Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Nenek Tanpa Hati


__ADS_3

Mulut wanita tua itu tersenyum menyeringai kepada Dewi Bercadar Merah.


Pakaian nenek tua itu hitam kelam. Sekelam malam panjang ini. Di tangan kanannya terdapat sebatang tongkat. Tongkat yang terlihat jelek. Tongkat itu lurus. Panjangnya sekitar satu depa. Sekilas tidak ada sesuatu yang istimewa di dalamnya.


Namun meskipun benar bentuknya demikian, tapi setiap orang persilatan tahu kalau tongkat itu bukanlah benda sembarangan.


Itu adalah tongkat pusaka. Pusaka yang ditakuti orang-orang dunia persilatan. Terlebih lagi bagi mereka para pendekar aliran putih.


Tiba-tiba nenek itu melangkahkan kakinya ke depan ke arah Ling Ling. Langkahnya tenang. Juga terlihat berat. Tapi siapa sangka, ternyata hanya sekejap mata saja dia sudah tiba dihadapan Sian-li Bwee Hua.


"Aku Nenek Tanpa Hati …" katanya tiba-tiba.


Ling Ling hanya diam saja. Perduli siapapun wanita tua di hadapannya saat ini, gadis itu tetap tidak akan bicara.


"Datang kemari karena sebuah tugas yang diberikan untukku. Aku menginginkan nyawamu sekarang juga," katanya secara perlahan.


Dewi Bercadar Merah tetap diam. Bahkan dia seperti tidak mendengarnya.


"Harus aku akui, kau adakah gadis yang hebat. Gadis luar biasa dengan jurus-jurus yang menggetarkan nyali lawan. Sayang seribu sayang, aku justru tetap harus mencabut nyawamu," kata Nenek Tanpa Hati.


"Kalau kau merasa sayang, kenapa pula kau tetap ingin membunuhku?"


Akhirnya Ling Ling memutuskan untuk buka suara setelah sedikit tenaganya terkumpul.


"Karena aku Nenek Tanpa Hati,"


"Kau tidak punya hati?"


"Setiap manusia pasti punya hati. Tapi sayangnya hatiku telah lama mati,"


"Oleh sebab itulah kau menyebut dirimu Nenek Tanpa Hati?"


"Tidak salah,"


"Baik, sungguh baik sekali," kata Ling Ling sambil manggut-manggut beberapa kali. Dia tidak memberikan waktu bicara bagi Nenek Tanpa Hati, dengan cepat Dewi Bercadar Merah meneruskan ucapannya, "Tapi ada satu hal yang tidak baik,"

__ADS_1


Nenek Tanpa Hati mengerutkan kening. Dia merasa sangat penasaran, tak tahan lagi dirinya memutuskan untuk bertanya.


"Hal mana yang tidak baiknya?"


"Apakah kau tokoh dunia persilatan yang mempunyai kesaktian tinggi?" tanya Ling Ling.


"Aku tidak bisa memberikan jawaban sendiri. Hanya saja orang-orang persilatan takut dan segan kepadaku. Sekalipun aku bukan seorang datuk, tapi aku yakin banyak orang yang tidak berani kepadaku. Aku bisa menjamin akan hal itu," jawab Nenek Tanpa Hati.


Dalam ucapannya barusan terkandung kelas nada bangga. Memang, sebagai orang persilatan, dirinya pasti bangga karena namanya yang sudah dikenal luas.


"Nah, tokoh sesakti dirimu tapi mau diperintah dan diperalat oleh orang lain, bukankah hal ini sangat disayangkan? Padahal kau yakin akan kemampuanmu sendiri. Kalau benar demikian, kenapa kau tidak bergerak sendiri mengikuti kata hati saja?"


Seketika itu juga langsung terkancing mulut Nenek Tanpa Hati. Bagaimanapun juga dirinya bukanlah orang tuli. Telinganya dapat mendengar dengan jelas ucapan gadis bercadar merah di hadapannya saat ini.


Dan oleh sebab itulah wanita tua tersebut merasakan kedua daun telinganya panas seperti dibakar. Kemarahannya langsung memuncak.


"Apapun yang aku lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu," katanya sambil membentak.


"Memang tidak ada sangkut pautnya. Aku tidak melarang, juga tidak menyuruh. Aku hanya menyayangkan saja. Bukankah tadi sudah kubilang dengan jelas?"


