
Sementara itu, melihat lawan sudah melompat ke tengah arena, Ling Ling pun tidak bisa berdiam diri lagi. Dia juga ingin melompat ke sana agar segera melangsungkan duel maut tersebut.
Tapi sebelum dia melompat, terdengar satu bisikan halus namun hangat yang tepat terdengar di sisi telinganya.
"Hati-hati, aku lihat dia sudah mempunyai niat untuk membunuhmu. Jangan sampai kan terkena kukunya yang tajam itu,"
Suara itu sangat hangat. Bahkan terasa hingga menghangatkan seluruh tubuh Sian-li Bwee Hua. Tanpa terasa wanita cantik itu menyunggingkan senyuman yang manis. Sepasang pipinya langsung memerah seperti kepiting rebus.
Suara itupun sangat dia kenal. Karena suara tersebut milik seorang pemuda tampan yang sanggup menggetarkan jiwa raganya.
Ya, suara itu adalah suara Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama.
"Terimakasih. Aku akan selalu mengingat kata-katamu," balas Ling Ling dengan suara yang tidak kalah hangatnya.
Wushh!!!
Segulung angin berhembus. Tahu-tahu Sian-li Bwee Hua sudah berada tepat di hadapan Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding.
Mentari pagi mulai merangkak naik ke atas. Cahayanya semakin menghangatkan tubuh. Suasana di perkotaan dan pedesaan sudah ramai oleh para warga yang melalukan aktivitas mereka masing-masing.
Sekarang di padang rumput Gunung Hua Sun juga akan ramai. Namun bukan ramai karena menjalankan aktivitas, tapi ramai karena pertarungan.
Sian-li Bwee Hua sudah bersiap. Si Harimau Sakti Tiada Tanding juga sama.
Kedua orang itu menghimpun tenaga dalam dengan jumlah besar. Kalau kau akan menghadapi sebuah pertarungan hidup dan mati, maka kau harus menyiapkan segalanya dengan matang.
Hawa sakti segera melindungi seluruh tubuh keduanya. Keadaan mulai mencekam kembali oleh hawa pembunuhan.
Apakah pertarungan yang sekarang bakal lebih dahsyat dari satu pertarungan sebelumnya? Siapa yang akan mati di antara mereka?
Wajah Ling Ling sedikit pucat. Tapi dia mencoba untuk tetap menguatkan diri.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia bergerak. Kecepatan mereka sama halnya dengan sebuah bayangan setan yang melesat di tengah malam buta.
Plakk!!!
Benturan pertama di antara kedua orang tokoh yang baru saja melangsungkan pertarungan itu telah terjadi. Benturan barusan menghasilkan gelombang kejut cukup besar yang menyapu daun kering dan ranting pohon di sekitar.
Di arena pertarungan terlihat tubuh Ling Ling sedikit bergetar. Ekspresi wajahnya menahan rasa sakit. Berbeda dengan Poh Kuan Tao, datuk rimba hijau itu masih tampak tenang dan kalem.
__ADS_1
Sepasang matanya mencorong tajam. Tenaga dalam yang dia keluarkan jauh lebih besar lagi.
"Enyah …" bentak Harimau Sakti Tiada Tanding itu.
Wushh!!!
Tiba-tiba Sian-li Bwee Hua merasa ada segulung tenaga tak kasat mata yang datang menerjang ke arahnya dengan sangat kuat. Tubuh gadis cantik yang padat berisi itu langsung melayang dengan deras ke belakang.
Bukk!!!
Tubuh Ling Ling jatuh setelah menabrak sebatang pohon liu (cemara). Darah segar kehitaman segera dimuntahkan olehnya.
Para tokoh pilih tanding, terutama sekali Cakra Buana, sangat terperanjat. Hampir saja dia melompat ke tengah arena pertarungan. Untung pemuda itu segera mampu mengendalikan dirinya, kalau tidak, saat ini dia mungkin sudah terlibat di dalam pertarungan sengit tersebut.
"Hahaha, dengan kekuatanmu yang sekarang, kau ingin membunuhku? Hemm, lebih baik menyerah saja sebelum nyawamu melayang," kata Harimau Sakti Tiada Tanding sambil tertawa puas.
Ling Ling menggertak gigi. Dia tidak menanggapi ucapan itu sama sekali. Perlahan namun pasti, gadis itu sudah berdiri kembali.
Sepasang matanya menatap semakin tajam. Kedua tangannya mengepal kencang. Urat-urat yang hijau segera terlibat dengan jelas di balik kulitnya yang putih seperti salju.
