Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Dikasih Hati Minta Jantung


__ADS_3

Malam semakin larut. Udara diluar goa juga semakin dingin. Bulan ini kebetulan masuk musim kemarau. Pada siang, matahari sangat menyengat kulit. Tapi kalau malam hari, biasanya rasa dingin justru menusuk tulang.


Diluar, tepatnya di atas sana, rembulan masih bersinar terang. Beberapa ekor kelelawar terbang saling kejar dengan rekannya masing-masing. Suara lolongan anjing dan serigala saling sahut.


Di dalam hutan sana sangat ramai oleh berbagai macam suara binatang liar. Sedangkan di dalam goa ramai dengan keluh dan desahan kenikmatan dari dua orang gadis yang bersuara merdu.


Peluh sebesar jagung telah membasahi leher ketiga pasangan bahagia itu. Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap merasa amat puas. Malam ini, keduanya benar-benar merasakan kenikmatan dunia yang tiada taranya.


Mereka benar-benar merasa seperti wanita yang paling beruntung di dunia. Sebab beberapa saat yang lalu, kekasih mereka, Cakra Buana, berhasil memanjakannya hingga mencapai ke titik maksimal.


Kedua gadis maha cantik itu merasa terbuai hingga tidak ingat di mana lagi. Mereka hanya merasa sedang berada di tengah lautan kenikmatan. Lautan berombak kasih sayang dan berangin rasa nyaman.


Sekarang ketiganya sedang rebah di sebuah batu hitam yang biasa digunakan untuk Sinta beristirahat. Ketiganya telanjang setengah badan.


Kalau ada orang lain yang melihatnya, niscaya orang itu tidak akan percaya bahwa di jagat raya ini, ternyata masih ada dua orang gadis yang mempunyai tubuh sesempurna itu. Tubuh yang padat. Putih bersih. Mulus seperti halnya salju.


Sekilas pandang, mungkin orang awam akan kebingungan untuk membedakan apakah dia itu manusia atau seorang Dewi?


Waktu terus merangkak. Hari semakin malam. Dua orang kekasihnya sudah tidur sangat pulas. Saking bahagianya, bahkan mereka tidur sambil tersenyum hangat.


Setelah mengetahui kedua kekasihnya nyenyak bersama mimpi indahnya, Cakra Buana tiba-tiba bangkit dari tidur. Dia segera mengenakan kembali pakaiannya. Tidak lupa juga Pedang Naga dan Harimau yang selalu d buntal dengan kain putih itu pun, kini telah ditaruh di punggungnya.


Apa maksudnya? Kenapa pemuda itu bersikap sedemikian waspada?


Dia melangkahkan kaki keluar. Wajahnya menunjukkan sikap yang teramat serius. Wajah bodohnya, wajah gugup dan mati kutunya telah lenyap dan digantikan dengan wajah bengis.


Begitu tiba di depan mulut goa, Pendekar Tanpa Nama memandang ke sekeliling tempat sekitar. Matanya amat tajam. Setajam pedang yang berada di punggungnya.


Alasan dia melangkah keluar dengan tergesa-gesa adalah karena sepasang telinganya yang tajam mendengar adanya kehadiran orang lain di sekitar goa tersebut.


Namun terlepas berapa jumlahnya, Pendekar Tanpa Nama sendiri belum bisa memastikannya.


"Saudara yang telah datang kemari, kenapa masih bersembunyi? Silahkan tunjukkan diri dan kita nikmati arak bersama," ucapnya dengan suara yang menggema.


Di tangan kanannya ada arak sisa tadi. Cakra Buana sedang menunggu orang-orang itu keluar dari persembunyiannya.


Benar juga, tidak lama setelah dia berkata demikian, mendadak muncul dua bayangan manusia dari balik semak-semak belukar sebelah kiri. Disusul kemudian empat bayangan dari semak belukar sebelah kanan. Tiga dari arah depan. Dan dua lagi dari atas dahan pohon tinggi yang tumbuh di belakang goa.

__ADS_1


Sebelas orang berpakaian serba hijau tua sudah mengelilingi Pendekar Tanpa Nama. Mereka semua memiliki penampilan yang sama. Orang-orang itupun memakai cadar. Yang membedakan di antara mereka hanyalah senjatanya saja.


Senjata sebelas orang itu bermacam-macam. Tapi tetap, rata-rata senjata mereka merupakan sebilah pedang dan golok.


Pada dasarnya, pedang dan golok memang merupakan sebuah senjata tajam yang paling banyak digemari oleh setiap orang dunia persilatan. Karena sebab itulah banyak perguruan yang menggunakan senjata utamanya dari dua gaman tersebut.


