Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Menganalisa


__ADS_3

Ruangan itu sudah sepi senyap. Semua pertarungan hebat sudah diselesaikan. Cakra Buana kembali berhasil keluar sebagai pemenang. Pemuda tersebut tidak mengalami luka luar.


Hanya saja organ dalamnya terasa sedikit nyeri karena terguncang beberapa kali dengan jurus-jurus lawan yang tidak kalah hebatnya itu.


Ruangan itu dilanda kesunyian yang mencekam dan menyeramkan. Darah para korban keganasan Pendekar Tanpa Nama mulai kering.


Cakra Buana berjalan ke depan. Dia mencabut pedangnya yang tadi sempat tertancap cukup dalam.


"Hahh …" pemuda itu menghela nafas berat.


Pendekar Tanpa Nama sangat menyesalkan kenapa pertarungan hidup dan mati ini selalu menimpa dirinya. Dia memang selalu keluar sebagai pemenang, tapi yang jadi pertanyaannya, apa yang dia dapat dari semua itu?


Jawabannya tidak ada. Ya, tidak ada.


Setiap kali sesudah bertarung hidup dan mati lalu keluar sebagai pemenang, Cakra Buana sekali merasa hampa. Hatinya kosong. Seperti juga jiwanya.


Kadang-kadang dia berpikir, sampai kapan dirinya akan terus seperti ini? Sampai kapan pula para manusia akan saling bunuh? Kapan hal-hal diatas bakal berakhir? Apakah selamanya? Apakah benar tiada akhir?


Cakra Buana melangkah keluar ruangan. Pedang Naga dan Harimau sudah kembali di tempatnya semula. Pedang pusaka itu di bungkus menggunakan kain putih bersih.


Caranya berjalan pelan tapi pasti. Jarak antara langkah satu dengan lainnya selalu sama. Seperti pelan, tapi sangat cepat. Hanya sesaat saja, dia sudah berada diluar.


Ternyata dugaannya tidak salah, bangunan tua yang besar dan mewah itu memang sudah dikepung oleh puluhan orang-orang yang berasal dari aliran hitam.


Di setiap sudut, setiap tempat, terdapat musuh yang sedang memandang ke arahnya dengan tajam. Tatapan mata mereka menggambarkan kemarahan dan kebencian.


Orang-orang itu memakai pakaian seragam. Jelas, mereka berasal dari tempat yang sama.


Meskipun dirinya diawasi oleh puluhan pasang mata yang mirip serigala kelaparan itu, namun Cakra Buana tidak berhenti. Dia acuh tak acuh. Seolah tiada sesuatu apapun yang dapat menahan langkahnya.


Suasana masih hening. Hening sekali.


Sampai sekarang belum ada kejadian apa-apa lagi. Atau lebih tepatnya bukan belum, tapi tidak akan.


Ya, tidak akan. Karena mereka merasa sangat takut. Jeri. Sekaligus ngeri.

__ADS_1


Walaupun tidak semua orang bisa melihat pertarungan tadi dengan jelas, namun mereka juga mengerti satu hal.


Kalau pemuda itu bisa keluar dengan selamat, tentunya orang-orang mereka sendiri yang tidak selamat.


Kalau bukan terluka parah, sudah pasti mereka itu mampus.


Puluhan orang itu bukanlah manusia bodoh yang tidak punya pikiran. Kalau saja pemimpin mereka tewas, lalu apa jadinya jika mereka nekad menyerang Pendekar Tanpa Nama?


Bukankah hal itu sama saja dengan bunuh diri?


Wushh!!! Wushh!!!


Tiba-tiba satu persatu dari mereka mulai memasuki bangunan tua itu setelah Cakra Buana telah pergi dari sana. Mereka dibuat kaget setengah mati pada saat melihat pemandangan mengerikan itu.


Tak kurang dari sepuluh orang merasakan mual yang tiada terkira. Tanpa bisa ditahan lagi, orang-orang tersebut langsung muntah-muntah. Seluruh makanan yang telah masuk ke perutnya tiba-tiba keluar kembali tanpa sisa.


Malam yang kelam. Malam yang menyeramkan.


###


Pagi hari.


