
"Dalam dunia ini memang banyak sekali hal-hal seperti yang terjadi sekarang. Masalah yang terlihat begitu rumit, penuh misteri dan terlihat susah, padahal kuncinya sederhana. Akar dari semua persoalan terkadang adalah suatu hal kecil yang tidak pernah kita duga sebelumnya," ucap Sian-li Bwee Hua sambil tersenyum lembut.
Semua orang mengangguk. Mereka sangat setuju dengan ucapan gadis Tionggoan itu.
Berapa banyak masalah rumit di dunia ini? Berapa banyak pula akar masalah yang sederhana?
"Kau memang benar. Sekarang, kita lupakan saja semua yang telah terjadi. Kita sambut hari dan suasana yang baru ini. Kabut telah tersingkap, sinar matahari telah muncul kembali," ujar Prabu Katapangan Kresna tersenyum sambil memandangi semua orang yang terdapat di sana.
Pada akhirnya, kabut gelap di Tanah Pasundan sudah menghilang. Cahaya terang yang sudah dinantikan oleh semua orang, akhirnya terlihat kembali.
Lantas apakah cahaya itu akan tetap bersinar untuk selamanya? Ataukah kabut gelap itu akan muncul menyelimuti bumi Pasundan kembali?
###
Satu minggu sudah berlalu. Sekarang semuanya telah terlihat normal kembali. Beberapa hari yang lalu, Prabu Katapangan Kresna telah selesai melakukan pembersihan di dalam jajaran Istana Kerajaan.
Para pejabat dan orang-orang dalam yang terkait dalam masalah kemarin, semuanya sudah ditindak lanjut. Mereka telah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Entah apakah itu hukuman mati yang akan menimpa mereka, ataukah hukuman lainnya lagi.
Saat ini sore hari. Cahaya senja yang diberikan oleh matahari terlihat begitu indah dan menawan. Sang Surya seperti tersenyum hangat. Dia menyapa Tanah Pasundan dengan keindahan sinarnya.
Awan kemerahan tampak menggumpal. Beberapa ekor burung terbang dengan riang kembali ke sarangnya masing-masing.
Lantunan suara seruling dari bawah kaki bukit terdengar sangat merdu sekali.
Pendekar Tanpa Nama bersama dua orang kekasihnya sedang duduk di tepi tebing. Mereka sedang menikmati keindahan di senja ini. Ketiganya sangat gembira, senyuman hangat tidak pernah lepas dari masing-masing mulutnya.
"Hahh … akhirnya masalahmu selesai juga," kata Sian-li Bwee Hua sambil tersenyum lembut.
Begitu dia selesai berkata, dirinya langsung bersandar di pundak sebelah kanan Cakra Buana.
__ADS_1
"Tak kusangka, ternyata aku pun bisa juga menemani petualanganmu hingga akhir," sambung Bidadari Tak Bersayap melakukan hal serupa seperti Sian-li Bwee Hua.
Gadis itu bersandar di pundak sebelah kirinya.
"Hahaha … serumit dan sesusah apapun masalah yang menerpa, selama kita mau berjuang dan berusaha, niscaya semuanya akan sirna. Di dunia ini tidak dak ada perjuangan yang sia-sia. Pula, tidak ada masalah yang tak mengandung hikmah. Pada setiap persoalan, sudah tentu terdapat hikmah tersembunyi di dalamnya. Perduli hikmah itu kecil atau besar, yang pasti akan selalu ada," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum dengan lembut kepada dua orang kekasihnya.
Apa yang diucapkan oleh Cakra Buana memang benar. Tidak ada yang salah dalam ucapan itu.
Setiap masalah, pasti ada ada hikmah yang terkandung. Hanya saja yang menjadi pertanyaannya, apakah kita mau menggali dan mencari hikmah itu, atau tidak?
"Sekarang setelah semuanya selesai, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Ling Ling sambil memandang wajah kekasihnya itu.
Cakra Buana menghela nafas terlebih dahulu. Sepasang matanya memandang jauh ke depan sana.
"Mungkin aku akan melakukan sesuatu yang sudah menjadi kewajiban,"
"Sesuatu apa yang kau maksudkan itu?"
