
Ratu Ayu Kencana Nirmala Putri.
Ya, pemilik suara itu memang dirinya. Wanita agung yang diakui kebaikannya oleh semua orang di Tanah Pasundan. Di tanah ini, tidak ada orang yang tidak tahu tentang dirinya.
Semua orang tahu. Mulai dari sifat baiknya. Ramah tamahnya. Sampai-sampai sifat penyabarnya.
Di Tanah Pasundan, rasanya tiada seorangpun wanita yang sanggup menyamai atau menandingi Sang Ratu Ayu.
Sekarang Ratu itu sudah tiba di sana. Beliau memakai pakaian biru muda yang sangat indah. Bagi orang lain, pakaian itu mungkin terlalu mewah. Terlalu mentereng. Akan tetapi bagi dirinya, pakaian itu justru sangat cocok sekali.
Kecantikannya sebagai seorang Ratu di sebuah Kerajaan besar semakin terpancar. Dia tampak lebih berwibawa daripada sebelumnya.
Wajahnya kembali cantik, dia tampak lebih muda lima tahun. Kulit tubuhnya yang dulut pucat, sekarang telah kembali memutih bagaikan salju. Kulitnya juga lembut. Selembut air di tengah samudera.
Ratu Ayu turun dengan anggun. Gayanya persis seperti seorang bidadari yang sengaja turun dari khayangan. Tiada yang tidak memperhatikan kehadirannya itu. Semua orang menatapnya dengan perasaan kagum.
Terlebih lagi Pendekar Tanpa Nama. Dia sungguh bahagia karena melihat bibinya telah kembali seperti dulu. Kembali cantik. Kembali gembira. Dan terutama, Ratu Ayu kembali menjadi sosok yang disegani oleh setiap insan.
Wushh!!!
Angin sepoi-sepoi berhembus pada saat dirinya mencapai di bawah. Sepasang kaki itu tidak menimbulkan suara pada saat menyentuh tanah. Beliau turun dengan amat enteng dan perlahan. Seperti sehelai daun yang rontok karena tiupan angin.
Setiap pasang mata pria memandangnya dengan berbagai macam perasaan. Sedangkan yang wanita merasa iri karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya..
Sementara itu, pihak Karmalaya justru malah sebaliknya. Kalau pihak Pendekar Tanpa Nama merasa sangat gembira, maka pihak orang tua itu justru merasa sangat sial.
Mereka sungguh takut. Jeri. Sekaligus ngeri. Terutama sekali orang-orang Istana Kerajaan yang tadi ingin menyerang pihak Pendekar Tanpa Nama.
Seluruh tubuhnya langsung lemas lunglai. Keadaannya persis seperti sebuah kapas yang tersiram oleh air dingin.
Kedatangan Ratu Ayu ke hutan itu menjadi awal dari kehancuran orang-orang tersebut. Tidak perlu diberitahu pun, mereka sudah sadar kalau hidupnya tidak akan lama lagi.
Ratu Ayu berjalan dengan perlahan. Caranya berjalan sangat anggun. Seperti seorang Dewi yang sedang berjalan di depan para prajurit khayangan.
__ADS_1
Wibawa yang terpancar keluar dari tubuhnya semakin terasa dengan jelas. Hal ini menambah rasa kagum orang-orang yang berada di pihaknya.
Rembulan yang tadi redup dan pucat, sekarang secara tiba-tiba sudah bersinar terang kembali. Rembulan itu kembali mendapatkan cahayanya. Begitu juga dengan Ratu Ayu. Dia kembali memperoleh segala sesuatu yang dulu pernah menghilang karena keadaannya yang sangat menyedihkan.
"Ra-ratu Ayu …" kata Sepasang Kakek dan Nenek Sakti lalu memberikan hormat mendalam kepadanya diikuti oleh yang lainnya.
Ratu Ayu hanya mengangguk sambil melemparkan senyuman menawan. Dia mengangkat tangan kanan sebagai isyarat, lalu menyuruh orang-orang yang menghormatinya untuk segera bangkit kembali.
Entah sejak kapan, tahu-tahu para punggawa Istana Kerajaan yang dibawa oleh Karmalaya sudah berada di bawah. Mereka pun turut memberikan hormat kepadanya.
Tapi sayang sekali, Ratu Ayu justru tampak tidak senang melihatnya.
