Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kuda Jempolan


__ADS_3

"Tapi apa yang aku katakan adalah serius," kata Cakra Buana sambil menunjukkan wajah yang serius pula.


"Aku juga serius. Kau pikir aku bercanda?" tanya balik Ling Ling dengan tatapan mata tajam dan ekspresi bersungguh-sungguh.


Pendekar Tanpa Nama dibuat mati kutu. Dia tidak tahu lagi harus berbuat atau bicara apa.


Di hadapan seorang wanita cantik, terkadang seorang pria memang sangat mudah untuk dibuat tidak berdaya.


Apakah hal itu disebabkan oleh kecantikan si wanita? Ataukah disebabkan oleh sebuah daya tarik yang sulit untuk diceritakan?


"Baiklah. Sekarang kau harus istirahat, besok aku akan membawaku ke suatu tempat,"


"Tempat apakah itu? Dan di mana pula?" tanya Ling Ling merasa penasaran.


"Nanti kau akan segera tahu sendiri. Yang jelas, aku akan membawamu untuk menemui seseorang,"


"Baiklah kalau begitu. Sekarang juga aku akan tidur,"


Mulutnya berkata demikian. Tapi Ling Ling tetap diam saja di kamar tersebut. Gadis itu tidak melangkah keluar. Malah berdiri tegak. Sepasang matanya memandang Cakra Buana tanpa berkedip. Di balik sorot mata itu, ada sebuah harapan.


Mendadak Ling Ling menggosok-gosok keningnya dengan telapak tangan beberapa kali. Semakin lama semakin keras.


Pendekar Tanpa Nama seperti baru tersadar. Dia tertawa terbahak-bahak lalu menubruk maju ke arahnya. Cakra Buana mencium kening gadis yang dia rindukan itu.


"Dasar laki-laki bodoh. Tidak peka terhadap perempuannya sendiri," kata Ling Ling menggerutu sambil membantingkan kakinya.


Tapi meskipun berkata demikian, tak urung wajahnya tersenyum bahagia pula.


Ling Ling sudah kembali ke kamar. Betapa bahagia dan leganya hati gadis itu. Akhirnya perasaan yang membelenggu dirinya telah sirna. Sekarang dia tidak punya beban lagi.


Hidupnya terasa lega. Seperti juga perasaannya.


Tanpa sadar gadis itu tersenyum-senyum seorang diri di pembaringannya hingga dia tertidur dengan pulas.


Sementara itu, Cakra Buana masih duduk di atas jendela kamarnya. Dia sedang memandangi langit yang kelabu.


Diam-diam pemuda itu sedang memikirkan langkah apa saja yang akan dilakukannya nanti. Dia pun sempat berpikir apakah Ling Ling dan Sinta akan di bawa jika dia mengembara kembali?


Di bawa, atau disuruh menunggu lagi?

__ADS_1


Cakra Buana tidak mau memikirkan hal itu lebih lanjut.


Sebenarnya Cakra Buana ingin istirahat setelah dia kembali ke tanah Pasundan ini. Sayang sekali hal itu tidak bisa terwujud. Ternyata begitu dirinya tiba di tanah kelahiran, berbagai macam persoalan mendadak muncul di benaknya.


Malam semakin larut. Suasana juga semakin sunyi. Arak yang digenggam di tangannya telah habis. Rasa kantuk pun mulai menjalar dirinya.


Akhirnya Cakra Buana rebah di pembaringan. Hanya sesaat saja dirinya telah tidur dengan pulas.


Sepeminum teh setelah dia tidur pulas, sekonyong-konyong muncul satu sosok bayangan manusia. Bayangan itu bergelantungan di atas tepat di dekat jendela kamarnya.


Tidak lama setelah itu, satu sosok lainnya sudah menyusul tiba. Gerakan mereka teramat cepat, tangkas, juga lincah sekali. Sepertinya kedua sosok bayangan itu sudah sangat ahli mengerjakan pekerjaan semacam ini.


"Benarkah dia orangnya?"


"Benar. Dia akan menjadi ancaman di masa depan nanti,"


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Buat hidupnya tidak tenang,"


"Baik, akan aku laksanakan dengan segera,"


"Bagus. Aku akan melaporkan hal ini kepada Tuan muda. Suruh juga semua orang-orangmu untuk mengguncangkan dunia persilatan bahkan sampai ke pihak Kerajaan. Kalau semua usaha kita berhasil, maka kekayaan Tuan muda akan segera kembali," kata satu sosok bayangan datang belakangan.


