
Semua orang mengenali kakek tua yang baru saja datang tersebut. Dia dikenal dengan nama Orang Tua Menyebalkan. Karena memang sifatnya yang lain daripada orang lain.
Kadang-kadang seperti anak kecil. Kadang seperti orang gila. Kadang juga seperti kakek tua renta yang merengek-rengek jika keinginannya tidak dipenuhi.
Karena semua alasan itulah kakek tua itu dikenal dengan sebutan si Orang Tua Menyebalkan. Namun meskipun begitu, tidak semua orang berani menghina dirinya.
Yang berani kurang ajar hanyalah orang-orang tertentu. Termasuk para tokoh yang seangkatan dengannya, para jago rimba persilatan ataupun sahabat-sahabatnya.
"Mau apa kau kemari?" tanya Huang Yang Qing sambil tersenyum sinis.
"Eh, eh, eh, siapa yang telah mengajarkanmu tidak sopan kepadaku tua bangka? Bukankah kau sendiri yang mengajakku? Sejak kapan kau berlagak pikun?" si Orang Tua Menyebalkan tidak terima.
"Sejak kapan pula kau berani kurang ajar di hadapanku?" tanya Kakek Tua Tongkat Hijau tidak mau kalah. "Apakah kepalamu sudah kebal terhadap tongkatku?" lanjutnya.
Mendengar tongkat sakti itu di bawa-bawa, si Orang Tua Menyebalkan tidak mampu bicara lagi. Hanya helaan nafas keluhan yang terdengar keluar dari mulutnya. Dia memang paling takut terhadap tongkat tersebut.
Sebab suatu hari dirinya pernah dipukul di kepala, pukulannya pelan, tetapi akibatnya tidak pelan. Bagian kepala yang dipikul tongkat itu seketika langsung benjol sebesar telur ayam. Sejak saat itulah dia merasa takut kepada tongkat Kakek Tua Tongkat Hijau.
"Berdiri di sampingku,"
Bagaikan seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, si Orang Tua Menyebalkan langsung menuruti perkataan Huang Pangcu tanpa membantah sedikitpun.
Kini pihak lawan hanya bisa menghela nafas. Kehadiran kakek tua yang aneh itu membuat nyali mereka merosot. Walaupun bukan termasuk datuk sungai telaga, tetapi kemampuannya dikabarkan hampir menyamai mereka.
Suasana bertambah tegang lagi. Cakra Buana sendiri hanya bisa meyakinkan dirinya. Kalau memang sudah takdirnya, maka pertumpahan darah yang akan menyebabkan banyak korban jiwa pasti tidak akan terhindarkan lagi.
Di saat dia sedang melamun, mendadak ada sebuah sambaran angin tajam yang melesat sangat cepat ke arahnya. Dia sendiri merasa terkejut.
Tetapi sebelum angin itu tepat mengenai tubuhnya, si Orang Tua Menyebalkan telah bertindak lebih cepat.
__ADS_1
"Plakk …"
Tamparan keras telak menghantam bokong seseorang. Kemudian dia segera menjewer telinga orang tersebut.
"Bocah nakal, siapa yang mengajarkanmu kurang ajar di hadapanku heh? Mau aku putuskan telingamu ini?" katanya dengan nada tidak senang. Mungkin juga dia sedang melampiaskan kekesalannya gara-gara Huang Pangcu.
Orang yang dijewer telinganya itu hanya bisa meringis menahan sakit. Kedua tangannya langsung lemas tanpa tahu sebabnya.
Tiba-tiba Oh Kay Tin maju ke depan sambil menjura hormat.
"Mohon maaf Tuan, dia adalah saudaraku. Maafkan atas kelancangannya," ujarnya dengan suara yang lembut. Berbeda jauh saat dia berkata tadi kepada Cakra Buana.
"Yang Seng, cepat minta maaf," kata Oh Kay Tin sedikit menekan suaranya.
Ternyata dia merupakan pemimpin dari Tujuh Perampok Berhati Kejam. Yang Seng menempati posisi keenam sebagai pemimpin dalam organisasi tersebut.
"Ma-maafkan aku Tuan," ujarnya sambil terus berusaha menahan rasa sakit.
Orang-orang yang ada di sana ingin tertawa, tetapi mereka tertawa secara diam-diam. Khususnya lagi bagi anggotanya sendiri.
Kini semua orang telah berada di pihaknya masing-masing. Rembulan semakin menggeser ke barat. Suara burung hantu terdengar lagi memecahkan keheningan.
