
Wanita itu tersenyum lembut saat mendengar pujian Cakra Buana.
Pemuda itu adalah pemuda gagah. Pemuda tampan rupawan. Bertubuh kekar dengan rambut cukup panjang serta hitam, senyumannya mampu memikat seorang Dewi dari kahyangan, wanita mana yang tidak akan tersipu malu jika mendapatkan sebuah senyuman darinya?
Bagi seorang wanita, diberi pujian adalah satu hal yang sangat membanggakan. Wanita tampil cantik, tampil elok, biasanya hanya karena ingin mendapatkan pujian dari pria. Apalagi pria itu pria tampan, pria pujaan hati setiap wanita.
Jika kau wanita dan mendapatkan kesempatan ini, bukankah kau juga akan mengalami perasaan yang sama?
Cakra Buana sendiri merasa terbuai saat melihat senyuman yang sangat indah itu. Seolah bunga-bunga mekar berkumpul di bibirnya, seolah segala keindahan terpatri dalam senyuman itu.
Jika seorang wanita cantik dan pria tampan berhadapan, apakah keduanya akan merasakan hal seperti ini?
"Kalau boleh tahu, siapakah nama Nona? Dan ke mana tujuannya?" tanya Cakra Buana lebih lanjut lagi.
"Namaku Yiu Fang, aku sedang melakukan perjalanan untuk menuju ke rumah orang tuaku," jawabnya dengan suara menggoda.
Cakra Buana mengangguk sambil tersenyum. Nama itu sangat cantik. Secantik pemiliknya. Apakah sebuah nama selalu mewakili sebuah rupa?
"Nama yang indah. Kenapa Nona tidak menyewa orang lain untuk menjaga keamanan?"
"Aku tidak terbiasa. Aku lebih senang pergi dengan tenang, tidak banyak orang yang mengikuti,"
"Bagaimana kalau kejadian seperti tadi terulang lagi?"
"Kejadian seperti itu baru terjadi kali ini saja. Itu pun untungnya ada pertolongan yang datang dari langit," jawab Yiu Fang sambil mengedipkan matanya kepada Cakra Buana.
Pendekar Tanpa Nama tersenyum lagi. Entah sudah berapa kali dia dibuat terbuai oleh hal-hal sederhana yang dilakukan oleh wanita di hadapannya tersebut.
"Kau tidak takut jika ada orang jahat menghadang perjalananmu?"
"Tidak sama sekali. Untuk apa aku takut? Selama kau berada di sampingku, aku yakin tidak akan ada orang yang berani mengganggu. Manusia mana yang tidak pernah mendengar tentang Pendekar Tanpa Nama?"
Pujian demi pujian terus dilemparkan oleh wanita cantik bercadar itu. Setiap ucapannya pujian, setiap helaan nafasnya merupakan godaan bagi Cakra Buana.
"Kau terlalu tinggi memujiku. Aku tidak seperti yang kau katakan, apakah perjalananmu masih lama?"
"Tidak, mungkin sebelum terang tanah kita sudah tiba di sana,"
Cakra Buana mengangguk tersenyum.
Yiu Fang mengambil satu guci arak bersama cawannya. Setelah itu, wanita tersebut segera menuangkan dan langsung memberikannya kepada Cakra Buana.
__ADS_1
"Kau tidak minum arak?" tanyanya.
"Minum,"
Dia langsung mengambil satu cawan lagi lalu menuangkannya juga. Kedua orang tersebut kemudian bersulang.
Arak itu arak wangi. Tapi belum mampu mengalahkan aroma wangi yang keluar dari tubuh Yiu Fang.
Mereka bersulang beberapa kali dengan nikmatnya.
Minum arak ditemani wanita cantik, bukankah hal ini merupakan sebuah keberuntungan?
Setelah kurang lebih sepuluh cawan arak, Cakra Buana mulai merasa ngantuk. Entah karena efek arak itu sendiri, atau memang karena pemuda Tanah Pasundan tersebut merasa kelelahan.
"Kau mengantuk?" tanya Yiu Fang karena melihat Cakra Buana menguap beberapa kali.
"Mungkin karena aku terlalu kelelahan, beberapa hari ini aku kurang tidur,"
"Hemm, kalau begitu tidurlah,"
Wanita itu langsung merangkul Cakra Buana dengan tangan kananya yang sangat lembut. Selembut salju di ujung dedaunan.
