Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pertempuran V


__ADS_3

Pada saat berucap demikian, si Naga Terbang Kelima seolah tidak merasakan sebuah beban apapun dalam benaknya. Bahkan pada saat itu pula, Naga Terbang Kelima tampak melemparkan sebuah senyuman.


Senyuman yang melambangkan kepuasan karena dia bisa dikalahkan di bawah sebuah jurus dahsyat dan sangat langka. Seumur hidup, dia baru merasakan jurus seaneh dan semisterius Jurus Tanpa Nama.


Terlepas dari apapun itu, Pendekar Tanpa Nama sendiri tidak ambil peduli. Saat melihat bahwa lawannya telah kembali ke posisi semula, dia pun turut melakukan hal yang sama.


Cakra Buana berjalan dengan langkah tenang dan mantap. Setiap langkahnya penuh keyakinan, sedikitpun tidak terlihat keraguan.


"Hebat, hebat, belum mengeluarkan sepuluh bagian tenaga dalam, tapi kau telah sanggup mengalahkan musuh yang sangat tangguh hanya dalam waktu yang terbilang singkat," puji si Buta Yang Tahu Segalanya.


Ucapannya memang perlahan. Namun karena pada saat itu suasana sedang hening, maka suara tersebut bisa terdengar oleh banyak orang. Bahkan tak sedikit para tokoh kelas atas yang juga ikut mendengar.


Para sahabat Pendekar Tanpa Nama turut menganggukkan kepalanya, mereka tidak memungkiri hal tersebut. Apa yang dikatakan oleh Li Guan adalah kenyataan.


Para tokoh pilih tanding itu dapat melihat jelas kalau pemuda Tanah Pasundan tersebut belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. Namun meskipun begitu, nyatanya toh dia berhasil memenangkan pertarungan dan merobohkan lawan hanya beberapa kali gebrakan dirinya saja.


Sekarang semua orang yang ada di sana, khususnya yang tadi sempat meragukan kemampuan Pendekar Tanpa Nama, menjadi sadar bahwa pemuda tampan berpakaian dan berjubah merah itu, ternyata memang benar-benar hebat.


Bahkan kehebatannya jauh diluar dugaan semua orang-orang tersebut.


"Kau terlalu memujiku. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya mesti aku lakukan," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.


Setelah dirinya tiba di kerumunan para sahabat, Pendekar Tanpa Nama langsung menyambar arak yang kebetulan saat itu ada di genggaman Orang Tua Menyebalkan.


Tanpa berkata apapun, dia lantas menyambar lalu segera meneguknya dengan lahap.


Bagi sebagian orang, minum arak setelah atau sebelum melangsungkan pertarungan katanya bakal mengurangi tenaga. Bahkan ada pulang yang bilang bahwa hal tersebut tidak baik karena dapat mengganggu konsentrasi.


Tapi anggapan tersebut hanya berlaku bagi mereka yang tidak benar-benar doyan arak.


Bagi setan arak seperti Pendekar Tanpa Nama dan para sahabatnya, yang terjadi malah sebaliknya. Anggapan mereka justru kalau minum arak akan menambah daya konsentrasi, kekuatan, tenaga, bahkan rasa percaya diri.

__ADS_1


Jadi yang benar yang mana?


Jawaban terkait pertanyaan tersebut pastinya berbeda-beda. Namun yang pasti, setiap orang berhak menjawab sesuai kehendak hatinya.


Di gelanggang pertempuran masih ada Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma yang sekarang masih melangsungkan pertarungan melawan Naga Terbang Keenam.


Pertarungan mereka menjadi penentuan. Penentuan pihak siapa yang unggul dan pihak siapa yang kalah. Pasalnya karena kedudukan sekarang sama. Dua belah pihak sama-sama mengalami tiga kali kemenangan.


Tapi meskipun begitu, penentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam pertarungan ini tidak bisa dijadikan acuan bahwa pihak yang menang bakal benar-benar menang.


Alasannya tentu karena setelah pertarungan babak pertama ini selesai, masih ada satu babak lagi yang akan benar-benar menjadi penentuan.


Penentuan akhir itulah yang nantinya bisa mempengaruhi segalanya.


Saat ini Cio Hong sedang berada dalam posisi menyerang. Sebagai seorang guru besar yang digadangkan kekuatannya setara dengan para datuk dunia persilatan, sudah pasti kemampuannya tidak bisa diragukan lagi.