"Siapa yang mengundang kalian?" tanya Huang Yang Qing.
Entah kepada siapa, karena pertanyaan tersebut sepertinya tertuju kepada siapapun yang mau menjawabnya.
"Mohon izin untuk bicara Huang Pangcu," kata Cakra Buana dengan sopan. Dia tidak menunggu orang tua itu menjawabnya, segera lanjutnya, "Yang diundang kemari adalah aku. Kebetulan ada sahabatku ini, jadi aku datang kemari dua orang,"
"Lanjutkan," kata kakek tua tersebut.
__ADS_1
"Singkatnya, mereka menuduhku bahwa kemarin aku telah membunuh anggota dari masing-masing kelompok. Padahal aku sendiri tidak merasa, justru kemarin aku mabuk hingga pagi hari. Sahabatku saksinya, bagaimana mungkin aku bisa pergi untuk membunuh?"
"Lalu?"
"Lalu mereka menghina sahabatku. Tentu aku tidak terima. Karena alasan tersebut, tidak lama aku bertarung dengan dua pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam serta seorang ketua cabang Kay Pang Hek. Setelah bertarung puluhan jurus, akhrinya aku bisa membunuh mereka bertiga. Tak lama setelah itu, seperti yang Pangcu lihat sekarang. Mereka datang membawa anggota serta tokoh-tokoh sungai telaga lainnya," kata Cakra Buana menjelaskan kejadiannya secara singkat.
Huang Yang Qing mengangguk-anggukkan kepalanya. Begitu juga dengan para tokoh yang ada di pihak Pendekar Tanpa Nama.
"Pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam dan ketua cabang Kay Pang Hek, maju kalian," bentak Huang Pangcu.
Orang yang dipanggil segera maju. Empat orang pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam dan satu orang tokoh terkemuka dari Kay Pang Hek menjura memberikan hormatnya.
"Apakah kalian memang sudah ada niat untuk menjebak pemuda ini?"
"Benar Pangcu. Kami memang berniat untuk membunuhnya karena di antara kita sudah mempunyai masalah sejak awal. Apalagi kemarin dia telah membunuh anggota kami," kata Oh Kay Tin sebagai pemimpin pertama mewakilkan yang lainnya.
"Bangsat besar, sudah aku bilang bahwa aku tidak membunuh anggotamu kemarin. Aku tidak pernah berdusta, dan aku memang tidak suka berdusta. Sejak awal memang kita mempunyai masalah, aku membunuh Ou Lin, salah satu dari pemimpin kalian. Alasannya karena dia merampl uangku. Sejak saat itu kita memang sering bergesekan, aku mengakui itu. Tetapi masalah membunuh anggotamu kemarin, aku berani bersumpah bahwa aku tidak melakukannya," tegas Cakra Buana dengan rwaur wajah yang serius.
Huang Pangcu memandang orang-orang tersebut dengan tatapan dingin.
"Kau bisa mendengarnya sendiri bukan? Kalau dia berdusta, kepalaku jadi jaminan. Tapi aku percaya bahwa bocah itu sama sekali tidak berdusta kepadamu,"
"Ta-tapi, kami mendapat laporannya seperti itu," ucap Oh Kay Tin tetap bersikeras.
"Keras kepala juga kau. Baik, seandainya laporan tersebut benar, siapa yang melaporkannya? Apakah kau kenal dengan orang tersebut? Apa buktinya? Kalau memang dia benar anggotamu, pasti kau kenal kepadanya,"
Oh Kay Tin tidak langsung menjawab. Dia baru teringat sekarang. Dia sandiri merasa bahwa orang yang melaporkannya memang asing. Oh Kay Tin tidak tahu siapa orang itu.
Baru sekarang dirinya sadar bahwa ada seseorang yang memang berencana untuk mengadu domba kan pihaknya.
__ADS_1
Tetapi karena masalah sudah berkembang seperti sekarang, ditambah lagi dendam kesumat kepada pemuda keparat itu, maka dia tidak menjawab tanpa merasa ragu lagi.
"Jujur saja, aku tidak mengenal siapa yang memberi laporan. Mungkin dia anggota baru, sebab siapapun tahu bahwa Tujuh Perampok Berhati Kejam adalah organisasi yang besar. Terlepas siapapun itu, benar atau tidaknya informasi yang diberikan, kamu tetap akan melanjutkan perkara ini hingga tuntas," tegas Oh Kay Tin.