
Sepasang mata Pendekar Tanpa Nama langsung memandang ke sekeliling ruangan kuno tersebut. Meskipun tatapan matanya tajam, namun wajahnya amat tenang dan santai. Wajah itu tidak terlihat ragu seperti yang terlihat sebelumnya.
"Ternyata di Perkampungan Raja Harimau masih terdapat manusia-manusia rendahan seperti kalian. Hehehe, kalau kabar ini sampai tersebar ke dunia luar, bukankah itu artinya akan menurunkan pamor perkampungan ini?" Pendekar Tanpa Nama sengaja berkata demikian dengan tujuan memancing semua musuhnya untuk keluar dari sarang persembunyian.
Wushh!!! Wushh!!!
Titik hitam kembali terlihat. Beberapa titik hitam panjang juga nampak kembali. Kali ini, serangan dari semua senjata rahasia tersebut jauh lebih cepat dan lebih banyak lagi.
Selain itu, serangan gelap yang sekarang juga jauh lebih kejam lagi.
Sedikit saja Cakra Buana kehilangan konsentrasi, maka otomatis nyawanya akan melayang saat itu juga.
Trangg!!! Trangg!!!
Cahaya merah terlihat berputar dengan sangat cepat sekali. Cahaya itu tampak seperti guratan bintang jatuh di malam hari. Sangat indah, tapi juga sangat menyeramkan.
Siapapun yang melihatnya, pasti akan merasakan bahwa semua bulu kuduknya berdiri sendiri.
Hanya sekejap, semua titik hitam tadi telah rontok seluruhnya. Puluhan atau bahkan ratusan titik tersebut jatuh tepat di sekitaran berdirinya Pendekar Tanpa Nama. Beberapa titik hitam memanjang yang ternyata merupakan pisau tajam, kini telah patah menjadi dua bagian.
Semuanya sama rata. Semuanya mendapatkan jatah yang sama.
"Sepertinya kemampuanmu sudah bertambah hebat," sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang tubuh Cakra Buana.
Si gendut itu kembali lagi. Di belakangnya terlihat ada juga delapan orang lainnya. Semuanya masih orang yang sama, mereka telah datang kembali kepadanya.
Sembilan Harimau Pengepung telah berdiri berjajar di depan Pendekar Tanpa Nama. Mereka sudah dalam posisi bersiap. Sembilan batang senjata pusaka yang sangat tajam telah dihunus.
Cakra Buana memandangi mereka dengan dingin. Sedikitpun wajahnya tidak terperanjat ke belakang seperti beberapa hari lalu.
Setelah mereka saling berhadapan, ternyata telah bermunculan kembali beberapa puluh orang lainnya.
Siapa mereka? Apakah mereka merupakan anak buah dari Sembilan Harimau Pengepung? Ataukah mereka merupakan bawahan Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding?
Jumlah mereka ada sekitar empat puluh orang banyaknya. Semuanya berpakaian hitam legam. Hitam yang pekat, sepekat malam ini.
__ADS_1
Mereka telah mengepung bangunan kuno tersebut. Pemakaman kuno yang tadinya sepuluh sunyi, sekarang mendadak ramai oleh orang-orang tersebut.
Pemakaman kuno mendadak berubah seperti sebuah pasar yang sangat ramai. Puluhan orang-orang itu menatap tajam ke bangunan kuno.
Ternyata selain terlihat ada senjata tajam, ada juga puluhan busur panah yang sudah dilumuri oleh api.
Pendekar Tanpa Nama terkepung.
Jalan untuk dirinya keluar sudah tertutup rapat.
"Ternyata kalian sudah menduga bahwa aku akan datang kemari lagi," gumam Cakra Buana kepada Sembilan Harimau Pengepung.
"Semuanya sudah diperhitungkan dengan matang. Kau sendiri bisa melihatnya dengan jelas, sekarang dirimu telah terkepung. Jadi sehebat apapun dirimu, jangan pernah bermimpi bahwa kau bisa keluar dari sini," kata si kurus kering sambil tersenyum dingin kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Aku tahu bahwa posisiku saat ini benar-benar tidak beruntung,"
"Bagus kalau kau sadar. Jadi bagaimana, apakah kau akan menyerah?"
"Menyerah? Hemm, dalam kamus hidupku tidak ada kata menyerah," kata Cakra Buana sambil tersenyum mengejek.
