
"Apakah kau bicara yang sebenarnya?" tanya Cakra Buana setelah terdiam beberapa saat.
"Untuk apa aku berbohong? Bukankah sebelumnya kau bilang bakal percaya? Tapi kenapa sekarang kau malah tampak ragu?" tanya balik si Gadis Sumber Informasi.
Cakra Buana mati kutu. Sebelumnya dia memang berkata kalau dirinya bakal percaya kepada semua informasi yang diberikan oleh gadis maha cantik tersebut.
Meskipun benar demikian, tapi pemuda itu tetap tidak habis pikir dan kurang percaya, benarkah Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat berada di Istana Kerajaan?
Pertanyaan semacam itu terus menggerayangi benaknya.
Tapi kembali lagi ke awal, bagaimanapun juga, mau tidak mau Cakra Buana harus percaya.
"Hahh …, baiklah. Aku percaya," ujarnya sambil menghela nafas berat.
Si Gadis Sumber Informasi tersenyum simpul sambil memandangi wajah pemuda di hadapannya tersebut.
"Baguslah. Aku sudah tahu kalau kau pada akhirnya bakal percaya juga. Sekarang apakah kau masih mempunyai pertanyaan lainnya lagi?"
"Sudah tentu punya,"
"Silahkan tanyakan,"
"Kalau benar mereka ada di dalam Istana Kerajaan, apakah orang-orang itu berada dalam keadaan penyamaran?"
"Benar. Mereka menyamar menjadi prajurit utama Kerajaan yang bertempat di bagian dalam. Lebih tepatnya lagi berada di pos yang dekat dengan rumah-rumah pejabat Istana,"
"Apakah kau mempunyai ciri-ciri tentang orang-orang tersebut?"
Si Gadis Sumber Informasi tampak berpikir sejenak, sepertinya dia sedang mengingat-ingat.
"Ciri-cirinya aku tidak bisa memastikan. Tapi yang jelas, saat bertemu nanti, kau pasti akan segera mengenali mereka,"
"Baiklah, aku harap kau berkata yang sejujurnya,"
"Aku selalu jujur terhadap semua ucapanku,"
"Aku percaya," jawan Cakra Buana berusaha untuk percaya.
Suasana di sana hening. Yang terdengar hanyalah desiran angin lirih di luar menggoyangkan dedaunan pohon.
"Berapa biaya yang harus aku bayar untuk semua informasi yang telah kau berikan ini?" tanya Cakra Buana kepada Gadis Sumber Informasi.
Apapun di dunia ini, pastinya mempunyai harga. Terlebih lagi sebuah informasi yang sangat penting. Sudah tentu harganya sangat mahal.
__ADS_1
Tapi berapa pun mahalnya harga informasi itu, Cakra Buana tetap akan membayarnya.
"Aku tidak butuh uangmu. Lagi pula, informasi yang aku berikan tidak akan sanggup kau bayar," jawabnya serius.
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku,"
"Katakan sesuatu apakah itu,"
"Tolong berikan benda ini kepada seseorang," kata si Gadis Sumber Informasi sambil memberikan benda yang dimaksud.
Benda itu dibungkus oleh kain berwarna merah. Bentuknya kotak. Tapi entah apa isinya.
"Tolong berikan ini kepada seorang pemuda yang bernama Jaya Taruma,"
"Jaya Taruma?"
"Benar," jawab si Gadis Sumber Informasi sambil menganggukkan kepalanya.
Cakra Buana memperhatikan benda di hadapannya tersebut dengan seksama sambil mengingat nama Jaya Taruma. Seingatnya, dia belum pernah mendengar nama itu.
"Apakah dia seorang pendekar?"
Pemuda itu semakin heran karena baru sekarang saja dirinya tahu kalau ada pemuda bernama Jaya Taruma.
"Hemm, di mana aku dapat menemukannya?"
"Di Lembah Awan, di Tanah Pasundan. Dari sini tidak jauh, mungkin hanya memerlukan waktu setengah hari untuk sampai ke sana,"
"Baiklah. Aku akan memberikan benda ini kepada pemuda bernama Jaya Taruma itu,"
"Terimakasih. Kau boleh mengantarnya sekarang juga,"
"Baik. Aku pergi,"
Belum selesai bicaranya, pemuda itu sudah menghilang dari pandangan mata. Si Gadis Sumber Informasi hanya menghela nafas sambil tersenyum. Setelah itu, dia pun kembali masuk ke tirai tadi.
