
Sore …
Matahari melancarkan sinar keemasan menyapu seluruh permukaan bumi. Burung-burung kembali ke sarang mereka masing-masing.
Cakra Buana sedang berjalan ringan. Dia berniat menuju ke kedai untuk membeli arak. Selan itu, di kedai pasti akan dapat informasi yang bakal didapatkan.
Begitu ada kedai, pemuda itu langsung masuk. Namun sebelumnya dia telah membeli caping lebar dari bambu untuk sekedar menutupi siapa dirinya.
Dia duduk di pojokan sana. Pelayan segera menghampiri lalu segera kembali setelah Cakra Buana memesan santapan dan arak.
Suasana kedai cukup ramai. Ada pedagang, ada pendekar, juga ada orang-orang biasa.
"Kau sudah mendengar berita terbaru kali ini?"
Seseorang bicara kepada rekannya walaupun tidak terlalu keras, namun bisa dipastikan orang-orang yang ada di dalam kedai dapat mendengar.
"Berita apa? Wah, sepertinya banyak sekali berita terbaru,"
"Betul, banyak sekali. Salah satunya membuat orang cukup kaget, kau sendiri juga pasti kaget. Aku yakin,"
"Aii, mana bisa aku kaget? Mendengar beritanya saja belum," kata rekannya tersebut.
"Kau tahu bahwa markas cabang Kay Pang Hek yang ada di sekitar sini sudah dihancurkan?"
"Apa?" kata orang tersebut tanpa sadar menggebrak mejanya.
"Sstt!!" katanya membeli isyarat dengan jari telunjuk.
"Siapa yang berani melakukannya?"
"Pendekar Tanpa Nama," bisiknya.
Rekannya melotot sekejap ke arah orang itu. Dia tampak menghela nafas beberapa kali.
"Orang asing itu memang berjiwa ksatria. Bersyukur ada orang yang berani menghancurkan satu markas Kay Pang Hek. Tetapi, aii … dia pasti akan terkena masalah yang tidak ada ujungnya,"
"Kau benar. Aku juga berpikiran sama sepertimu. Namun harus aku akui, orang itu memang sangat pemberani. Sudah gagah, tampan, pemberani, berilmu tinggi juga. Aii, setiap wanita pasti jatuh hati padanya. Aku sendiri mungkin akan jatuh hati jika aku seorang wanita," katanya bercanda.
"Aii, mana mau dia dengamu … hahaha," keduanya tertawa lalu melanjutkan makannya kembali.
Mereka itu hanya orang-orang biasa. Tak disangka, ternyata kalangan orang biasa juga sudah mengetahui apa yang telah dia lakukan.
Diam-diam Cakra Buana menghela nafas. Apa yang dikatakan oleh dua orang tersebut sependapat juga dengan dirinya. Dia yakin sekarang sudah menjadi incaran orang-orang Kay Pang Hek.
__ADS_1
Tapi dia tidak takut sama sekali. Apalagi semua orang tahu bahwa Kay Pang Hek terkadang perilakunya lebih mirip kepada aliran sesat.
Pesanan tiba, Cakra Buana langsung menyantapnya sambil tetap memasang telinga tajam. Selepas semua beres, dia segera membayar lalu pergi dari sana.
Tujuannya sekarang adalah ke markas cabang Kay Pang Pek. Dia ingin bertemu dengan Huang Yang Qing untuk meminta keterangan apakah Moi Lan benar diculik atau tidak. Kalau benar, dia akan meminta maaf dsn berjanji akan mengembalikan gadis itu kepadanya.
Cakra Buana mendatangi markas cabang yang sebelumnya pernah dia datangi. Puluja. Pengemis membungkuk memberikan hormat saat melihat dirinya datang.
Ternyata semua orang telah tahu bahwa pemuda tersebut merupakan yang istimewa dari Pangcu mereka.
"Tuan Muda, apakah ada yang bisa dibantu?" tanya seorang pengemis tua.
"Mohon tanya Paman, apakah Huang Pangcu ada di sini?"
"Ada Tuan, mari silahkan masuk,"
"Terimakasih Paman," katanya sambil memasangjan caping yang tadi dia beli.
Pengemis tua tersebut segera mengantarkannya ke ruangan Huang Pangcu.
"Siapa diluar?"
"Ini aku Pangcu," ucap Cakra Buana ramah.
