
Ternyata yang terlempar barusan adalah Abikama. Sekarang orang itu tersungkur ke tanah. Untung wajahnya tidak mengalami luka berarti.
Serangan telak Sian-li Bwee Hua yang mengenai ulu hatinya barusan ternyata dapat membuat Abikama terjengkang. Si Tapak Mega itu merasa sangat heran. Padahal dirinya sudah mengeluarkan tenaga dalam hingga enam bagian, tapi kenapa gadis berjuluk Dewi Bercadar Merah itu masih sanggup menahannya?
Abikama bangkit dengan susah payah. Ujung mulutnya mengeluarkan sedikit darah. Darah itu merah. Juga kental. Kental seperti sebuah dendam.
Mungkinkah Tapak Mega mulai menaruh dendam pula kepada Dewi Bercadar Merah?
Dia menggertak gigi. Tanpa tanggung-tanggung, sembilan bagian tenaga dalam dikeluarkan dengan sempurna. Hal ini menjadikan semua serangan, jurus, bahkan tenaga juga bertambah beberapa kali lipat.
Kedua telapak tangannya berubah menjadi merah membara. Asap putih tipis mengepul keluar dari kepalanya. Sepasang matanya menatap tajam ke arah Dewi Bercadar Merah. Mata itu persis seperti mata iblis yang sedang marah besar.
Kalau Tapak Mega sangat marah, maka Dewi Bercadar Merah justru tampak sangat tenang. Tatapan matanya berubah lebih lembut. Sikapnya bertambah kalem daripada sebelumnya.
Dia tidak takut menghadapi orang seperti Abikama ini. Memang dirinya sengaja membuat dia terluka sedikit karena ingin tahu seperti apakah sifat aslinya.
Biasanya dalam sebuah pertarungan uji coba, kalau salah satu pihak ada yang sudah terluka, maka pertarungan itu akan dihentikan. Pihak yang terluka akan mengaku kalah.
Toh memang tidak ada salahnya juga bukan?
Tapi sepertinya pertarungan uji coba sekarang berbeda. Karena Abikama si Tapak Mega tidak mengaku kalah. Justru malah semakin marah.
Wushh!!!
Tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan secepat kilat yang menyambar. Dua buah tapak berwarna merah membara itu siap melancarkan serangan dahsyat yang tiada duanya.
Ternyata orang itu benar-benar nekad. Abikama menurunkan tangan kejam. Jurus Telapak Tangan Setan yang merupakan jurus andalannya dikeluarkan tanpa memikirkan akibatnya.
Melihat kenyataan ini, Sian-li Bwee Hua tidak bisa tinggal diam. Dia wanita berwatak keras. Semakin keras lawan, semakin keras pula dirinya. Semakin baik seseorang, dia justru akan lebih baik lagi.
Wushh!!!
Angin berhembus kencang mengibarkan pakaian merahnya. Rambut hitamnya meriap-riap.
Salah saru jurus dari Kitab Tapak Sejagad dikeluarkan. Walaupun bukan jurus paling dahsyat, tapi selamanya, jurus-jurus yang terdapat kitab itu adalah jurus mengerikan yang tiada duanya.
Jurus Pembelah Matahari keluar.
__ADS_1
Kedua telapak tangan Sian-li Bwee Hua mendadak memancarkan sinar terang. Tiba-tiba hawa panas dan hawa kematian pekat langsung terasa. Lima bagian tenaga dalam sudah dia kerahkan.
Wushh!!!
Tubuhnya juga turut melesat ke depan menyongsong datangnya serangan lawan. Dua belah pihak dengan masing-masing jurusnya yang dahysat siap beradu. Kalau sampai hal ini terjadi, maka akibatnya sulit untuk dibayangkan.
Cahaya merah dan kuning hampir bersatu. Tapi tepat pada saat itu sesuatu diluar dugaan semua orang telah terjadi.
Blarr!!!
Ledakan keras terdengar. Kedua belah pihak terlempar ke belakang. Tapak Mega terluka, dia memuntahkan darah segar. Dewi Bercadar Merah juga mengalami luka, tapi tidak separah Abikama.
Ternyata sinar merah yang lain sudah menyambar lebih dulu entah dari sebelah mana.
Semua orang kebingungan. Bahkan pertarungan antara Dewi Bercadar Biru dan Pedang Guntur pun langsung berhenti. Untungnya bertepatan pada saat itu, pedang di tangan Arya Manunggal juga telah jatuh ke tanah. Itu artinya, pria tua tersebut sudah kalah.
