
Walet Putih dan Pendekar Tanpa Nama berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Kedua orang tersebut menuju ke dalam hutan yang rimbun.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan utama. Di tengah hutan itu, ada sebuah rumah sederhana yang cukup besar. Walaupun tampak sederhana, tapi justru bangunan itu didirikan kokoh.
Cakra Buana tahu, meskipun penampilan luarnya sederhana, tapi isinya justru sangat tidak sederhana.
Walet Putih langsung membawa Cakra Buana masuk ke dalam. Halaman yang dimiliki bangunan tersebut tidak luas. Paling hanya seluas dua tiga meter saja.
"Kau membawa orang lain?" sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka berdua.
Tanpa harus ditanya lagi, siapapun tahu bahwa suara itu adalah suara si orang yang sedang mereka cari.
"Benar. Dia adalah temanku,"
"Aku tidak ingin bertemu di sini," kata orang itu.
"Lantas di mana?"
"Di restoran biasa. Di lantai dua,"
Si Walet Putih tertegun. Dia sudah tahu restoran mana yang dimaksud. Karena memang beberapa kali juga dia pernah makan di sana.
Hanya saja yang membuatnya tertegun adalah karena tempat pertemuan mereka harus di lantai dua. Walet Putih melirik ke arah Cakra Buana sambil memandangi penuh harap.
"Setuju. Biar aku yang membayar semuanya," kata Cakra Buana smabil menepuk pundaknya.
Walaupun dia tidak tahu di mana letaknya restoran tersebut, tetapi sebagai orang yang biasa makan di restoran mewah, Cakra Buana paham betul bahwa lantai dua itu, sudah pasti di khususkan untuk orang-orang kaya saja.
"Baiklah. Kami setuju,"
"Bagus. Kau memang tidak salah mencari teman,"
"Kapan kita akan bertemu?" tanya si Walet Putih
"Malam nanti. Tengah malam aku menunggu kalian di sana,"
"Baik. Aku akan datang tepat waktu,"
"Sekarang pergilah," kata orang tersebut.
Tanpa banyak bicara lagi, Walet Putih dan Cakra Buana segera pergi dari sana. Walaupun sedikit kecewa, tetapi keduanya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Terlebih lagi karena mereka membutuhkan banyak informasi.
###
Malam telah tiba. Cakra Buana dan Walet Putih sudah tiba di depan sebuah restoran besar.
Restoran itu adalah restoran termewah yang ada di kota tersebut. Semua meja di lantai bawah sudah dipenuhi oleh pengunjung yang berasal dari berbagai macam kalangan.
__ADS_1
Lantai atas masih sepi. Karena lantai ini memang di khususkan untuk orang-orang tertentu. Orang biasa jangan harap bisa masuk.
Lantai atas atau lantai dua ini dibuat khusus bagi orang-orang yang mempunyai banyak uang. Sepertinya yang disebutkan di atas.
"Semua meja sudah penuh Tuan," kata seorang pelayan yang berdiri di depan pintu.
"Kami ingin makan di lantai dua," jawab Walet Putih.
Pelayan itu terlihat ragu. Untuk sesaat dia hanya termenung. Bicara takut salah, tidak bicara apa lagi.
Cringg!!! Cringg!!!
Bunyi emas terdengar sangat nyaring. Cakra Buana sengaja melakukannya supaya si pelayan yakin terhadap keduanya.
"Apakah sekarang boleh?" tanya si Walet Putih kembali dengan nada dingin.
"Boleh Tuan," jawab si pelayan sambil tersenyum.
"Cihh, dasar mata duitan," katanya menggerutu.
Mereka berdua segera memasuki restoran tersebut. Mereka menaiki tangga untuk sampai ke atas.
Di sana, sudah duduk seorang kakek tua berumur sekitar enam puluhan tahun. Tubuhnya gendut seperti bola bekel. Bahkan wajahnya hampir tertutup oleh pipi yang penuh dengan gumpalan lemak.
Orang itu memakai pakaian warna merah cerah. Senyumannya sangat lucu dan bersahabat. Dia memakai beberapa batu cincin yang mahal. Selain itu, orang tersebut juga memakai dua kalung emas.