"Jadi, maksudmu?"
Ling Ling sedikit terperanjat. Pasalnya karena gadis itu belum mengetahui dengan jelas latar belakang Pendekar Tanpa Nama. Hingga detik ini, agaknya dia tidak tahu siapakah Cakra Buana sebenarnya.
Dia hanya pernah mendengar bahwa pemuda itu merupakan keponakan dari Prabu Katapangan Kresna. Hanya itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
Malah bukan cuma dia seorang. Termasuk Bidadari Tak Bersayap juga sama. Dia masih remang-remang terhadap latar belakang Cakra Buana. Tetapi di sisi lain, sedikit banyaknya Sinta sudah mempunyai gambaran tentang kekasihnya tersebut.
"Mungkin selama ini, aku tidak pernah menceritakan latar belakangku kepada kalian. Aku juga tidak pernah menceritakan siapakah diriku sebenarnya. Ketahuilah, sebenarnya aku adalah Putera tunggal dari Prabu Bambang Sukma Saketi, Raja dari Kerajaan Pasundan sebelumnya. Dan untuk diriku, tentunya aku adalah Pangeran. Calon penerus Ayahku,"
Mendengar perkataan tersebut, Ling Ling dan Sinta langsung tersentak kaget. Mereka melepaskan pelukan kekasihnya secara bersamaan. Setelah itu, keduanya segera memandang Cakra Buana dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
Kedua pasang mata itu memperlihatkan sinar tidak percaya. Bagaimanapun juga, ucapan Cakra Buana barusan seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Mimpi pun mereka tidak pernah bahwa pemuda itu ternyata seorang Pangeran. Keturunan berdarah biru.
Kenyataan ini benar-benar diluar dugaan Ling Ling dan Sinta. Sampai sekian lamanya, orang-orang itu hanya saling pandang tanpa ada yang membuka mulut untuk bicara.
Cakra Buana dibuat rikuh sendiri. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini. Jika seorang wanita maha cantik memandangi pria, bukankah si pria bakal mati kutu dengan sendirinya? Itu baru seorang, lalu bagaimana rasanya jika dipandangi oleh dua orang wanita cantik sekaligus?
"Dia memang mengatakan yang sebenarnya. Ayahnya adalah Adik kandungku sendiri. Kami dua bersaudara merupakan anak dari Resi Benggala Satia Purba,"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar menggema di sekitar area tersebut. Tidak perlu melihat orangnya pun, ketiganya sudah tahu bahwa si pemilik suara itu bukan lain adalah Prabu Katapangan Kresna.
Begitu bicaranya selesai, orangnya malah sudah tiba di belakang ketiga kekasih tersebut. Prabu Katapangan berjalan sambil mengulum senyuman hangatnya.
"Jadi …" kata Ling Ling tidak bisa melanjutkan bicaranya.
Kedua gadis itu kembali berpaling sambil memandang ke wajah Cakra Buana.
"Jadi, apa yang dikatakan olehnya memang benar. Cakra Buana adalah Putera seorang Raja. Nama lengkapnya adalah Cakra Buana Saketi. Dan aku sendiri Katapangan Kresna Saketi," kata Sang Raja dengan suaranya yang penuh wibawa.
Kedua gadis tersebut kembali dibuat terkejut. Sekarang sekali pun mereka tidak percaya, terpaksa mau tak mau harus percaya juga.
Ucapan seorang Raja wajib dipercaya. Apalagi jika Raja itu terkenal sebagai orang yang jujur, arif, dan bijaksana.
Jika sudah seperti itu, benarkah segala yang dia bicarakan masih perlu diragukan lagi?
Cakra Buana juga mengangguk tanda membenarkan ucapan Prabu barusan. Sinta dan Ling Ling tidak sanggup mengatakan apapun lagi.
Pada saat ini kedua gadis tersebut masih dicekam oleh perasaan kaget.
Matahari sore mulai menghilang dibalik bukit. Langit kemerahan mulai diselimuti oleh kegelapan. Dan malam pun akan tiba.
__ADS_1
Entah sejak kapan, tetapi di tebing itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Keempat orang tadi telah menghilang tanpa jejak yang pasti.