Apalagi dengan umurnya yang sudah lewat setengah abad. Pengalamannya sudah tentu sangat banyak sekali, entah berapa ratus pertarungan yang sudah dia lewati di masa mudanya dulu.


Selain itu, tenaga dalamnya juga pasti sudah matang. Belum lagi jurus-jurusnya yang dahsyat dan jarang menemukan tandingan. Jangan lupa, beberapa waktu lalu diapun telah mendapatkan sejilid kitab pusaka warisan Pendekar Tanpa Nama.


Dengan bekal sebanyak itu, benarkah kalau dia tidak sanggup mengalahkan Naga Hitam Keenam?


Wushh!!!


Cio Hong yang juga memakai pakaian putih ringkas itu telah melesat ke depan. Tangan kanan dan kirinya membentuk tiga cakar mirip burung rajawali.


Burung rajawali adalah burung yang ganas. Cekatan. Lincah. Mematikan. Begitu juga dengan Cio Hong saat ini, sepak terjang orang tua tersebut tidak berbeda jauh dengan burung yang gagah perkasa itu.


Wutt!!! Wutt!!!


Tiga cakaran keras dia layangkan dengan sempurna. Kecepatannya secepat angin musim semi yang menerbangkan bunga-bunga mekar. Gerakannya sederhana, tapi jurusnya mematikan.

__ADS_1


Naga Terbang Keenam sendiri hampir saja kewalahan menerima serangan Jurus Cakar Rajawali Emas itu. Kalau saja dirinya terlambat sedetik saja, mungkin saat ini tubuhnya telah dipenuhi oleh robekan yang merobek kulit serta dagingnya.


Dia melompat mundur ke belakang. Gerakannya tidak kalah cepat dan lincah. Namun sebelum dirinya mendapatkan posisi untuk melancarkan serangan balasan, Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma telah tiba dengan membawa serangan lainnya.


Jurus Mengepak Sayap Meluruk ke Penjuru Mata Angin telah dikeluarkan.


Jurus tersebut mengandalkan kecepatan. Sekarang orang tua itu telah mengelilingi Naga Terbang Keenam dengan gerakan tertentu. Terbilang aneh, tapi sangat berbahaya.


Kedua tangannya melambangkan sepasang sayap rajawali yang gagah perkasa. Gerakannya semakin lama semakin cepat. Bahkan si Naga Terbang Keenam pun sulit untuk mengikutinya.


Dia hanya bisa menangkis semampunya. Kaki dan tangan mulai bahu membahu bekerja sama agar dapat menahan semua serangan lawan.


Sayangnya nasib berkata lain. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Ciong Hong ada di bagian sebelah kiri lalu segera melayangkan hantaman keras dengan kedua tangannya.


Plakk!!!


Naga Terbang Keenam terlempar hingga tujuh langkah jauhnya. Dia belum tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Tahu-tahu dirinya sudah terlempar begitu saja.


Darah segar meleleh dari sudut bibir sebelah kanannya.


Meskipun pertarungan mereka tidak menggunakan senjata apapun, namun pada kenyataannya pertempuran barusan tidak kalah hebat dengan pertempuran lainnya.


Dada si Naga Terbang Keenam bergolak hebat. Untung bahwa dirinya bisa mengendalikan emosi, kalau tidak, mungkin dia sudah menerjang ke depan membalas Cio Hong.


"Terimakasih karena Tuan sudah mengalah," ucap Cio Hong sambil menjura.


Sepertinya Naga Terbang Keenam masih merasa kesal. Terbukti saat ini, dia sama sekali tidak menjawab ucapan lawan. Dengan angkuhnya orang tersebut segera kembali ke posisinya semula.


Begitu juga dengan Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma.


Tanpa terasa tujuh pertempuran sengit yang melibatkan empat belas tokoh yang sangat digdaya telah selesai dilaksanakan.

__ADS_1


Meskipun semua pertempuran itu berjalan dengan singkat, tapi semua orang yang ada di padang rumput itu merasa sangat puas sekali.


Walaupun waktunya sedikit, tapi percayalah bahwa jurus yang tadi dipermainkan bukanlah jurus sembarangan. Semuanya jurus hebat, jurus kelas atas, jurus langka yang jarang sekali mereka keluarkan.


__ADS_2