Dia merasa sangat mengantuk. Hampir semalam suntuk dirinya belum tidur barang sekejap. Matanya sayu. Warna putih di mata itu berubah sedikit merah karenanya.


Seluruh tubuhnya terasa nyeri sekaligus ngilu. Dia ingin tidur barang satu atau dua jam. Tapi sayang sekali, dia tidak bisa tidur.


Kalau seseorang sepertinya sedang banyak pikiran, benarkah dia bakal bisa tidur?


Cakra Buana masih memikirkan tentang si Tangan Berbisa. Kejadian itu tidak mungkin dia lupakan. Malah sekarang dirinya sedang menganalisa kembali.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dia menemukan sebuah jawaban.


Dirinya percaya, malah sangat yakin kalau si Tangan Berbisa adalah utusan Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat. Gembong iblis itu mungkin sudah mendengar berita tentang dirinya yang sudah kembali.


Kemudian dia mencari-cari informasi tentangnya. Setelah mengetahui seluk-beluk dirinya, mungkin mereka sengaja mencari masalah dengannya lewat cara menghancurkan lembah bersejarah itu.

__ADS_1


Bukankah analisa seperti itu sangat masuk akal? Serahasia apapun Cakra Buana, memangnya informasi apa yang tidak bisa didapatkan oleh seorang gembong iblis seperti Penguasa Kegelapan itu?


Informasi apa dan siapapun, kalau Penguasa Kegelapan ingin, pasti dia bisa mendapatkannya.


Setelah merenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba saja Cakra Buana berjingkrak lalu bangkit berdiri. Wajahnya mendadak secerah sinar mentari pagi. Seulas senyuman tergambar di mulutnya.


Sepertinya pemuda itu sangat gembira.


Dan menang benar. Cakra Buana malah merasa sangat gembira karena dia semakin menemukan titik terang dari persoalan ini.


Kalau si Tangan Berbisa yang merupakan utusan Penguasa Kegelapan saja ada di sini, bukankah tidak mustahil juga bila dia sendiri berada di tempat sekitarnya?


Titik terang akhirnya mulai ditemukan. Sekarang yang harus dia pikirkan adalah di mana Penguasa Kegelapan berada? Kalau dia ingin bertanya, kepada siapa pula Cakra Buana harus menanyakannya?


Pada saat itu, tiba-tiba saja telinganya mendengar ada suara. Awalnya dia menduga kalau itu adalah suara musuh yang datang. Tapi ternyata bukan.


Suara itu bukan berasal dari musuh, bukan pula berasal dari binatang di sekitar hutan.


Melainkan berasal dari cacing di perutnya sendiri.


Cakra Buana tersenyum getir. Saking kalutnya, dia baru sadar kalau dirinya belum makam lagi sejak semalam. Meskipun pemuda itu adalah pendekar, tapi pendekar juga tetap seorang manusia.


Selaku manusia, rasa lapar adalah sesuatu yang lumrah. Siapapun bisa merasakannya.


Semakin di tahan, perasaan lapar itu malah semakin menjadi. Karena itulah, Cakra Buana tidak mau menunda-nunda lagi.


Wushh!!!


Tubuhnya melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sekarang yang menjadi prioritasnya adalah mengisi perut sendiri. Masalah mencari tahu keberadaan Penguasa Kegelapan, hal itu dapat dikesampingkan terlebih dahulu.


Sepeminum teh kemudian, Pendekar Tanpa Nama sudah berada di sebuah kedai makan. Satu porsi nasi liwet bakar ayam telah tersedia di hadapannya.


Tanpa berlama-lama lagi, dia langsung menyantap hidangan tersebut selagi masih hangat. Meskipun hanya menu sederhana, namun sangat nikmat.


Di dunia ini, hakikatnya memang harus seperti itu. Selama kita mensyukuri sesuatu yang diberikan oleh Tuhan, maka segalanya bakal berubah menjadi kenikmatan.

__ADS_1


Kesengsaraan bisa berubah menjadi kebahagiaan. Kesusahan bisa berubah menjadi kesenangan, yang penting kita mau bersyukur dan terus bersyukur.


Lima belas menit telah berlalu. Cakra Buana sudah menghabiskan sarapannya. Tak lupa juga dia lantas melemparkan uang perak di atas meja sebagai biayanya.


__ADS_2