Oleh sebab itulah Ling Ling sengaja mengulur waktu agar tenaga dalamnya bertambah kembali. Meskipun tidak langsung kembali sepenuhnya, tapi setidaknya ada sedikit harapan.


Dia selalu mengingat bagaimana keadaannya. Kesempatannya hanya satu kali. Tidak kurang dan tidak lebih. Karena itulah dia tidak boleh salah bertindak. Sebab sedikit kesalahan saja bisa membuat nyawanya melayang.


"Persetan dengan semua omonganmu gadis busuk. Aku baru menyadari satu hal,"


"Hal apa?"


"Ternyata kau bicara panjang lebar hanya untuk mengulur waktu dan mengumpulkan tenaga dalam," kata Nenek Tanpa Hati mulai sadar.


"Tapi apa yang aku ucapkan memang benar demikian. Aku sungguh menyayangkan hal itu,"


"Ucapanku juga benar. Tidak ada yang salah,"


"Ternyata kau cukup pintar," ujar Ling Ling sambil menghela nafas.

__ADS_1


Entah apa yang sedang dia rasakan sekarang. Pada saat ini Ling Ling hanya berharap kalau waktu yang tepat untuknya bertindak akan segera datang.


"Yang terang aku bukanlah nenek tua yang bodoh," bentaknya bengus.


Baru saja ucapannya selesai, secara tiba-tiba tubuhnya telah meluncur ke depan sambil memberikan sebuah serangan yang tidak pernah diduga oleh Dewi Bercadar Merah sebelumnya.


Tongkat jelek itu memberikan empat tusukan maut yang sangat cepat. Setiap tusukan mengarah ke titik penting di tubuh manusia. Jarak mereka sangat berdekatan. Tiada lagi celah untuk berkelit bagi Ling Ling. Bahkan untuk melancarkan satu serangan mautnya pun dia tidak bisa.


Jarak semakin dekat. Nenek Tanpa Hati sudah menurunkan tangan kejam kepada Dewi Bercadar Merah. Gadis itu hanya bisa menghela nafas berat. Perlahan matanya dipejamkan.


Dia sudah siap kalau memang inilah akhir dari hidupnya. Ling Ling bukan orang yang takut menghadapi kematian. Tapi dia ingin mati dengan tenang.


Bukankah mati dalam keadaan tenang jauh lebih baik lagi?


Wushh!!!


Tiba-tiba segulung angin yang sangat kencang dan membawa kekuatan besar berhembus dari belakang Dewi Bercadar Merah. Akibat hembusan angin itu, Nenek Tanpa Hati dibuat terdorong ke belakang beberapa tombak jauhnya.


Serangan yang hampir saja berhasil itu mendadak gagal total. Ternyata ada orang lain yang juga sudah ikut campur.


Bisa dibayangkan bagaimana kesal dan marahnya wanita tua itu. Pekerjaan yang hampir selesai dan berjalan dengan mulus, lalu secara tiba-tiba gagal di tengah jalan, bukankah hal itu sangat-sangat menjengkelkan?


Debu mengepul tinggi menghalangi pandangan mata. Kejadian barusan sangat diluar dugaan semua orang. Baik itu Nenek Tanpa Hati maupun Dewi Bercadar Merah.


Ketika debu sudah lenyap, wanita tua itu dikejutkan oleh satu sosok yang sudah berdiri di pinggir gadis incarannya tadi. Bahkan hebatnya lagi ternyata mangsanya sudah bisa berdiri seperti semula.


Padahal Nenek Tanpa Hati paham betul kalau gadis itu tidak bakal bisa melakukan apapun. Sekalipun bisa berdiri, rasanya tidak mungkin kalau dirinya terlihat segar bugar seperti itu.


Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Ternyata pada saat debu mengepul tinggi, seseorang yang baru saja datang itu telah mengobati Ling Ling dengan kecepatan yang sulit diceritakan. Orang itu menotok semua jalan darah di tubuh gadis tersebut.


Hebatnya lagi, hanya sesaat saja keadaan Dewi Bercadar Merah sudah kembali normal. Seluruh rasa sakit dan semua perasaan lemas, kini tidak dia rasakan lagi.


Nenek Tanpa Hati masih diam di tempatnya. Wanita tua itu sedang menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, tak bisa dipungkiri lagi jika seseorang itu ternyata mempunyai kemampuan yang benar-benar tinggi.

__ADS_1


__ADS_2