Namun yang menjadi bahan perhatian semua orang bukan pertarungan itu. Justru orang-orang yang ada di sana kebingungan terhadap sinar merah yang menyambar secara tiba-tiba tersebut.
Siapa yang sudah melakukannya? Apa pelakunya masih ada di sini?
Dewi Bercadar Merah tidak sama dengan yang lain. Sedikitpun gadis itu tidak kebingungan. Dia sudah tahu siapa pelakunya.
"Jangan terbawa emosi. Kau harus ingat posisimu sekarang," sebuah suara orang tiba-tiba muncul di pikirannya.
Suara yang sangat dia kenal. Suara yang sudah sering dia dengar sebelumnya.
Di sana, Tapak Mega menggertak gigi kembali. Dia tahu, serangan barusan bukan berasal dari lawannya. Tapi dari orang lain. Hanya saja dia pun kebingungan siapakah pelakunya itu.
"Kalau kau tidak terima, datangnya ke pinggir hutan sebelah Utara. Aku menunggumu di sana pada malam nanti,"
Hal yang sama juga terjadi kepada Tapak Mega. Di pikirannya mendadak muncul sebuah suara. Entah itu suara siapa, karena dia sendiri baru mendengarnya.
'Keparat. Siapa dia? Hemm, tunggu malam nanti. Aku akan meluruk ke sana agar tahu siapakah orangnya,' batin Abikama.
Dua belah pihak kemudian berjalan ke depan saling berhadapan. Pertarungan uji coba terpaksa dihentikan. Sebelum orang-orang mengajukan pertanyaan, Tapak Mega mendadak bicara lebih dulu.
"Mohon Gusti Prabu jangan kebingungan dengan apa yang terjadi barusan. Sebab yang menggagalkan kejadian itu adalah guru hamba sendiri," katanya sambil memberikan hormat.
__ADS_1
Dia terpaksa berbohong. Sebab kalau tidak, maka dirinya tentu bakal dihujani berbagai macam pertanyaan.
"Ah, kiranya gurumu. Baiklah kalau begitu, kau tidak papa?" tanya sang Prabu.
"Hamba baik-baik saja Gusti Prabu,"
Prabu Katapangan manggut-manggut. Dia tidak suka banyak bicara.
"Mohon Dewi maafkan diriku, aku sempat terbawa suasana," katanya sambil menghadap kepada Dewi Bercadar Merah.
"Tuan jangan terlalu sungkan. Terimakasih sudah memberikan muka kepadaku,"
Kedua orang itu tampak akrab dan biasa saja. Tapi siapa sangka? Di hatinya masing-masing justru menyimpan sebuah dendam tersendiri. Terlebih lagi si Tapak Mega, dia tidak akan diam saja.
Diam-diam orang itu merencanakan sesuatu untuk Dewi Bercadar Merah.
Di sisinya, Pedang Guntur dan Dewi Bercadar Biru juga melakukan hal yang sama. Kedua belah pihak saling menjura menghormat, bedanya, mereka tahu akan posisinya masing-masing.
Tidak ada dendam. Tidak ada permusuhan. Keduanya sportif.
"Terimakasih atas petunjuk yang telah Tuan berikan," kata Dewi Bercadar Biru.
"Sebaliknya, aku juga mengucapkan terimakasih kepada Nyai. Ternyata jurus pedang Dewi Bercadar Biru benar-benar hebat," ujar Pedang Guntur memuji dengan tulus.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tersenyum bangga. Diam-diam mereka bersyukur, ternyata Pangerannya menemukan dua pendamping yang tepat. Pendamping yang saling melengkapi satu sama lainnya.
"Hahaha, bagus, bagus, pertarungan uji coba ini benar-benar membuatku puas. Hebat, terimakasih kepada Kakek dan Nenek Sakti karena sudah membawa Dua Dewi," kata Prabu Katapangan Kresna sangat gembira.
"Kami yang harus berterimakasih karena kemurahan hati Gusti Prabu," kata Nenek Sakti langsung menjawab.
Selama pertarungan ini coba tadi, ada dua orang yang tidak pernah berbicara walau sepatah katapun. Mereka bukan lain adalah Sepasang Pendekar Bertopeng.
Meskipun mulut mereka tidak buka suara, tapi tatapan matanya yang bicara. Tatapan mata itu jelas memancarkan ekspresi tidak suka. Entah apa yang sebenarnya sedang mereka pikirkan.
Yang jelas, apapun pikiran itu, pastinya bukanlah pikiran yang baik. Seperti juga si Tapak Mega.
Apakah ketiganya ada hubungan tersendiri?
__ADS_1