
"Kenapa tidak? Aku tahu kalian banyak jaringan. Apalagi tokoh-tokoh sesst juga rekan-rekan kalian, bisa jadi memang ini kelakuan kalian atau setidaknya rekan-rekan kalian," kata Cakra Buana semakin marah.
Kang Pou juga tentunya tidak diam saja. Apalagi jika dia dituduh yang tidak-tidak. Siapa yang bisa diam saja jika dirinya dituduh?
"Brakk …"
Kang Pou menggebrak meja. Seketika meja hancur berantakan.
"Jangan mentang-mentang kau mempunyai masalah dengan Tujuh Perampok Berhati Kejam, sehingga seenaknya saja kau menuduh kami,"
"Memang benar kalian pelakunya,"
"Apa buktinya?" teriak Kang Pou semakin naik darah.
Cakra Buana terdiam. Bagaimanapun juga dia baru sadar bahwa dirinya tidak mempunyai bukti sama sekali. Tetapi hatinya yakin bahwa merekalah pelakunya.
Namun, apakah keyakinan saja bisa menjadi bukti?
"Tiga hari lagi aku akan kembali kemari. Kalau sampai tiga hari tidak ada kabar, jangan salahkan aku jika bertindak tidak sopan," ujarnya lalu pergi sana.
"Orang gila, dasar orang gila. Aku tidak tahu menahu malah menjadi sasaran. Hemm, lihat saja, aku jamin kau tidak akan dapat melewati hari-hari dengan tenang," ucap Kang Pou sambil memandangi wajah Cakra Buana.
Pemuda itu kini telah berada di tengah pasar kembali. Wajahnya menggambarkan kemarahan yang sangat besar. Bahkan orang-orang yang ditemui di pasar sampai merasa bergidik ngeri jika melihat tatapan matanya.
Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang melemparnya dengan batu kerikil. Cakra Buana langsung membalikan badannya. Dia melihat seorang memakai pakaian serba hitam lusuh berlari ke belakang pasar.
Tanpa banyak bicara, pemuda itu segera menuju ke sana dengan amarah yang sudah memuncak.
Pendekar Tanpa Nama terus mengikuti orang yang sudah melemparnya tadi. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya dia tiba di sebuah tempat.
Bangunan besar berdiri di hadapannya. Bangunan ini sangat mirip dengan markas cabang Kay Pang Pek. Terletak di belakang pasar dan banyak pengemis. Hanya saja pengemis yang ada di sini memakai baju hitam lusuh.
Begitu Cakra Buana masuk ke pintu, serentak di belakangnya telah berdiri lima belas pengemis sambil memegangi tongkat. Dari depan muncul juga pengemis baju hitam, jumlahnya ada sekitar tiga puluhan orang.
Pendekar Tanpa Nama dikepung dari segala sisi. Dua orang keluar dari dalam.
In Sin.
Dia adalah In Sin, tapi entah siapa yang satunya lagi. Namun jika melihat bagaimana para anggota pengemis menghormati orang tua itu, sepertinya dia merupakan ketua cabang Kay Pang Hek di kota ini.
"Selamat datang di markas cabang Kay Pang Hek, Tuan Cakra," kata In Sin sambil bertepuk tangan.
Dia tersenyum. Tapi senyuman yang mengandung ejekan.
Cakra Buana masih terdiam. Tidak bicara sepatah kata pun. Tetapi pergolakan dalam dadanya sudah tidak bisa ditahan lagi.
__ADS_1
"Apa maumu?" tanyanya dengan suara penuh amarah.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengundangmu kemari untuk sekedar minum,"
"Jangan banyak bicara. Apa maumu?" bentaknya.
"Aii, galak sekali,"
"Jangan banyak alasan. Aku ingin bertanya,"
"Silahkan,"
"Apakah kalian pelaku yang sudah menculik Mei Lan? Cucu dari Huang Pangcu, mengingat bahwa kita mempunyai masalah. Juga, Kay Pang Hek dan Kay Pang Pek tidak pernah akur,"
"Kau ingin menemukan Mei Lan?" kata orang tua yang diduga ketua cabang Kay Pang Hek.
"Kalau kau memang tahu, katakan saja sekarang. Aku tidak ada waktu,"
"Aii, buru-buru sekali. Boleh saja, asalkan kau mau menyerahkan kepalamu,"
"Kau ingin kepalaku? Boleh, kalau memang mampu, ambillah,"
"Bagus, bagus. Aku senang dengan pemuda sepertimu," kata si ketua cabang sambil bertepuk tangan.
