
Empat orang tersebut merupakan pria yang berusia sekitar empat puluhan tahun. Masing-masing dari mereka memegang senjata yang berbeda. Walaupun begitu, tetapi tugas utamanya tetap sama. Yaitu memeriksa setiap orang yang berniat untuk masuk ke gedung Bulim Bengcu dan menjaga keamanan di sekitar sana.
Tampang mereka tegas. Sepasang matanya cukup tajam dan mampu membuat bulu kuduk berdiri. Meskipun bibirnya terkadang melemparkan senyum, tetapi siapapun tahu bahwa di balik senyuman itu ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
"Siapa dan apa tujuan saudara kemari?" tanya salah seorang di antara penjaga gerbang.
"Namaku Cakra Buana, aku datang kemari karena telah membuat suatu perjanjian dengan Huang Pangcu," jawab Cakra Buana dengan santai.
Empat penjaga saling pandang. Mereka memperlihatkan ekspresi sedikit kebingungan.
"Biarkan orang itu masuk,"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar di sana. Suaranya cukup jelas, cukup tegas dan terdengar sangat berwibawa sekali.
Empat penjaga langsung merasa takut. Tanpa banyak bertanya lagi, mereka langsung mengizinkan masuk Cakra Buana. Bahkan seorang di antaranya mengantarkan Pendekar Tanpa Nama untuk masuk ke dalam.
Pemuda itu di bawa masuk ke dalam gedung Bulim Bengcu. Ternyata kemegahan gedung tersebut bukan hanya di luarnya saja, di dalamnya juga sama megah. Bahkan lebih megah lagi.
Di dalam gedung lebih ramai orang-orang. Mereka sudah tentu merupakan para pendekar dunia persilatan. Saat Cakra Buana masuk bersama penjaga tersebut, orang-orang itu memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya.
Ruangan itu cukup besar. Letaknya berada di bangunan paling atas. Gedung Bulim Bengcu sebenarnya lebih mirip seperti sebuah pagoda. Pagoda yang sangat indah dan menyimpan bahaya tersendiri.
Ruangan itu terbilang besar. Di depan pintunya ada dua orang bertubuh tinggi yang bertugas sebagai penjaga. Pakaian mereka hitam legam. Seperti juga kulit tubuhnya yang hitam. Wajahnya angker. Sorot matanya selalu tajam seolah mampu merobek kulit.
"Siapa dia?" tanyanya kepada penjaga yang mengantarkan Cakra Buana.
"Tamu Bengcu,"
"Bengcu tidak menyampaikan apapun kepada kami. Biasanya kalau Bengcu mau menerima tamu, kami juga akan diberitahu. Tapi kali ini, dia tidak bicara apapun,"
"Soal itu aku tidak tahu. Yang jelas barusan Bengcu mengirimkan suara jarak jauh dan menyuruhku untuk membawa masuk pemuda ini,"
"Hemm …"
Saat semua orang yang ada di depan pintu terdiam, sebuah suara kembali terdengar. Suara yang sama dan perintah yang sama pula.
__ADS_1
"Masuk," kata penjaga pintu itu dengan singkat dan dingin.
Penjaga dan Cakra Buana langsung masuk ke dalam. Dua penjaga pintu tidak lagi menghalangi langkahnya.
"Pintu di sana adalah jalan untuk masuk ke ruangan Bengcu. Kau ke sana sendiri, aku tidak bisa mengantarkan Tuan lebih jauh lagi," kata orang tersebut.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Cakra Buana sambil mengerutkan kening karena merasa bingung.
"Karena tidak semua orang bisa masuk ke ruangan Bengcu. Kalau tidak ada perintah langsung dari beliau, siapapun tidak diperbolehkan masuk,"
"Termasuk kalau Kaisar sendiri?"
"Benar. Tidak terkecuali,"
Sekarang Cakra Buana paham. Ternyata peraturan di dalam gedung Bulim Bengcu ini sangat ketat sekali. Pendekar Tanpa Nama baru tahu sebegitu penting dan berpengaruhnya pemimpin dunia persilatan.
"Ternyata Bengcu tidak berbeda jauh dengan Kaisar,"
"Tepat, memang begitu kenyataannya. Kalau Kaisar adalah orang pertama di seluruh negeri, maka Bengcu adalah orang pertama di dunia persilatan. Perintah Kaisar tidak bisa ditolak oleh rakyat di negerinya, sedangkan perintah Bengcu tidak bisa ditolak oleh rakyat kang ouw (dunia persilatan)," jelas si penjaga gerbang kepada Cakra Buana.