"Berdiri. Aku tidak butuh penghormatan dari manusia-manusia iblis seperti kalian," katanya dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Perkataannya diucapkan secara perlahan. Tapi hal itu sudah cukup untuk membuat semua orang mendengarnya. Apalagi ucapan tersebut disertai pula pengerahan tenaga dalam tinggi.
Namun orang-orang yang berkhianat tersebut tetap memberikan hormat. Mereka seakan tidak mendengar ucapan junjungannya barusan.
Para punggawa Kerajaan itu tetap berada di posisinya masing-masing.
Mau tidak mau orang-orang itu segera bangkit berdiri. Sekalipun mereka enggan, namun dapat dipastikan kalau manusia-manusia itu pasti bakal berdiri juga seperti semula.
Hal tersebut disebabkan bukan lain adalah karena mereka merasakan sebuah ancaman yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata. Tubuh mereka seperti bergerak sendiri. Sama sekali tidak bisa dikendalikan olehnya masing-masing.
Suasana menjadi tegang kembali. Tiada seorangpun yang bicara. Lebih tepatnya, tidak ada yang berani untuk buka suara.
Di tengah keheningan, tiba-tiba Karmalaya tertawa sambil melangkah maju ke depan.
"Hahaha … ternyata Ratu datang kemari. Suatu kehormatan yang sangat besar bagiku karena bisa berjumpa langsung dengan wanita agung di seluruh negeri ini. Sungguh, hal yang paling menggembirakan dalam hidupku adalah saat ini," kata orang tua itu dengan ekspresi wajah gembira.
Ratu Ayu tersenyum simpul. Kemudian dia pun melangkah maju ke depan. Sekarang jaraknya dengan Karmalaya tidak terlalu jauh. Mereka mungkin hanya terpaut dua atau tiga tombak saja.
Wushh!!!
__ADS_1
Sinar biru muda berkelebat. Sinar itu kecil memanjang. Kecepatannya tidak bisa terlihat dengan jelas. Siapapun tidak ada yang menduganya.
Bukk!!!
Suara berat terdengar. Satu tubuh terlempar sebuah sepuluh tombak.
Karmalaya.
Tubuh yang terlempar itu memang dirinya. Orang tua tersebut tidak pernah menyangka kalau Ratu Ayu bakal melakukan hal tersebut secara tiba-tiba.
Malah bukan cuma dirinya, semua orang pun merasakan hal yang sama. Para punggawa Kerajaan apa lagi. Seumur hidupnya, mereka belum pernah melihat Ratu Ayu sekejam sekarang.
Selamanya, Ratu Ayu tidak pernah marah. Tidak pernah memukul, apalagi menyerang orang secara tiba-tiba.
Tapi sekarang?
Sekarang sepertinya beda lagi. Ratu Ayu seolah berubah menjadi orang lain. Dia seakan menjelma menjadi sosok iblis yang membuat siapapun ngeri terhadapnya.
"Selamanya, aku paling tidak suka terhadap orang sepertimu. Aku sangat benci menyaksikan orang bersliat lidah di depan mataku," tegas Ratu Ayu.
Suaranya masih nyaring. Akan tetapi setiap yang ada di sana paham betul kalau wanita maha cantik itu sedang berada dalam kemarahan besar.
Ratu Ayu memandang setiap orang-orang yang hadir. Tatapan matanya bagaikan mata pedang tajam yang siap menembus jantung setiap manusia.
Sementara itu, Karmalaya sudah berdiri kembali. Namun keadaannya sudah berbeda jauh dengan sebelumnya. Dia selalu terbatuk-batuk. Setiap batuknya selalu mengeluarkan segumpal darah segar kehitaman.
Dia terluka sangat parah.
Pukulan yang dilancarkan Ratu Ayu benar-benar dahsyat. Apalagi dia berada di posisi yang tidak siap. Sudah tentu akibat yang dihasilkannya menjadi berlipat ganda.
Sebenarnya kemampuan Ratu Ayu tidak melebihi kemampuan Pendekar Tanpa Nama. Lebih tepatnya, kemampuannya hampir setara dengan Dewi Bercadar Merah. Mungkin hanya lebih tinggi sedikit saja dari gadis itu.
Tetapi karena sedang berada dalam kemarahan, maka kemampuannya seakan berlipat.
__ADS_1
Amarah memang seperti itu. Dalam beberapa kasus, sebuah amarah bisa mengeluarkan kekuatan terpendam yang ada dalam tubuh manusia.
"Sungguh kemampuan yang sangat luar biasa," gumam Dewi Bercadar Merah pada saat melihat luka yang diderita Karmalaya.