Yiu Fang menidurkan Cakra Buana di pahanya yang sama lembut. Bau harum semakin menusuk hidung pemuda kekar itu. Pikirannya melayang-layang, dia membayangkan suatu hal yang dapat membangkitkan selera kelelakiannya.
Cakra Buana menghadap ke tubuh Yiu Fang. Semakin mendekat, hingga hampir menempel ke perutnya. Wanita itu sendiri tidak melarang, dia tidak memberikan reaksi apapun. Bahkan, dia malah menekan sedikit kepala Cakra Buana.
Angin malam berhembus lirih. Bau harum bunga terbawa semilir angin sepoi-sepoi. Kereta kuda yang mewah itu terus berjalan tanpa berhenti. Sekarang jalannya kuda tidak secepat tadi, empat ekor kuda tidak berlari. Mereka hanya berjalan dengan tenang sambil terus mengikuti instruksi sang kusir.
Di dalam ruangan kereta kuda, Cakra Buana telah tertidur dengan nyenyak. Dia sama sekali tidak mengetahui apapun. Pemuda itu benar-benar terlelap bersama buaian indah yang diberikan oleh wanita cantik bernama Yiu Fang tersebut.
Sementara wanita itu sendiri terus mengelus kepalanya dengan perlahan dan lemah lembut. Bibir mungilnya yang menggoda selalu tersenyum. Senyumannya manis. Mengandung makna tersendiri.
Sepasang matanya terus memandangi wajah Cakra Buana.
Saat ini, entah dia merasa bahagia atau tidak. Yang jelas, hatinya terasa senang meskipun kadang terlihat raut wajah kesepian.
Apa yang dia rasakan sebenarnya?
"Apakah masih jauh?" kembali wanita itu bertanya kepada sang kusir.
"Kita sudah sampai Nona,"
__ADS_1
Si kusir langsung turun. Dia berjalan ke depan dengan langkah yang amat ringan.
Di depan sana ada satu bangunan cukup megah. Sekali pandang saja, siapapun dapat menduga bahwa bangunan tersebut merupakan sebuah perguruan.
Tapi perguruan apakah itu?
"Buka pintu, siapkan semuanya. Nona sudah berhasil," ucap si kusir kepada dua orang yang menjaga pintu gerbang.
"Baik,"
Kedua orang itu langsung membagi tugas. Yang satu membuka pintu, yang satu lagi masuk ke dalam untuk menyiapkan semuanya.
Kereta kuda melaju kembali. Kereta itu terus memasuki bangunan tersebut, setelah beberapa saat kemudian, kereta kuda mewah telah benar-benar berhenti.
Empat orang wanita cantik menyambut kedatangan si nona. Semuanya hampir mempunyai ciri-ciri yang sama. Mereka memakai pakaian berwarna biru muda. Wajahnya cantik-cantik, usianya paling banter baru dua puluhan tahun. Bentuk tubuhnya padat berisi, mereka memakai pakaian yang ketat sehingga membuat bentuk tubuh itu semakin terlihat jelas.
"Bawa dia, hati-hati, jangan sampai membuatnya bangun," kata si nona memberikan perintah kepada tiga orang laki-laki bertampang sangar.
"Baik Nona,"
Laki-laki tersebut segera menggotong Cakra Buana yang masih berada dalam keadaan tertidur. Tidak seperti biasanya, pemuda Tanah Pasundan itu tertidur seperti bangkai.
Sekarang si Nona sudah masuk ke dalam bangunan yang cukup megah tersebut. Dia sedang berada di sebuah ruangan yang hanya memiliki luas dua meteran.
Di sana tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya dan satu orang pria berumur sekitar enam puluh lima tahunan.
Pria tua itu memangku dirinya di atas kedua paha. Sikapnya persis seperti seorang anak manja kepada ayahnya.
"Lama sekali," kata si pria membuka suara.
"Maafkan aku Ayah. Mengerjakan tugas seperti ini tidak boleh terburu-buru,"
"Tapi setidaknya jangan terlalu membuat Ayah bosan,"
"Iya, iyaa, maafkan aku,"
"Lalu bagaimana, apakah tugas yang Ayah berikan berhasil?"
"Tentu saja. Kapan aku gagal menjalankan tugas dari Ayah?" jawab Yiu Fang sambil tersenyum manja.
"Bagus. Kau memang anak yang pintar," jawab pria tua itu sambil mencubit hidung Yiu Fang.
__ADS_1