"Baiklah, terimakasih atas informasi yang kau berikan. Sekarang aku akan masuk ke sana,"
Cakra Buana menjura. Si penjaga juga menjura. Begitu Pendekar Tanpa Nama pergi, si penjaga juga pergi.
Pemuda itu langsung masuk ruangan karena ternyata sudah ada orang yang membuka pintu dari dalam sana. Begitu dia masuk, Cakra Buana segera dihadapkan dengan dua orang yang sedang menatapnya dengan tajam.
Tatapan kedua orang itu lebih bengis dari pada tatapan mata setan dan lebih tajam dari tatapan mata kekasih yang sedang cemburu.
Namun walaupun keduanya menatap tajam Cakra Buana, pemuda yang ditatapnya justru malah tersenyum seakan tidak mempunyai salah apapun.
Pendekar Tanpa Nama baru sadar bahwa di ruangan itu ada satu orang yang sedang duduk di sebuah kursi megah. Orang itu masih terbilang tampan. Usianya paling banter baru mencapai tiga puluh lima tahun. Sepasang matanya sangat bening, pertanda bahwa dia mempunyai tenaga dalam yang sukar diukur.
Tatapan matanya meneduhkan serta memberikan kehangatan. Dia tersenyum kepada Cakra Buana.
"Kau kah yang dimaksud Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama?" tanya orang tersebut.
__ADS_1
"Benar, hormat untuk Bengcu," Cakra Buana langsung menjura memberikan hormatnya.
Bengcu dunia persilatan sekarang adalah orang yang sangat ramah kepada siapapun. Meskipun usianya masih termasuk muda, tapi kepandaiannya tidak bisa disamakan dengan usianya sendiri.
Kalau kepandaiannya tidak tinggi, bagaimana mungkin dia bisa menjadi Bengcu?
Selain mempunyai kepandaian yang sukar diukur, dia juga merupakan orang yang sangat cerdas dan sabar. Selama menjabat menjadi Bengcu, siapapun belum pernah melihatnya benar-benar marah. Setiap permasalahan yang sedang dihadapi, pasti dia akan tersenyum.
Bengcu sendiri mempunyai julukan Naga Kebenaran Dari Nirwana, sedangkan nama aslinya adalah Tiang Long Jin.
Tiang Bengcu menyuruh Cakra Buana agar duduk di kiurs yang sudah disediakan.
"Kau jangan terlalu formal seperti itu. Kalau di hadapan banyak orang boleh saja, tapi jika seperti sekarang, janganlah banyak tatakrama segala. Aku kaum dunia persilatan, aku lebih suka kebebasan," kata Tiang Bengcu sambil tertawa.
Cakra Buana juga tertawa. Ternyata Bengcu sangat ramah. Padahal dirinya mengira sebelumnya bahwa seorang Bengcu pastilah sosok yang kaku. Bahkan terkesan suka tinggi hati.
Siapa sangka, ternyata kenyataannya malah sebaliknya.
"Terimakasih kalau begitu Bengcu. Aku juga suka kebebasan, hidup bebas menandakan bahwa kita merdeka,"
"Tepat, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kebebasan yang sebenarnya,"
Cakra Buana mengangguk. Dia sangat setuju dengan ucapan Tiang Bengcu barusan.
"Kenapa kalian tidak menyapaku sama sekali?" tanya Cakra Buana kepada dua orang yang memandangnya dengan tajam itu.
Kedua orang tersebut tentu saja Huang Pangcu dan Si Buta Yang Tahu Segalanya, kalau bukan mereka, memangnya siapa lagi yang berani menatap setajam itu kepada Pendekar Tanpa Nama?
"Untuk apa aku menyapamu?" tanya kembali Huang Pangcu sambil tersenyum sinis.
Cakra Buana tertawa. Dia bukannya takut, justru pemuda itu malah merasa lucu saat melihat kakek tua itu marah kepadanya.
"Apakah kau tidak merindukan pemuda tampan sepertiku?" ujar Cakra Buana penuh percaya diri.
"Tidak bertemu selamanya pun aku tidak akan merasa rindu," jawab Huang Pangcu.
__ADS_1
"Aku pun juga begitu," jawab Li Guan turut menimpali perkataan Huang Pangcu.
"Cihh, muak aku mendengarnya," jawab Cakra Buana tidak mau kalah dari kedua sahabatnya.