
"Bagus. Kalau begitu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas dendam," tegas Pendekar Tanpa Nama dengan lantang.
Penguasa Kegelapan sudah berada di depan mata. Perduli apakah dia masih punya kemampuan atau tidak, maka Pendekar Tanpa Nama akan tetap membalaskan dendamnya.
Selama musuh besarnya masih hidup, Cakra Buana harus menuntaskan dendam yang sudah mendarah daging ini.
Sementara itu, Penguasa Kegelapan dan Selir Anjani hanya diam saja. Mereka belum bergerak sama sekali. Keduanya hanya mendengarkan. Seperti seorang anak yang mendengar orang tuanya bicara.
Jangankan berani bertindak, malah berani memotong pembicaraan pun tidak.
"Mari kita selesaikan dengan segera …" kata Prabu Katapangan menimpali ucapan keponakannya.
"Lihat serangan!!!"
Ratu Ayu berteriak selantang mungkin. Sesaat kemudian dia sudah mulai bergerak. Tubuhnya yang sempurna segera melesat ke depan secepat batu yang dilemparkan dengan sekuat tenaga.
Tenaga dalamnya dikeluarkan hingga ke titik tertinggi. Selendang biru di pinggangnya mulai dimainkan. Selendang itu menusuk lurus ke depan seperti sebatang tombak yang sangat tajam.
Bersamaan dengan hal tersebut, Penguasa Kegelapan dan Selir Anjani juga langsung bersiap siaga. Mereka lantas membagi posisinya masing-masing.
Setelah sejak tadi menahan amarah, akhirnya mereka berdua bisa juga melampiaskan seluruh kemarahan itu. Keduanya langsung mengeluarkan kemampuannya hingga ke titik maksimal.
Penguasa Kegelapan dan Selir Anjani tidak tuli. Sepasang telinga mereka masih normal. Oleh sebab itulah keduanya bisa mendengar dengan jelas semua pembicaraan Pendekar Tanpa Nama, Ratu Ayu, dan Prabu Katapangan Kresna.
Kalau benar mendengar, lantas kenapa keduanya tidak berani mengambil tindakan sejak awal?
Jawabannya hanya satu.
Mereka tidak mau gegabah. Ya, hanya itu saja.
Bagaimanapun juga, dua orang itu merupakan tokoh yang sudah berpengalaman. Malah pengalamannya jauh lebih banyak daripada Pendekar Tanpa Nama.
Mereka bisa menyerang, namun bagaimana kalau sampai orang lain turun tangan? Empat datuk dunia persilatan misalnya. Kalau sampai benar mereka ikut campur dalam masalah sekarang, bukankah persoalannya bakal lebih rumit lagi? Bukankah rintangannya bertambah kembali?
Sementara itu, pertempuran yang bakal berlangsung sangat seru ini sudah dimulai. Prabu Katapangan Kresna dan Ratu Ayu melawan Selir Anjani. Sedangkan Penguasa Kegelapan, tentunya melawan Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Musuh bebuyutan Cakra Buana adalah gembong iblis itu. Jadi tidak ada seorangpun yang boleh ikut campur di dalamnya. Termasuk paman ataupun orang-orang dekatnya.
Dua medan laga sudah dimulai. Pertempuran hebat telah digelar. Apakah dendam ini pun akan segera dapat diselesaikan?
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia melayang di tengah udara. Penguasa Kegelapan tidak memakai senjata. Karena itulah Pendekar Tanpa Nama juga tidak mengeluarkan pedang pusaka miliknya.
Kalau musuhnya bertangan kosong, maka pemuda itupun akan melakukan hal serupa.
Namun meskipun tidak memakai senjata, jangan dikira kekuatannya menurun. Justru saat ini, kemampuan Pendekar Tanpa Nama sedang berada dalam puncaknya. Seperti juga dendamnya. Dendam itu sedang berada di puncak.
Puncak dendam.
Plakk!!!
Di tengah pertarungan sengit yang sedang terjadi, mendadak terdengar benturan keras antara tulang satu dengn tulang lainnya.
Penguasa Kegelapan tergetar. Orang tua itu mundur satu langkah ke belakang. Sedangkan Pendekar Tanpa Nama masih dapat berdiri dengan kokoh di tempatnya semula.
Wutt!!!
Kedua gerakan barusan dilakukan hampir secara bersamaan. Dua serangan hebat telah dilancarkan. Meskipun Penguasa Kegelapan tidak yakin akan langsung dapat membunuh Pendekar Tanpa Nama, namun di sisi lain diapun yakin bakal dapat melukainya.