Walet Putih tertawa lantang. Tanpa banyak bicara, dia langsung duduk dan menuang arak di hadapan orang itu.
"Kau sudah datang dari tadi?" tanya Walet Putih kepada orang tersebut.
"Saat matahari terbenam, aku sudah ada di sini,"
"Pantas saja semua hidangan yang ada sudah kosong,"
Orang gendut itu hanya tertawa. "Pelayan, berikan aku makanan mewah lagi," katanya kepada seorang pelayan yang ada di sana.
"Dia inilah orang yang aku maksudkan kepadamu sebelumnya," ujar Walet Putih kepada Cakra Buana.
Pemuda itu hanya tersenyum simpul. "Namaku Cakra Buana. Siapakah nama tuan ini?" tanyaya ramah.
"Orang-orang biasa memanggilku si Gendut Yang Pintar. Jangan panggil aku Tuan, aku tidak terlalu suka tatakrama. Anggap saja kita adalah sahabat lama," ujarnya lalu tertawa kembali.
Dia kemudian menuangkan arak yang harum ke cawan. Lalu dia memberikannya kepada Cakra Buana.
Mereka bertiga bersulang. Suara canda tawa mulai terdengar di ruangan tersebut.
"Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan sahabat?" tanya si Gendut.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertanya sedikit tentang Tuan tanah,"
"Aihh, aku kira pertanyaan apa. Ternyata hanya pertanyaan seperti ini," katanya sambil tertawa.
Saat tertawa, perutnya terlihat turun naik sehingga nampak lebih lucu dari pada saat tidak tertawa.
"Aku tahu, segala macam informasi apapun, bagimu memang hal kecil," kata Cakra Buana tertawa.
Walaupun mulutnya berkata demikian, tapi hatinya berkata lain. Di hatinya, justru Cakra Buana mengatakan bahwa si Gendut Yang Pintar ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sahabatnya Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Hahaha, sahabat terlalu memujiku. Aku tidak berani menerima pujian dari Pendekar Tanpa Nama,"
"Hahaha, kau bisa saja. Jadi, apakah kau tahu banyak tentang informasi si Tuan tanah?" tanya Cakra Buana memastikan kembali.
"Seberapa banyak kau ingin tahu tentangnya, maka sebanyak itu pula aku tahu dan bisa memberitahukannya kepadamu,"
"Bagus. Kalau begitu aku tidak salah menemui orang,"
"Memang tidak," jawabnya merasa bangga.
"Berapa biaya agar aku bisa bertanya kepadamu sepuasnya?"
"Seratus keping emas," jawabnya cepat.
Mata si Walet Putih terbelalak. Seratus keping emas bukan jumlah yang sedikit. Bahkan setidaknya bisa untuk hidup mewah selama dua tiga minggu.
Siapa yang berani mengeluarkan biaya sebanyak itu hanya demi mendapatkan informasi?
"Baik. Setuju," jawab Cakra Buana tanpa ragu.
Si Walet Putih terbelalak. Dia memandangi Cakra Buana dengan tatapan tidak percaya. Tidak disangka sama sekali bahwa sahabat barunya ternyata setuju dengan angka yang baginya terlalu besar itu.
"Cakra, kau tidak bercanda bukan?"
"Aku selalu serius. Aku setuju dengan syarat yang dia ajukan,"
"Tapi jumlah itu bukan angka yang sedikit,"
"Bagiku sedikit," jawabnya santai.
Dia sengaja berkata demikian supaya si Gendut Yang Pintar tidak merendahkan harga dirinya.
"Hahaha, kali ini aku memang bertemu dengan orang yang tepat. Aku suka tipe orang sepertimu," kata si Gendut sambil memuji Cakra Buana.
"Hahaha, ternyata selain pintar mengambil keuntungan, kau juga pintar mengambil hati orang. Pantas saja tubuhmu sangat gendut dan dipenuhi lemak," kata pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
Ketiganya tertawa kembali. Bagi sahabat, candaan seperti itu bukanlah hal asing. Hal itu sudah biasa terjadi.
__ADS_1