Serentak puluhan pengemis baju hitam langsung mengepung Cakra Buana. Mereka berputar-putar mengelilingi pemuda itu sambil berteriak dan memukulkan tongkatnya. Sesekali ada beberapa orang yang pura-pura menyerang, padahal hanya mengalihkan konsentrasi saja.
Barisan ini sudah terkenal di daerah Tionggoan. Kalau tidak mempunyai ilmu tinggi, jangan harap bisa menjebol barisannya. Entah sudah berapa banyak nyawa yang tewas dalam barisan Tongkat Mengepung Serigala Kelaparan.
Jika semakin banyak pengepung, maka semakin baik dan semakin kokoh lagi barusan tersebut. Itu artinya, semakin sedikit juga harapan untuk bisa terbebas darinya.
Cakra Buana masih diam tidak bergerak sama sekali. Puluhan orang terus mengelilingi. Suara teriakan bersahutan laksana lebah yang mendengung. Sangat membuat bising telinga.
Tetapi dia masih tetap berusaha untuk konsentrasi. Pemuda itu tidak mau menyerang lebih dulu.
Semakin lama orang-orang tersebut semakin cepat mengelilingi dirinya. Cakra Buana masih memejamkan mata. Dia merasa dunia seolah berputar dengan cepat.
Tiba-tiba para pengemis baju hitam menyerang silih berganti. Cakra Buana masih diam, dia tidak melawan kecuali hanya menghindar sedikit.
Dia menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.
Begitu mendapat kesempatan baik dan mendatangkan banyak keuntungan, Pendekar Tanpa Nama berputar sangat cepat dengan kedua tangan di silangkan di depan dada.
Dia berputar seperti kincir angin. Sangat cepat. Mendatangkan angin yang menderu-deru. Debu beterbangan. Kerikil ikut tergulung.
"Blarr …"
__ADS_1
Saat dia merentangkan tangannya, semua pengemis baju hitam yang mengurung dirinya terlempar ke belakang sejauh lima enam langkah.
Yang berada di barisan paling depan terluka. Mereka muntah darah karena serangan tenaga dalam yang sedemikian dahsyatnya.
In Sin dan si kedua cabang terbengong. Jurus pemuda itu sangat aneh. Bahkan selama pengembaraan dalam dunia persilatan, keduanya baru melihat jurus yang seperti dikeluarkan oleh Cakra Buana.
Puluhan pengemis baju hitam tidak dapat melanjutkan pertarungan kembali. Mereka bukan orang bodoh yang mau menyerahkan nyawanya dengan percuma.
"Ilmu apa itu?" gumam si kedua cabang kepada In Sin.
Walaupun suaranya pelan, tapi di telinga Cakra Buana bisa terdengar dengan jelas.
"Jurus Tanpa Nama …"
Katanya dengan suara mantap dan tatapan sama tajam seperti sebelumnya.
"Jurus Tanpa Nama?" tanya kembali si ketua cabang sambil terbengong.
Dia benar-benar merasa baru melihat jurus seaneh itu.
"Apakah ilmu dari Tiongkok?"
"Bukan,"
"Lalu?"
"Tanah Pasundan,"
"Hemm, menarik. In Sin, coba kau hadapi pemuda itu," ucap si ketua cabang memberikan perintah.
In Sin tentu saja merasa sangat takut. Karena dia tahu bahwa pemuda itu sudah mengincar nyawanya. Apalagi saat dia teringat kejadian di bangunan tua yang bobrok.
Ingin rasanya dia berlari, tapi sayangnya percuma.
"Cepatt!!" teriak si ketua cabang dengan amarah yang meledak.
Tanpa sadar In Sin langsung menjejakkan kakinya lalu meluncur deras ke arah Cakra Buana. Ternyata ilmu meringankan tubuhnya cukup tinggi. Serangan yang dia lancarkan juga cukup ganas.
Hanya saja, semua kelebihan itu masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Pendekar Tanpa Nama.
Belum sempat In Sin tiba di hadapan Cakra Buana, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan terjadi.
Tahu-tahu In Sin ambruk ke tanah sebelum mencapai sasaran. Si ketua cabang ingin marah, tapi dia segera menyadari ada keanehan.
Ternyata asisten pribadinya telah tewas. Darah keluar dari mulut dan telinganya. Matanya melotot, seolah dia tidak percaya atas apa yang sudah terjadi pada dirinya.
__ADS_1