Sebenarnya dua serangan itu memang merupakan langkah yang sangat tepat sekali. Sebab hal tersebut bisa sedikit membuyarkan konsentrasi lawan. Sekalipun mungkin hanya sekejap, akan tetapi yang sekejap itu terkadang sudah bisa menentukan segalanya.
Tapi sayang sekali, bukan saja Penguasa Kegelapan sudah melakukan kesalahan, malah diapun sudah salah melakukan perhitungan.
Jika menghadapi orang lain, apa yang telah dia lakukan mungkin adalah langkah paling tepat. Namun saat ini, orang tua itu sedang menghadapi Pendekar Tanpa Nama.
Bukan saja dia bukan orang lain, malah pemuda itupun tidak akan sama dengan orang lain.
Wutt!!! Wushh!!!
Pusaran angin mendadak berhembus kencang lalu menggulung tubuhnya Pendekar Tanpa Nama. Debu yang amat tebal menutupi pandangan mata kembali. Sesaat kemudian, Penguasa Kegelapan secara tiba-tiba merasakan ada satu kekuatan yang membetotnya secara paksa.
__ADS_1
Tanpa bisa melawan, terpaksa dia membiarkan dirinya tertarik oleh kekuatan misterius tersebut.
Tiada seorangpun tahu kejadian apa yang sedang berlangsung dalam pusaran debu tersebut. Hanya saja, beberapa saat kemudian, semua orang dapat melihat ada tubuh seseorang yang melayang dengan deras ke belakang sana.
Wushh!!!
Satu tubuh lainnya segera menyusul dari belakangnya. Kecepatannya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Wutt!!! Blarr!!!
Ledakan keras terdengar. Satu tiang Istana Kerajaan langsung jebol karena saking kerasnya luncuran tubuh itu.
Penguasa Kegelapan.
Tubuh yang menabrak tiang Kerajaan memang tubuh dirinya. Sekarang tubuh itu telah hancur. Hampir seluruh tulangnya patah. Darah segar keluar dari semua lubang.
Penguasa Kegelapan tewas mengenaskan. Setiap orang yang melihat keadaannya merasa mual sekaligus ngeri.
Tapi bukan saja ngeri karena keadaan gembong iblis itu. Orang-orang tersebut ngeri karena membayangkan betapa dahsyatnya jurus yang digunakan oleh Pendekar Tanpa Nama. Mereka bergidik saat membayangkan betapa besarnya tenaga Cakra Buana.
Kalau kau berada di sana, kira-kira apa yang akan kau rasakan?
Pertarungan Pendekar Tanpa Nama melawan Penguasa Kegelapan terhitung singkat. Mungkin tidak lebih dari dua puluh jurus saja. Namun meskipun begitu, jurus yang dikeluarkan olehnya sangat berbahaya sekali. Jurus pembawa maut. Apalagi dia mengeluarkannya dengan tenaga penuh.
Jadi meskipun hanya sekejap, setiap orang-orang yang menyaksikannya tetap merasa puas.
Di sisi lain, pertarungan antara Selir Anjani melawan Prabu Katapangan dan Ratu Ayu juga berlangsung sengit. Meskipun hanya seorang diri, namun nyatanya wanita itu sanggup melayani kedua musuhnya.
Jurus-jurusnya berbahaya. Setiap serangannya teramat cepat dan dahsyat. Tangan yang tadinya putih mulus itu, sekarang telah berubah menjadi warna hitam kemerahan. Malah kedua tangan tersebut mengepulkan asap hitam yang cukup tebal dan menyiarkan bau teramat busuk.
Saat ini Selir Anjani sedang berada di posisi menyerang. Lengan kanannya memburu ke arah tenggorokan Prabu Katapangan Kresna. Sedangkan tangan kirinya berniat menangkis selendang milik Ratu Ayu yang sedang berusaha membelit tubuhnya.
Di sisi lain, kaki kanannya juga menyapu tubuh lawan.
Plakk!!!
__ADS_1
Prabu Katapangan bertindak tepat pada waktunya. Dia menahan pukulan Selir Anjani dengan menggunakan tangan kirinya. Dua lengan itu masih menempel. Seolah tidak bisa ditarik kembali.
Selendang Ratu Ayu juga berhasil ditangkis. Selir Anjani segera menariknya. Namun ternyata, selendangnya yang satu lagi langsung bergerak pula. Bukan lagi membelit, tapi menusuk. Arah serangannya adalah jantung lawan.