Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sebuah Kabar


__ADS_3

Gunung Hua Sun sudah ada di depan mata. Tinggal beberapa ratus tombak lagi, Pendekar Tanpa Nama akan memasuki area gunung yang saat ini ramai tersebut.


Sekarang waktu menunjukkan malam hari, rembulan bersinar dengan amat indah. Malam ini rembulan hanya tampak separuh sehingga mirip seperti sabit.


Sabit yang megah. Sabit yang bisa membuat siapapun terpukau.


Semilir angin malam bertiup lirih, bau harum bunga tercium membuat tubuh terasa sangat nyaman. Di atas langit, bintang bertaburan memenuhi alam raya.


Cakra Buana menghirup nafas dalam-dalam. Pemuda itu paling menyukai suasana seperti ini. Meskipun dirinya masih berada cukup jauh dari tempat pertemuan para tokoh, namun suara para pendekar telah terdengar jelas di telinganya.


"Sepertinya pertemuan itu sudah berlangsung," ujar Cakra Buana sambil memandang jauh ke depan sana.


Wushh!!!


Tubuhnya meluncur deras ke depan. Jubah merah Pendekar Tanpa Nama berkibar dengan agung. Ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tahap sempurna, sehingga kecepatannya tidak perlu diragukan lagi.


Di dunia persilatan dewasa saat ini, mungkin hanya sedikit saja para tokoh yang dapat menyamai kecepatannya.


Hanya sekejap mata, Cakra Buana telah sampai di pintu gerbang yang menuju ke Gunung Hua Sun.


Baru saja kakinya melangkah ke depan, sebuah desingan tajam telah menyambar ke sisi telinganya.


Wutt!!!


Crapp!!!


Dengan cekatan sekali jari telunjuk dan jari tengah Cakra Buana telah berhasil menangkap benda yang meluncur deras dari arah belakang tersebut.


Benda itu ternyata bukan sebuah senjata tajam, melainkan hanyalah sebuah surat. Surat berwarna putih.


Pendekar Tanpa Nama kemudian segera membuka surat tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah tulisan. Tulisan itu sangat indah, sangat rapi. Dari awal sampai akhir, gaya penulisannya tetap sama.


Dari sini, Cakra Buana dapat menebak bahwa surat tersebut ditulis oleh orang yang sama.


"Sekarang juga aku tunggu dirimu di kedai arak sebelah Timur,"


Isi dari surat tersebut hanya kata itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Si pengirim sepertinya sengaja tidak mencantumkan namanya dalam surat tersebut.


Tapi meskipun begitu, Cakra Buana tidak merasa bingung ataupun berpikir panjang. Secepat kilat pemuda itu langsung memburu ke kedai arak yang dimaksud dalam surat tersebut.


###


Kedai itu tidak besar dan tidak kecil. Tiga buah lentera menggantung di setiap sudut dan pertengahan pintu masuk kedai. Keadaan di dalam kedai sudah sepi. Di sana tidak ada siapapun lagi kecuali hanya satu orang.

__ADS_1


Seorang wanita cantik bergaun biru muda dan selalu memakai cadar.


Wanita itu sedang memegangi cawan arak sambil memainkannya dengan cara diputar-putar. Seolah dia sedang menimbang apakah arak dalam cawan itu harus diminum atau tidak.


Cakra Buana segera masuk ke dalam. Dia langsung duduk tepat di hadapan wanita cantik yang duduk seorang diri tersebut.


Sian-li Bwee Hua.


Wanita yang dimaksud memang dirinya. Dan si pengirim surat tadi juga dia sendiri.


"Ternyata kau kembali lebih cepat dari perkiraanku," katanya sambil mengisi arak ke dalam cawan yang disuguhkan untuk Cakra Buana.


"Aku baru saja tiba di sini. Kau sendiri, apakah sudah lama menungguku?" tanya balik Cakra Buana.


"Tidak, aku menunggumu di sini hanya karena aku tahu bahwa kau sudah kembali,"


Cakra Buana mengangguk. Pemuda itu tidak bertanya lagi. Sedikit banyak, dia sudah mengetahui seberapa hebat wanita bercadar yang ada di hadapannya saat ini.


Keduanya terdiam untuk beberapa waktu. Keadaan semakin sunyi. Kedai-kedai yang berjejer di sekitarnya mulai tutup. Para pendekar dan para tokoh yang hadir sudah kembali ke tempatnya masing-masing.


