
"Apakah kalian sudah lama ada di sini?" tanya Cakra Buana kepada dua orang sahabatnya itu.
"Baru pagi tadi kami tiba," jawab Huang Pangcu.
"Setelah pergi dari Restoran Angin Musim Semi, kalian tidak langsung kemari?"
"Ada urusan sedikit," ujar Li Guan.
Ketiganya nampak semakin akrab. Walaupun usia mereka jauh berbeda, tapi hal itu tidak menjadi penghalang terhadap persahabatan mereka.
"Siapa yang kau bawa itu?" tanya kakek tua tersebut.
"Dia gadis yang patut dikasihani,"
"Siapa namanya?"
"Marganya Liu, namanya Bing. Ngomong-ngomong, di mana Orang Tua Menyebalkan?" tanya Cakra Buana baru menyadari bahwa kakek tua yang satu itu tidak ada.
"Ke mana kakinya pergi, ke situ dia tertuju," jawab Li Guan.
Orang Tua Menyebalkan memang mempunyai kebiasaan seperti itu. Dia tidak punya tempat tinggal tetap. Kadang secara tiba-tiba ada di Barat, besoknya ada di Timur. Seolah di mana-mana selalu ada dirinya.
Tapi meskipun begitu, Huang Pangcu tahu bagaimana cara untuk memanggilnya datang. Dan anehnya, setiap dia mengeluarkan cara tersebut, memang kakek tua itu akan tiba-tiba datang tanpa pernah diduga.
"Kau sedang mencarinya?" tanya Huang Pangcu penasaran.
"Yang aku cari bukan dia. Tapi si Nenek Tua Bungkuk,"
"Ada apa kau mencarinya? Apakah ada masalah? Kalau ada, biar aku hajar nenek bau tanah itu," kata Huang Yang Qing sedikit emosi.
Dia mengira bahwa Cakra Buana mempunyai masalah dengannya. Sebagai seorang sahabat, tentu saja Huang Pangcu tidak bisa untuk diam saja.
"Tidak ada masalah apa-apa Pangcu, justru aku mencarinya agar dia mau menerima gadis ini sebagai muridnya,"
"Kau tidak salah?"
"Tidak,"
"Apa alasanmu?"
Cakra Buana kemudian menceritakan latar belakang Liu Bing secara singkat kepada Huang Pangcu dan Li Guan.
Setelah beberapa saat bercerita, kedua orang itu hanya bisa mengangguk dan menghela nafas dalam-dalam.
"Nasib manusia memang selalu berbeda. Siapa sangka? Gadis yang cantik dan periang seperti dia, ternyata mempunyai latar belakang yang begitu patut dikasihani," kata Huang Pangcu seakan bersedih.
"Memang beginilah kehidupan," jawab Li Guan.
Dia sendiri sama seperti itu. Di balik keceriaan dan kecerdasannya, di balik latar belakangnya yang ternyata luar biasa, justru dia lahir sebagai seorang yang buta.
Begitu juga dengan Cakra Buana sendiri. Bahkan Huang Pangcu juga sama.
__ADS_1
Pada umumnya, mereka juga mempunyai cerita hidup yang tidak kalah menyedihkannya. Setiap manusia, siapapun dia, pasti mempunyai kisah kelam di masa lalunya. Entah itu besar atau kecil, setiap orang pasti pernah mengalaminya.
"Baiklah kalau begitu, kau tunggu saja sampai malam. Aku akan menyuruh anggotaku untuk mencarinya, kalau kau yang mencari, sampai sebulan kemudian juga tetap tidak akan menemukannya," ujar Huang Pangcu.
Cakra Buana tidak menjawab. Dia selalu percaya atas apa yang diucapkan oleh kakek tua itu.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang, mendadak Liu Bing menggeliat lalu bangun.
Gadis itu terlihat kebingungan untuk beberapa saat.
"Kenapa restorannya menjadi berubah seperti ini?" gumamnya sendiri sambil memandangi seluruh ruangan.
"Kau bukan di restoran sekarang. Tapi ada di markas cabang Kay Pang Pek," kata Cakra Buana menjawab agar dia tidak penasaran.
"Benarkah? Bagaimana aku bisa kemari?"
"Aku menggendongmu dari sana,"
Liu Bing terdiam. Kedua pipinya sedikit memerah karena mendengar ucapan tersebut. Rasa malu dan rasa bahagia bercampur menjadi satu.
Entah kenapa, ada perasaan lain dalam hatinya saat ini. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri.
"Liu Bing, kau baik-baik saja kan?" tanya Cakra Buana keheranan.
"Tentu saja baik. Memangnya kenapa?"