###
Lembah Awan.
Lembah ini adalah sebuah tempat yang sangat indah dan nyaman. Pemandangan di Lembah Awan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di Tanah Pasundan, lembah ini mungkin termasuk ke dalam jajaran lembah terindah.
__ADS_1
Pada pagi atau sore hari, segulung awan berarak seperti domba putih pasti akan menyelimutinya. Dari jauh, Lembah Awan bakal terlihat seperti tempat-tempat indah yang ada dalam dongeng sebelum tidur.
Udara di tempat ini sangat sejuk. Di sini, tiada suara apapun yang bisa kau dengar kecuali hanya suara hembusan angin yang membuat pohon bambu bergesekan, atau juga suara binatang-binatang liar yang mampu menenangkan jiwa.
Saat ini sore hari, Cakra Buana sudah tiba di Lembah Awan beberapa saat yang lalu. Ternyata memang benar, jarak dari tempat tadi kemari memang tidak berapa jauh.
Sekarang Pendekar Tanpa Nama sedang berdiri sambil mengawasi situasi di sekelilingnya.
Ke mana dia harus mencari? Sekarang dirinya sudah berada di tempat yang dimaksudkan oleh si Gadis Sumber Informasi itu, tapi, di mana pula Jaya Taruma berada?
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama memutuskan untuk masuk ke dalam lagi. Dia melesat bagaikan anak panah. Amat cepat. Amat lincah. Hanya sesaat saja, dirinya sudah berada jauh di tempat sebelumnya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Cakra Buana mendengar sesuatu. Seperti suara orang yang sedang berlatih silat.
Pemuda itu memutuskan untuk berhenti sejenak. Kemudian dia memilih mencari sumber suara tersebut sambil berharap kalau suara itu berasal dari orang yang sedang dicari olehnya.
Sesaat kemudian, Cakra Buana sudah berhenti di sebuah sungai. Pada jarak beberapa tombak di depannya, ada sebuah air terjun setinggi tiga atau empat tombak.
Di tengah-tengah sungai ada sebuah batu hitam berukuran cukup besar. Dan di atas batu itu, ternyata benar, ada seseorang yang memang sedang berlatih silat.
Sekarang orang tersebut sedang duduk bersila sambil menghadap ke air terjun tersebut. Dia bertelanjang dada. Jelas, orang itu merupakan pria.
Siapa dia? Kenapa bisa berada di sini? Apakah pria itu merupakan pemuda yang bernama Jaya Taruma?
Cakra Buana berdiri tegak tanpa bergerak. Sepasang matanya terus memperhatikan ke arah orang.
"Tuan yang di belakang, apakah ada sesuatu yang bisa dibantu?" tiba-tiba orang tersebut bicara.
Suaranya terdengar merdu. Tenang, juga sangat berwibawa. Dari hal itu saja, Pendekar Tanpa Nama sudah maklum kalau orang itu bukanlah manusia sembarangan.
"Aih, maaf kalau kehadiranku mengganggu latihan Tuan. Aku hanya ingin bertanya, apakah Tuan ini yang bernama Jaya Taruma?" tanya Cakra Buana dengan sopan dan ramah.
"Benar, apakah Tuan mempunyai urusan denganku?" tanyanya sambil membalikkan tubuh.
Begitu tubuhnya menghadap ke arahnya, Cakra Buana lantas sedikit terkejut. Ternyata pemuda itu sangat tampan, usianya tidak berbeda jauh dengan dirinya. Rambutnya panjang semampai. Dadanya bidang. Sepasang matanya jernih cemerlang. Persis seperti air sungai itu.
"Ah, tidak ada. Aku kemari hanya ingin menyampaikan pesan dari seseorang saja. Aku ingin memberikan sebuah barang titipan," katanya sambil menyodorkan benda yang tadi diberikan oleh Gadis Sumber Informasi.
Jaya Taruma mengerutkan keningnya. Tapu dia tidak mau banyak bicara. Baju hitam yang disimpan di batu sebelahnya langsung dipungut kemudian segera dipakai kembali olehnya.
Wushh!!!
__ADS_1
Sekali kakinya menjejak tanah, Jaya Taruma tiba-tiba sudah ada di hadapan Cakra Buana.