"Kau berhasil menemukan Ginseng Seribu Tahun?" tanya Ling Ling.


"Sudah, bahkan aku sudah meminum air rebusannya," jawab Cakra Buana tanpa berbohong sedikitpun.


"Terimakasih. Tapi aku hanya menemukan ginseng pusaka itu, sedangkan kitab sakti yang kau maksud sudah tidak ada di sana,"


Dewi Bunga Bwee tersenyum lembut. Senyumannya indah, seindah tulisan dalam surat tadi.


"Tentu kau tidak akan pernah menemukan kitab sakti itu. Karena sejatinya, kitab tersebut memang tidak ada di sana. Kitab sakti yang menjadi rebutan kaum persilatan, sebenarnya sudah dimiliki oleh seseorang,"


"Siapa orang yang kau maksud?"


Pendekar Tanpa Nama sangat terkejut mendengar pernyataan wanita itu. Bagaimana mungkin ada seseorang yang sudah mengetahui tempat itu sebelumnya? Bukankah ruangan bawah tanah tersebut sangat rahasia?


Siapa yang sudah memiliki kitab sakti tersebut? Apakah si kakek misterius yang pernah bertemu dengannya?


"Sekarang belum waktunya. Kelak, kau akan tahu sendiri siapa yang sudah memilikinya," jawan Dewi Bunga Bwee sambil melemparkan senyuman misterius.


Cakra Buana langsung diam. Dia tidak menanyakan hal yang berkaitan dengan kitab pusaka itu lebih lanjut lagi.


Jika seorang wanita sudah memutuskan tidak akan memberitahukan suatu hal kepadamu, maka lebih baik kau tidak memaksanya.


"Baiklah, aku percaya kepadamu. Bagaimana dengan pertemuan para tokoh?"

__ADS_1


"Pertemuan itu sudah dimulai sehari yang lalu,"


"Berarti dugaanku tidak salah," desis Pendekar Tanpa Nama.


Kalau pertemuan untuk memperebutkan dua benda pusaka sudah berlangsung, itu artinya, pertarungan hebat yang bakal panjang pun sudah berlangsung pula.


Para tokoh dari berbagai aliran, berbagai perguruan, berbagai tempat dan berbagai lainnya pasti sudah melangsungkan sebuah pertarungan seru.


Gunung Hua Sun akan kembali mengukir sejarah kelam dalam dunia persilatan. Di gunung itu, tragedi berdarah akan terjadi lagi.


"Memang tidak salah,"


"Lantas apakah benda pusaka yang katamu palsu itu sudah didapatkan?"


"Tentu saja sudah,"


"Siapa yang sekarang memegang pusaka tersebut?"


"Aku tidak tahu. Tapi terakhir kudengar, orang-orang menyebut bahwa dirimu yang memegangnya,"


Pemuda Tanah Pasundan itu semakin terkejut lagi. Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa menyebut bahwa dua kitab palsu tersebut berada di tangannya? Siapa yang sudah menyebarkan gosip seperti itu?


"Siapa yang telah menyebarkan kabar tersebut?" tanyanya sambil menatap tajam ke arah Ling Ling.


"Aku tidak tahu pasti. Percaya tidak percaya, kau harus tetap percaya. Karena memang kabar seperti itu yang terakhir aku dengar,"


"Apakah pihak Organisasi Naga Terbang yang telah menyebarkan gosip tersebut?"


"Aku tidak tahu," jawab Ling Ling.


"Kau jangan berbohong," tanpa sadar Cakra Buana membentak wanita di hadapannya tersebut.


"Aku tidak berbohong. Sekalipun memang aku bagian dari mereka, tapi tidak setiap apa yang mereka lakukan, aku dapat mengetahuinya dengan pasti," kata Sian-li Bwee Hua tidak mau kalah dari pemuda tersebut.


"Keparat," ucap Pendekar Tanpa Nama.


Tangan kanannya mengepal dengan erat. Bangku yang dia duduki langsung hancur saat itu juga. Tanpa sadar, tubuhnya telah menyalurkan satu hawa murni yang membuat dirinya lebih berat beberapa kali lipat.


"Pergi, cepat pergi. Mereka telah tiba," ucap Dewi Bunga Bwee dengan mimik wajah serius.


Wushh!!!


Wanita itu langsung pergi dengan cepat tanpa berkata apapun lagi.

__ADS_1


Cakra Buana masih berdiri di dalam kedai arak itu. Dia masih kebingungan dengan maksud dari perkataan wanita itu.


__ADS_2