"Kalau baik, terus kenapa tersenyum sendiri?" tanya Cakra Buana sambil memegangi keningnya
"Kau kira aku gila?" teriak gadis itu merasa sebal karena dijahili.
Belum sempat bercanda lebih jauh, mendadak seorang gadis cantik bagai puteri memasuki ruangan itu. Bau harum segera menyebar ke seluruh ruangan.
Jantung Cakra Buana tergetar. Setiap kali mencium bau harum ini, hatinya selalu gugup. Bahkan wajahnya juga terasa kaku.
Siapa lagi yang mampu membuatnya seperti ini kalai bukan Huang Mei Lan?
Huang Mei Lan memang selalu ikut Huang Pangcu, kakeknya. Ke mana pun perginya, Huang Pangcu akan mengajaknya dan jika ada urusan, cucunya itu akan di titipka di markas cabang.
Senyuman Huang Mei Lan mampu membuat sinar matahari redup. Langkahnya seakan mampu membuat waktu terhenti.
Cakra Buana memandangi wajahnya yang sangat menawan itu. Tapi tangan kanannya masih memegangi bening Liu Bing. Cakra Buana seperti mati berdiri.
Senyuman di wajah Mei Lan menghilang saat melihat tangan pemuda di hadapannya menempel ke kening gadis lain.
Dia menghentakkan kakinya lalu kembali ke dalam.
Huang Pangcu dan Li Guan malah tertawa terbahak-bahak. Keduanya jelas tahu bahwa gadis itu merasa cemburu. Dan mereka juga paham bahwa Cakra Buana mulai salah tingkah.
Terlihat dia segera menarik tangannya dari kening Liu Bing.
Liu Bing juga cemberut. Perasaan hangat dalam hatinya menjadi sedikit beku.
__ADS_1
"Kejar cucuku, kau harus bertanggungjawab," ucap Huang Pangcu kepada Cakra Buana.
Pemuda itu seperti tersadar dari mimpi. Dia langsung berjalan memasuki ruangan dari mana munculnya Mei Lan. Cakra Buana terus memasuki ruangan tersebut hingga dia sampai di sebuah taman bunga yang sederhana.
Walaupun sederhana, tapi isinya malah istimewa. Sangat istimewa. Apalagi ada bunga dari segala bunga. Bunga yang indah, harum, dan mampu membuat siapapun terpesona.
Sayangnya bunga itu sedang murung. Hatinya terasa sedikit sakit.
Cakra Buana segera berlari menuju ke sana. Dia menghampiri Mei Lan. Tapi begitu sampai di depannya, dia tidak langsung bicara. Mulutnya terasa terkunci.
"Kenapa kau kemari?" tanya Mei Lan ketus.
"Aku sengaja menyusulmu,"
"Bagaimana dengan gadis itu? Urusi saja gadismu. Untuk apa menghampiriku?" katanya sambil memalingkan wajah.
Untuk sesaat pemuda itu tertegun. Namun selanjutnya, dia tersenyum simpul. Sekarang dirinya yakin bahwa gadis itu ada perasaan lain kepadanya.
Cakra Buana duduk di bangku taman.
"Kau salah paham, dia bukan gadisku,"
"Kalau bukan gadismu, lalu siapa? Kenapa pula tanganmu memegang keningnya? Aku lihat kau sangat mengkhawatirkannya," ucap Mei Lan tanpa sadar memperlihatkan kecemburuannya.
"Aku bicara serius. Dia bukan gadisku,"
Cakra Buana kemudian menceritakan kembali siapa sebenarnya Liu Bing itu. Setelah mendengar cerita itu beberapa saat, tampak seulas senyum kembali mewarnai wajahnya.
"Kau tidak berbohong?"
"Tidak. Untuk apa aku berbohong kepadamu?"
"Syukurlah,"
"Kau cemburu?" tanya Cakra Buana berniat menggodanya.
"Siapa bilang? Aku tidak cemburu sedikitpun. Aku hanya penasaran saja kenapa setiap lelaki sama. Dia selalu meras akrab terhadap seorang perempuan. Meskipun perempuan yang baru dikenalnya,"
Bibirnya berucap demikian. Tetapi ucapan hatinya lain lagi. Bahkan setelah bicara, pipinya sedikit memerah dan dia menundukkan kepalanya.
Cakra Buana melakukan hal yang sama kepada Liu Bing. Dia memegangi kening Mei Lan.
"Kau sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja," jawabnya masih ketus.
"Syukurlah. Jangan sampai kau sakit. Kalau aku sakit, bisa-bisa aku tak dapat tidur dua hari dua malam," goda Cakra Buana.
"Semua lelaki sama,"
"Apanya yang sama?"
__ADS_1
"Pintar menggoda wanita," kata Mei Lan menahan rasa gemas.