"Tua bangka busuk, kau jangan sombong. Demi membalaskan dendam kematian Ayahku, aku tidak akan menyerah sampai kapanpun," bentak Sian-li Bwee Hua.
"Gadis jalang, ucapanmu terlalu sombong. Sedangkan kenyataannya kau bahkan tidak sanggup melukaiku. Kalau tidak sanggup melukai, bagaimana kau akan bisa membunuhku?" ejek Poh Kuan Tau sambil tersenyum sinis.
Wushh!!!
Dewi Bunga Bwee menjejakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya segera meluncur deras ke depan sambil melancarkan dua serangan tapak yang sangat dahsyat.
Si Harimau Tiada Tanding sudah siap dengan segala kemungkinan, melihat gadis itu menerjang kembali, bahkan lebih ganas lagi, orang tua tersebut tidak gentar.
Tubuhnya masih tetap berdiri di tempat. Sepasang kakinya tidak bergerak sama sekali. Dia tidak menyambut serangan. Sebaliknya, Poh Kuan Tao sedang menunggu datangnya serangan.
Blarr!!!
Benturan tenaga dalam kembali terjadi. Tapi kali ini, dia tidak berniat melepaskan Sian-li Bwee Hua.
Bukk!!! Plakk!!!
Tamparan keras, pukulan kuat, tendangan hebat, semuanya dilayangkan oleh datuk dari Utara itu sengan segenap kemampuan. Tubuh Sian-li Bwee Hua menjadi bulan-bulanan orang tua tersebut.
Dia tidak memberikan kesempatan kepada Ling Ling untuk membalas serangannya. Kedua tangan tua renta tapi sekuat baja itu terus memberikan serangan dahsyat tiada hentinya.
__ADS_1
Semua orang merasa geram. Mereka sangat ingin membantu Ling Ling, sayangnya tidak ada yang bergerak di antara mereka setelah Tiang Bengcu dan si Buta Yang Tahu Segalanya memberikan aba-aba agar mereka tetap diam di tempatnya masing-masing.
Tiba-tiba Poh Kuan Tao membawa Ling Ling ke tengah udara. Setelah tiba di ketinggian beberapa tombak, dia langsung memberikan pukulan keras dengan tangan kanannya.
Bukk!!!
"Ahh …"
Ling Ling turun dengan deras ke bawah. Suara tubuh ambruk ke tanah sangat jelas terdengar. Gadis cantik itu langsung memuntahkan darah segar kehitaman cukup banyak.
Untuk beberapa saat, tubuh itu tidak bergerak sedikitpun. Semua orang sudah mengira bahwa Dewi Bunga Bwee telah mampus. Bahkan lawannya sendiri menyangka bahwa dia benar-benar telah mati. Atau setidaknya sekarat.
Wushh!!!
Tiba-tiba angin dingin berhembus di pagi hari. Hawa kematian mendadak terasa sangat kental sekali. Hawa pembunuhan menyelimuti tempat pertarungan hidup dan mati itu.
Wutt!!!
Tenaga tak kasat mata datang menerjang.
Tahu-tahu si Harimau Sakti Tiada Tanding telah terdorong beberapa langkah ke belakang. Belum sempat dia mengetahui apa yang baru saja terjadi, di lihatnya Sian-li Bwee Hua sudah berdiri kembali.
Tapi dia yang sekarang sangat berbeda dengan dia yang tadi.
"Aku belum mati," kata Ling Ling.
"Aku tahu," jawab Poh Kuan Tao.
"Sekaranglah saatnya untuk menentukan siapa yang bakal hidup dan siapa yang akan mati,"
Datuk dari Utara itu tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam ke arah gadis tersebut.
Wushh!!!
Dua bayangan manusia sama-sama melesat ke depan dalam kecepatan sulit diikuti mata. Debu menggulung kedua tubuh itu hingga tidak terlihat apa-apa. Benturan telapak tangan dan kaki terdengar.
Beberapa saat kemudian, jerit tertahan yang menahan rasa sakit menggelegar memecahkan kesunyian. Disusul kemudian dengan melayangnya satu sosok tubuh ke belakang.
Bukk!!!
Tubuh itu ambruk ke tanah dengan sangat keras.
__ADS_1
Begitu tubuhnya menyentuh bumi, nyawa di tubuh itu telah melayang. Darah segar keluar dari seluruh lubang di tubuhnya.