang tua ini," katanya sambil menepuk pundak Pendekar Tanpa Nama.
Pemuda itu tersenyum. Tentu saja dia tidak akan melupakannya. Sebab setiap orang-orang yang dianggap telah berjasa dalam hidupnya, selamanya Cakra Buana tidak akan melupakan orang tersebut.
"Paman terlalu memuji" jawabnya sambil merendah.
Keempatnya kemudian bersulang. Suasana dalam pendopo itu menjadi lebih hangat karena kehadiran empat orang yang berada di satu jalan sama.
###
Sepuluh hari sudah berlalu kembali. Seminggu yang lalu Pendekar Tanpa Nama dan dua orang kekasihnya sudah pergi dari Perguruan Tunggal Sadewo.
Sebenarnya mereka ingin sedikit lebih lama berada di sana. Sayangnya waktu tidak mengizinkan. Kenyataan ternyata tidak selalu sama dengan khayalan.
Tiga harian lalu, Pendekar Tanpa Nama kembali dikejutkan oleh berita yang tersebar luas di dunia persilatan Tanah Pasundan.
Maling Sakti Seribu Wajah kembali membuat onar. Salah satu pusaka kelas atas milik Kerajaan Kawasenan berupa kujang telah raib begitu saja.
Kujang Dewa Batara yang merupakan senjata sakti mandraguna itu hilang dicuri oleh Maling Sakti Seribu Wajah. Siapapun pasti tidak akan percaya tentang berita ini.
__ADS_1
Sayang sekali, sekalipun mereka tidak percaya, orang-orang itu tetap harus percaya. Sebab berita terkait hilangnya Kujang Dewa Batara memang benar. Bukan hanya omong kosong belaka.
Saat ini, berita tersebut sedang ramai diperbincangkan oleh setiap orang. Di seluruh tempat, seluruh penjuru daerah bahkan penjuru mata angin, berita itu tetap menjadi berita paling fenomenal.