Cakra Buana langsung masuk ke dalam ruangan Huang Pangcu. Di lihatnya kakek tua itu sedang duduk sambil minum arak. Dua guci sudah habis, namun nyatanya dia belum puas juga.
"Cucuku tidak diculik. Orang yang menyebarkan berita itu berbohong. Sepertinya mereka sengaja ingin menjerumuskanmu ke dalam masalah besar," katanya dengan tiba-tiba.
Cakra Buana tentu saja tertegun. Dari mana Huang Pangcu bisa mengetahui apa yang ingin dia sampaikan? Sedangkan dia sendiri bicara saja belum.
Apakah kakek tua ini peramal?
Melihat ekspresi keheranan pemuda itu, Huang Pangcu lantas tertawa lalu menepuk pundaknya.
"Kau jangan heran nak. Kay Pang kami sangat cepat mendapatkan informasi. Karena itu, setiap orang yang mempunyai masalah, biasanya mereka akan meminta informasi dari Kay Pang," katanya tertawa bangga.
Apa yang dikatakan oleh Huang Pangcu memang benar. Kay Pang Pek sangat cepat jika bicara masalah informasi. Bahkan mungkin sebelum orang lain mendengar sebuah berita, mereka sudah mendengarnya lebih dulu.
Seperti yang diketahui umum, anggota Kay Pang Pek tersedia di seluruh penjuru. Setiap tempat pasti ada anggota mereka. Karena itu, mencari masalah dengan Kay Pang Pek, sama saja dengan mencari mati.
"Kalau begitu, aku sudah dibohongi oleh mereka," kata Cakra Buana menahan luapan emosi.
"Tentu saja. Aii, aku sudah bilang, mereka sengaja ingin mencelakai dirimu. Apalagi berita kau membawa kitab sakti sudah tersebar. Belum lagi pedang pusaka yang ada padamu itu,"
__ADS_1
Cakra Buana tertegun. Kalau sudah begini caranya, berarti masalah malau semakin melebar. Sudah tentu banyak tokoh persilatan yang menginginkan nyawanya. Terlebih lagi dua pusaka yang ada pada dirinya.
Untungnya keadaan pemuda bergelar Pendekar Tanpa Nama itu sudah lain daripada sebelumnya. Sekarang dia sudah menjadi tokoh kelas atas. Sudah menjadi seorang pendekar pilih tanding.
Tokoh kelas satu sekalipun belum tentu dapat mengalahkannya jika bertarung secara adil.
"Tapi apakah benar Adik Lan tidak diculik?" tanyanya masih tidak percaya.
"Aii, dasar anak muda. Masa aku berbohong padamu? Anak Lan … Anak Lan …" teriak Huang Pangcu memanggil cucunya.
"Ada apa Kakek?"
Seorang gadis yang sangat cantik keluar dari kamar. Pakaiannya biru muda. Bersih, seperti seorang puteri. Sangat jauh dengan penampilan kakeknya yang apa adanya.
Bibirnya memakai gincu merah. Bedak tipis warna merah muda terlihat di dua lesung pipi. Alis matanya lentik. Matanya tajam tapi lembut.
Cakra Buana memandangi gadis itu tanpa berkedip. Dia benar-benar mirip Ling Zhi. Ya, benar. Potongan tubuhnya sangat mirip.
'Aii, kenapa banyak sekali wanita yang mirip dengannya?' batinnya heran.
Sementara itu, Mei Lan jalan dengan wajah tertunduk karena merasa malu saat dipandangi oleh pemuda yang belakang ini selalu terngiang-ngiang di pikirannya.
Pipi yang sudah merah kini bertambah merah lagi. Saat seperti ini, dia benar-benar terlihat lebih cantik dua kali lipat.
Jantungnya berdetak kencang. Begitu juga dengan Cakra Buana. Keduanya merasakan hal yang sama.
Apakah mereka diam-diam saling mencinta?
"Brakk …"
Meja digebrak pelan membuat kedua muda-mudi itu terkejut.
Baik Mei Lan maupun Cakra Buana, tanpa sadar melotot ke arah Huang Yang Qing.
Seolah mata mereka bicara, 'mengganggu saja,'
Di pandangi seperti itu oleh sepasang muda-mudi, kakek tua itu tidak marah. Justru dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, cocok. Sungguh cocok sekali, hahaha …"
"Apanya yang cocok?" tanya Cakra Buana dan Mei Lan bersamaan.
"Nah, betulkan? Hahaha …" kembali dia tertawa hingga perutnya terasa sakit.
__ADS_1