Si kurus kering langsung naik pitam. Pemuda di hadapannya saat ini benar-benar sombong. Dia sungguh merupakan pemuda yang sangat keras kepala.
Dia langsung melompat ke depan. Di susul kemudian oleh delapan orang tokoh lainnya. Mereka melompat hampir dalam waktu yang bersamaan.
Pendekar Tanpa Nama ingin menyusul mereka, sayangnya sebelum itu, puluhan anak panah yang sudah dilumuri oleh api itu telah dilepaskan sehingga dengan tepat mengarah kepada tempatnya berdiam.
Wushh!!! Wushh!!!
Puluhan sinar berwarna kuning kemerahan telah melesat secara serempak. Semakin lama, sinar itu terlihat semakin banyak. Hanya dalam waktu singkat, bangunan kuno tersebut sudah terbakar dengan hebatnya.
Sepertinya selain dari pada hal di atas, bahkan bangunan tersebut juga sudah dilumuri oleh minyak tanah sehingga dengan cepat api melahapnya.
Pendekar Tanpa Nama terkepung dalam kubangan api yang menyala dengan membaca. Hawa panas terasa membelenggu pemuda tampan dan kekar itu.
Suara teriakan dan sorak sorai lainnya terdengar membahana diluar sana. Suara tepuk tangan dari orang-orang itupun terdengar sangat keras. Sepertinya mereka amat puas saat menyaksikan Pendekar Tanpa Nama yang saat ini masih belum keluar dari bangunan kuno itu.
__ADS_1
Di dalam bangunan kuno, Cakra Buana hanya terkejut untuk sekejap. Detik berikutnya, wajah itu kembali tenang dan santai. Meskipun nafasnya mulai sesak oleh asap yang semakin lama semakin mengepul tinggi, tapi pemuda itu masih terlihat tenang.
Pendekar Tanpa Nama menghela nafas. Berikutnya, dia langsung bergerak.
Delapan bagian tenaga dalamnya seketika itu juga segera dikerahkan. Tubuhnya melesat menembus kobaran api yang membara.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua larik cahaya merah seketika menyelimuti muka bumi. Dua cahaya itu menerjang segala yang ada di depannya. Kecepatannya sulit untuk dilukiskan. Hanya sekejap, cahaya merah itu sudah mengelilingi seluruh bagian bangunan kuno yang ada diluar.
Brugg!!!
Bangunan kuno yang di dalamnya terdapat makam kuno pula, kini telah ambruk menyatu dengan tanah. Debu semakin mengepul tinggi bercampur dengan pekatnya asap hitam.
Meskipun bangunan itu telah ambruk, tapi sekarang tidak terdengar lagi teriakan membahana seperti sebelumnya.
Ke mana suara teriakan tadi? Ke mana pula ramainya tepuk tangan dan sorak sorai sebelumnya?
Dua cahaya merah tadi sudah berhenti bergerak. Begitu berhenti, sekarang semuanya sudah nampak dengan jelas.
Separuh dari jumlah puluhan orang tadi ternyata sekarang mereka telah mampus. Semuanya tewas sambil memegangi senjatanya masing-masing.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa mereka bisa tewas seperti itu?
Tiada yang tahu kejadian sebenarnya. Namum yang jelas, sekarang pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama telah berdiri tegak di hadapan mereka.
Pakaiannya masih utuh. Tubuhnya juga masih utuh. Pedang Naga dan Harimau masih berada di tangan kanannya. Di ujung pedang pusaka itu masih terdapat darah yang menetes secara perlahan.
Apakah pemuda itu yang sudah membunuh puluhan orang tersebut? Bagaimana dia sanggup melakukannya?
Sembilan Harimau Pengepung hanya bisa terbengong menyaksikan apa yang saat ini terjadi di depan matanya.
Wushh!!!
Jurus Tanpa Bentuk dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Puluhan manusia yang ada di sekelilingnya menjadi sasaran. Tubuh Cakra Buana berkelebat secepat angin badai. Cahaya merah tampak semakin pekat.
Teriakan tertahan dan erangan kematian mulai terdengar silih berganti. Jurus Tanpa Bentuk yang dikuasai Cakra Buana ternyata semakin sempurna. Terbukti saat ini, dia sanggup menghabisi semua pendekar kelas bawah yang ada di sekitar pemakaman kuno itu hanya dengan waktu singkat.