"Pendengaran yang amat peka. Mata yang amat tajam, benar-benar patut dipuji," kata seseorang berkata cukup lantang. Orang tersebut kemudian berjalan ringan ke arah Cakra Buana.


Orang-orang tersebut benar-benar meminta arak Pendekar Tanpa Nama. Bahkan dengan santainya dia tegak habis arak yang tersisa itu.


Menyaksikan hal tersebut, pemuda keturunan ningrat itu tidak geram. Dia malah tersenyum hangat. Sekalipun dirinya sedang berada di kepungan musuh, Pendekar Tanpa Nama akan tetap sabar dan selalu tersenyum.


"Siapakah saudara-saudara ini? Kenapa pula mau mengikuti aku hingga ke tempat ini?" tanya Pendekar Tanpa Nama memulai pembicaraan.


Orang yang tadi meminta arak kepada Cakra Buana langsung menghela nafas dalam-dalam.


"Kau pernah mendengar tentang berita Sebelas Setan Hijau?"


Pendekar Tanpa Nama menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia benar-benar tidak tahu atau bahkan tidak pernah mendengar sama sekali.


"Sepertinya kau orang awam sehingga tidak mengetahui Sebelas Setan Hijau," gumamnya seperti menahan rasa kesal.


"Kami adalah sekelompok perampok ulung dan terkenal. Siapapun yang bertemu dengan kami, akan tunduk dan lari terbirit-birit. Semua orang tahu bahwa kami sangat kejam, kepada siapapun tidak mengenal ampun," kata orang itu angkuh.


Pendekar Tanpa Nama hanya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Sebenarnya tidak perlu dijelaskan pun dia sudah tahu bahwa mereka ini hanya perampok kelas menengah saja.


Bukan hal yang sulit jika dirinya ingin menghabisi nyawa mereka. Bahkan tanpa mengeluarkan pedang pun, sebelas orang itu bisa dibuat mampus olehnya.


Sayang, untuk saat ini Pendekar Tanpa Nama tidak ada niat untuk turun tangan menghajar mereka. Apalagi kalau sampai memberikan tangan kejam kepadanya.


Saat ini dia sedang bahagia, karena itulah Cakra Buana tidak mau mengganti kebahagiaan dengan kemarahan.


"Sekarang apa yang kalian mau?" tanyanya pura-pura ketakutan.


"Aku mau hartamu, cepat serahkan!!!" bentaknya bertambah bengis.


Melihat pendekar muda di hadapannya mulai ketakutan, tentu orang itu sangat senang. Memang kesempatan seperti inilah yang dia tunggu. Karena itu, orang tersebut langsung berlagak semakin angkuh.

__ADS_1


"Ba-baikah, ambil ini dan segera pergi dari sini. Tolong jangan ganggu aku lagi," ucap Pendekar Tanpa Nama sambil melemparkan lima keping emas.


Pemimpin Sebelas Setan Hijau tertawa, dia menangkapnya lalu segera dimasukkan ke saku baju.


Mereka berniat untuk pergi, tapi urung, sebab telinganya mendengar ada orang lain lagi.


"Ada apa Kakang?" tanya Sinta dari dalam goa.


"Tidak ada apa-apa Sinta, kau tenang saja," jawab pemuda itu.


Orang tadi tersenyum menyeringai. Sepasang matanya menatap penuh curiga ke dalam goa.


"Siapa di dalam?"


"Tidak ada siapa-siapa Tuan,"


"Bohong. Minggir kau, biarkan aku membawa gadis itu. Kalau tidak, aku patahkan batang lehermu," bentaknya bengis.


"Jangan Tuan. Dia, dia kekasihku,"


"Perduli setan, minggir!!!" orang itu berkata sambil menerjang maju ke depan.


Pendekar Tanpa Nama dibuat kesal juga. Tanpa banyak bicara, dia langsung menggerakkan tangannya.


Plakk!!!


Satu hantaman telapak tangan tepat mengenai orang dada orang itu hingga terlempar kembali ke belakang.


"Bangsat. Serang pemuda itu!!!" katanya memberikan perintah.


Sepuluh orang lainnya langsung bergerak menyerang ke depan. Senjata mereka sudah diayunkan.


Naas, kejadian sebelumnya terulang kembali. Hanya sekali bergerak, sepuluh orang tersebut juga terlempar sampai bergulingan.


"Dikasih hati minta jantung …" desis Pendekar Tanpa Nama.


###

__ADS_1


Ini jatah semalam satu lagi wkwk


__ADS_2