"Sekarang kita harus pergi,"


Habis berkata, dua sosok bayangan manusia itu langsung pergi kembali. Cara pergi dan datangnya sangat serupa. Sama-sama cepat dan lincah.


###


Hari sudah terang tanah. Cakra Buana dan Ling Ling sudah memulai perjalanan mereka. Keduanya sempat sarapan beberapa buah singkong rebus di kedai makan tempatnya menginap.


Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua melanjutkan perjalanan menggu akan dua ekor kuda jempolan. Kuda mereka warna kemerahan. Sebuah kuda yang kekar, kuda terlatih dan bertenaga besar.


Kuda semacam ini, setiap orang pasti menginginkannya. Terutama sekali mereka orang-orang persilatan.


Cakra Buana sendiri membeli kuda itu dengan harga cukup mahal. Tak kurang dia merogoh kocek hingga hampir sekantung emas agar dia bisa mendapatkan kedua ekor kuda jempolan tersebut.


Bagi orang lain, mungkin harga itu sangat fantastis. Tapi bagi pemuda keturunan Raja itu, harga tersebut sangatlah sebanding. Bahkan terbilang sedikit murah.

__ADS_1


Apalagi menurut pemilik kuda sebelumnya, dua ekor kuda itu didatangkan dari negeri yang jauh. Keringat kuda tersebut menebarkan aroma wangi. Selain itu, hewan tersebut pun mempunyai kebiasaan lain dari yang lainnya.


Dua ekor kuda itu minum arak. Ya, kedua-duanya sangat doyan arak.


Sekarang mereka lari dengan kencang. Tapak kaki kuda menyebabkan debu di jalanan itu mengepul tinggi. Suara derap langkah kakinya menggema. Walaupun jaraknya sudah jauh, tapi suaranya masih bisa didengar.


Mereka lari secepat angin menerjang. Jarak yang ditempuh sudah jauh, tapi dua ekor kuda baru itu masih belum terlihat lelah. Nafasnya masih teratur.


"Benar-benar kuda yang bagus. Rasanya tidak menyesal aku membeli mereka dengan harga mahal," kata Cakra Buana sambil tetap melarikan kudanya.


"Aihh, benar. Memang kuda bagus. Tapi semakin bagus tunggangan, semakin banyak juga orang yang menginginkannya," timpal Ling Ling.


Meskipun dia hanya seorang gadis, tapi sebagai kaum persilatan, tentunya sedikit banyak diapun paham bagaimana caranya berkuda.


Matahari sudah berada di atas kepala. Cakra Buana dan Ling Ling memutuskan berhenti sejenak sekedar untuk mengistirahatkan kuda mereka.


Keduanya berhenti di tengah hutan di tepi sungai batu yang airnya jernih. Dua ekor kuda sempat dimandikan dan diberi makan rumput. Cakra Buana pun mengeluarkan arak dari buntalannya.


"Apakah masih jauh?" tanya Ling Ling setelah nafasnya teratur.


"Beberapa hari lagi kita akan sampai di sana. Kita akan melewati jalan pintas," jawab Cakra Buana.


Sian-li Bwee Hua mengangguk. Dia tidak mengeluh. Juga tidak merasa kesal. Malah gadis itu merasa sangat gembira. Hal semacam ini sudah dia idamkan sejak lama.


Sejauh ini, perjalanan mereka lancar. Sedikitpun belum ada masalah yang menghadang.


Tapi itu tadi. Karena sekarang beda lagi.


Tiba-tiba belasan pisau melayang dengan deras ke arah keduanya. Disusul kemudian dengan beberapa sinar terang.


Wushh!!! Wushh!!!


Cakra Buana dan Ling Ling melompat tepat pada waktunya. Semua serangan gelap yang datang secara tiba-tiba itu tidak mengenai sasarannya.


Sian-li Bwee Hua menggeram marah. Dia mendengus dingin. Detik berikutnya, gadis dari negeri Tiongkok tersebut melompat tinggi.


Lima sinar hitam mendadak keluar dari sela-sela jarinya. Kecepatan sinar itu sukar diikuti oleh mata.


Selang sesaat kemudian, suara jeritan ngeri tiba-tiba berkumandang sehingga mengejutkan burung-burung yang sebelumnya bertengger di dahan pohon.

__ADS_1


###


Satu lagi nanti yaa wkwk


__ADS_2